Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Traktiran Ghani


__ADS_3

Tin!


Suara klakson mengagetkan Za. Dia hampir melewati gang masuk rumahnya. Seketika dia memelankan laju motornya. Membelokkan kendaraan memasuki gang rumahnya.


"Ngelamun aja!" kata Ghani sambil mengulurkan sebuah kantong plastik.


"Apa ini, Mas?" tanya Za.


"Udah tahu martabak pakai nanya lagi."


"Maksudnya buat siapa. Tadi katanya Mas Ghani beli buat Alya."


"Buat kamu. Tuh buat Alya udah."


"Tapi ini rasa coklat, 'kan? Aku nggak suka. Buat Alya saja semuanya," tolak Za kemudian.


Ghani menghela nafas pelan meski dalam hari geregetan. "Rasa keju, Za. Mas Ghani masih tahu kamu sukanya martabak keju jagung," sahutnya menahan sabar. "Kalau bukan istri orang udah kucium kamu, Za," gumamnya kesal.


Za terbelalak. "Berani?!" sahutnya sambil melepas sandal dan bersiap menggetok kepala tetangganya yang somplak itu.


Ghani terkekeh. Dia meletakkan tas plastik itu di stang motor Za lalu kembali melaju pulang ke rumahnya.


"Dasar stres. Pantes nggak laku-laku!" Za menggumam lalu meninggalkan motor di depan pagar karena teras rumahnya sudah penuh dengan motor milik Bian, ayahnya dan milik Fadhil. Rupanya Fadhil menyusunya. Za bersiap terkena omelan. Karena sejak siang tadi dia sengaja mematikan ponselnya.


Dengan langkah percaya diri Za masuk ke dalam. Menerobos ruang tamu yang kosong. Di ruang tengah pun tidak ada siapa-siapa. Hanya ibunya yang memasak di dapur.


Za meletakkan kantong plastik berisi martabak pemberian Ghani. Dan juga es coklat yang Aroma butter bercampur keju membuatnya mendadak kembali lapar meski beberapa menit lalu dia baru saja menghabiskan semangkok bakso.


"Dari mana kamu, Za?" tanya ibunya sambil meracik bahan yang akan dimasaknya.


"Makan bakso, Bu."


"Habis makan bakso masih makan martabak?" tanya ibunya heran.


"Sayang kalau nggak dimakan. Kalau dingin nanti nggak enak."


Ibunya menggeleng-gelengkan kepala melihat Za menggigit martabak yang panas.


"Kasih ke Alya saja. Tadi dia pingin makan martabak katanya."

__ADS_1


"Alya sudah dibelikan mas Ghani, Bu. Ini juga dia yang beli." sahut Za masih sedikit kesal.


25 tahun menjadi anak tunggal rasanya seperti tidak rela berbagi perhatian meski dia sudah dewasa. Za pun heran dengan dirinya sendiri yang begitu sensitif jika semua memperhatikan Alya yang tengah hamil.


"Kamu ketemu Ghani di mana?" tanya ibunya lagi.


"Di jalan tadi," sahut Za sambil beranjak meninggalkan meja makan.


Meski tidak melihat keberadaan suaminya, Za seolah tak ingin tahu di mana Fadhil. Karena motornya ada di depan. Dia masuk ke dalam kamar. Tempat paling mendukung untuk menyendiri. Meski tak terlalu luas seperti kamar di rumah suaminya, Za menata sedemikian rupa agar dia betah berlama-lama di dalamnya.


Saat membuka pintu, dia mendapati Fadhil tengah terlelap di atas ranjang. Dengkuran halusnya terdengar menanda jika suaminya itu kelelahan. Beberapa hari ini Fadhil memang banyak pekerjaan. Lebih sering meninggalkannya di rumah sejak pagi dan akan pulang petang hari. Namun hari ini Fadhil menyusulnya sebelum hari gelap.


Menatap wajah tenang itu, Za mendadak nelangsa. Fadhil suami yang begitu baik. Memperlakukan Za dengan istimewa. Namun apa yang bisa dilakukannya untuk membahagiakan Fadhil. Dengan semua kekurangannya kini, mungkin selamanya dia akan menjadi istri yang tidak sempurna.


Suara dering ponsel membuat Za tersentak. Dia mencari sumber suara itu yang ternyata berada di kantong celana Fadhil. Pemilik ponsel itu perlahan membuka mata. Lalu merogoh kantong celananya dan suara itu pun berhenti.


"Dek!" Fadhil memanggil Za dengan suaranya yang masih parau.


"Habis dari mana?" tanyanya kemudian.


"Dari….beli martabak," sahut Za. "Mau martabak?"


"Iya, maaf. Tadi mungkin nggak sengaja kepencet mati sendiri," sahut Za lagi-lagi berdusta.


Dia mendekati Fadhil dengan penuh kecemasan. Karena Fadhil pasti sudah mengambil ponselnya dari dalam tas. Mungkin saja suaminya itu menemukan amplop yang juga tersimpan di dalamnya.


Namun melihat reaksi Fadhil yang biasa-biasa saja, Za sedikit lega. Dia mendadak ingin memeluk erat suaminya. Ada rasa takut kehilangan yang tiba-tiba menyergap.


"Kenapa?" tanya Fadhil sambil membuka penutup kepala istrinya. Hingga rambut panjang Za yang diikat terbebas.


"Nggak ada. Cuma pingin meluk. Rindu. Mas akhir-akhir ini sibuk terus."


Fadhil tertawa pelan. "Maaf. Besok Mas nggak akan ke mana-mana."


"Benar? Nanti tahu-tahu pergi lagi."


"Benar, Sayang. Kamu mau ditemani ke mana?"


"Di rumah saja. Nggak mau ke mana-mana."

__ADS_1


Fadhil menghela nafas panjang. Dia heran dengan istrinya yang lebih betah di rumah meski berkali-kali dia memberi kebebasan istrinya itu ke mana saja. Beberapa bulan mereka menikah, tak sekalipun melihat Za menenteng tas belanjaan kecuali belanja kebutuhan rumah. Baju Za itu-itu saja. Sampai dia sendiri yang membelikan baju meski harus mendapat omelan karena harganya yang menurut Za sayang kalau hanya untuk membeli baju.


Za menyingkir dari samping Fadhil. Mengambil handuk dan baju ganti. Meski bau parfum bercampur keringat itu seperti candu. Namun hari sudah hampir malam. Dan dari baju yang dipakai sejak pagi tadi, jelas Fadhil beluk membersihkan diri setelah seharian berada di bengkel.


"Mandi dulu, Mas."


"Bareng, yuk!"


"Wew! Ini di rumah mana?!" sahut Za mengingatkan.


Ze membuntuti suaminya yang berjalan keluar kamar. Memeluk Fadhil sampai suaminya itu berada di depan pintu kamar mandi. Dia memekik saat Fadhil menariknya ke dalam kamar mandi. Lalu bergegas keluar sebelum pintu di kunci. Tawa Fadhil menggema di dalam kamar mandi.


Dengan wajah yang merona karena diperhatikan ibunya, Za kembali ke meja makan. Memakan martabak yang hanya tergeletak saja. Makanan manis itu memang sudah tidak begitu diminati ayah dan ibunya. Kalau tahu Ghani tadi akan membelikannya, tentu saja Za akan memilih martabak asin. Tapi namanya juga dikasih, Za tetap memakannya biar tidak mubadzir.


"Bahagia banget anak ibu," celetuk Bu rahma sambil meletakkan segelas teh hangat.


Za hanya tersenyum menanggapi. Ya, dia memang bahagia bersama Fadhil. Hanya satu hal yang seharusnya melengkapi kebahagiaan mereka. Suara bayi yang mungkin tidak akan pernah mereka ada di antara mereka.


"Minumnya buat siapa, Bu?"


"Buat Ayah. Ini nggak pakai gula. Tadi Fadhil sudah ibu tawari tapi katanya minum air putih saja."


Za mengangguk-anggukkan kepala. Dia tidak heran karena Fadhil hanya sesekali minum teh. Selebihnya lebih banyak mengkonsumsi air putih.


Sebuah tangan yang terulur menyomot sepotong martabak. Dari abu sabun yang jelas tercium tentu saja itu tangan Fadhil.


"Cepat sekali mandinya?"


"Ya mau ngapain lagi? Berendam di bak?"


Za mencebik. Kamar mandi di rumahnya memang hanya ada sebuah bak mandi. Bukan bath up seperti di rumah suaminya.


"Dek, nanti ke rumah sakit, ya? Tadi Om Irsyad ngasih kabar di grup keluarga kalau Mbak Fatma sudah lahiran."


"Loh, bukannya belum ada sembilan bukan, 'kan?" tanya Za sedikit terkejut.


"Iya. Tapi sudah lahir bayinya. Ada sesuatu hal mungkin. Tapi ada alhamdulillah bayinya sehat. Perempuan."


Senyum di wajah Fadhil justru membuat Za tercubit. Dia mencoba mengalihkan dengan beranjak membantu ibunya memasak. Za tidak tahu harus menyahut apa selian mengiyakan ajakan Fadhil menjenguk adik sepupunya yang baru lahir.

__ADS_1


__ADS_2