
"Mami!"
Za yang sedang menyiapkan makan siang bersama Tante Sarah menoleh. Alif tidak datang sendirian ataupun bersama Fadhil. Melainkan dengan Aruma. Mereka satu sekolah berbeda tingkatan. Karena usia Aruma yang lebih tua. Di belakang mereka menyusul Fatma.
"Mbak? Kok Alif sama kamu?" tanya Za.
"Iya. Tadi Fadhil telepon katanya ada keperluan mendadak nggak bisa jemput Al. Untung Mbak masih di sekolah."
Za membulatkan bibirnya. Entah keperluan mendadak apa yang membuat Fadhil batal menjemput Alif. Padahal hati ini dia mengatakan tidak ada urusan apa pun. Bahkan tidak juga ke bengkel.
"Gimana kandunganmu, Za? Masih mual?"
"Masih kadang-kadang," jawab Za. "Makan sini, Mbak. Tante Sarah masak banyak. Sayang kalau nggak dimakan. Paling Mas Fadhil juga makan di luar," ajak Za.
Jika sudah bertemu, Aruma Dan Alif akan betah bermain berdua. Bahkan tanpa mengganti bajunya mereka menumpahkan kotak mainan. Sehingga harus melalui sedikit pemaksaan agar mereka mau berganti baju.
"Mainnya nanti setelah makan, ya." ujar Za.
Dia patut bersyukur Alif tergolong penurut. Meski kadang kala rewel seperti anak kecil alda umumnya. Namun dengan berbicara lembut, anak itu selalu mengerti. Terlebih setelah mengetahui jika dia akan segera memiliki adik.
"Mau makan sambil nonton," pinta Alif saat Za mengambilkan makan untuk mereka. Permintaan yang harus dituruti. Untung saja Tante Sarah menggoreng ikan fillet. Sehingga Za tidak perlu cemas anaknya tertusuk duri ikan saat makan. Karena sejak dari usia dini, Za memang melatih Alif makan sendiri. Kecuali jika sedang sakit. Atau Tante Sarah yang ingin memanjakan cucunya.
"Tante Sarah emang nggak ada lawan. Enak sekali kuahnya, seger." Fatma menyeruput kuah sayur asem yang kemerahan. Mengabaikan dua anak kecil yang sedang diputarkan video oleh Za.
"Nanti aku bawa ya, Tan. Mas Irsyad pasti seneng banget. Dia sudah lama nggak makan masakan Tante Sarah."
"Boleh. Sering-sering saja main ke sini.," sahut Tante Sarah.
"Iya. Besok kalau sudah longgar, Tan. Akhir-akhir ini sedang agak banyak kerjaan," balas Fatma.
Tante Sarah mengangguk. Dia menyisihkan sebagian sayur untuk dibawa oleh Fatma. Lengkap dengan ikan dan sambalnya.
"Za, kamu nggak makan?" tanyanya melihat Za justru hanya menemani anak-anak. Padahal dia yang minta untuk dimasakkan sayur asem tadi.
"Nanti saja," jawab Za.
Dari gelagatnya, Fatma yang memiliki kedekatan dengan Za tentu saja tahu jika Za sedang kesal.
__ADS_1
"Kenapa, Za? Mau nunggu Fadhil?" tanya Fatma kemudian.
"Nggak, Mbak. Masih kenyang," jawab Za sambil beranjak.
Fatma menghela nafas panjang. Emosi ibu hamil memang kadang labil. Dia pun tetap sibuk makannya saat Za duduk di sampingnya.
"Tadi Mas Fadhil nggak bilang mau ke mana, Mbak?"
Fatma urung menyuapkan makan mendengar pertanyaan lirih Za.
"Mbak nggak nanya sih. Cuma dia bilang ada perlu penting gitu. Dia nggak ngabarin kamu?"
Za menggeleng. "Nggak."
"Kenapa nggak kamu telepon dia? Kalian…baik-baik saja, kan?" Fatma ragu ingin bertanya lebih jauh. Namun anggukan kepala Za membuatnya bernafas lega.
"Cuma aku nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini bawaannya kesel sama dia. Aku nggak mau dekat-dekat sama dia," ungkap Za.
Fatma mengusap lengan Za pelan. "Mungkin itu karena pengaruh hormon kehamilan. Yang penting Fadhil mau mengerti."
Za tertegun. Dia tidak tahu Fadhil memahami kondisinya atau tidak. Karena komunikasi dengan suaminya justru semakin buruk. Dia selalu menghindar agar tidak berdekatan dengan Fadhil. Bahkan saat rencana menjemput Alif berubah, tdk ada satu kabar pun yang dikirim. Jauh dari kebiasaan Fadhil sebelumnya.
Perempuan hamil itu pun mengangguk. Dia pun mengantar Fatma ke depan setelah wanita itu mendapat telepon dari suaminya.
"Makasih ya, Mbak," ucap Za.
Fatma mengibaskan tangannya. "Kamu kayak sama siapa, Za."
Za menutup pintu setelah mobil Fatma melaju. Saatnya membujuk Alif yang merajuk karena ditinggal pulang oleh Aruma. Karena kesehariannya memang tidak ada teman bermain. Za tidak melarang Alif keluar rumah. Hanya saja dilingkungan meteka tidak ada anak seusianya.
"Besok lagi kita gantian main ke rumah Aruma, ya?"
"Nggak mau. Alif mau sama Papa!"
Za menghela nafas panjang. Diambilnya ponsel dikamar. Lalu memberikannya pada Alif untuk menelepon Fadhil. Namun berkali-kali panggilan terputus. Anak itu bahkan sampai menangis karena teleponnya tidak terjawab.
Za berusaha membujuk Alif dengan berbagai cara. Sampai akhirnya anaknya terlelap karena kelelahan menangis.
__ADS_1
Hingga sampai sore hari, Fadhil baru pulang ke rumah. Saat Za ikut tertidur di ranjang Alif. Dia terbangun mendengar suara Fadhil memanggilnya.
Melihat wajah Fadhil, Za bertambah semakin kesal. Bahkan rasa jengkelnya menjadi berlipat-lipat.
"Dari mana?" tanya Za dengan wajah yang jelas tidak menyenangkan.
Fadhil tak menjawab. Dia lebih memilih menghindar keluar dari kamar Alif.
'Mas! Aku tanya sama kamu." cecar Za yang menyusul di belakangnya.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?"
"Benerin mobilnya Lany mogok di jalan," jawab Fadhil dengan tenang.
"Harus kamu? Apa nggak bisa dia manggil mobil derek aau kamu nyuruh salah satu karyawanmu saja?!"
"Bengkel lagi ramai. Nggak ada yang sempat!" jawab Fadhil lagi berusaha agar tidak terpancing oleh kemarahan istrinya. Keinginannya untuk makan pun telah lenyap. Sehingga dia urung menarik kursi.
"Fast respon banget ya kamu kalau sama dia? Sampai harus menomor duakan anak? Alif telpon kamu berkali-kali pun nggak diangkat."
"Handphon-ku mode silent."
Za tersenyum remeh. "Ternyata masih penting banget ya, Lany buat kamu! Atau jangan-jangan selama ini kamu main belakang sama dia."
Fadhil terbelalak. "Jangan ngaco kamu!" sahutnya lalu dia meninggalkan Za dan pergi ke kamar.
Za menyusulnya, tetapi bukan untuk melanjutkan perdebatan mereka. Melainkan mengganti dasternya dengan pakaian yang lebih rapi. Lalu menyambar tasnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Fadhil melihat Za membalut kepalanya dengan kerudung instan.
"Pulang!"
Fadhil mencekal lengan Za sebelum istrinya itu membuka pintu. "Bisa nggak kamu jangan kekanakan begini?"
Serta merta Za menyentak tangannya. "Ya. Aku kekanakan. Kalau kamu suka perempuan yang lebih dewasa kenapa nggak kamu nikahi saja Lany?!" jawab Za dengan sengit.
Fadhil membuang nafas kasar. Dia mengambil kunci di atas meja lalu memberikannya pada Za. "Kabari kalau kamu sudah nggak marah. Nanti Mas jemput."
__ADS_1
Za mengabaikan kunci mobil di tangan Fadhil. Dan berlalu begitu saja. Dalam hati dia semakin kesal karena Fadhil sama sekali tidak berniat menahannya. Jelas sekali jika mungkin saja suaminya memang sudah bosan menghadapi sifat kekanakannya.