Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Za Sakit


__ADS_3

"Mbak, aku titip tugas untuk anak-anak, ya?" ujar Za pada Fatma yang hari ini piket.


"Kamu mau ke mana?" tanya Fatma heran karena Za tidak pernah absen kecuali saat dia sakit dan harus dirawat inap.


"Mau izin pulang, Mbak."


Sebenarnya tanggung jika harus pulang. Jam mengajar Za tinggal 2 lagi. Setelah istirahat kedua dia bisa ijin pulang. Namun dia tidak mampu lagi menahan kepalanya yang terasa berat. Juga tubuhnya yang terasa lunglai yang sejak pagi berusaha di tahan. Bukan sejak tadi pagi saja, karena Za sudah merasakan demam tiga hari namun diabaikannya.


Fatma menempelkan punggung tangannya.


"Za, kamu demam?"


Za memgangguk lesu. Seolah benar-benar tidak punya daya lagi untuk membuka mulut. Kepalanya pun dia letakkan di meja. Untung saja kantor sudah sepi karena jam masuk kelas beberapa menit lalu berbunyi.


"Telpon ayahmu, Za! Jangan pulang sendiri."


Meski Fatma tidak berkata demikian pun Za memang sudah tidak kuat untuk membawa motor sendiri. Namun ayahnya sedang dinas keluar kota. Ibunya tidak bisa naik motor. Bian, sepupunya sudah kembali ke Samarinda kemarin. Alya ada kuliah. Mau minta tolong Ghani pun dia kerja.


"Za, kamu masih kuat, kan?" Fatma berkali-kali mengusap kening Za.


Za mencoba menegakkan punggungnya. Dia membuka buku penunjang mata pelajaran matematika. Mencari halaman yang akan ditugaskan pada anak muridnya. Karena kepalanya yang begitu pusing Za sampai lupa dengan materi terakhir.


Za menjelaskan pada Fatma sebentar, sebelum teman seprofesinya itu keluar dari kantor guru untuk pergi ke kelas. Bukannya berkemas untuk pulang, Za justru kembali meletakkan kepalanya. Kedua matanya oun terasa berat untuk tetap terbuka


"Za!" panggilan itu membuat Za memaksakan diri untuk menegakkan kepalanya. Dan berusaha membuka mata.


"Sudah ke kelas, Mbak?" tanya Za.


"Sudah dua puluh menit yang lalu. Kamu jadi pulang, nggak?"


"Jadi." Za mengambil tasnya lalu dengan ltenaga yang masih tersisa dia menyeret langkahnnya ke lobi didampingi oleh Fatma yang khawatir akan keadaannya. Za akan pulang dengan taksi saja karena tidak mungkin untuk mengendarai motor sendiri.

__ADS_1


Di lobi sekolah, Za kembali menyandarkan kepalanya setelah duduk di kursi. Berjalan dari kantor guru sampai ke lobi saja sudah membuatnya kehabisan tenaga. Za bahkan merasa kakinya tak lagi mampu berpijak ke lantai. Harusnya dia ikuti saja saran ibunya tadi pagi untuk izin tidak masuk.


"Ayo!" Suara berat itu membuat Za membuka mata perlahan.


Dahi Za mengernyit. Karena rasa pusing dan juga heran. Dia pun menoleh ke Fatma yang duduk di sampingnya.


"Kok ada Mas Fadhil, Mbak?" bisik Za pelan.


"Katanya nggak ada yang bisa jemput kamu."


"Mbak yang minta dia ke sini? Aku mau naik taksi, Mbak."


"Ya….gimana dong? Terlanjur ke sini." Fatma memasang muka bersalah. Karena dia memang yang meminta tolong pada Fadhil. Di samping Za todak ada yang menjemput, juga untuk melancarkan misinya mendekatkan Za dengan Fadhil.


Untuk sekedar mengungkapkan kekesalannya atas sikap Fatma pun Za sudah tidak kuat. Dia terpaksa beranjak dibantu Fatma saat Fadhil kembali mengajaknya pulang. Sampai memasang seatbelt pun harus dibantu Fatma.


Fadhil menurunkan sandaran agar Za merasa nyaman. Karena sejak naik ke mobil tadi, Za sudah benar-benar tidak mampu menyangga tubuhnya.


"Nggak usah, Mas. Kalau ke rumah sakit aku sudah pasti disuruh rawat inap," tolak Za dengan lemah.


"Kalau tahu kamu harus dirawat inap berarti sakitmu benar parah. Terus kenapa justru menolak untuk berobat?"


"Aku tidak mau ibu khawatir. Ibu orangnya panikan."


Fadhil tidak mempedulikan penolakan Za. Dia turun lebih dulu dan beberapa saat kemudian kembali lagi membawa kursi roda.


"Mau dibantu?" tanya Fadhil melihat Za bergeming setelah Fadhil membukakan pintu untuknya.


"Dek, kamu kalau masih ngeyel lama-lama saya gendong ke dalam, loh!"


Za berdecak kesal. Dia turun perlahan lalu naik kursi roda. Fadhil mendorongnya hingga masuk ke tempat pendaftaran. Dan mereka harus mengantri dengan pasien lain yang memenuhi ruang pendaftaran.

__ADS_1


"Pulang saja ya, Mas. Antrinya panjang banget," rengek Za melihat jajaran kursi penuh dengan penghuni. Rasanya tidak kuat jika harus duduk terlalu lama. Karena tubuhnya ingin sekali dia rebahkan.


Fadhil menatap Za dengan iba. Hanya menatap saja. Dia menahan diri meski untuk sekedar menempelkan punggung tangannya ke dahi Za.


"Mas, pulang! Saya mau tidur." Za bahkan sampai merengek seperti anak kecil karena Fadhil hanya diam saja.


Pria itu pun beranjak lalu mendorong Za ke ruang IGD agar segera mendapat penanganan. Pulang dengan kondisi Za yang buruk tentu saja bukan pilihan yang tepat. Setidaknya Za harus mendapatkan obat untuk meringankan sakitnya.


Benar saja apa yang Za pikirkan. Dokter menyarankan Za untuk rawat inap yang langsung disetujui oleh Fadhil tanpa pertimbangan dari Za. Lagi-lagi Za merengek untuk minta pulang. Ayahnya sedang tidak di rumah. Ibunya pasti akan panik jika tahu Za dirawat inap di rumah sakit karena penyakitnya kambuh lagi. Pola makan Za memang tidak terjaga dengan baik. Semua karena laki-laki yang duduk di sampingnya. Yang memaksakan kehendaknya tanpa menerima penolakan. Meski belum terjadi, Za sudah membayangkan bagaimana hari itu tiba. Semua keluarganya satu suara mendukung dia dan Fadhil. Za bisa apa selain harus menerima.


Tak lama Za sudah digeledek masuk ke ruang perawatan. Salah satu ruang VIP rumah sakit itu. Sangat nyaman dengan fasilitas lengkap. Karena beberapa kali Za dirawat di rumah sakit, ayahnya memilih kelas satu di rumah sakit pemerintah. Za membayangkan besarnya biaya rumah sakit swasta dengan ruangan sebagus hotel berbintang. Dia tidak habis pikir dengan Fadhil yang memilih ruangan tanpa berkompromi dulu dengannya. Apa Fadhil berpikir ayah Za banyak uang?


"Mas, pindah ruangan saja. Nanti Ayah tidak bisa bayar tagihannya bagaimana?"


"Ya kamu jadi jaminannya. Setelah sembuh nanti kamu kerja di sini. Nyapu, ngepel, bersihkan kaca. Sampai tagihan rumah sakit lunas dengan gaji kamu."


Za mendengus mendengar gurauan Fadhil. "Saya serius, Mas."


Fadhil terkekeh melihat Za menggerutu. "Tidak usah pikirkan masalah biaya. Sekarang kamu makan lalu minum obat. Kamu sering telat makan makanya jadi sakit."


Za memicingkan mata. "Dari mana Mas Fadhil tahu?"


"Ada. Bahkan setiap apa pun yang kamu lakukan saya tahu," sahut Fadhil mengambil piring berisi menu makanan dari rumah sakit.


"Mau makan sendiri atau disuapi?" tanya Fadhil tanpa canggung.


Za tertegun. Fadhil makin ke sini makin berani.


Za menarik selimut hingga menutup wajahnya alih-alih membuka mulut saat Fadhil mengambil sesendok nasi.


"Mas semakin tidak sabar menunggu 11 hari lagi kalau tingkahmu selalu membuat gemas seperti itu, Dek!"

__ADS_1


Ya Rabb, tolonglah hambamu. Fadhil bahkan menghitung setiap berkurangnya hari. Artinya pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Jantung Za pun berdegup dengan kencang. Dia rasa sekalipun dirawat, sakitnya akan lebih lama sembuh jika pikirannya semakin kacau.


__ADS_2