Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Kembali Ke Sekolah


__ADS_3

Menikah dengan Fadhil ternyata tidak seburuk yang Za bayangkan. Fadhil benar menyayanginya dengan tulus. Tidak banyak menuntut meski Za banyak kekurangan. Pekerjaan dapur salah satunya. Za minim sekali pengetahuan memasak. Sekedar menggoreng telur atau merebus mie instan dia bisa. Namun hanya itu itu kemampuannya.


Za menatap punggung lelaki yang sedang sibuk berkutat di dapur. Wangi aroma rempah-rempah menusuk hidungnya. Baru kali ini Za mendapati Fadhil memakai apron, dan sibuk dengan macam-macam sayur yang sedang dipotongnya. Mendadak Za insecure karena dari gerakannya, memasak bukan hal yang asing bagi Fadhil.


"Mas!"


"Eh!" Fadhil menoleh. "Sudah bangun?"


"Hmm. Mas kok nggak bangunin aku?" sahut Za seraya mendekat.


"Kan lagi datang bulan. Masih sakit perutnya?"


"Sudah lumayan. Meskipun datang bulan kan nggak ada salahnya dibangunkan subuh."


"Nggak apa-apa. Nikmati saja cutinya," balas Fadhil sambil memotong wortel.


"Aku bantu ya, Mas!"


"Nggak usah. Kamu duduk saja. Ini hanya tinggal masukkan sayurannya. Selesai."


Fadhil menuntun Za ke meja makan. Kemudian membuatkan segelas susu hangat.


Padahal Za jarang sekali minum susu. Karena memang dia tidak menyukai minuman yang menurutnya membuat eneg. Tapi karena Fadhil sudah berbaik hati membuatkan, Za hanya meminta menambahkan bubuk coklat. Agar rasanya sedikit tersamarkan. Jika setiap hari dia diperlakukan seperti itu mungkin badannya yang kecil akan kembali mengembang seperti saat balita.


"Kamu siap-siap dulu sana! Ini sudah matang supnya."


Za mengangguk. Hari ini dia mulai kembali ke sekolah. Tiga hari tanpa kegiatan rasanya terlalu membosankan. Setiap hari hanya menghabiskan waktu di tempat tidur sambil bermain ponsel.


Za memang tidak mengambil cuti lama. Karena tidak ada rencana ke mana-mana setelah menikah. Honeymoon ke luar kota tidak pernah terpikir olehnya yang menikah dengan perasaan tidak terlalu yakin jika keputusannya. Biarkan waktu yang akan membuktikan. Jika Fadhil mungkin pilihan yang paling tepat. Cukup rasanya melihat kedua orang tuanya tersenyum bahagia setelah ijab qabul itu terucap.


Dan selama tiga hari tinggal bersama, Za selalu mendapat perlakuan istimewa. Meski sempat dibuat kesal oleh suami dan keponakannya. Namun ternyata itu hanya bagian dari skenario kejutan ulang tahunnya.


Za Menyeret langkah ke kamar mandi. Rasanya masih enggan beranjak. Tapi tanggung jawab pekerjaan sudah menantinya. Sempat terbersit untuk menuruti keinginan Fadhil yang memintanya berhenti mengajar. Namun bukan sekarang.


Selesai mandi, Za mematut diri di depan cermin. Memoles wajah dan memakai jilbab square. Sebuah bros menempel untuk menyempurnakan penampilannya. Za mengambil tasnya lalu turun ke bawah.

__ADS_1


Di meja makan, Safira pun sudah menunggu. Sarapan pagi ini dengan menu sup ayam yang dibuat Fadhil.


"Pagi-pagi udah masak sup, Om?" celetuk Safira.


"Lagi pingin," sahut Fadhil.


"Ngidam?"


"Uhuk!" Za tersedak kuah sup. Fadhil memberikan segelas air putih padanya.


"Kenapa segitu kagetnya, Tan?" kata Safira lalu dia terkekeh. "Wajar, kan kalau udah nikah hamil?" lanjutnya.


"Kamu ngomongnya asal bunyi, Fir. Tante Za kan jadi kaget. Baru nikah tiga hari masa udah hamil."


Jangankan hamil, Za saja baru mendapatkan tamu bulanan. Bahkan sejak malam pertama, Fadhil belum menyentuhnya. Dan sekarang harus terhalang lagi untuk satu minggu ke depan.


Mereka keluar rumah bersamaan dengan ART yang baru datang untuk membersihkan rumah. Tugasnya memang hanya bersih-bersih karena dulu Fadhil dan Safira sangat jarang makan di rumah. Lagi pula Fadhil memang jago memasak sehingga dia terbiasa memasak sendiri.


"Fira duluan, Om, Tante!" Safira pamit. Dia berangkat kuliah mengendarai city car putih.


"Mas, nanti aku nggak full. Jam 11 sudah pulang. Aku mampir ke rumah Ayah ya mau ambil motor," ujar Za.


Sebuah garasi yang mampu menampung tiga mobil. Za melihat sebuah mobil yang sepertinya dulu dipakai Fadhil untuk menjemputnya saat dia sakit. Motor sport yang biasa dipakai Fadhil dan motor matic 150 cc.


Fadhil mengeluarkan mobil hitam itu dari dalam garasi untuk mengantar Za. Mulai sekarang dia mungkin akan lebih sering memakainya. Karena selama ini Fadhil ke mana-mana dengan motor birunya.


"Nanti kalau sudah selesai kabari saja. Mas jemput," kata Fadhil saat mereka dalam perjalanan.


"Nggak ganggu? Mas kan kerja."


"Sama sekali tidak Za. Untuk kamu waktu saya selalu ada."


"Gombal!" gumam Za.


"Ya. Nanti pulangnya kita makan tahu gimbal,"

__ADS_1


"Gombal, Mas. Bukan gimbal."


Fadhil tertawa pelan. "Dikit, biar romantis," sahutnya.


"Siang mau dimasakin apa?" tanya Fadhil kemudian.


Za sungguh tidak enak hati. Pada umumnya yang bertanya demikian itu adalah seorang istri. Namun kenapa dia justru sebaliknya.


"Nggak lah. Nanti aku yang masak. Tapi ajarin ya, Mas?"


"Ok. Nanti pulangnya kita belanja. Lalu belajar masak."


Sampai di depan pintu pagar, mereka berpapasan dengan mobil Pak Irsyad yang membunyikan klakson. Mobil yang sama hitam itu masuk ke halaman sekolah.


"Perutnya benar sudah enakan?" Fadhil mengusap perut yang semalam membuatnya khawatir karena Za tidak berhenti mengeluh sakit.


"Sudah mendingan. Nyeri sedikit saja."


"Atau kamu libur saja. Nanti kalau tiba-tiba sakit lagi bagaimana?"


"Ya ditahan," jawab Za dengan santai. Karena nyeri haid setiap bulan dia rasakan. Hanya saja semalam sakitnya memang luar biasa. Fadhil sampai panik mengompres dengan air hangat hingga mencarikan obat pereda nyeri tengah malam.


"Mas, pintunya. Sudah mau bel."


Fadhil tak juga membuka kunci. Dia menatap Za dengan raut cemas. "Pulang saja, ya?"


"Yang benar saja, Mas. Aku mau ngajar loh ini. Cepat buka pintunya. Nggak lama. Cuma 4 jam."


Dengan berat hati, Fadhil membuka kunci pintu. Dan membiarkan istrinya itu turun. Namun tatapannya tak lepas dari Za yang mengenakan setelan baju mengajarnya berjalan masuk ke dalam pintu gerbamg sekolah. Za terlihat kontras sekali dengan saat berada di rumah. Dia benar-benar menjelma menjadi wanita dewasa. Sikap manjanya seolah tertutup begitu rapat di balik penampilannya.


Fadhil menghela nafas kasar saat melihat seorang pria berpakaian olah raga menyapa dan mendekati Za. Meski hanya berbincang, dia tidak rela istrinya memberikan senyum pada pria yang diperkirakan teman sejawat. Inilah alasan kenapa Fadhil meminta Za untuk berhenti mengajar. Dia sangat pencemburu. Meski tidak ada gelagat berlebihan dari keduanya.


Fadhil mengambil gawainya. Lalu mencari nomor kontak istri tercintanya. Dari jauh, Za terlihat menoleh ke arah mobilnya yang masih berdiam di depan pagar sekolah. Fadhil dapat melihat Za tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Lekas masuk!" kata Fadhil saat Za menerima panggilannya.

__ADS_1


"Iya." Jawaban Za terdengar tenang.


Fadhil masih mengamati Za yang berjalan masuk ke lobi sekolah dan justru berjalan bersisian dengan guru laki-laki tadi sambil mengobrol.


__ADS_2