
Pagi mulai menyingsing. Pagi ini Andin bangun kesiangan, sudah pukul 05.30. Ia baru terbangun, kedua sahabatnya pun masih lelap tidur karena mereka kemarin malam tidur sampai pukul 12.00 malam. Andin membangunkan Luna dan juga Alice agar mereka terbangun.
"Luna, Alice, bangun sudah pukul 05.30 salat subuh." Andin menggoyangkan tubuh Luna dan juga Alice. Mereka mulai membuka mata dan bergegas untuk salat subuh terlebih dahulu setelah itu mereka mandi.
"Alice kamu pakai bajuku saja, ukuran tubuh kita 'kan sama." Luna memberikan Alice untuk memakai salah satu pakaian Luna.
"Terima kasih Angel," ucap Alice.
"Alice kamu jangan memanggil Angel lagi tapi panggil Luna. Jika kamu terbiasa panggil Angel nanti Roby akan tahu bahwa Luna adalah Angel," ucap Andin.
Setelah mereka selesai, mereka langsung bergegas untuk pergi. Luna akan ke kampung desain, sedangkan Alice pergi ke pabrik kain.
"Aku serasa seperti sopir kalian deh nganterin Luna dulu terus nganterin Alice, sebenarnya siapa sih yang Bos? Kok aku seperti sopir seperti ini?" protes Andin.
Alice dan Luna tertawa karena mereka kenyataannya bawahan dari Andin.
"Sementara aja, nanti aku suruh sopir Papaku untuk mengantarkan mobil ke pabrik kain," ucap Alice.
"Kamu sudah baik-baik saja kan? Jangan nangis lagi karena kamu tidak jadi menikah dengan Roby," tanya Andin.
"Andin, justru aku bersyukur tidak menikah dengan Roby yang ternyata dia mendekati wanita hanya untuk memuaskan nafsunya saja, bukan karena ia cinta. Entahlah berapa banyak ia meniduri wanita," jawab Luna.
"Iya dia sepertinya hanya ingin mengambil keperawanan dari wanita-wanita yang ia rencanakan. Kamu lihat sendiri kan video CCTV ketika ia di kantor," ucap Andin.
"Aku baru tahu loh Luna bisa meretas CCTV. Aku nggak nyangka sahabatku bisa melakukan itu," puji Alice untuk Luna.
"Jadi Justru itu Alice, aku tidak boleh ketahuan bawa Luna adalah Angel. Aku ingin meretas kantor Roby karena kantor itu sebenarnya milik ayahku," ucap Luna.
"Aku akan bantu kamu Lun," ucap Alice.
Handphone Luna berdering. Luna malas untuk mengangkat telepon.
"Kenapa tidak diangkat Luna?" tanya Andin.
"Aku males Andin mengangkatnya," jawab Luna.
"Dari pengagum kamu ya? Sang dokter?" ledek Andin.
"Pengagum Luna? Siapa Andin?" tanya Alice.
"Dokter yang mengoperasi kepala Luna, bukan Luna terbayang-bayang wajah dokter itu di kepalanya. Tapi sebaliknya dokter itu telah terbayang-bayang wajah Luna," ucap Andin.
"Wah Luna sudah ada penggantinya aja nih, dokter lagi," ledek Alice.
"Siapa sih orang aku bukan siapa-siapa kok sama dokter Jimmy," ucap Luna.
__ADS_1
"Cie namanya disebut. Luna sudah dilamar tahu Alice cuman dia jual mahal, kemarin dapat bunga dari dokter Jimmy aja dia senyum-senyum sendiri," ledek Andin.
"Kamu kan sudah janji mau mencari informasi tentang dokter Jimmy terlebih dahulu. Aku nggak mau salah langkah seperti Roby. Nyawaku tidak banyak Andin, aku selamat aja dari kecelakaan karena Allah menyelamatkan aku, walaupun dengan wajahku yang rusak, pita suaraku yang rusak, dan juga pendarahan di kepalaku," ucap Luna.
"Hari ini detektif yang aku sewa akan melaporkan informasi tentang dokter Jimmy," ucap Andin.
Mobil yang dikendarai Andin sudah sampai di kampung desain. Andin berterima kasih kepada Rohaya telah meminjamkan mobilnya. Rohaya sangat senang karena tim Andin berhasil untuk menyelamatkan Alice. Rohaya memeluk Alice dengan erat.
"Alhamdulillah Neng selamat, kemarin ibu doa buat Neng biar Neng selamat dari laki-laki garong itu," ucap Rohaya.
"Makasih Bu Rohaya sudah mendoakan aku," ucap Alice.
Rohaya memberikan kunci mobil kepada Andin, lalu ia langsung naik ke mobil untuk mengantarkan Alice ke pabrik kain.
"Setelah ngantar Alice, aku balik lagi ke sini karena aku harus menyelesaikan desain, agar para penjahit bisa segera menjahit hasil desain ku," ucap Andin kepada Luna.
Andin mengantarkan Alice ke pabrik kain, setelah itu ia kembali lagi ke kampung desain. Selama seminggu ini ia fokus dengan desain karena targetnya seminggu desain selesai dan tiga minggu untuk penjahitan.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum Bu Andin, ada yang mau bertemu Ibu. Katanya sudah ada janji sama Ibu, dia mengaku detektif," ucap Ucup.
"Wa'alaikumsalam, suruh masuk Pak," ucap Andin.
"Lun, sini biar kamu dengar tentang dokter Jimmy." Luna menarik bangkunya lalu duduk di samping Andin. Detektif mulai menceritakan tentang Jimmy.
"Dokter Jimmy adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Adiknya sudah menikah, ia di desak agar segera menikah. Jika tidak maka dia akan di jodohkan dengan anak dari teman relasi ayahnya. Ayah dokter Jimmy pengusaha batu bara, dia tidak mau mengikuti jejak sang ayah, selalu menentang kemauan ayahnya. Menjadi dokter, sang ayah tidak setuju. Tapi Jimmy tidak perduli," lapor Suparno, detektif Andin.
"Ada perempuan sebagai pacarnya atau mantan istri?" tanya Andin.
"Belum menikah dan nggak pernah pacaran. Hanya dengan Mbak Luna aja dia menyatakan perasaannya," jawab Suparno.
"Jadi orangnya nggak neko-neko yah Pak?" tanya Andin.
"Lurus tapi membelot sama ayahnya," jawab Suparno.
Andin memberikan uang kepada Suparno karena sudah menyelidiki Jimmy.
"Terima kasih Bu Andin, saya permisi dulu. Selamat siang." Suparno beranjak meninggalkan kantor Andin.
Andin menatap Luna.
"Bersih orangnya Lun, kamu jangan terima dulu. Lihat kesungguhan dia, dia benar-benar cinta sama kamu atau nggak," ucap Andin. Luna hanya menganggukan kepalanya.
***
__ADS_1
Satu bulan kemudian.
fashion show hari ini digelar, kali ini tempatnya di sebuah mall. Andin mengundang para penjahit untuk melihat desain mereka yang dipakai oleh para model yang berlenggak-lenggok di panggung. Para pengunjung mall tersebut sangat banyak sampai melihat dari lantai atas.
Andin duduk di bangku penonton dengan Luna dan juga Alice. Di depannya ada sofa yang masih belum terisi, kata Bu Ratna itu pejabat yang diundang di fashion show kali ini. Andin disuruh untuk menempati sofa di depan karena ia pendesign. Tapi dia menolak ia mau duduk bersama kedua sahabatnya dan juga para penjahit.
"Bu Ratna, ini sudah pukul 9. Belum mulai?" tanya Andin.
"Acara akan di mulai setelah pejabat itu datang," jawab Ratna.
"Pejabat ngaret banget sih, nggak on time," keluh Andin.
Lama menunggu, akhirnya acara di mulai pukul 9.30 pagi. Andin berdecak kesal karena pejabat ini, apalagi ketika Andin lihat siapa pejabat yang Ratna maksud.
'Dih, pejabatnya ternyata lurah error, yang mulutnya seperti cewe nyerocos terus,' ucap batin Andin.
Acara pertama adalah pembukaan yang di buka oleh Irsyad, lurah yang Andin tidak suka. Ketika Irsyad berdiri di depan panggung, ia menatap Andin, Andin memang sudah berubah. Sudah cantik dengan tubuh yang tinggi semampai. Tidak ada kaya gendut yang menempel di tubuhnya.
'Seperti pernah ketemu deh, dimana yah?' ucap batin Irsyad.
Acara fashion show di mulai, para pendesign duduk berdampingan dengan Ratna dan juga Lurah tapi tidak termasuk Andin. Tidak ada yang tahu bahwa Andin adalah pendesign yang sedang naik daun. Karena para pelanggannya belum tahu perubahan tubuh Andin yang langsing. Bahkan Sally saja tidak mengenali Andin.
"Lun, anterin aku ke toilet yuk. Kebelet banget nih." Andin menarik tangan Luna.
"Ya Allah Din, sebentar lagi design kamu tampil loh," ucap Luna.
"Justru itu, makanya sekarang anterin ke toilet. Daripada aku beser di panggung lebih gawat," ucap Andin.
Luna akhirnya mengantarkan Andin ke toilet, setelah itu ia kembali lagi ke acara. Tak di sangka ia bertemu dengan Irsyad yang baru selesai dari toilet.
"Sepertinya kita pernah ketemu deh?" ucap Irsyad.
'Dia tidak kenal aku, oh iya aku kan berubah banget,' ucap batin Andin.
"Lupa yah sama aku? Nggak nyangka yang suka kebersihan, penunggu danau. Tapi kualitas kerjanya buruk. Acara seharusnya di mulai pukul 9 pagi jadi molor 9.30 pagi. Tidur dulu Pak Lurah? Tuh masih terlihat jalan air liurnya di dekat bibir, ke toilet nggak sambil cuci muka?" ledek Andin.
Irsyad terdiam sejenak, ia berpikir.
"Sampah masyarakat?" tunjuk Irsyad ke wajah Andin.
"Ngatain aku sampah masyarakat, sendirinya lurah jam karet. Ngaca dulu Pak sebelum ngatain seseorang." Andin menarik lengan Luna. Dia malas bicara dengan Irsyad.
"Jangan jutek gitu, awas nanti jatuh cinta," bisik Luna. Andin menatap Luna dengan malas.
Bersambung dulu Ah 😁
__ADS_1