
Bara sibuk memindahkan semua harta benda mereka yang sangat berharga masuk kedalam ruang kerjanya bersama sang papi, beruntungnya Bara tidak pernah menyimpan dokumen-dokumen penting dikamar nya Bara menyimpannya di dalam ruang kerjanya bahkan papi dan Maminya tidak tau harta yang disimpan oleh siapa pun tentang hartanya itu
Gheisa dan baby sitternya sudah uruing-uringan mereka saling menyalahkan
"kenapa saya nyonya !? saya kan sudah menjalankan tugas saya menjaga bayi nyonya dan setelah bayinya tidur kan tidak ada salahnya kalau saya juga ingin istirahat jadi mana saya tau kalau mertua dan suami nyonya akan masuk kekamar ini" ucap Baby sister itu tak mau disalahkan
"iya saya tau kamu harus istirahat tapi seharusnya pintu kamar dikunci
akhhhh kalau sudah seperti ini bagaimana "Gheisa berteriak frustasi
"saya harus menelpon mama "kata Gheisa lalu menelpon ibunya
"ma ibu mertuaku sudah tau jenis kelamin bayiku, bagaimana ini ma"ucap gheisa saat telponnya dijawab oleh ibunya
"kamu tenang, kamu cari sesuatu yang berharga dirumah itu supaya saat kamu di usir oleh mereka kamu tidak rugi "jawab Bu Soraya
"tapi ma bagaimana caranya saya mencari sesuatu sedangkan bergerak saja perutku rasanya sakit"ucap gheisa
"ya sudah kamu tenang saja mama akan segera kesana"jawab Bu Soraya lalu mematikan sambungan telponnya
Bara masuk kembali kekamarnya untuk mengambil pakaian nya,bara ingin menyusul kedua orang tuanya di rumah sakit
"awas kamu ya kalau sampai terjadi sesuatu pada mamiku kamu akan merasakan jauh lebih dari yang mamiku alami saya akan menghancurkan keluargamu dan kamu juga karena telah membantu mereka menjalankan rencananya saya akan membuat hidupmu dan keluargamu dalam kesulitan "ancam Bara pada Gheisa dan bany sitternya
mereka berdua hanya menelan Saliva nya dengan susah payah mendengar ancaman Bara
setelah mengambil pakaiannaya Bara keluar dari kamar itu lalu masuk kekamar tamu untuk bersih-bersih dan berganti pakaian
setelah selesai bara turun kelantai satu dan mencari pembantunya
"bik jaga rumah baik-baik ya,saya mau susul mami dan papi di rumah sakit " ucap Bara pada pembantunya
"iya mas"jawab sang Art
"oh iya bi satu lagi awasi Gheisa dan baby sitternya juga Bu Soraya jangan sampai mereka masuk kekamar papi dan mami jangan serahkan kunci cadangan untuk mereka karena kunci kamar mami saya bawa "ucap Bara panjang lebar
"iya mas bara saya akan mengawasi mereka "jawab Art
Bara pun meninggalkan rumahnya meuju rumah sakit dimana maminya sedang dirawat
__ADS_1
setelah sampai dirumah sakit bara langsung menuju ruang rawat yang dikatakan papinya
sesampainya di ruang rawat Bara melihat maminya terbaring tidak berdaya
Bara menghampiri maminya tak berselang beberapa menit Narendra juga datang karena mendapatkan telpon dari Sang Papi
"sebenarnya apa yang terjadi sehingga mami seperti ini "tanya Narendra
Bara pun menceritakan semuanya kepada adiknya itu,Narendra sangat geram mendengar cerita kakak Nya
"saya sedari awal tidak setuju jika kak bara menikah dengannya,terus terang saya pernah dirayu oleh istri kakak itu bahkan saya pernah diajaknya naik ke ranjang nya, tapi saya sangat bersyukur karena keimananku masih kuat hingga tidak tergoda "Narendra merasa lega telah menceritakan semuanya kepada kakaknya
Nyonya Dianra yang mendengar semuanya hanya bisa menangis karena saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisinya yang sedang terkena stroke
"Dasar wanita ******,mi saya akan mengusir wanita itu dari rumah walaupun mami tidak setuju saya tetap akan mengusir benalu itu"ucap Bara dan Nyonya Dianra semakin terisak
"iya kak buat apa memelihara ular berbisa di dalam rumah kita sendiri, pasti dia akan berbuat nekat apalagi sekarang sudah ketahuan "sahut Narendra
"Bara apakah kamu sudah mengamankan semua barang berharga dan juga berkas-berkas penting dikamar papi?!" tanya Tuan Ibrahim
"sudah pi,saya sudah mengamankan semuanya termasuk semua perhiasan mami yang mami simpan si laci lemari nya" jawab Bara
"baiklah pi kalau menurut papi itu yang terbaik tapi pi bagaimana kita bisa melihat apa yang mereka lakukan !?"tanya Bara pada papinya
"papi sudah menambah kamera CCTV dibagian dalam rumah karena saya beberapa kali melihat baby sitter Gheisa masuk kekamar papi namun papi tidak tau apa yang sedang dicarinya jadi papi menyuruh orang memasang CCTV tanpa sepengetahuan kalian "jawab Tuan Ibrahim
"astaghfirullah benar-benar ya itu orang,saya rasa bu Soraya yang menyuruhnya"ucap Bara
"tapi saya rasa dia bergerak sendiri atas kemauannya karena papi juga pernah mendengarnya menelpon dengan seseorang tapi itu bukan bu Soraya "jawab Tuan Ibrahim
"kenapa papi begitu yakin jika bukan Bu Soraya yang ditelponnya !?" Bara semakin penasaran
sedangkan Narendra dan Nyonya Dianra hanya menjadi pendengar terbaik pembicaraan kedua orang didepannya itu
"papi mendengarnya mengatakan sayang"jawab Tuan Ibrahim pada putranya itu
"oh berarti memang sengaja bekerja sebagai baby sitter agar mempermudahnya mengeledah rumah majikannya "jawab Narendra yang kini mengeluarkan pendapatnya setelah lama diam mendengarkan
"iya rend bisa saja seperti itu dan sekarang malah pekerjaannya dobel karena mendapat perintah dari Soraya dan juga dari kekasihnya "Tuan Ibrahim membenarkan ucapan putra bungsunya
__ADS_1
"ini tidak bisa di biarkan "ucap bara yang sudah tidak sabar ingin mengusir Gheisa dari rumahnya
"sabar Bar kita lihat dulu apa yang mereka lakukan "jawab Tuan Ibrahim lalu mengaktifkan ponselnya dan melihat kamera CCTV yang tersambung langsung ke ponselnya
"lihatlah bu Soraya sudah bergabung dengan mereka "jawab Tuan Ibrahim
"loh kok mereka bisa masuk kedalam kamar papi dan mami,saya kan sudah memerintahkan bibi untuk melarang mereka " Bara sudah mulai geram
"coba kita lihat apa yang dilakukannya pada Art kita" Tuan Ibrahim mulai mengotak atik ponselnya dan memutar ulang kejadian yang terjadi dirumahnya
"pantas saja mereka bebas bergerak karena sudah membuat bibi dan security tertidur "ucap Bara emosi
"sekarang ayo kita pulang kak kita pergoki mereka "ucap Narendra
"pi kita tukaran ponsel dulu ya supaya bisa memantau pergerakan mereka dirumah "Bara menyodorkan ponselnya pada papinya
"oke ini l, kalian hati-hati ya jangan sampai mereka punya sindikat dan bisa saja mereka melukai kalian "jawab Tuan Ibrahim Ibrahim khawatir pada kedua putranya itu
"iya pa doakan kami baik-baik saja "ucap Narendra dan mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju kerumahnya
"kak bagaimana kalau saya menghubungi piter untuk menemani kita setidaknya piter bisa menyiapkan anak buahnya dan langsung menyergap mereka" ucap Narendra ingin mengajak sahabatnya yang seorang abdi negara
"baiklah kalau itu menurutmu baik dan kakak juga kepikiran Ucapan papi" sahut Bara yang masih fokus ke jalanan
"baiklah saya hubungi piter dulu" Narendra pun segera menghubungi sahabatnya
"kak kita singgah di kantor piter ya kebetulan hari ini sedang tugas "ucap Narendra
mereka pun singgah di kantor polisi dimana piter sahabat Narendra bertugas
sesampainya di depan kantor polisi piter sudah menunggu bersama dua orang rekannya dengan memakai baju biasa piter memang sering memakai baju biasa ketiban baju Dinasnya karena piter seorang Intel di kepolisian
"hai bro nggak apa-apa kan saya bawa bawa rekan saya"ucap piter saat naik ke mobil Bara
"nggak apa-apa bro malah lebih bagus " jawab Narendra
"saya juga sudah meminta beberapa rekan kami untuk mengikuti kita sekedar untuk jaga-jaga siapa tau kita butuh bantuan
Narendra menyerahkan ponsel Tuan Ibrahim pada piter untuk melihat pergerakan orang-orang yang ada dirumah maminya karena Narendra yakin piter pintar membaca situasi
__ADS_1