
Riki memasukkan Andin di jok belakang. Tak lama mami dan Intan datang.
"Rik, biar Mami yang menyetir. Kamu jaga Andin," ucap mami.
Riki duduk di jok belakang bersama dengan Andin.
"Mas..." ucap lirih Andin. Dahinya sudah mengeluarkan keringat karena menahan rasa sakit.
"Iya sayang, aku tahu rasanya sangat sakit. Bertahan yah, kita akan ke rumah sakit." Riki membelai kepala Andin. Di dalam hatinya ia berdoa agar lengan istri tercintanya tidak parah keretakkannya.
Mami membawa Andin ke rumah sakit paling terdekat dari apartemen nya. Andin langsung ditangani oleh tim dokter. Riki selalu di samping Andin, ia melihat hasil rongent. Yang ia takutkan terjadi bahwa keretakan lengan bahu atas Andin semakin parah. Tapi ia bersyukur tidak patah. Riki merasa bersalah, Andin terluka karena ingin melindungi Riki. Dokter memberikan obat nyeri untuk Andin.
Riki mengelap keringat Andin, ia terus membelai kepala Andin dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana dengan Andin Rik?" tanya mami.
"Bahunya semakin parah Mi retaknya," jawab Riki sambil menyeka air matanya.
"Riki, maafkan Kakak. Gara-gara Kakak kamu jadi menderita, andai aja Kakak nggak sakit," ucap Intan.
"Mami yang salah, Mami nggak mengerti perasaan kamu. Maafkan Mami Riki, Mami akan tebus kesalahan Mami." Mami memeluk Riki dengan erat.
"Aku akan memeriksa tulang sumsum belakangku, apakah cocok untuk Kakak. Tapi setelah Andin sehat Kak karena ingin merawat Andin sendiri. Dia hidupku, aku seperti tak bernyawa jika Andin tak ada di sisiku," ucap Riki.
"Papi memang keterlaluan, Mami tak ingin hidup bersama dia lagi. Pria yang angkuh, membuat mantu Mami kesakitan seperti ini. Rik, wajah kamu obati juga, gara-gara Papi memukulmu wajahmu membiru." Mami menyentuh pipi Riki. Suatu hal yang belum ia rasakan sebelumnya, kasih sayang seorang ibu.
"Mas," suara lirih Andin memanggil Riki.
"Iya sayang ada apa? Kamu mau minum?" tanya Riki. Andin menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau dirawat di rumah sakit, kamu bisa merawat aku di rumah kan Mas? Aku ingin pulang ke rumah aku, bukan ke rumah kedua orang tuaku. Aku nggak mau mereka tahu bahwa aku masuk ke rumah sakit karena mereka akan menanyai penyebabnya. Aku nggak mau Ayah dan Mamah tahu, aku masuk rumah sakit gara-gara Papi kamu. Aku nggak mau kedua orang tuaku menyalahkan kamu," pinta Andin.
"Ya Allah sayang, kamu malah memikirkan aku. Kamu tetap di sini yah, agar bisa lebih intensif perawatannya," ucap Riki.
"Pulang aja Mas, Mbak Ayu baby sitter Natasha juga sudah kembali hari ini. Jadi aku ada yang bantu pegang Natasha, aku mohon Mas. Aku ingin pulang." Andin terus memohon.
Riki menghela nafasnya, ia menyetujui Andin dengan berat.
"Mih, Kak Intan, mau tinggal sementara denganku nggak? Kamar rumahku masih banyak, mungkin nggak sebesar kamar ketika di rumah Mami atau apartemen," pinta Andin.
Andin ingin Riki merasakan kasih sayang ibu dan juga bisa lebih dekat dengan kakaknya. Mami paham dengan maksud Andin, ia pun mau tinggal sementara di rumah Andin.
"Mami dan Kak Intan akan tinggal sementara di rumah kamu," ucap mami.
Andin tersenyum karena Mami setuju dengan permintaan Andin.
"Aku bicara dulu dengan dokternya yah, agar kamu bisa di rawat di rumah," izin Riki kepada Andin. Andin menganggukan kepalanya.
Kini Andin hanya dengan mami dan kakak iparnya.
__ADS_1
"Mami, Kak, Riki sangat kesepian. Sejak aku dekat dengan dia ketika SMA, dia lebih suka menyendiri. Apalagi jika ada acara yang mengundang orang tua, Riki selalu tidak ada ketika acara itu. Dia rindu akan kehangatan keluarga, maaf Mi, Kak, aku ajak kalian tinggal bersama aku dengan rumah yang mungkin nggak nyaman untuk kalian. Aku ingin Riki bahagia, merasakan kehangatan keluarga mempunyai ibu dan dekat dengan kakak kandungnya," tutur Andin.
"Kakak sangat bersyukur Riki mempunyai istri seperti kamu, terima kasih telah memberikan cinta yang begitu besar untuk Riki," ucap Intan.
"Mami mohon maaf atas perlakuan Papi kepadamu, Mami akan gugat Papi cerai. Mami sayang kamu Din, terima kasih sudah menjadi mantu Mami, terima kasih sudah mendukung Riki sejak dulu, terima kasih sudah memberikan cinta untuk Riki," ucap mami.
"Aku sangat mencintai Riki Mi, aku yang malah bersyukur mendapatkan laki-laki seperti Riki."
Andin tersenyum kepada mami, dirinya masih terasa lemas. Tangan kiri yang semula bisa digerakkan kini tidak bisa.
Riki kembali dengan kursi roda, membantu Andin untuk duduk di kursi roda.
"Kita mau kemana dulu sayang?" tanya Riki.
"Mi mau ke rumah aku langsung atau ke apartemen Mami?" tanya Andin.
"Ke apartemen dulu, Mami dan Kak Intan akan kemas barang-barang kami. Kamu share lock aja, nanti Mami dan Kak Intan akan ke sana," ucap mami.
"Kak Intan bukannya lusa balik ke Amerika?" tanya Riki.
"Kakak mau tinggal di Indonesia aja, Kakak mau jalan-jalan di Indonesia karena alamnya lebih indah daripada Amerika," ucap Intan.
"Antar mami dulu Mas, lalu kita ke rumah kedua orang tuaku. Mi nanti ada sahabatku yah, tapi dia hanya tinggal beberapa hari sampai cinderanya sembuh," ucap Andin.
"Iya sayang, nggak apa-apa Mami juga suka kalau rumah makin ramai." Mami tersenyum kepada Andin.
Riki mendorong kursi roda Andin dan membantunya untuk duduk di kursi bagian depan. Kali ini Riki lah yang menyetir mobil, sesuai yang Andin sudah bicarakan kemana Riki harus mengarahkan mobilnya.
"Angel, kamu ikut aku ke rumahku dulu yah. Jika cidera kamu sudah sehat baru kamu boleh ke kampung design. Jangan kaget yah, Mami mertuaku dan kakak iparku akan tinggal dengan aku juga." Andin bilang kepada Angel, agar dia tidak kaget jika ke rumah Andin.
"Iya Din, itu kan rumah kamu. Terserah kamu aja," ucap Angel sambil menyentuh tangan kiri Andin.
"Ah..." teriak Andin sampai matanya mengeluarkan air mata.
"Din, tadi pagi tangan kamu sudah nggak sakit seperti ini. Apa yang terjadi?" tanya Angel.
"Nanti aku ceritakan, duh Angel sakit banget." Andin duduk untuk menahan rasa sakitnya.
"Bersikap bisa di depan ayah dan Mamahku jangan sampai mereka tahu bahuku tambah parah," pinta Andin.
Andin berpamitan kepada kedua orang tuanya. Mbak Ayu juga sudah kembali untuk menjadi baby sitter Natasha.
"Riki, tolong jaga anak ayah yah. Ayah percaya sama kamu karena kamu laki-laki yang dicintai putri semata wayang Ayah." Ayah memegang pundak Riki.
"Iya Ayah, aku akan menjaga Andin. Aku sungguh sangat mencintainya," ucap Riki.
Mereka berpamitan dan menuju rumah Andin. Di dalam mobil Andin merasakan bahu atas kirinya sakit karena benturan ketika mobil berjalan.
"Rik, itu rumahnya yang tingkat." Angel memberi petunjuk Riki di mana rumah Andin karena Andin tidak sanggup untuk berkata apapun. Mobil Riki kini sudah terparkir di depan rumah Andin.
__ADS_1
"Aku gendong yah sayang," ucap Riki.
"Nggak usah Mas, aku masih kuat menahannya." Riki membantu Andin untuk berjalan. Mba Ayu menggendong Natasha, Angel mengikuti dari belakang.
"Rumah kamu bagus sayang, besar yah ternyata pantas kamu ajak Mami dan Kak Intan untuk tinggal di sini," ucap Riki.
"Besar apa sih Mas, bukan besar tapi cukup untuk kita tinggal." Riki memasuki kamar Andin. Begitu pun dengan Mbak Ayu dan Angel memasuki kamar mereka masing-masing.
Andin merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Riki mengelus kepala Andin penuh kasih sayang.
"Mas, bisa peluk aku nggak tapi jangan sampai kena bahu kiriku. Aku kangen ketika kamu peluk Mas, aku seperti wanita teristimewa kamu ketika dipelukmu," pinta Andin. Riki langsung memeluk pinggang Andin.
"Aku akan memelukmu sampai aku tua nanti, i love you my wife," ucap Riki.
Bersambung
Cerita Authoress
Hampir 1 tahun saya menulis di Noveltoon, awalnya hanya meneruskan hobby ketika di sekolah dulu. Saya bukan lulusan sarjana sastra, tapi lulusan pendd T. Elektro di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Aku sangat senang ketika novelku ada yang komen, jadi lebih semangat. Up aku tergantung dari komen kalian, kadang up hanya sekali, kadang double up bahkan awal aku menulis novel di sini 3 kali up. Kadang apa yang kita pelajari itu tidak nyambung dengan kehidupan kita. Rahasia Allah memang seperti itu unik buat kita terkejut, senyum bahkan ketawa sendiri hhh
Mau double up? Komen dulu yang banyak kakak manis. love you sekebon karet.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1