Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Butuh Waktu


__ADS_3

Irsyad mengantar Andin untuk pulang ke rumahnya. Sejak Irsyad menyatakan cintanya kepada Andin, ia malah terdiam. Hati Andin juga sudah ada getaran-getaran di hatinya ketika dekat dengan Andin. Tapi untuk menerima cinta Irsyad tidak mudah bagi Andin. Andin pernah gagal berumah tangga 1 kali, dia akan selektif untuk memilih pendamping hidup barunya. Ia tidak mau jika Irsyad seperti Rafif, manis di awalnya tapi begitu pahit di akhirnya.


"Andin, maaf jika kamu terkejut ketika aku mengatakan cinta kepadamu," ucap Irsyad.


"Cinta itu Allah yang memberikan, jangan meminta maaf," ucap Andin.


"Kenapa kamu diam?" tanya Irsyad.


"Kamu memberi aku waktu 1 minggu untuk menjawabmu. Aku tidak bisa menjawab secepat itu, aku ini seorang janda yang sudah pernah menikah 1 kali. Jika aku berjodoh denganmu, aku ingin jodoh itu sampai maut menjemput. aku nggak mau salah langkah untuk yang kedua kalinya," ucap Andin.


"Berapa lama yang kamu butuhkan?" tanya Irsyad.


"Insha Allah, 1 bulan," jawab Andin.


Irsyad menghela nafasnya, dalam 1 bulan ia harus menunjukkan keseriusan kepada Andin. Mobil Irsyad sudah sampai di kediaman Andin. Andin membuka sit beltnya.


"Kamu mau turun?" tanya Andin.


"Aku langsung jalan aja," jawab Irsyad.


Andin membuka pintu mobil.


"Andin," panggil Irsyad.


Andin menoleh dan menatap Irsyad. Irsyad mengambil sesuatu di jok belakang.


"Untuk kamu." Irsyad memberikan sekuntum bunga mawar merah.


"Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu Din, berawal dari sampah di danau. Selamat istirahat yah." Irsyad mengelus pucuk kepala Andin yang tertutup dengan hijab. Andin mengambil bunga mawar itu, hati Andin tak bisa berbohong, ia pun ada rasa dengan Irsyad. Tapi ia tak mau gegabah untuk mengambil keputusan. Ia harus istharah meminta petunjuk kepada Sang Pencipta agar Allah yang menjawab dengan tanda-tandanya.


"Terima kasih Irsyad, aku turun yah," ucap Andin. Irsyad menganggukkan kepalanya.


Andin melambaikan tangannya kepada Irsyad sampai mobil Irsyad meninggalkan kediaman Andin. Andin masuk ke dalam, ia mencari keberadaan anaknya.


"Assalamu'alaikum, Lun. Natasha mana?" tanya Andin.


"Wa'alaikumsalam, ada di taman belakang, lagi main sama Mbak." Luna menatap Andin yang sedang memegang sekuntum bunga mawar.


"Pak Lurah garcep juga nih," ledek Luna. Andin duduk di sebelah Luna yang sedang menonton tv.


"Dia, menyatakan cinta ke aku," ucap Andin.


"Hah....selamat Andin." Luna memeluk tubuh Andin.


"Aku belum menjawabnya," ucap Andin.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu ragu dengan Irsyad? Apakah kamu lihat ada sisi yang nggak baik dari dia?" tanya Luna.


"Bukan Lun, keluarga Irsyad sangat baik. Kamu bisa lihat Bu Ratna, betapa baiknya dia. Irsyad juga baik hanya orangnya sangat perfect, ingatkan waktu aku cerita ketika aku buang sampai sembarangan, marahnya minta ampun padahal aku hanya buang sampah plastik bekas siomay. Dia malah menerangkan peleburan plastik itu bisa sampai 50 tahun hancurnya, air danau akan tercemar, hewan di dalam danau akan keracunan dan mati. Aku takut jika bersama dia, dia menuntut perfect ke aku. Aku takut gendut seperti dulu dan dia buang aku," jawab Andin.


Luna memeluk Andin sangat erat, seorang sahabat pasti tahu perasaan sahabatnya ketika merasakan kecemasan.


"Andin, nggak semua laki-laki seperti Rafif, kamu boleh memilih pasangan hidupmu. Tapi jangan terlalu takut untuk melangkah. Jangan trauma dengan pernikahan. Nikah itu sunnah, menyempurnakan keimanan kita. Kita single ibaratnya hanya memiliki 1 sayap, jika sudah menikah akan mempunyai 2 sayap." Luna memengang kedua tangan Andin.


"Terima kasih Lun, aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti kamu. Sore kita ke butik Bu Ratna yah, aku sudah kirim pesan singkat kepada Bu Ratna bahwa aku akan ke sana, aku mau memilih gaun untuk hari tunangan kamu besok, jangan lupa hubungi kedua orang tua kamu. Aku akan ajak Alice juga," ucap Andin.


"Astagfirullah, aku lupa telepon mama, padahal tadi aku telepon Monica kenapa bisa lupa." Luna langsung mengambil handphonenya dan dia memberi kabar bahwa besok ada lamaran untuk dirinya.


"Lun, untuk makanan jangan khawatir aku sudah order catering di daerah bogor, Monica suruh bersih-bersih rumah aja. Untuk seragam keluarga kamu, nanti sekalian pilih di butik Bu Ratna. Kamu tanya ukuran baju keluargamu," ucap Andin sambil melangkahkan kakinya menuju taman.


Walaupun Andin mengucapkan itu sambil berjalan ke taman, Luna merasa terharu. Acara lamaran Andin lah yang mengurus semua. Luna meneteskan air mata, keluarganya kini tidak kaya lagi seperti dahulu. Kadang ia menyalahkan dirinya sendiri karena kekayaan ayahnya diambil oleh Roby. Andin tidak ragu untuk mengeluarkan uangnya untuk sahabatnya walaupun Luna tak pernah meminta.


Andin berjalan ke taman, Natasha ketika melihat Andin sudah berlari dan tertawa. Wajahnya terlihat sangat senang.


"Mbu..." ucap Natasha dengan logat cadel, memanggil Andin Bunda.


"Sayang." Andin langsung menggendong Natasya dan menciumi pipi anaknya.


"Mbak, nanti ikut ke butik sama aku sore yah. Besok Luna akan ada lamaran jadi nanti Mbak juga ikut ke Bogor," ucap Andin.


"Iya Bu. Bu Andin hmmm..." Baby sitter Natasha ingin berkata tapi tampak ragu.


"Boleh saya mengambil gaji di awal Bu. Anak saya yang kecil lagi sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit," ucap Mbak Ayu, baby sitter Natasha.


"Ya Allah Mbak Ayu, kenapa baru bilang sekarang. Nggak usah dari gaji Mbak, biar saya yang mengurus semua biaya pengobatan anak Mbak. Siapa yang jagain anak Mbak sekarang? Sedangkan Mbak di sini," tanya Andin


"Sama anak pertama saya Bu Andin," jawab Mbak Ayu.


"Setelah acara lamaran selesai, Mbak boleh langsung pulang temui anak Mbak," ucap Andin.


"Nanti non Natasha sama siapa Bu?" tanya Mbak Ayu.


"Sama saya dulu sementara, Mbak pikirin anak Mbak aja dulu yah. Anak pertama Mbak ada nomor rekeningnya? Berapa umur anak Mbak yang paling besar?" tanya Andin.


"Anak saya sudah kuliah Bu, semester 3," jawab Mbak Ayu.


"Subhanallah...hebat Mbak, walaupun bekerja hanya baby sitter bisa kuliahin anak Mbak. Tanya berapa biaya rumah sakit dan kasih tahu ke saya yah beserta nomor rekening, agar saya transfer sekarang juga," ucap Andin. Mbak Ayu mencium kaki Andin, Andin langsung memundurkan langkahnya.


"Astagfirullah Mbak, berdiri Mbak. Saya nggak suka seperti itu." Mbak Ayu menangis karena Andin sangat baik padanya.


"Maaf Bu, saya sangat bersyukur bisa bekerja dengan Bu Andin. Sebelumnya majikan saya tidak pernah memperlakukan saya seperti Bu Andin," ucap Mbak Ayu sambil mengusap air matanya sendiri.

__ADS_1


"Alhamdulillah Mbak, artinya Allah sayang sama Mbak jadi ketemu saya. Yah sudah telepon anak Mbak sekarang agar langsung saya transfer," ucap Andin.


Baby sitter langsung menelepon anak pertamanya. Setelah mengetahui nomor rekening dan biaya rumah sakit, Andin langsung transfer uang melalui m-banking.


"Sudah saya transfer yah Mbak, suruh cek anak Mbak," ucap Andin.


"Terima kasih Bu, semoga Ibu tambah rezeki dan dapat pasangan yang cintanya tulis untuk Ibu dan Non Natasha," doa Mbak Ayu.


"Amin."


Andin orangnya tidak pelit, makanya Rafif memanfaatkan sifat Andin ini. Kini Andin membantu untuk orang-orang yang menurut dia patut untuk di bantu dan aset kekayaan semua di simpan di bank tidak ada di rumah. Agar tidak akan mengambil sertifikat aset-aset Andin seperti Rafif.


Bersambung.


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar (Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)




Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2