
Hari ini seperti biasanya Naina selalu sibuk mengawasi karyawannya dan juga putri kecilnya yang sudah sangat aktif, Naina sudah jarang menitipkan Putrinya itu kepada umy ataupun Bude yana karena mereka Naina tidak mau merepotkan mereka
Bude yana sesekali menjaga baby Dewi karena sering ikut sama pakde rojak ke luar kota sedangkan umy penyakitnya sering Kambuh
seperti hari ini Akza tiba-tiba datang ke toko mengagetkan mamanya
"Bu kokom mama mana?"tanya akza dengan Nafas ngos-ngosan
"mama ada diatas bang" jawab Bu kokom
"makasih Bu " ucap akza dan kini berlari menuju lantai dua ditoko mamanya itu
"ada apa ya dengan akza tidak biasa-biasanya seperti itu"ucap Bu Yuli
"nggak tau yul"jawab bu kokom mengedikkan bahu tanda dia pun tak tau
"assalamualaikum ma" ucap akza saat sudah berada di depan kamar yang biasa ditempati mamanya
"waalaikumsalam "jawab Naina dari dalam yang sedang menemani Dewi yang baru bangun
"ma nenek ma" ucap Akza suaranya terdengar bergetar
"nenek kenapa Bang !?"Tanya Naina pada putra sulungnya itu
"nenek kambuh Ma"jawab akza
"astaghfirullah, Trus nenek sekarang dimana !?" tanya Naina mulai panik
"nenek dirumah ma"jawab akza
"ya sudah ayo kita pulang "ucap Naina lalu menggendong putrinya dan berlari menuruni anak tangga dalam tokonya
"mau kemana mbak Naina!?" tanya Bu Kokom
"mau pulang kerumah dulu bu,oh iya Irawan mana bu!?" sahut Naina
"saya disini bu"jawab Irwan yang sedang sibuk membantu di bagian pengemasan dan terhalang etalase
"wan kalau semua kue selesai dikemas kamu dan yang lainnya segera antar ya notanya ada sama Sari,saya mau pulang dulu" ucap Naina
"iya bu" jawab Irwan
"ayo cepat ma " ajak Akza
"iya ayo "jawab Naina,dan mereka pun berjalan cepat menuju rumah
sesampainya di sana Naina sudah melihat Bude yana yang mencoba menyadarkan umy
"Bude,umy kenapa !?"tanya Naina
"Bude juga nggak tau nai, saat Bude datang umymu sudah tak sadarkan diri kata anak-anak umymu tiba-tiba pingsan saat sedang melipat pakaian "jawab Bude yana
"astaghfirullah " Naina sudah terisak
" bang tolong panggilkan bang Rasyid dan Rasya kita antar nenek kerumah sakit" ucap Naina pada putra sulungnya
"iya ma" jawab akza lalu segera berlari ke toko kembali dan membuat semua orang yang ada di toko terkejut
tak berapa lama kini akza kembali bersama Rasya dan Rasyid serta bu kokom dan beberapa karyawan lainnya yang pekerjaannya memang sudah selesai
__ADS_1
dan beruntungnya Naina sudah membeli mobil pribadi walaupun hanya mobil bekas selain mobil pick up untuk mengantarkan pesanan pelanggan
"ayo bu kita antarkan nenek segera " ucap Rasya yang sudah berada didekat Naina
"iya,ayo tolong bantu bawa masuk Umy kedalam mobil "jawab Naina
"iya bu" jawab Rasya Rasyid dan Arman serempak
kini mereka mengangkat tubuh umy masuk kedalam mobil, Naina segera menghubungi ayah dan adiknya
"Bude Saya titip anak-anak ya,maaf merepotkan "ucap Naina pada Bude Yana sebelum naik keatas mobil
"Bang tolong bantu Uti ya untuk jaga Adik-adik mama antar nenek kerumah sakit" pesan Naina pada anak sulungnya
"iya ma"jawab Akza
"mas, Aa' , kakak menurut ya sama abang dan Uti,bantu abang dan Uti jagain adek" Naina juga berpesan pada ketiga putranya
"sayang mama pergi dulu ya,dede sama Uti dan abang ya"ucap Naina pada putrinya karena takut putrinya menangis mencarinya
"iya mama"jawab Dewi
Naina kini duduk di kursi belakang memangku kepala Umy, menemaninya Riana sedangkan Rasya yang mengemudikan mobil dan Rasyid berada disampingnya
Rasya melajukan mobil Naina Dengan kecepatan tinggi karena takut terjadi sesuatu kepada ibu bosnya itu yang dianggapnya seperti ibunya sendiri
"jangan terlalu ngebut sad nanti kita kenapa-napa dijalan "Naina memperingatkan kepada Rasya
"iya bu"jawab Rasya dan menurunkan sedikit kecepatan laju mobil yang dibawanya
kini mereka sudah berada di depan rumah sakit Rasyid segera turun memanggil perawat
setelah perawat datang membawa brangkar kini umy didorong masuk keruang ICU dokter segera memeriksanya
tak berapa lama Jihan juga datang bersama dua orang temannya yang mungkin mengantarkannya karena jihan kekampus tidak membawa motor
"Nai bagaimana keadaan umy" tanya abah penuh kekhawatiran begitupun dengan jihan
"belum tau Bah, dokter belum keluar"jawab Naina
"memangnya apa yang terjadi nak!?"tanya abah lagi kata anak-anak Umy tiba-tiba pingsan saat sedang melipat pakaian ditemani anak-anak"jawab Naina lagi Naina menangis dalam pelukan adiknya yang juga ikut menangis
pintu ruangan ICU terbuka dokter keluar menemui Naina dan keluarganya
mereka semua langsung bertanya pada dokter
"bagaimana keadaan istri saya dok!?"tanya Abah Abdul
"detak jantung bu alina melemah pak dan kita harus segera melakukan operasi jangkok jantung untuk menyelamatkan nyawa ibu"Jawab dokter
"lakukan yang terbaik untuk ibu Saya dok"ucap Naina pada dokter yang masih terlihat muda itu
"baik bu itu adalah tugas kami dan kami akan melakukan yang terbaik baik untuk pasien "jawab sang dokter
"iya dok" ucap Naina
"sekarang ibu bisa mengikuti perawat kami untuk menadatangani surat persetujuan dan administrasi agar kita bisa langsung melakukan operasi "jawab dokter itu lagi yang tertulis dr, Adrian Sudrajat di bajunya
"mari bu ikut dengan saya "ucap perawat itu pada Naina
__ADS_1
"Bah saya urus dulu administrasinya ya,han ayo temani kakak"ucap Naina dan dibalas anggukkan oleh Abah Abdul
Naina dan jihan pun mengikuti langkah perawat itu ke resepsionis untuk menyelesaikan administrasi
setelah selesai umi Alina pun di bawa keruang operasi dan kini mereka semua duduk didepan ruang operasi menunggu umi Alina sedangkan kedua teman kampus jihan sejak tadi sudah berpamitan pulang
setelah beberapa jam menunggu pintu ruangan operasi pun terbuka
"bagaimana keadaan istri saya dok!"tanya abah Abdul
"operasinya berjalan lancar namun ibu belum sadarkan diri kita menunggu sama beberapa jam kedepan jika ibu belum juga sadarkan diri maka ibu Alina kami nyatakan koma"jawab dokter yang membuat hati mereka berdenyut nyeri
tak berapa lama umi Alina dibawa oleh beberapa perawat diatas brangkar dengan wajahnya yang sangat pucat
mereka mengikuti brangkar umi Alina yang didorong oleh perawat
kini umi Alina kembali dibawa keruang ICU dan dipasangkan beberapa alat ditubuhnya
Naina dan jihan tak berhenti menangis melihat keadaan wanita yang telah melahirkannya itu tak berdaya
Abah Abdul sesekali mengusap air matanya melihat keadaan wanita yang sangat dicintainya yang sudah menemaninya selama puluhan tahun, wanita yang selalu ada di suka dan dukanya menjalani biduk rumah tangga dan membesarkan ke-dua putrinya
wanita yang tak pernah mengeluh apapun keadaannya
"sayang maafkan mas, belum bisa membahagiakanmu.cepat sembuh sayang tabungan mas sudah cukup untuk kita berangkat haji berdua
maafkan mas terlalu egois tidak ingin memakai uang putri kita mas ingin kita berangkat haji dari hasil jerih payah mas sendiri
cepat sembuh sayang mas menunggu mu,jangan pernah tinggalkan mas sendiri mas tidak akan pernah sanggup tanpamu "Abah Abdul berbicara dalam hatinya dan menangis
"abah dan kakak sebaiknya pulang dulu kasihan anak-anak jika ditinggalkan terlalu lama biar saya yang jaga umi"ucap jihan
"iya bu Aunty benar,ibu dan kakek pulang saja dulu biar Riana yang temani aunty disini "sahut Riana dan diangguki oleh jihan
"tapi nak abah ingin bersama umy,abah tidak mau jika Umi terbangun dan abah tidak ada"jawab Abah Abdul
Naina dan jihan tidak bisa mencegah Abahnya karena mereka tau kedua orang tuanya tidak pernah berpisah jauh
kalau jawabannya sudah seperti itu maka takkan ada yang bisa melarangnya
akhirnya jihan Dan Naina setuju Abahnya ikut berjaga
"kalau begitu Naina pulang dulu nanti saya akan suruh Rasya dan Rasyid untuk antar keperluan kalian disini"ucap Naina
"iya kak lagian kasian juga baby Dewi kalau terlalu lama ditinggal "jawab jihan
"ana kamu temani kakek dan aunty disini ya"Naina beralih ke Raina saudara kembar Rasya dan Rasyid
"iya bu" jawab Raina
"dul saya pulang dulu ya jika ada sesuatu langsung beri kabar ya" ucap pakde Rojak pada Abah Abdul
"iya jak, makasih banyak ya titip anak-anak "jawab Abah Abdul
"iya dul, semoga liana segera sembuh aamiin "ucap Pakde Rojak
"iya jak aamiin makasih banyak ya doanya "jawab Abah
dan mereka pun meninggalkan rumah sakit untuk pulang kerumah untuk menyiapkan keperluan mereka berempat selama berada dirumah sakit
__ADS_1
Naina merasa sedih dan juga bersyukur karena Ibunya sakit seperti ini saat berada bersamanya dan perekonomiannya juga sudah sangat baik hingga tak ada kendala untuk pengobatan ibunya tidak seperti dulu hanya bisa menangis saat tau salah satu orang tuanya sakit tak bisa melihatnya ataupun merawatnya apalagi memberikan bantuan biaya karena tak pernah mendapatkan nafkah yang layak dari suaminya hanya mengandalkan sisa uang belanja keperluan dapur untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya sehari
Naina kembali menangis mengingat betapa menderitanya hidupnya bersama anak-anaknya yang hanya dianggap benalu dan juga seorang pembantu oleh mertua dan suaminya