Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Membeli Cincin


__ADS_3

"Za! Jadi nggak kita pacaran?"


"Ghani!" seru ibunya menghardik Ghani yang menggoda Za. "Kalau kamu suka sama Za bilang dari dulu. Ora ngrusak pager ayu! Za sudah dipinang orang!"


"Kapok!" Alya menimpali. Namun Ghani justru terbahak.


"Mas Ghani seleranya bukan Za, Bulik!" sahut Za kemudian.


"Makanya nggak laku-laku!" balas ibunya Ghani kesal. Temannya udah pada punya anak, masih jomblo aja," balas ibu Ghani.


Ternyata bukan ibunya Za saja yang sering meributkan tentang hal itu. Rupanya Ghani juga sudah sering didesak untuk segera menikah.


"Orang cakep bebas, Bulik. Sekali kedip yang datang karung-karungan," tamabh Za lagi. Membuat suasana di ruang keluarga Alya begitu riuh.


"Emang Mas Ghani cakep, Za?" tanya Ghani sambil melihat gambar dironya melalui kamera ponsel.


"Narsis!" Alya kembali menimpali.


Sementara Za, melirik Ghani yang juga tengah meliriknya. Bukan sepeti pandangan yang seringkali Za lihat. Namun kali ini sorot mata Ghani terlihat berbeda.


"Ghani jangan kamu puji, Za. Bisa-bisa bajunya tambah kesempitan," imbuh Ghani. Za pun tertawa lepas.


"Za, kamu disuruh pulang sama ibumu. Ada Fadhil datang katanya," ujar Bua Rahma setelah membuka pesan yang baru masuk di ponselnya.


Bukannya beranjak, Za justru membanting punggungnya ke sandaran sofa. Dia sengaja bersembunyi di rumah Alya untuk menghindari Fadhil yang berjanji akan datang, namun perintah ibunya mutlak harus dipenuhi.


Lagi pula Za heran, Bian saka bisa membeli cincin tanpa harus mengajak Alya. Tetapi Fadhil memaksa Za ikut dengan alasan tidak tahu ukiran dan ingin Za sendiri yang memilihnya.


"Za, nanti ibuku keburu ngomel, loh!" ujar ibu Ghani lagi.


"Sana pulang, Mbak! Diapelin juga malah nenangga!"


Diantara ketiga orang yang bersamanya, hanya Ghani yang tidak bersuara karena lelaki itu sibuk dengan gawainya.


"Mas, jalan sama aku, yuk!" ajak Za ngaco.


"Nggak:ah! Bukan muhrim," sahut Ghani dengan santai.


Bug! Sebuah bantal melayang mengenai kepala Ghani. Lelaki itu terkekeh. Pantas saja Za tidak pernah melihat Ghani membonceng perempuan kecuali ibunya dan adiknya.


"Ada yang retak tapi bukan kaca!" celetuk Alya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Ghani.


Za pun beranjak dari tempat duduknya. Lalu dengan malas pulang ke rumahnya. Lebih malas lagi karena melihat motor Fadhil parkir di depan rumahnya.


Za sengaja menerobos masuk melalui pintu lorong samping. Agar tidak ada yang melihat kedatangannya. Sengaja dia mengendap masuk dengan langkah yang pelan dan tidak bersuara.

__ADS_1


Klek! Pintu kamar dikunci nya lalu dia membenamkan diri di balik selimut setelah menyalakan pendingin ruangan.


Tangannya berselancar ke dunia maya. Membuka pop up pesan dari ibunya yang menanyakan keberadaannya. Karena ponselnya tadi sengaja ditinggal saat main ke rumah Alya.


"Za! Buka pintunya, Za!" Suara ibunya terdengar diiringi dengan bunyi handle pintu yang berusaha dibuka.


Hanum menyibak selimutnya dengan kasar lalu beringsut turun dari ranjang untuk membuka pintu.


"Fadhil dari tadi sudah menunggu kamu. Kok malah ngumpet."


"Iya. Ini juga lagi siap-siap, Bu."


"Siap-siap kok masih pakai babydoll doll gitu. Ayo cepetan!"


"Inggih, Ibu!" jawab Za menahan kesal.


Za kembali menutup pintu. Dia mengambil celana panjang coklat dan blus putih dari dalam lemari. Juga sebuah scraft bermotif kalem. Za sadar dengan siapa dia akan jalan. penampilannya pun harus menyesuaikan. Yang sedikit terlihat dewasa. Meski dia masih suka memakai celana jeans dan sweater seperti Alya.


Terakhir Za memoles wajahnya tipis-tipis. Untuk menyamarkan jika dia belum mandi. Tidak lupa menyemprotkan parfum sedikit, biar Fadhil tidak mengendus bau keringatnya.


"Nah, begitu kan cantik!" puji ibu Za. Saking tidak percayanya, dia sampai menunggu di depan pintu kamar Za.


Za pergi ke depan menenteng jaket, helm dan juga kunci motornya. Ogah banget jika harus naik motor Fadhil. Dia tidak mau Fadhil curang dengan sengaja membawa motornya agar Za bisa memboncengnya dengan merapatkan tubuh mereka. Big no!


Za sebenarnya heran dengan Fadhil. Selalu ada saja bahan pembicaraan yang akan dibahas dengan ayahnya. Tapi jika sedang berdua dengan Za, dia hanya akan bertanya atau bicara yang penting-penting saja. Selebihnya hanya diam.


"Pakai motor saya saja, Mas." Za menyerahkan kunci motornya pada Fadhil. Jika memungkinkan pun Za akan memilih naik motor masing-masing.


Fadhil yang mengerti maksud Za menerima kunci motor itu tanpa keberatan. Mereka pun pergi dengan berboncengan motor untuk pertama kalinya.


"Pegangan, Dek. Nanti jatuh!"


"Iya," jawab Za yang sejak tadi menjaga jarak dengan Fadhil. Dia pun mencubit ujung jaket Fadhil untuk berpegangan. Padahal Fadhil melajukan motornya pelan, meski tidak berpegangan, jika jalanan stabil kecil kemungkinan jatuh.


Fadhil masuk ke parkiran mall yang di mana mereka pernah bertemu saat Za menemani Bian membeli cincin untuk Alya. Bahkan toko yang dituju oleh Fadhil pun toko yang sama. Meski ada beberapa toko perhiasan lainnya. Namun


"Kata Mbak Fatma, di sini modelnya bagus-bagus."


Za hanya mengangguk pelan. Dia juga tidak tahu toko perhiasan mana yang bagus. Seumur-umur dia belum pernah membeli perhiasan sendiri. Paling-paling menemani ibunya saat membeli perhiasan di kawasan Kranggan. Itu pun sudah lama saat ibunya mendapat uang arisan.


Za seperti ekor yang mengikuti Fadhil melihat-lihat perhiasan yang dipajang.


"Masih lama milihnya, Mas?" tanya Za setelah lebih dari sepuluh menit mereka hanya melihat-lihat saja.


"Yang milih kan kamu, bukan saya. Saya tidak tahu selera kamu." sahut Fadhil membuat Za gemas ingin menarik hidungnya yang mancung. Kenapa tidak bilang dari tadi? gerutunya dalam hati.

__ADS_1


Jika saat pertama mengunjungi toko itu Za jatuh hati pada kalung yang kini dipakainya, kali ini Za benar-benar dibuat pusing hanya untuk memilih satu di antara ratusan deretan cincin. Kini dia mengerti kenapa ibunya selalu lama jika memilih perhiasan meski hanya membeli sebiji. Ternyata karena kalap ingin membeli semua tapi dompet tidak bisa diajak bekerja sama.


"Mas, ini bagus, nggak?" tanya Za menunjukkan sepasang cincin yang dipilihnya.


"Bagus. Tapi beli satu saja untuk kamu. Saya tidak pakai emas."


Za mengangguk paham. Tapi tidak demikian dengan wanita muda yang mengambilkan cincin itu dari dalam etalase. Karena cincin itu harus dibeli satu set.


"Ya sudah. Beli semuanya, yang satu disimpan saja," putus Fadhil melihat raut kecewa di wajah Za.


"Tapi kan…."


"Atau mau beli satu dengan harga sepasang?" Fadhil memotong ucapan Za.


Za membiarkan Fadhil membayar perhiasan yang telah dipilihnya di kasir. Sementara dia menunggu sambil melihat-lihat koleksi perhiasan di toko itu.


Dia menoleh saat mendengar suara seorang wanita memanggil nama Fadhil. Dari jarak beberapa meter Za hanya mengamati wanita berambut panjang itu bercengkerama dengan Fadhil. Usianya mereka mungkin setara.


"Aku butuh bantuan kamu!" ujar si wanita


"Bantuan apa?"


"Aku mau nambah koleksi perhiasan. Tapi bingung milihnya. Bisa bantu aku milih mana yang cocok buat aku, nggak?"


Fadhil membuang nafasnya kasar. Lalu menujuk salah satu set perhiasan uang ada dalam etalase.


"Ok. Aku coba dulu. Makasih ya, Dhil," ucap wanita itu. "Tapi ngomong-ngomong kamu beli perhiasan untuk siapa?" tanyanya kemudian.


"Untuk calon istri saya."


"Calon Istri?"


Fadhil mengangguk. "Dek!" panggilnya pada Za.


Za yang sejak tadi mematung terkejut. Refleks dia mendekat pada Fadhil. Mengangguk dengan senyum kaku pada wanita yang air mukanya telah berubah muram sejenak.


"Oh, ini calon istrimu? By the way, selamat kalau begitu."


Za menerima uluran tangan wanita itu dengan senyum kaku. Kentara sekali jika ucapan selamat hanya sekedar basa- basi.


Dia pun mengajak Fadhil keluar dari toko emas. Dan kebisuan menyelimuti sepanjang perjalanan mereka ke tempat parkir.


"Dek!, kita ke butik dulu, ya."


"Terserah Mas Fadhil," Jawaban Za dengan wajah tidak bersahabat membuat Fadhil menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2