Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ternyata Dia


__ADS_3

Rasanya Za ingin sekali menyembunyikan diri di kolong gazebo saat itu juga. Saat Fatma memanggil keponakan Pak Irsyad dan pria itu mendekat ke arah mereka. Kenapa harus dia yang jadi keponakannya Pak Irsyad?


"Gimana yang kemarin itu, Dhil? Sukses?" tanya Fatma.


"Gagal, Mbak," sahut pria yang dipanggil Dhil itu singkat. Plus wajah pasrah khas orang yang gagal menjalankan sebuah misi.


Fatma mengernyit. "Kenapa?"


Fadhil mengedikkan bahu. "Mungkin sudah ada pilihan lain yang lebih baik."


Fatma pun memasang wajah sedih. Namun hanya sejenak. Karena selanjutnya dia kembali tersenyum.


"Oh iya, Dhil. Kenalin ini teman Mbak. Namanya Zahidah. Dia ngajar satu sekolah sama di bimbelnya Om Irsyad juga." Fatma memperkenalkan Fadhil pada Za yang tengah menunduk dan pura-pura sibuk dengan gawainya.


"Fyi, dia masih jomblo!" bisik Fatma namun terdengar oleh keduanya.


Za mendongak dengan gugup dan membalas senyum Fadhil yang ditujukan untuknya. Senyum kaku yang terlihat sekali jika dipaksakan. Sama halnya dengan Za yang entah bagaimana bentuk lengkungan bibirnya kini.


Untung saja Fadhil segera meninggalkan tempat itu. Dia masuk ke dalam ruangan yang merupakan gudang. Mengambil sebuah kotak berisi kunci-kunci untuk memperbaiki mobil Pak Irsyad.


"Itu tadi keponakannya Pak Irsyad, Za. Gimana menurutmu?"


"Bagus!" jawabnya spontan.


Fatma menatap lekat ke arah pada Za. "Kamu lagi nggak fokus, Za?" tanyanya karena jawaban Za terdengar seperti mengomentari sesuatu hal.


"M-maksudku…lumayan."


Decakan lidah Fatma terdengar. "Kamu nggak tertarik? Umurnya memang sudah banyak Za. Hampir kepala empat. Tapi wajahnya nggak kelihatan tua-tua amat, kan?"


Za tidak menyanggah namun juga tidak membenarkan. Apa yang diucapkan Fatma memang tidak butuh jawaban. Mungkin gen keluarga Pak Irsyad memang seperti itu. Wajahnya tidak mencerminkan usianya. Karena tidak hanya Fadhil, suami Fatma pun demikian. Usianya sudah setengah abad, tapi wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.


"Kamu dengar sendiri kan tadi. Dia gagal ta'aruf. Kalau kamu mau, nanti Mbak bicarakan sama Pak Irsyad."

__ADS_1


Ya masih terdiam. Andaikan Fatma tahu, jika yang telah menolak Fadhil adalah dirinya. Za tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Fatma.


"Selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai lupa waktu dan lupa mencari jodohnya."


Dalam hati Za membantah. Sepertinya Fatma memang belum tahu jika Fadhil tidak sebaik itu. Bahkan gadis yang mungkin dipacari Fadhil masih belia. Hanya saja mungkin Fadhil main rapi di depan keluarganya. Sehingga tidak tercium kelakuannya di luar.


Za meraih sling bagnya. Dan bersiap untuk pamit pulang. Matahari yang semakin turun bukan satu-satunya alasan dia ingin segera pulang. Namun karena keberadaan Fadhil di rumah itu yang membuatnya tidak nyaman.


"Kok buru-buru, Za?" Fatma sedikit kecewa saat Za berpamitan.


"Sudah sore, Mbak."


"Ya kan kamu ke sininya memang sore. Habis maghrib aja, Za. Nanggung."


Waktu maghrib setengah jam lagi. Jika Za pulang sekarang sebelum maghrib sudah tiba di rumah. Karena jarak tempuh normal rumah Fatma ke rumahnya hanya dua puluh menit.


Fatma pun akhirnya mengantar Za ke depan. Mereka menemui Pak Irsyad yang terlihat sedang berada garasi. Bersama Fadhil yang sedang sibuk di kolong mobil.


"Pi, Za mau pulang," ujar Fatma pada suaminya.


Za tersenyum canggung mendengar Pak Irsyad masih memanggilnya dengan sebutan Bu. "Iya, Pak. Terima kasih atas sambutannya. Mohon maaf sudah mengganggu waktu Bu Fatma."


Pak Irsyad mengibaskan tangannya. "Kita sedang tidak di sekolah. Jangan terlalu formal," ujarnya yang kembali membuat Za tersenyum canggung.


Za pun mengangguk sopan sebelum menghampiri motornya yang diparkir tidak jauh di belakang mobil Pak Irsyad.


Kesialan sepertinya tengah menimpanya. Angin yang mengisi ban motornya enyah menguap ke mana. Za sudah merasakan keanehan pada kendaraannya itu sejak membawa masuk tadi. Tetapi karena terlalu gugupnya mendapat sambutan Pak Irsyad yang hangat membuatnya lupa untuk mengecek.


"Kempes, Za?" tanya Fatma.


Za pun mengangguk pelan. Jika sedang sendiri mungkin dia sudah menggerutu. Namun karena dia sedang berada di rumah kepala sekolahnya, Za berusaha bersikap tenang sambil berpikir untuk mencari solusi. Mendorong motornya yang cukup besar dengan badan kecilnya tentu saja hal yang menyulitkan baginya. Tapi dia pun tidak mungkin meminta tolong Fatma yang sedang hamil atau pun Pak Irsyad. Za merasa sungkan. Ekor mata Za melirik orang yang hanya terlihat kakinya. Sedang badannya ada di bawah mobil.


"Tinggal di sini aja motor kamu, Za. Tambal ban agak jauh dari sini."

__ADS_1


Seperti ide Fatma satu-satunya cara agar dia tidak perlu capek mendorong motornya. Dia akan pulang naik ojek. Besok dia kembali lagi untuk mengambil motornya bersama Bian.


"Dhil, kamu bisa kan mengantar Za pulang?" seru Fatma pada pria yang tengah membetulkan mobil. Membuat Za tertegun. Bahkan untuk mengungkapkan penolakan saat Fadhil mengiyakan dari bawah kolong mobil pun Za kesulitan.


Fatma mengajaknya kembali masuk ke dalam rumah. Menunggu Fadhil menyelesaikan pekerjaannya. Dia sempat mengatakan ingin naik ojek saja, namun Fatma mencegahnya. Tidak hanya Fatma, Pak Irsyad yang kebetulan mendengar ucapan Za pun sepakat dengan istrinya.


"Tapi aku nggal enak, Mbak," ujar Za membuat alasan.


"Nggak enak kenapa, Za? Fadhil sudah bilang mau. Nunggu sebentar lagi katanya."


Za menghempaskan punggungnya di sandatan sofa ruang tamu. Merasa buntu harus bagaimana menghindari Fadhil.


Hingga lampu-lampu rumah menyala menggantikan cahaya matahari yang mulai menghilang, Za masih bertahan di rumah Fatma. Bahkan dia bukan lagi di ruang tamu. Melainkan di ruang keluarga. Samar terdengar suara adzan dari masjid terdekat. Pertanda waktu sholat maghrib telah tiba. Entah berapa lama lagi Za harus menunggu Fadhil selesai memperbaiki mobil Pak Irsyad.


"Kalau mau sholat dulu di mushola, Za. Sambil menunggu Fadhil," ujar pria yang sudah mengenakan sarung lengkap dengan baju koko.


Za tersenyum mengangguk. "Iya, Pak."


Rasanya lebih nyaman mendengar Pak Irsyad menyebutnya dengan nama tanpa embel-embel. Secara usia suami Fatma itu sama dengan ayahnya.


Selang beberapa menit setelah Pak Irsyad pergi ke masjid, Za pergi ke belakang untuk mencari sendiri letak mushola yang ditunjukkan oleh tuan rumah tadi. Karena nyonya rumah pamit mandi sejak tadi dan sepertinya belum selesai. Za tidak menyangka jika Fatma bisa salama itu berada di kamar mandi.


Sebuah ruangan di samping kanan teras dan menghadap ke taman belakang. Ruang beralas karpet permadani tampak bersih bahkan lengkap dengan pengharum ruangan. Sangat nyaman untuk tempat beribadah karena begitu Za menjejakkan kaki ke dalam ruangan itu.


"Eh!"


Za menoleh saat mendengar suara terkejut seorang laki-laki. Fadhil tengah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sudah berganti dan rambut basah seperti baru saja selesai mandi. Za yang sedang mengambil mukena pun mendadak gugup harus berada dalam satu ruangan bersama Fadhil.


"Mau sholat, Mas?" Za menepi ke pinggir tembok. Za benar-benar mati gaya. Masuk ke ruangan itu di waktu sholat dan wajah yang masih basahboleh air wudhu tentu saja hendak sholat.


"Mas Fadhil duluan saja " ujarnya lagi.


"Dek Za duluan tidak apa-apa," sahut Fadhil yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Mas duluan saja. Saya belum siap-siap," balas Za.


"Ehm!" Suara deheman yang cukup kencang menghentikan perdebatan mereka. "Ini pada kenapa duluan-duluan? Kan bisa berjamaah, to? Siapa tahu nanti jadi imam sama makmum beneran dalam rumah tangga." ujar Fatma melirik Za dan Fadhil bergantian.


__ADS_2