
Pov Bara
Tiga bulan sudah berlalu semenjak penolakan Naina dan Anak-anakku saya tidak pernah lagi sempat untuk menemui mereka karena ada satu cabang perusahaan papi yang sedang bermasalah sedangkan papi tidak bisa pergi karena mami sangat membutuhkannya sehingga saya yang harus turun tangan untuk menanganinya
selama tiga bulan itu saya berada di luar kota, semenjak terbongkarnya kebusukan Gheisa dan orang tuanya dan mengakibatkan Mami terkena stroke papi menyerahkan perusahaan pada anak asisten pribadinya untuk mengelolanya untuk sementara waktu sedangkan butik mami ditangani oleh orang kepercayaannya
anak Gheisa pun sudah diambil oleh ayah kandungnya sehingga saya tidak perlu lagi repot-repot untuk mengurusnya
Gheisa dan ibunya sudah bebas seminggu yang lalu karena mendapatkan jaminan entah dari siapa
saya pun sudah menceraikannya tinggal menunggu panggilan sidang dan saya berharap Gheisa tidak pernah hadir hingga semua cepat selesai
Hari ini saya kembali kerumah saya sudah tidak sabar untuk mengunjungi Naina dan Anak-anakku semoga saja selama tiga bulan ini keputusan mereka sudah berubah dan ingin kembali bersamaku
"assalamualaikum "ucapku saat memasuki rumah kebiasaan ini semua dari naina, banyak hal baik yang Naina terapkan dalam kehidupan sehari-hari kami dulu namun Kami selalu mengabaikannya karena kami beranggapan itu hal sudah sangat ketinggalan
"waalaikumsalam "jawab papi
"aaaa....aaaa"mami pun ikut bersuara mungkin mami membalas ucapan salam ku
setelah sampai di ruang keluarga disana papi terlihat memberikan jus buah
saya mencium punggung tangan kedua orang tuaku,mami terlihat sangat kurus
"bagaimana keadaan mami!?"tanyaku pada mami
"aaaaa....aaaaa"hanya kata itu yang keluar dari mulut mami
"Alhamdulillah kalau mami sudah agak baikan,mami harus sabar jangan pernah bosan untuk berobat ya.mami maukan Naina dan Bara rujuk lagi!?"tanyaku pada mami dan mami mengangguk mencoba untuk tersenyum
"anak-anak Bara juga sudah besar-besar mi"ucapku lagi mengingat wajah je empat Putraku walaupun mereka tidak menerimaku dengan baik bahkan menolakku untuk kembali bersama ibu mereka
saya sangat memaklumi mengapa mereka bersikap seperti itu karena itu semua karena kesalahanku tidak bisa melindungi mereka dari sikap mami selama ini
mereka pantas marah dan kecewa kepadaku saya tidak mempermasalahkan itu dan saya akan berusaha agar mereka mau memaafkan ku dan mau menerimaku kembali
Hari ini saya akan kembali menemui Naina sepulang dari kantor
setelah pukul empat sore saya sudah meminta leo dan Damar untuk menghentikan pekerjaannya, saya mengajak mereka minum kopi ditoko kue tempat Naina bekerja dan ternyata mereka sering kesana
"Beneran bos kami mau ditraktir nih!?"tanya Leo antusias
"semangat sekali Kamu !?"ucapku mengernyitkan dahi
"hehehe,ya tentulah bos.kopi dan kue-kue disana kan enak-enak bos Bunda senang jika saya bawakan kue dari sana "jawab Leo nyengir kuda
"terang saja dia semangat bos kan lagi salah satu karyawan disana !"sahut Damar tersenyum jahil
__ADS_1
"eleh.. kayak kamu nggak aja,nyebut saya lagi ngincer cewek disana kamu sendiri mau apa tiap sore kesana akhir pekan sarapan disana !" jawab leo tak mau kalah
"sudah sudah kenapa kalian malah debat sih,ayo sekarang kita berangkat "ucapku lalu bangkit dari tempat dudukku dan melangkah keluar di ikuti kedua orang kepercayaanku itu sekaligus sahabat setia ku walaupun mereka masih saja terus berdebat tapi saya tidak peduli yang ada dalam kepalaku saat ini ingin bertemu dengan Naina dan Anak-anakku
saya dan Damar ikut Dimobil Leo agar tidak capek untuk mengemudi sedangkan mobilku dibawa pulang oleh sopir begitu pun dengan mobil Damar diantar oleh salah satu sopir kantor ke rumah orang tuanya
"Le, sebenarnya kamu itu naksir Mala atau Rani !?" Damar bertanya pada Leo yang sedang menyetir
leo menoleh sejenak kearah Damar namun kembali fokus kejalan tanpa menyahuti pertanyaan Damar
"leo, Kamu dengar kan saya itu bertanya loh!"ucap Damar kesal karena Leo tidak menyahutinya
saya tidak tau siapa yang mereka bahas dan saya tidak peduli karena yang ada difikiranku saat ini hanya Naina dan Anak-anakku
saya berharap semoga kedatanganku ini berbuah manis tanpa penolakan dari mereka lagi
sesampainya didepan toko kue dimana naina dan Anak-anakku bekerja saya dan kedua sahabatku masuk kedalam toko kue itu dan memesan kopi dan beberapa kue
kini kami bertiga duduk di meja bundar depan toko yang tidak jauh dari etalase kaca untuk menyimpan berbagai macam jenis kue
saya mengedarkan pandangan mencari seseorang sedangkan leo dan Damar sesekali tersenyum pada dua orang gadis yang berdiri di belakang etalase kue,tak lama datang dua orang perempuan yang lumayan cantik menghampiri dua karyawan yang ada di belakang etalase ditangannya ada boks kue tart
" eh mbak sari dan mbak ana !!"ucap salah satu karyawan yang ada dibalik etalase
"iya la, Ra ini kue tart pesanan orang dan ini bonnya"ucap gadis cantik itu suaranya sangat lembut,Damar menatapnya dan tak berkedip
"ya sudah kami pamit dulu ya soalnya ibu nyuruh kita ketoko bahan mau beli bumbu yang stoknya habis,ayo na"ucap gadis cantik itu menarik tangan temannya bernama ana
"mbak bisa minta tolong nggak mbak!?"
"minta tolong apa!?"tanya sari
"bisa nggak mbak pesanan mas yang itu diantarkan soalnya kami lagi repot buat pesanan bungkus bapak itu "jawab karyawan yang saya tidak tau namanya
"oh kirain mau minta tolong apa!!"jawab sari lalu mengangkat pesanan kami
kini gadis itu sudah berada didekat kami, gadis cantik itu menata pesanan kami diatas meja Damar terus menatapnya hingga Leo menyenggol lengan Daner dan membuatnya terkejut
"awas netes"ucap Leo berbisik namun masih dapat kudengar
"silahkan mas dinikmati "ucap gadis itu sopan
"makasih mbak"ucapku
"sama-sama mas,mari"ucapnya dan berlalu masuk tak berapa lama dia dan temannya keluar dari toko dan lewat didekat kami
mereka berdua melemparkan senyum pada kami Damar dan Leo sudah semyum- senyum
__ADS_1
saat sedang asyik menikmati kopi dan kue yang dipesan orang yang ingin kutemui kini telah datang mamun dia datang tidak sendiri namun bersama dua orang pria yang sangat tampan
mereka duduk disamping meja yang kududuki dan saya dapat melihat mereka menyimpan rasa pada Naina
mereka terlihat sangat serius entah apa yang mereka bicarakan,namun saya dapat melihat tatapan memuja dari kedua pria itu pada Nainaku
hatiku rasanya sangat sakit, Saya tidak rela jika Nainaku bersama pria lain
setelah mereka berbicara lama kedua pria itu berpamitan dan menjabat tangan Naina,ingin rasanya saya berlari kearah mereka dan melepaskan genggaman tangan mereka hingga tak pernah menyentuh Nainaku
setelah Naina duduk sendiri di meja itu memainkan ponselnya Saya mendekati Naina dan bersimpuh dikakinya
Naina terkejut dengan apa yang kulakukan
"mas bara apa yang kamu lakukan !?" tanya Naina padaku
"Naina saya mohon kembalilah padaku Nai,ayo kita mulai dari awal lagi nai
Saya mohon Nai, saya tidak sanggup hidup tanpamu Nai saya mohon "saya merendahkan diri sendiri karena berharap dengan cara seperti itu Naina akan luluh
"bangun mas, tidak enak dilihat oleh orang lain dan Kita bukan lagi mahram jadi saya mohon jangan melakukan hal seperti ini saya hanya perempuan miskin yang sempat kamu nikahi saya juga tidak memberikanmu anak perempuan selama kita menikah"jawabnya dengan suara datar
"saya tidak akan berdiri dari sini sebelum kamu memaafkan ku nai"ucapku memohon berharap hati Naina Luluh
*saya sudah lama memaafkan kalian tapi untuk kembali lagi bersamamu maaf saya tidak akan melakukan hal itu"jawabnya
saya tetap tak bergeming,sampai Naina berdiri dari tempat duduknya meninggalkanku yang masih berlutut
"pulanglah mas,biar sampai mati pun kamu berlutut saya tidak akan pernah kembali padamu cukup sudah luka yang kau goreskan di hati Anak-anakmu luka itu sudah mulai kering jangan kau buat luka mereka berdarah kembali karena ke egoisanmu lagi karena kamu sendiri yang menginginkan kami pergi dari hidupmu jadi terimalah semuanya.
dan satu lagi mas kamu bisa menemui anak-anak tapi jangan paksa mereka untuk ikut tinggal bersamamu" jawabnya
"tapi nai..."
"cukup mas jangan buat saya berubah fikiran dan tidak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan anak-anak"ini pertama kalinya saya melihatnya semarah itu
selama puluhan tahun saya bersamanya
hanya kelembutan dan sikap penurutnya yang kutau selama ini
saya sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktuku selama ini,saya terlalu takut dengan ancaman mami
Damar dan Leo menghampiri ku dan membantuku berdiri,tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipiku
Naina sudah pergi meninggalkan ku,mungkin seperti ini yang dirasakannya saat saya mengusirnya dari rumah membawa ke empat anak kami
"ayo bos kita pergi dari sini "ucap Damar
__ADS_1
Saya sudah pasrah dan saya akan pergi dari rumah, karena jika saya tinggal dirumah dan melihat mami pasti saya akan teringat naina dan Anak-anakku