
Alice tak menyangka bahwa Dariel bertemu dengannya di kampus Tasya. Ia tak pernah menyangka bahwa Dariel bekerja di kampus adiknya tersebut. Alice merasa canggung ketika bertemu dengan Dariel yang tidak sengaja. Ini merupakan bukan suatu rencananya. Karena Alice sudah membuat list kapan ia akting untuk bertemu dengan Dariel.
"Aku nggak menyangka bisa bertemu dengan mbak Alice lagi di sini. Mbak kuliah di sini?" tanya Dariel.
"Bukan aku yang kuliah di sini, tapi adikku aku sudah lulus S1 di Inggris dan sekarang sedang meneruskan S2 sambil aku bekerja dengan sahabatku," jawab Alice jujur.
"Benarkah kamu kuliah di Inggris? Wah kebetulan aku S2 di sana dan ayahku berasal dari Inggris, Ibuku dari Indonesia," ucap Dariel.
Tak lama Tasya sudah membawa jus dan siomai yang Alice mau. Ia terkejut ketika melihat dosennya yang sedang berbincang dengan kakaknya.
"Pak Dariel?" ucap Tasya. Ia langsung duduk di sebelah Alice.
"Kak Dariel ini adikku Tasya, sepertinya adikku sudah mengenal Kak Dariel," ucap Alice.
"Sepertinya saya pernah lihat kamu. Kamu di kelas mana yah?" tanya Dariel.
"Saya di jurusan ekonomi Pak, semester 5," jawab Tasya.
Dariel merupakan dosen yang sangat dingin ia tidak pernah banyak berbicara dengan para mahasiswanya. Ketika senior Tasya mendapat pembimbing skripsi Dariel, senior Tasya tersebut sangat kesulitan untuk mendapatkan tanda tangan di setiap bab skripsinya. Dariel juga dikenal sebagai dosen yang pelit dengan nilai dan harus perfect setiap mahasiswa yang mendapat bimbingan skripsi dirinya.
"Oh iya saya baru ingat, bukankah pagi tadi saya mengisi kelas kamu?" tanya Dariel.
"Iya Pak," jawab singkat Tasya.
"Kak Derial mau siomai? Ini bagian aku kalau kakak mau." Alice memberikan bagian siomainya kepada Dariel. Ia melakukan itu secara spontanitas.
Alice hanya meminum jus alpukat untuk menghilangkan dahaga dan mengganjal perutnya. Dariel melirik Alice, banyak wanita yang berusaha untuk mendekati Dariel tapi pikiran Dariel berbeda kepada Alice. Alice tidak menunjukkan rasa suka atau antusias ketika bertemu dengan dirinya. Mungkin 4 tahun lebih Alice tinggal di Inggris biasa melihat bule, jadi tidak terlalu antusias ketika bertemu dengan Dariel yang parasnya 75% orang Inggris.
"Ini beneran buat saya?" tanya Dariel.
"Iya benar untuk Kak Dariel, nggak suka siomai yah? Kalau nggak suka yah sudah biar aku aja yang makan. Mubazir makanan di buang-buang." Alice menarik piring siomai tapi tariannya berhenti karena Dariel langsung menarik piring siomai tersebut dan langsung melahap siomai itu.
Tasya yang melihat itu mengerutkan keningnya, dosen yang sangat dingin tanpa malu-malu melahap siomai jatah kakaknya. Bahkan Tasya melihat Dariel tersenyum ketika melirik ke Alice.
"Dek habis ini kita langsung pulang yah, Teteh mau istirahat. Kamu habiskan siomainya setelah itu kita gas untuk pulang," pinta Alice.
"Iya Teh," ucap Tasya.
Setelah Tasya selesai makan, Alice langsung berdiri.
"Kak aku pulang dulu, terima kasih sudah membantu aku tadi pagi." Alice langsung menarik lengan Tasya.
"Mbak Alice tunggu." Dariel menyusul Alice.
"Boleh minta nomor kamu?" Dariel meminta nomor Alice. Dalam hati Alice tertawa karena ia belum apa-apa kenapa Dariel mudah sekali ia dekati.
"Maaf Kak, kita baru kenal hari ini. Aku nggak biasa memberikan nomor handphone aku kepada orang yang baru aku kenal," ucap Alice.
__ADS_1
Rencana Alice datang tiba-tiba, yaitu jual mahal. Laki-laki suka dengan perempuan yang buat ia penasaran.
"Oh gitu," ucap Dariel terlihat kecewa. Alice pergi begitu saja, ia benar-benar santai untuk mendekati Dariel.
Alice bersama Tasya masuk ke dalam mobil, ia langsung menjalankan mobilnya.
"Teh, kenal di mana sama Pak Dariel? Dia itu terkenal dosen dingin, pelit dengan nilai," ucap Tasya.
"Ada deh, anak kecil nggak usah tahu urusan orang dewasa," ucap Alice.
"Teh, aku sudah semester 5, enak aja di bilang anak kecil," protes Tasya.
Alice tidak akan menceritakan misinya kepada Tasya. Kedua orang tua Alice pasti akan menentang karena mereka tidak mau putrinya kenapa-kenapa.
Setibanya di rumah Alice langsung masuk ke kamarnya, ia melewati kaca besar dan melihat pantulan cermin dirinya.
"OMG, pantesan Dariel nggak berkedip melihat aku. Aku tampak berbeda, Gila Andin aku di poles dikit langsung seperti ini penampilannya. Bagus juga memakai pakaian yang tertutup. Untuk make up sepertinya Andin ketularan Angel nih. Gaya make up Angel seperti ini." Alice tersenyum sendiri melihat dirinya di pantulan cermin besar. Ia malah mengambil pasmina dan mencoba memakai hijab, ia tersenyum manis memuji dirinya sendiri.
"Not bad, i am beautiful," ucap monolog Alice di depan cermin.
Ilustrasi Alice ketika memakai jilbab.
Karena Alice belum siap untuk memakai hijab, ia buka kembali dan langsung membersihkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di atas ranjang.
Alice kelelahan karena setelah dari Bogor ia tertidur hanya 2 jam. Alice sibuk untuk mencari informasi tentang Dariel kemudian menyusun rencana. Bagaimana caranya agar Dariel tertarik pada dirinya tapi ia tak mau jatuh cinta. Jadi dia akan mau di ajak kerja sama dengan trio beauty girl.
Sudah 2 hari Alice tidak bertindak, kini misi kedua setelah berkenalan. Alice harus bergerak cepat karena Luna sebentar lagi akan menikah.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Din Luna ada kan? Aku mau ke rumah kamu sekarang," ucap Alice di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, ada. Dia nggak kemana-mana. Oke aku tunggu kamu," ucap Andin.
Alice langsung mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju rumah Andin. Sesampainya di rumah Andin, Alice memarkirkan mobil hitamnya.
"Assalamu'alaikum,"ucap Alice sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam." Andin membuka pintu untuk Alice. Mereka cium pipi kiri san kanan lalu Alice mencari Luna yang ternyata ada di dapur. Alice langsung mematikan kompor dan menarik tangan Luna.
"Apaan sih Alice? Main terik-tarik aja," protes Luna.
"Angel, tolong siapkan konsep pakaian aku untuk Gym agar Dariel bisa melirik aku, kan kamu pernah jadi sahabatnya Dariel pasti tahu dong karakternya dia," ucap Alice.
"Kamu lagi nggak jatuh cinta sama Dariel kan?" tanya Luna.
"Angel sayang, aku dan kamu itu lama menetap di Inggris jadi biasa melihat bule. Dariel parasnya nggak ada Indonesianya cendrung le Inggris dia. Aku mau selesaikan misi kita agar ia tertarik sama aku dan mau membantu kita," ucap Alice.
__ADS_1
"Kalau kamu yang jatuh cinta bagaimana, dia itu pesonanya sangat kuat loh," ucap Luna.
"Nggak mungkin Lun sudah ah, pokoknya make over aku sekarang karena aku mau ngegym," ucap Alice.
"Ih...nih anak." Luna gemes mengacak-ngacak rambut Alice. Alice berdecak kesal dengan perbuatan Luna. Alice pun diberikan pakaian Luna yang modis, Andin yang melihat Luna sedang make over Alice ikut campur.
"Dih terlalu seksi, pakai bajuku aja." Andin mengambil baju atasan untuk olah rasanya dan Alice di rusuh mengganti pakaian atasnya.
" Nah cocok, Lun pakaikan make up tipis untuk Alice," ucap Andin. Luna pun memberikan make up tipis untuk Alice.
"Nah seperti bukan perempuan menggoda," ucap Luna.
"Sudah ah, aku berangkat. Doakan aku yah, aku ingin cepat selesai urusan ini, ingin melihat kedua sahabat aku menikah duluan. Bu Lurah dan Bu Dokter." Alice masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat gym. Dariel biasa ngegym 1 minggu 3 kali, Alice mencari tahu dari adiknya bahwa Dariel suka gym sehingga tubuhnya kekar dan berotot.
Alice memarkir mobilnya, sebenarnya Alice sangat malas jika olah raga apalagi ini gym. Dia nggak pernah memikirkan gym tapi ia melakukan ini agar team sahabat bisa sukses untuk penjara Roby.
"Bismillah...semangat Alice," gumam Alice.
Alice memasuki tempat gym. Rata-rata ia melihat para pria yang ingin ototnya keluar. Ketika ia masuk para lelaki menatap Alice, karena Alice memang cantik. Ia sangat gugup ketika para pria yang berotot menatap dirinya. Tapi ia harus tenang menghadapi situasi ini. Alif sudah mendaftar 3 hari yang lalu, ia sudah menjadi member di tempat gym ini.
Alice menanyakan sebelumnya kepada penjaga gym waktu Dariel berlatih, penjaga gym membocorkan karena Alice memberikan uang. Mata Alice mulai mencari dimana keberadaan Dariel. Alice melihat Dariel sedang menggunakan Leg press machine, ia tersenyum ketika melihat Dariel. Alice mencari alat yang terdekat dan ringan untuk awal ia gunakan maka Alice memilih treadmill.
Alice berjalan dan menaiki treadmill, ia tahu menggunakannya karena Andin mempunyai alat itu untuk program dietnya dulu. Ia punya rencana agar Dariel bisa melihat dirinya.
"Akting di mulai," ucap lirih Alice.
Awal Alice berlari sangat lambat sesuai treadmill yang ia atur. Ia santai menggunakan itu. sekitar 10 menit ia melakukan. Alice menambah kecepatan ia akan pura-pura tidak bisa berhenti karena alat treadmill dekat alat leg press Machine dekat maka Dariel akan menyelamatkan Alice.
"Aduh bagaimana nih..." Alice pura-pura panik.
"Tolong...aku nggak tahu cara berhentinya, tolong..." teriak Alice yang pura-pura sangat panik.
Akting Alice sangat meyakinkan, tapi sayangnya yang menolong Alice bukan Dariel tapi seorang Bapak yang sejak tadi memperhatikan Alice. Bapakapak itu langsung matikan alat treadmill dan menarik pinggang Alice. Alice terkejut bahwa bapak itu yang menunggang Alice bahkan ia mau melecehkan Alice dengan meremmmmassss bokong Alice. Sontak Alice sangat marah dan langsung menampar Bapak itu. Mata Alice sudah berkaca-kaca ingin menangis.
PLAK
Alice menampar Bapak itu.
"Kurang ajar kamu, berdalih menolong saya tapi malah melecehkan saya. Saya bukan perempuan murahan Pak!" teriak Alice. Butiran air matanya sudah keluar.
"Belagu banget, ikutan gym kesini mau jelalatan sama pria yang berototkan. Nih otot saya, kamu saya layanin 1 malam juga kelepek-kelepek," teriak bapak itu sambil memegang pipinya yang terasa panas.
Keributan itu membuat perhatian semua pengunjung gym. Terutama Dariel, Dariel langsung berdiri dan melihat siapa perempuan yang telah dilecehkan. Dariel membola matanya ketika melihat Alice sudah menangis. Dia tidak menyangka bahwa perempuan yang dilecehkan adalah Alice, Dariel langsung mendekati mereka dan berdiri di hadapan bapak itu.
Bersambung
Nah bab ini aku tulis lebih panjang tapi bersambung dulu ah 😁
__ADS_1
Terima kasih kepada reader tersuayangku yang sudah memberikan like, komentar. love you sekebon karet.