Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Masak = Rapat


__ADS_3

"Terima kasih telah membantu kami. Kalian pasti bukan kebetulan ada di sini, siapa kalian?" tanya Dariel penuh selidik.


"Kami suruhan Bu Andin, bertugas untuk menjaga Mbak Alice kemanapun ia pergi," ucap pria berkumis tebal, bernama Marvin.


"Perkenalkan kami tim quartet Ma khusus untuk menjaga Mbak Alice. Perkenalkan yang kumis Marvin, ini Mark, Marcel dan saya Markus," keempat anak buah Andin memperkenalkan diri mereka.


Alice ke luar dari dalam mobil.


"Sayang, kamu disiapkan bodyguard sama Andin nama body guardkamu quartet Ma, nama mereka bawaannya Ma semua," ucap Dariel.


Alice bingung, ia langsung menelepon Andin.


"Hallo Din, kamu suruh orang untuk jadi body guard aku?" tanya Alice.


"Hmmm mentang-mentang sudah di lamar Dariel. Telepon nggak beri salam lagi," protes Andin di ujung telepon.


"Eh belum yah, maaf udah U Din," ucap Alice ngeles.


"Dih nikah aja belum sudah U aja, kamu ada yang menyerang yah?" tanya Andin.


"Iya, mau di culik aku. Memang siapa sih mereka?" tanya Alice.


"Makanya kamu tuh jangan pacaran terus, ke rumah aku makanya. Malah 1 minggu nggak nongol, nggak jenguk aku, nggak jenguk Luna, nggak ke pabrik kain, sudah nggak mau kerja sama denganku lagi?" tanya Andin. Alice terdiam, ia baru sadar 1 minggu ini dia hanya terlalu banyak berkomunikasi dengan Dariel bahkan ia lupa ada tanggung jawab di pabrik kain.


Lain Angel, lain juga Alice. Alice jika dia merasa senang maka mendadak akan amnesia dengan sekelilingnya. Angel dia selalu ingat apa tanggung jawabnya tapi memang rada aneh, Angel suka makan bunga melati, mencium bunga melati dan membakar bubuk kayu gaharu. Sahabat Andin ini ada kekurangan dan kelebihan, posisi Andin ada di tengah-tengah tapi soal kecerdasan Andin yang paling rendah kecerdasannya dibandingkan dengan Angel dan Alice.


"Maaf sayang, sahabatku yang cantik, aku akan langsung ke rumah kamu sekarang," ucap Alice di ujung telepon.


"Aduh...duh sahabat aku yang satu ini, nggak berubah yah. Aku minta bayaran denganmu," ucap Andin.


"Perhitungan banget sih sama sahabat, memangnya mau apa?" protes Alice.


"Aku lapar, masakin aku makanan tapi penghuni aku agak banyak nih. Minta bantuan sama ayang kamu yah oce deal," ucap Andin.


"Ah biasa deh sahabat-sahabatku, urusan perut aja minta cepat-cepat, oke aku kesana sekarang. Aku tutup teleponnya assalamualaikum," ucap Alice setuju.


"Pak terima kasih atas bantuannya," ucap Alice kepada quartet Ma.


"Iya Mbak sama-sama," ucap quartet Ma.


"Kak, aku mau ke rumah Andin," pinta Alice.

__ADS_1


Mobil Dariel berjalan menuju rumah Andin, dibelakangnya diikuti oleh mobil pengawal.


***


"Bodoh kalian, membawa 1 perempuan aja nggak bisa," big bos marah besar.


"Maaf Bos, ada 4 orang yang melindungi perempuan itu," ucap anak buah.


"Lu Roby, ini semua gara-gara lu. Semua ini kebod*han lu, gegabah dalam bertindak. Lu pikir nggak? Gara-gara lu rencana gua bisa kebongkar. Percuma gua gaji mahal lu pada, tapi malah nggak becus! Gua bilang main halus agar polisi nggak mencium kita," ucap big bos.


"Iya Bos, gua ngaku salah. Gua siap terima hukuman," ucap Roby.


"Nyawa lu kali ini bisa selamat, hanya ditusuk sama anak buah lu yang bod*h, mungkin lu nanti akan merasakan peluru panas yang tembus kepala lu," ucap bos sambil meletakkan telunjuknya di kepala Roby.


"Gua nggak mau tahu, lu cari siapa yang meretas rekening lu. Dia pasti tahu pencucian uang itu, awas lu rusak rencana gus. Baha," teriak big bos memanggil anak buahnya.


"Iya Bos." Baha menghadap big bos.


Big bos membisikkan ke telinga Baha.


"Paham lu? Kerja yang rapih! Jangan sampai ada satu titik kesalahan," ucap big bos.


"Baik bos," jawab Baha.


***


Dariel dan Alice masuk ke rumah Andin. Luna yang membukakan pintu, ia ditelepon Andin agar segera datang ke rumahnya.


"Alice, Dariel sudah di tunggu dengan Andin," ucap Luna.


Alice dan Dariel ketika masuk melihat ada mami dan Intan, mereka langsung menyapa.


"Assalamualaikum Tante, Kak," ucap Alice dengan sopan.


"Waalaikumsalam, eh Alice. Apa kabar? Siapa nih yang di samping kamu? Calon yah?" tanya mami.


"Perkenalkan Tante, namanya Dariel. Ia dia calon saya, mohon doakan yah Tante agar lancar sampai hari H," ucap Alice.


"Amin, kalian pada mau masak yah? Andin sudah menunggu tuh di dapur dari tadi Riki yang bolak balik beli bahan di pasar, Luna nggak sekalian panggil Jimmy datang ke sini," ucap mami.


"Sibuk dia Tante," jawab Luna dengan senyuman. Padahal Luna mengacuhkan Jimmy sudah satu minggu ini.

__ADS_1


"Yah sudah aku ke dapur dulu Tante, Andin mau reonian masak-masak katanya. Tapi mah Andin makan doang dia," ucap Alice.


Andin keluar dari dapur.


"Sembarangan kalau ngomong, jelek-jelekin aku di depan mertua. Jangan didengarin Mami, Alice ngada-ngada orangnya," ucap Andin.


"Andin memang nggak boleh banyak bergerak dulu tangan kirinya, maaf yah Alice. Bahunya masih belum sehat." Mami membela Andin.


"Tante kok minta maaf, aku jadi nggak enak. Aku hanya bercanda Tante, kami memang sering seperti itu," ucap Alice merasa tak enak. Mami hanya tersenyum lembut kepada Alice, karena Andin sudah menarik tangan Alice ke dapur.


"Tante maaf aku permisi dulu," ucap Alice. Dariel mengikuti Alice dari belakang.


Setelah mereka sampai di dapur Alice dan Dariel memberhentikan langkahnya.


"Duduk dari yang Dariel," ucap Andin.


"Ini kita memasak atau mau apa Andin? Kok mejanya panjang seperti ini?" tanya Alice dia bingung karena di dapur ada meja yang sangat panjang seperti ingin rapat.


"Kita masak sambil membicarakan sesuatu .Aku tidak mau Mami dan kakak iparku tahu akan hal ini, hanya suamiku saja yang tahu," ucap Andin.


"Oke Alice kita sekalian masak ya, jadi biar lebih saru kalau kita sebenarnya membicarakan sesuatu yang penting," ucap Luna.


"Dariel aku meminta bantuan kepadamu. Kamu bisa langsung menembus pencucian uang milik Roby? Aku yakin kucuran dana itu berasal dari bos besarnya Roby karena dengan cara itu kita bisa tahu siapa sebenarnya bos besar Roby," minta Andin.


"Tapi perangkatku tidak lengkap. Aku membutuhkan perangkat yang lain karena jaringannya susah ditembus. Aku sudah mencobanya, karena perangkatku terbatas aku sangat sulit untuk menembusnya," jawab Dariel.


"Aku sudah bekerja sama dengan polisi, jadi aku akan mendanai perangkat untuk menembus peretasan ini dan agar semuanya aman. Informasi ini jangan sampai bocor oleh orang lain, nanti kamu akan bertemu dengan jenderal dari pihak polisi yang memang dikhususkan untuk bos besar mafia ini. Setelah anak buahku mengusut ternyata big boss ini merupakan DPO polisi, tapi polisi belum bisa memecahkan siapa orang ini," ucap Andin


"Tapi perangkat ini adanya hanya di Rusia," ucap Dariel.


"Kamu punya koneksi di Rusia? Tolong hubungi koneksimu itu, nanti semua biaya biar aku yang mengatur. Alice, Angel, dan aku dalam bahaya. Bahkan keluarga kami yang menjadi sasarannya. Makanya aku mau menyelesaikan ini semua," ucap Andin.


Kring...Kring...


Handphone Andin berdering, Andin membaca bahwa yang menelepon adalah pak Untung.


"Assalamu'alaikum Pak, ada apa?" tanya Andin di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam, ada berita buruk Bu Andin. Aku baru dapat kabar bahwa Rafif kabur dari penjara," ucap Untung.


"Apa? Ya Allah," ucap Andin dengan intonasi yang tinggi.

__ADS_1


Semua menatap Andin, mereka penasaran berita apa yang Andin dengar sampai Andin terkejut seperti itu.


Bersambung


__ADS_2