
Alice sedang memasak, ia mendengarkan saran Luna. Alice benar-benar membuat makanan yang sangat asin. Ia sudah menatanya di dalam rantang dan siap untuk di bawa ke rumah Dariel.
Sebelum ia berangkat, Alice membersihkan dirinya terlebih dahulu, memberi make up tipis di wajahnya. Terlihat seperti cantik alami.
"Lun, aku sudah siap. Yuk cus kita berangkat," ajak Alice.
"Yuk, kita jalan. Jangan lupa bawa makanan garamnya hehehe," ucap Luna sambil tertawa.
Alice dan Luna masuk ke dalam mobil. Kali ini Luna lah yang mengendarai mobil Alice, Dariel sudah share lock dimana kediaman Dariel di Jakarta. Luna mengarahkan mobilnya sesuai arahan google map. 1 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Dariel.
Ting Tong
Alice menekan bel.
Keluar wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik.
"Assalamu'alaikum, Tante. Darinya ada," ucap Luna.
"Waalaikumsalam, ya Allah kamu Angel kan. Wajah kamu beda banget, Tante sudah tahu tentang kamu dari Dariel. Kamu yang sabar yah Nak," ucap mama Dariel sambil memeluk Luna.
"Aku nggak nyangka Tante masih ingat aku," ucap Luna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana Tante bisa lupa, kamu dan Dariel seperti tom and jerry waktu di Inggris. Kamu mengingatkan Tante kepada adiknya Dariel yang sudah meninggal. Aduh Tante keasikan ngobrol, ayo masuk dulu. Ini pasti Alice, Dariel sering sebut nama kamu. Kata Dariel kamu cantik, tapi aslinya ternyata kamu cantik dan manis," ucap mama Dariel.
"Ah Tante bisa aja," ucap Alice.
Mereka duduk di sofa bersama-sama.
"Tadi kata tante adiknya Dariel sudah meninggal, maksud tante..." ucap Luna terhenti karena takut salah bertanya.
"Iya, Sabira sudah meninggal. Dia sakit kanker darah," ucap mama Dariel dengan mengeluarkan air mata.
"Innalillahi, maaf Tante aku mengungkit ini. Jadi Tante peringatan Sabira," ucap Luna menyesal.
Tidak lama Dariel keluar dari dalam kamarnya. Dariel menatap Alice dengan senyuman yang manis.
"Kalian sudah datang?" Dariel ikut duduk di sofa bersama dengan mama nya. Ia melihat rantang yang sudah dibawakan oleh Alice.
"Eh kamu sudah masak? Mah, ini masakan Alice buat aku. Mama mau coba nggak? Pasti enak," ucap Dariel antusias.
"Ini aku masak 1 porsi khusus untuk Kakak. Kak Dariel nggak bilang, kalau tahu seperti itu aku buat banyak porsinya untuk Tante juga," ucap Alice. Ia akan malu dengan mama Dariel jika ikut memakan masakannya karena rasanya sangat asin.
"Mama sudah makan, untuk kamu aja. Mama tahu alasan kamu nggak mau sarapan bersama ternyata ada yang masakin kamu, Tante tinggal dulu yah." Mama Dariel meninggalkan mereka.
Alice merasa tak enak, karena Dariel berharap bisa makan masakan dia. Dariel mulai membuka rantang yang di bawa oleh Alice. Ketika Alice melihat Dariel ingin memakannya, Alice malah menahan tangan Dariel agar tidak memakan makanan tersebut.
__ADS_1
"Kak, aku bikinin mie aja yah. Tadi kan kamu mau makan mie, ada bahannya kan. Jangan makan yang ini," ucap Alice sambil menahan tangan Dariel.
"Kamu sudah masak pagi-pagi untuk masak atas permintaanku. Aku akan menghargai masakan kamu," ucap Dariel melepaskan tangan Alice dengan perlahan.
Dariel langsung makan makanan yang Alice masak. Tidak ada ekspresi keasinan dari wajah Dariel, Dariel memakannya sampai habis tak tersisa.
"Terima kasih yah, sudah masakin buat aku. Lain kali masakin dengan menu yang lain, aku menunggu masakan kamu selanjutnya. Aku ambil minum dulu ke belakang," ucap Dariel dengan senyuman menatap Alice.
Alice menatap punggung Dariel yang masuk ke dalam dapur untuk mengambil air minum. Ada rasa bersalah dalam hati Alice.
"Lun, aku merasa bersalah banget deh. Asin banget loh ini tapi lihat dia habiskan semua," ucap Alice memperlihatkan rantang yang sudah kosong.
"Aku kenal Dariel sudah lama Alice. Dariel pria yang baik tapi ia yang kurang beruntung selalu mendapatkan perempuan yang nggak setia. Wajah Dariel tampan ka? Tapi sering diselingkuhi. Aku lihat beberapa kali Dariel menunjukkan bahwa dia tertarik sama kamu. Jika aku dorong kamu untuk menerima perhatian dia, nanti kamu pikir aku comblangin Dariel untuk kamu mentang-mentang dia sahabat aku." Alice mendengarkan ucapan Luna.
"Aku terkejut ketika ia meminta dibuatkan masakan kamu karena ia minta itu hanya kepada orang-orang yang ia cintai, ia minta sama mama nya, adiknya Sabira, aku kadang-kadang karena dia menganggap aku adiknya. Kamu lihat sendiri, betapa dia menghargai kamu, walaupun rasanya asin. Sekarang kamu bisa menilai Dariel sendiri. Aku hanya bantu memperlihatkan sisi lain dari Dariel yang terlihat sebagai playboy padahal nggak sama sekali." Luna memegang tangan Alice.
"Move on Alice dari Roby, lupakan apa yang telah dilakukan oleh Roby. Jangan takut jatuh cinta lagi," nasihat Luna.
"Ah kamu Lun." Alice mengeluarkan air mata. Luna langsung memeluk Alice dengan erat.
Di dapur Dariel minum air sangat banyak.
"Eh seseret itu kah habis makan, minum sebanyak itu," tegor mama Dariel.
"Asin banget Mah, masakan Alice. Ya Allah lidahku asin banget ini, moga-moga nggak sakit perut," adu Dariel ke mama nya.
"Kode apaan Mah?" tanya Dariel bingung dengan ucapan mamanya
"Kode ngebet kawin, eh jangan kawin dulu harus nikah dulu baru kawin. Udah kamu cepat lamar dia, kamu sudah tua, Mama ingin cepat punya cucu. Mama suka Alice, sikapnya sangat sopan, cantik dan manis." Mama menepuk pundak Dariel. Dariel hanya tersenyum dengan ucapan mamanya.
"Aku juga ingin seperti itu Mah cepat lamar dia, tapi aku belum mendapatkan hatinya," ucap Dariel.
"Usaha lebih keras lagi, sudah kamu ke sana. Nanti disangkanya kamu muntahin makanan yang sudah kamu makan lagi," ucap mama.
Dariel melangkahkan kakinya untuk ke ruang tamu lagi. Ia mengambil laptop yang sudah ia design terlebih dahulu untuk meretas. Sesuai janjinya, ia akan meretas seluruh nomor rekening Roby tanpa sepengetahuan sang empunya.
Dariel sudah duduk di depan Luna dan Alice.
"Mana Lun data-datanya?" Dariel meminta kepada Luna. Luna menyerahkan kepada laptopnya, Dariel langsung membuka laptop Luna dan mulai memindahkan data. Data sudah berpindah di laptop Dariel. Kini waktunya Dariel beraksi, ia mulai mengutak atik keyboard laptop. Wajahnya tampak serius melihat angka biner dalam kode-kode yang harus ia pecahkan. Dariel berhasil menerobos program di mana ia bisa mengetahui bank penyimpanan uangnya.
"Angel, sini deh lihat," ucap Dariel. Luna beranjak mendekati Dariel dia terbelalak melihat apa yang ia lihat.
"Pencucian uang ini mah Riel, kita menemukan bukti baru. Gila Roby cuci uang diperusahaan mana dia," ucap Luna dia tidak menyangka Roby melakukan itu.
"Aku masuk jaringan sekarang, agar bisa membuka kunci kode bank pencucian uang ini. Aku akan pindahkan ke bank swiss," jemari Dariel mulai mengutak atik kembali keyboardnya. Dengan kemampuannya Dariel berhasil membobol kode bank tersebut.
__ADS_1
"Alice cantik sini," ajak Dariel.
"Apa sih Kak, kamu serius aja," ucap Alice.
"Sini aku kasih tahu, ini akan buat kamu senang," ucap Dariel.
Alice mendekati Dariel.
"Klik enter, maka uang Roby akan langsung berpindah." Dariel mengambil tangan Alice, mata mereka saling bertemu. Alice menekan tombol enter.
Layar laptop mulai memproses, dalam hitungan 1 menit uang Roby habis terkuras.
Bersambung
Terima kasih yang sudah memberikan jempolnya, komen, bintang lima, subscribe, vote di novel ini. TOP BGT kalian, love you pokoknya sekebon karet.
Kalau mau berteman sama Authoress di ig yuk mampir @kak_farida
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1