Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ups! Kena Deh


__ADS_3

"Za!" Bian menghampiri Za yang duduk di depan TV.


"Apa, Mas?" sahut Za tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. "Katanya mau pergi sama Alya? Nggak jadi?" tanyanya kemudian.


Bian menghempaskan diri di samping Za. "Alya mau ngerjain tugas," sahut pria itu.


Za pun terkekeh. "Sabar ya, Mas. 2 tahun lagi Alya bisa lah jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tanpa harus mikirin tugas-tugas kuliahnya."


"Jadi rencananya gimana, Mas? Mas Bian mau balik lagi ke Kalimantan atau stay di sini," tanya Za lagi.


Helaan nafas panjang Bian pun terdengar. Terlihat sekali jika sepupu Za itu sedang gundah gulana. "Balik lagi tapi nggak lama. Mas mau resign aja. Mas Bian nggak kuat kalau harus LDR," ungkap Bian.


"Terus Mas Bian mau nyari kerja di sini?"


"Nggak. Mau buka usaha. Join sama Fadhil."


Za terbelalak. Jawaban Bian benar-benar membuatnya terkejut. Pantas semalam mereka ngobrol begitu lama. Rupanya ada pembahasan serius tanpa sepengetahuan Za.


"Kamu kenapa nolak Fadhil, Za?"


"Heh?!" Za terkejut mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Bian.


"Fadhil bilang apa sama Mas Bian?" tanya Za menyahut pertanyaan Bian.


"Bulek yang bilang," jawab Bian.


Za tak menyahut. Dia kembali menatap laptopnya meski pikirannya melayang mencari jawaban yang masuk akal bagi Bian. Mana mungkin dia mengatakan jika usia Fadhil terlalu tua. Atau karena dia pernah memergoki Fadhil jalan dengan perempuan yang ternyata itu adalah keponakannya. Bian pasti akan menceramahinya panjang lebar sama seperti ibunya. Bian sudah percaya akan bekerja sama dengan Fadhil. Artinya Bian juga percaya jika Fadhil orang baik. Karena memang kenyataannya demikian. Apalagi Fatma pun sempat berniat memperkenalkan Za dengan Fadhil, maka Za harus percaya jika 99,9 persen Fadhil memang laki-laki yang baik. Mana mungkin temannya itu menjerumuskan dia.


"Belum sreg aja, Mas." jawab Za tanpa menoleh.


"Memang sregnya sama yang gimana?"


Za menjauhkan jarinya dari keyboard lalu menyandarkan punggungnya. Dari nadanya, Bian sedang ingin berbicara serius dengannya.


"Paklek dan Bulek itu nggak mungkin mengenalkan kamu dengan laki-laki tanpa mencari tahu dulu latar belakangnya, Za. Mereka nggak mungkin menyerahkan anak gadisnya ke sembarang orang."


Za mendesah kasar. Ucapan Bian sama persis dengan Fatma.


"Jadi Mas Bian setuju kalau Za sama Fadhil? Atau karena ada embel-embel mau kerja sama dengan dia?"


"Astaghfirullahal'dzim. Kamu terlalu su'udzon. Mas Bian setuju karena nggak ingin nantinya kamu justru menemukan orang yang nggak tepat."


Za tak menjawab. Semakin didesak, dia akan semakin pusing. Semua mendukung Fadhil, lalu siapa yang ada di pihaknya.

__ADS_1


"Nggak tau lah, Mas. Pusing aku," jawab Za yang mengalami kebuntuan.


"Jalan aja, yuk!" ajaknya pada Bian.


"Heh! Suami orang ini!"


Za pun merengut. Susahnya mengajak Bian sekarang. Sepupunya itu pasti akan menjaga perasaan Alya dengan sangat hati-hati. Mengingat usia semuda Alya sangat rentan cemburu dan merajuk. Za saja yang lima tahun di atas Alya masih suka ngambek tidak jelas.


"Bilang aja mau ngantar ambil motor. Masa iya Alya nggak boleh. Atau jangan-jangan Mas Bian yang nggak mau lagi jalan sama aku. Mentang-mentang udah punya istri."


"Kan motornya mau diantar Fadhil. Ngapain diambil?"


"Lama, Mas. Aku mau bosan di rumah sendirian. Mau jalan nggak ada motor."


Ayah dan ibu Za sedang ada acara kondangan di dua tempat. Mereka pasti akan pulang sore karena jarak yang lumayan jauh. Bahkan salah satunya kerabat ibunya yang tinggal di luar kota. Sehingga Za akan sendirian di rumah hingga sore hari.


Bulan yang dianggap sebagian orang bulan baik untuk menikah, ada saja kiriman undangan pernikahan anak-anak dari teman orang tua Za. Hal yang membuat Za semakin cemas. Bukan karena dia ingin cepat-cepat menikah. Namun karena sepulang dari menghadiri resepsi pernikahan ibunya pasti akan bercerita panjang lebar yang ujungnya menyinggung Za kapan akan segera menikah.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Za saat Bian beranjak dari duduknya.


"Mau nemenin Alya ngerjain tugas."


"Atah-atah! Nemenin ngerjain tugas, ujung-ujungnya ngerjain Alya."


"Ngiri, Mblo! Makanya nikah dong, Mblo!" seru Bian menggoda adik sepupunya.


"Mas Bian! Awas kamu, ya!" Za mengambil sandal bulunya lalu mengejar Bian yang ke depan.


Za melempar sandalnya ke arah Bian yang berlari keluar.


Bug!


Sandal itu pun mendarat tepat di wajah seseorang yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Za menutup wajahnya seketika karena malunya tidak tertolong lagi. Tawa lepas Bian pun terdengar paripurna. Puas sekali melihat Za tak kuasa menahan malu setelah lemparan sandalnya tepat mengenai wajah Fadhil.


"M-maaf, Mas, Nggak sengaja. Beneran, deh," ucap Za dengan wajah yang masih kemerahan. Sementara Fadhil hanya tersenyum mengangguk melihat kelakuan Za yang ternyata tidak selembut suaranya.


"Mas Bian ke Alya dulu, Za. Baik-baik di rumah!" seru Bian sengaja membuat Za kesal. Pria itu menyuruh Fadhil masuk sebelum benar-benar meninggalkan rumah Za.


Dalam hati Za mengumpat kakak sepupunya yang justru pulang ke rumah mertuanya. Padahal tahu Za sedang sendirian di rumah.


"Sebentar ya, Mas. Saya buatkan minum dulu."


Za bergegas menghilang ke dalam rumah. Sepertinya dia salah berucap saking gugupnya. Seharusnya dia tidak perlu membuatkan minum. Yang justru akan membuat Fadhil lebih lama bertamu.

__ADS_1


Tapi mau dibatalkan dan meminta Fadhil untuk pulang sepertinya terlalu kejam. Dia sudah repot-repot membawa motor Za ke bengkel lalu mengantarnya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih, Za akan membuatkan segelas lemon tea untuk Fadhil. Minuman yang tadi dibuatnya satu teko karena udara siang ini terasa begitu panas.


Setelah beberapa lama berdiam diri di dapur, Za menyiapkan hatinya untuk menemui Fadhil sambil membawa nampan berisi segelas minuman dingin.


"Silakan, Mas," ujar Za setelah meletakkan gelas di depan Fadhil.


"Terima kasih." Fadhil pun meneguk minuman itu hingga tak bersisa.


Za tersenyum kaku melihatnya. Fadil benar-benar haus atau karena minuman yang diracik Za memang enak.


"Maaf, es terlalu enak. Sayang kalau tidak dihabiskan," ucap Fadhil tanpa canggung memuji Za. Memuji es teh buatan Za lebih tepatnya.


"Kok sepi, Ayah sama Ibu kemana?"


Ayah? Perasaan dari kemarin Fadhil selalu menyebut ayah Za dengan sebutan Bapak. Dan kunjungan ke empat Fadhil ke rumah, Za, dia sudah terlihat lebih rileks daripada sebelumnya. Mungkin karena semua penghuni rumah itu menyambutnya dengan hangat, kecuali Za.


"Dek?"


Za terkesiap. "Eh, Ayah sama Ibu, ya? Mereka sedang ke Salatiga ada saudara dari Ibu yang punya gawe," sahutnya sedikit gugup.


"Kok tidak ikut?" tanya Fadhil.


"Tidak ada kendaraan. Saya malas kalau harus naik kendaraan umum," jawabnya Za berbohong. Alasan sebenarnya, dia enggan menghadiri acara pernikahan karena mentalnya tidak terlalu kuat untuk menerima terpaan pertanyaan kapan nikah.


"Maaf, tadi beresnya memang agak siang."


"Tidak apa-apa, Mas. Saya yang minta maaf karena sudah merepotkan Mas Fadhil," balas Za.


Pria itu pun mengambil gawainya. Menelepon seseorang yang Za tebak adalah ayahnya. Tentu saja untuk meminta izin berkunjung ke rumah karena Za semdirian di rumah.


"Oh ya, Mas. Biaya bengkelnya berapa? Nanti biar ditransfer Ayah."


Fadhil menipiskan bibirnya. Za benar-benar gadis manja di balik sikapnya yang kadang terlihat tegas. Meski baru beberapa kali berkunjung, tapi Fadhil mengamati bagaimana saat Za berbicara pada ayahnya dengan nada merengek khas bocah.


"Mau ganti? Tapi saya nggak mau diganti pakai uang."


"L-lalu pakai apa?" sahut Za terbata. "Pakai es teh cukup?" lanjutnya bercanda untuk mengusir kegugupan.


Fadhil menggeleng. "Saya mau dibalas dengan menjabat tangan Ayah di depan para saksi."


"M-maksudnya?" Za mendadak jadi bodoh.


"Kita menikah," jawab Fadhil tegas.

__ADS_1


Za terbelalak. Mas Bian, tolong! jerit hati Za saat melihat Bian melintas di depan rumahnya.


__ADS_2