
Luna diizinkan untuk masuk ke ruang ICU. Ia berjalan dengan perlahan menuju ranjang Jimmy, tubuh Jimmy masih terbaring lemah. Bunyi alat penunjang kehidupan dipasang ke tubuh Jimmy. Suara mesin EKG terdengar di ruang tersebut. Luna duduk di samping ranjang Jimmy dan menggenggam tangan Jimmy.
"Abang jangan lama-lama menutup matamu Bang, kata kamu mau menikahi aku, tapi kok kamu masih menutup matamu sampai sekarang? Sudah dua hari setelah operasi kamu tidak membuka matamu." Luna membelai wajah Jimmy. Tampak Jimmy menggunakan alat pernapasan di hidungnya.
"Abang tahu? Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Benar kata Andin bahwa ketika cinta itu datang maka sambutlah dengan baik karena itu merupakan momen yang tidak akan terulang lagi. Aku menyesal Bang telah mengabaikan ungkapan cintamu kepadaku, sekarang aku percaya bahwa kamu mencintai aku. Ketika Abang memuja kecantikan perempuan lain di hadapanku, jujur Bang hatiku merasa takut kehilanganmu. Aku takut hatimu sudah pudar, cintamu untukku sudah hilang. Maafkan aku tidak bisa mengungkapkan isi hatiku ketika itu," ucap Luna.
Luna menangis sambil memegang tangan Jimmy dan mengecupnya. Tangisannya tidak terbendung lagi melihat pria yang dicintainya terbaring tak berdaya. Bibir Jimmy yang selalu mengungkapkan rasa cintanya kepada Luna setiap hari kini sudah tiga hari, Luna tak mendengar suara ungkapan cinta dari Jimmy. Setiap pagi Jimmy selalu mengirimkan pesan singkat ke nomor Luna untuk menanyakan kabarnya, untuk menyemangatinya, kini Luna tidak mendapatkan pesan singkat itu dari Jimmy.
"Bang tolong jangan terlalu lama untuk menutup mata." Luna mendekatkan wajahnya lalu membisikan di telinga Jimmy, "Abang aku sangat mencintaimu, jika kamu membuka mata. Aku siap dinikahi olehmu, tolong bangun Bang." Luna mengecup pipi Jimmy.
"Maaf mbak waktu sudah habis, pasien harus istirahat," ucap perawat yang masuk ke dalam.
"Iya baik sus, saya akan keluar," ucap Luna.
"Abang aku keluar dulu ya sayang. Aku menunggu kamu di luar." Luna mencium tangan Jimmy, lalu ia beranjak untuk keluar dari ruang ICU.
"Lun kamu dari kemarin belum makan loh, kita ke kantin yuk, makan dulu," ajak Andin.
"Aku mau menunggu Abang Jimmy di sini aja Din, kamu jika lapar makan aja," tolak Luna.
"Luna, jangan sampai Jimmy membuka mata kamu yang jatuh sakit, kalau seperti itu kapan kalian bertemunya. Kamu harus sehat agar ketika Jimmy membuka mata, kamu bisa merawatnya," bujuk Andin.
"Tapi Din..." ucapan Luna terpotong.
"Sayang benar apa yang dikatakan Andin. Kamu makan ya jangan sampai kamu yang malah sakit," ucap mama Jimmy sambil mengelus rambut panjang Luna.
Akhirnya Luna pergi ke kantin dengan Andin. Andin menggandeng tangan Luna. Selama dua hari ini Andin selalu bolak-balik antara rumah sakit dan pulang ke rumahnya. Walaupun bahunya masih terasa sakit, tapi Andin dengan setia untuk menemaninya. Alice datang ketika malam, karena malamnya Andin akan pulang.
"Kamu mau makan apa Lun?" tanya Andin.
"Disamain aja dengan kamu," ucap Luna. Akhirnya Andin memesan ayam bakar kesukaan dari Luna. Ia juga memesan air jeruk hangat untuk Luna. Andin tahu makanan dan minuman favorit dari Luna. Luna memakan yang sudah Andin pesan dengan sangat perlahan, terkadang dia hanya terdiam. Ketika Andin menyentuh tangannya baru ia akan makan kembali.
"Yang semangat dong makanya Lun, aku nggak suka kalau kamu sakit. Kalau kamu seperti ini sama aja kamu menyiksa diri kamu sendiri. Jimmy juga tidak akan suka melihat kamu seperti ini, makan Lun please demi Jimmy," ucap Andin.
Setelah Andin menasehati Luna, ia baru makan seperti biasa sampai habis.
"Andin aku sudah habis makanannya, kita kembali yuk. Aku mau menemani Abang Jimmy." Luna menarik tangan Andin dengan tidak sabar.
"Iya Lun, tunggu aku minum dulu sebentar. Aku belum minum nih," protes Andin. Andin pun minum sampai gelas tandas, kemudian dia berjalan untuk menuju ke ruang ICU.
Dari kejauhan Luna melihat para dokter dan juga perawat masuk ke ruang ICU. Mereka terlihat sangat panik mama dan ayah Jimmy menangis, mereka saling berpelukan. Perasaan Luna tidak enak, ia pun langsung berlari untuk menghampiri mama dan ayah Jimmy.
"Mah ada apa?" tanya Luna.
"Ji..jimmy kritis," jawab mama dengan suara yang terbata-bata.
Tubuh Luna langsung lemas, ia berbalik badan dan menatap di kaca kecil bagaimana para dokter yang sedang berjuang untuk menstabilkan detak jantung Jimmy. Para perawat bolak balik memasuki ruang ICU Jimmy untuk memberikan obat kepada dokter yang menangani Jimmy.
Luna menangis dan mengedor kaca ruang ICU.
"Abang...Abang...Jangan tinggalkan aku. Kamu nggak boleh pergi," teriak Luna histeris.
__ADS_1
Andin langsung mendorong tubuh Luna agar tidak memukul kaca dan memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
"Luna...Istigfar! Istigfar Lun," ucap Andin. Luna mendorong Andin sampai Andin terjatuh. Riki membantu untuk mendirikan Andin.
"Kamu baik-baik aja? Bahu kamu nggak apa-apakan?" tanya Riki.
"Nggak apa-apa Mas, duh Alice mana sih? Katanya sudah mau sampai," ucap Andin.
Tak lama Alice dan Dariel datang, Alice pun berlari karena melihat ruang ICU Jimmy yang sangat ramai.
"Din, ada apa?" tanya Alice.
"Jimmy sekarat, tolong temani Luna," pinta Andin.
Terlihat dokter sedang memacu jantung Jimmy. Luna menatap perjuangan dokter tanpa berkedip, berdoa atas keselamatan Jimmy.
KLEK
Dokter membuka pintu, mama dan ayah Jimmy langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana dengan putra saya Dok?" tanya mama Jimmy.
"Maaf Bu, kami sudah berusaha tapi Allah lah yang menentukan," jawab Dokter.
DEG
Jantung Luna seakan terhenti mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter. Luna menghampiri dokter.
"Maaf Mbak, tolong ikhlaskan agar dokter Jimmy tenang di alam sana," ucap Dokter.
"Nggak...Nggak...Ini tak mungkin, dia telah berjanji akan menikahiku, dia sudah berjanji!" teriak Luna.
Jenazah Jimmy keluar dari ruang ICU, tubuhnya ditutupi dengan kain putih.
"Mau dibawa kemana calon suami saya, dia masih hidup. Awas kalian." Luna membuka kain putih penutup wajah Jimmy.
"Bang bangun sayang, ayo bangun...Jangan bercanda seperti ini. Ini nggak lucu Bang. Cepat bangun sayang, kita menikah sekarang. Aku siap dinikahi olehmu, aku tarik ucapanku tentang perjanjian tidak boleh menyentuhku. Ayo Bang bangun...." Luna mengguncang-guncang jenazah Jimmy.
"Abang...jangan jahat sama aku, bangun kataku...bangun!" teriak Luna.
"Lun, jangan seperti ini. Ikhlaskan dokter Jimmy, kamu nggak akan bisa mengubah takdir. Lihat aku Lun," ucap Alice memegang pipi Luna dengan kedua tangannya.
Luna menepis tangan Alice.
"Kamu nggak paham Alice! Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Aku sudah kehilangan Tere di depan mataku. Calon suamiku masih hidup, jangan berani mengatakan bahwa dia sudah mati, jangan pernah mengatakan iklas untuk kepergiannya," teriak Luna.
Jenazah Jimmy di dorong kembali oleh petugas kamar jenazah.
"Aku bilang jangan dibawa calon suamiku, dia masih hidup." Luna menahan branker Jimmy yang sedang di dorong. Namun petugas memegangi Luna. Luna terus memberontak melepaskan dirinya.
"Abang...Abang...Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Roby, laki-laki berengs*k kamu. Akan kubunuh kamu dengan tanganku sendiri! Kamu membunuh Tere dan sekarang Jimmy pria yang sangat aku cintai. Abang.....Abang..." Riki menyuntik lengan Luna dengan obat penenang, perlahan tubuh Luna melemah. Andin dan Alice memegangi tubuh Luna.
__ADS_1
"Abang...No...Don't leave me. I love you so much," ucap Luna dengan suara yang makin melemah.
Tubuh Luna di bawa ke ruang rawat inap. Andin dan Alice menunggu Luna sadar, mereka tidak mau Luna histeris ketika tersadar.
Luna membuka matanya secara perlahan, Andin dan Alice langsung menggenggam tangan Luna.
"Abang Jimmy mana? Abang Jimmy mana? Andin, Alice..." tanya Luna.
"Sabar yah Lun, iklas...ikalasin Jimmy agar ia tenang di sana," ucap Alice.
"Nggak...Nggak...Abang Jimmy masih hidup. Abang....." teriak Luna histeris.
"Angel...Angel...bangun hai...." Andin menepuk-tepuk pipi Luna.
Luna menangis dan terbangun.
"Astagfirullah, aku mimpi Din. Abang Jimmy bagaimana keadaannya?" tanya Luna.
Bersambung
Buat tengang awalnya, tapi akhirnya bacanya senyum kan hehehe 😁
Yang belum follow aku, yuk Follow...kalau followerku ada 200 aku akan membuat novel baru di NT.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1