
"Alice, Angel, bisa hubungi ortu Andin. Aku harus mengoperasi Andin segera," ucap Riki.
"Aku tadi sudah memberi tahu kedua orang tua Andin mereka sedang dalam perjalanan," ucap Luna.
"Itu kedua orang tua Andin," Alice menunjukkan jarinya mengarah ke kedua orang tua Andin. Mama Andin sambil menggendong Natasha dengan wajah yang sudah membasahi pipinya.
"Angel, Alice, bagaimana dengan dengan Andin?" tanya mama Andin.
"Tante, biar saya yang gendong Natasha," ucap Alice.
"Tante, sabar yah. Andin pasti selamat. Ini dokter Riki yang akan operasi Andin, ia meminta persetujuan Om dan Tante agar Andin segera di operasi," ucap Luna.
Ayah Andin langsung membubuhi tanda tangan.
"Stok darah golongan B hanya sisa 3 kantong, Andin kurang 1 kantong darah lagi untuk operasi ini. Mungkin Om dan Tante golongan darahnya sama dengan Andin," ucap Riki.
"Golongan darah Om AB, Tante A," ucap ayah Andin.
"Golongan darahku B," ucap Luna.
Riki memanggil suster untuk mengantarkan Luna ke ruang laboratorium.
"Jimmy, kamu ikut operasi. Panggilkan dokter Yuna dan dokter Andre untuk membantu aku, aku mau Andin dioperasi dengan dokter terbaik," ucap Riki.
Jimmy langsung menelepon rekan dokter yang diminta oleh Riki. Mereka langsung berkumpul, karena yang menyuruh mereka adalah dirut rumah sakit tempat mereka bekerja. keempat dokter itu memasuki ruang operasi, Luna sudah mendonorkan darahnya untuk Andin. Ia sedang istirahat sebentar untuk menormalkan pandangannya yang buram setelah darahnya di donorkan.
Keluarga dan sahabat Andin menunggu dengan kecemasan yang tinggi. Ketika mereka sedang menunggu operasi Andin, Irsyad dan Ratna datang untuk mempertanyakan keadaan Andin. Andin pernah memperkenalkan Irsyad kepada kedua orang tua Andin, sebagai orang yang sedang dekat dan akan segera menikah. Tapi mereka belum tahu bahwa Andin sudah membatalkan pernikahan itu.
"Irsyad, Andin kecelakaan. Sekarang sedang dioperasi," ucap mama Andin.
"Tente tenang kita berdoa agar Andin bisa selamat," ucap Irsyad.
"Jangan pura-pura baik Pak Lurah, Tante, pria ini telah menghina masa lalu Andin dan Andin telah membatalkan pernikahannya dengan Irsyad. Tante tahu apa yang ia katakan?" tanya Alice.
"Dia berkata, 'pantas suamimu berkhianat denganmu karena tidak puas denganmu jadi ia mencari kesenangan yang lain di luar sana, karena pemikiranmu terlalu konyol.' Alice sangat tak suka dengan kedatangan dari Irsyad.
Kedua orang tua Andin langsung hilang respect dengan Irsyad. Mereka tak berkata apa pun setelah mengetahui itu. Mereka hanya fokus dengan Andin yang sedang operasi. 30 menit Luna kembali, ia menunggu operasi Andin.
"Kamu nggak apa-apa Lun?" tanya Alice.
"Aku baik-baik aja Alice, Alhamdulilah darahku bisa membantu operasi Andin. Aku harap Bang Jimmy dan Riki bisa sukses untuk mengoperasi Andin," ucap Luna berharap.
"Amin," ucap Alice.
__ADS_1
4 jam Andin di operasi, karena ada pendarahan di paru-paru Andin karena benturan yang sangat keras dan juga engsel lengan atas Andin terlepas. Riki keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dengan Andin?" tanya mama Andin.
"Alhamdulilah, operasi Andin sukses tapi masa kritisnya belum ia lewati. Karena kami membersihkan pendarahan di paru-paru, juga mengoperasi lengan atas Andin. Kita doakan agar Andin bisa melewati masa kritis. Aku yang akan langsung menjadi dokter pertanggungjawaban Andin. Saya permisi dulu Buk, Pak," ucap Riki sangat sopan.
"Angel, sepertinya Tante kenal sama dokter yang operasi Andin," ucap mama Andin.
"Itu Riki Tante, teman kita waktu di SMA dulu. Waktu SMA cungkring, culun, pakai kaca mata besar," ucap Luna.
Mama Andin mengingat-ingat.
"Ah beneran itu Riki, kok lain? Lebih tampan, nggak pakai kaca mata besar, nggak cungkring. Tante ingat, waktu SMA Riki pernah nembak Andin. Tante tahu siapa-siapa aja yang nembak Andin karena hanya sedikit beda sama kamu Angel, karena kamu siswi paling populer dulu," ucap mama Andin.
Irsyad yang masih berada di situ dadanya terasa panas, tangannya mengepal. Karena ia tak rela jika Andin dimiliki oleh pria lain.
Tak lama, Andin keluar dari ruang operasi. Mata Andin masih terpejam, lengan kanannya terlihat luka-luka bekas serpihan kaca. Wajah Andin sangat pucat, Alice dan Angel menatap keadaan Andin sangat menangis.
"Ya Allah, Andin kenapa kamu naik mobil ngebut sih. Kamu hampir nggak pernah ngebut, apa penyebab kamu menjalankan mobil mu dengan kecepatan tinggi?" ucap lirih Luna.
Alice, Luna, dan yang lain mengikuti branker Andin dari belakang. Ketika memasuki ruang ICU mereka ditahan agar tidak masuk.
'Ya Allah, aku yang sebabkan Andin menjalankan mobilnya sangat cepat. Ya Allah, aku membuat Andin menderita. Haruskah aku melepaskan Andin. Irsyad bodoh...bodoh banget sih lu, sakitin wanita yang lu sayang,' teriak batin Irsyad.
"Irsyad, kita pulang yang terpenting kita sudah tahu keadaan Andin. Ayo kita berpamitan dengan ke dua orang tua Andin," ucap Ratna.
"Om...ndong..." Natasha merentangkan tangannya. Irsyad mengeluarkan air mata menatap Natasha. kedua orang tua Andin melihat cucu mereka sangat dekat dengan Irsyad merasa terkejut. Karena Natasha tidak mudah untuk dekat dengan orang lain.
"Alice maaf, boleh aku menggendong Natasha sebentar?" tanya Irsyad.
"Om...Om...Ndong." Natasha terus meminta agar digendong oleh Irsyad.
Alice memberikan Natasha kepada Irsyad, ia langsung menggendong putri Andin tersebut. Irsyad memeluk Natasha sangat erat.
"Nata, maafkan Om yang telah membuat mama sedih dan kecelakaan. Maafkan Om," bisik Irsyad di telinga Natasha. Irsyad benar?benar menangis ketika menggendong Natasha, suasana menjadi hening seketika.
"Nata, Om pulang dulu yah. Nanti Om kesini lagi bawa coklat untuk kamu." bujuk Irsyad mau di gendong dengan Alice kembali.
"nji?" tanya Natasha.
"Om janji," jawab Irsyad dengan tersenyum membelai pipi Natasya.
Berat hati Irsyad meninggalkan rumah sakit itu dalam hatinya ia ingin menunggui Andin sampai Andin sadar tapi sulit untuk Irsyad untuk mengetuk hati keluarga Andin kembali, terlebih dengan Andin.
__ADS_1
"Tante, Om, biar kita berdua yang menunggu Andin. Jika ada perkembangan tentang Andin, kami akan langsung komunikasi dengan Om. Kasian Natasha menunggu di rumah sakit," ucap Luna.
"Embu nana?" tanya Natasha.
"Bunda lagi bobo, Natasha mau lihat?" tanya Alice.
"Au ante," jawab Natasha
Alice membaca ke pintu ruang ICU. Natasha melihat Andin dari kaca.
"Embu, Nata angen. Angun Embu..." ucap Natasha.
"Bunda kecapean sepertinya, nanti jika Bunda bangun Tante telepon Nata yah. Nata sekarang pulang dengan oma dan opa," ucap Alice.
Mama Andin langsung menggendong Natasha, kedua orang tua Andin pulang.
"Lun, kita salat isya dan makan dulu yuk. Jangan sampai yang jaga lupa makan dan lupa ibadah," ucap Alice.
"Yah sudah ayo," ucap Luna.
Ketika Luna dan Alice pergi untuk salat, Riki datang ke ruang ICU. Ia ingin memeriksa Andin setelah 2 jam di operasi.
"Bagaimana Dok, keadaan pasien?" tanya Riki.
"Alhamdulilah, stabil Dok," ucap perawat.
"Sus, ambilkan vitamin. Saya ingin menyuntikkan secara langsung kepada pasien," pinta Riki.
"Baik Dok." Perawat itu mencari vitamin suntikan yang diminta oleh Riki.
"Dok, maaf stok di sini habis. Saya ke apotek dulu," ucap perawat yang diberikan jawaban dengan gangguan kepala.
Kini di ruang ICU hanya ada Andin yang masih belum sadar dan Riki.
"Andin, kenapa kita bertatap muka ketika kamu dalam keadaan seperti ini? Ketika SMA aku suka sama kamu, rasa itu aku bawa ketika aku kuliah. Rasa suka itu menumpuk menjadi rasa cinta. Aku syok mendengar kamu menikah dengan Rafif yang kamu kenal lewat chatting, bodohnya kamu bisa dijebak oleh dia. Din, aku tahu sekarang kamu sudah berpisah dengan Rafif. Boleh aku menangih janjimu ketika kita masih SMA?" Riki menyentuh tangan Andin, ia menangis ketika menyentuh tangan Andin.
"I love you Andina Anastashia," bisik Riki di telinga Andin.
Bersambung.
Aduh...Andin pilih yang mana?
Benar-benar janda berkwalitas Andin.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca bab ini. Tinggalkan jejak komen kalian, ssttt like nya juga yah.
Ini aku up pukul 15.36, nggak tahu review dari Noveltoon jadinya jam berapa.