Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ngidam


__ADS_3

"Mas, kamu pagi-pagi kok udah motongi mangga, sih?" tanya Za saat dia baru keluar dari kamar dan melihat Fadhil sedang memotong mangga mentah yang pasti memetik di di depan rumah. Pohon mangga yang tidak begitu tinggi namun buahnya sangat banyak.


"Tiba-tiba pingin," sahut Fadhil.


Di samping piring berisi potongan mangga itu sudah ada sambal rujak. Gigi Za bahkan sampai ngilu mendengar Fadhil mengunyah mangga yang masih segar.


"Nggak mau?" Fadhil menyodorkan potongan buah mangga itu.


"Nggak ah," sahut Za. "Yang hamil sebenarnya aku apa kamu sih? Perasaan dari kemarin yang suka makan aneh-aneh kamu."


Fadhil terkekeh. Sejak beberapa hari ini dia memang sering menginginkan makanan-makanan yang tidak biasanya dia makan. Termasuk buah mangga mentah pagi itu.


"Dah lah. Ngilu aku lihat Mas makan mangga muda."


Za beranjak pergi ke dapur. Menghampiri Tante Sarah yang sedang memasak untuk sarapan.


"Masak apa, Tan?" tanya Za melihat Tante Sarah sedang mencuci daging ayam.


"Masak opor ayam. Fadhil bilang mau makan opor pakai lontong. Itu lontong masih direbus."


"Kenapa nggak beli saja sih, Tante. Kan ribet pagi-pagi harus masak opor."


"Fadhil maunya Tante yang masak,"


"Astaghfirullah. Ada-ada aja Mas Fadhil. Ngerjain orang tua pagi-pagi," gumam Za.


Tante Sarah pun tersenyum lebar.


"Sini Za bantuin."

__ADS_1


Za mengambil pisau untuk memotong kentang. Karena selain opor ayam, Fadhill juga meminta sambal goreng. Lebaran masih lama tapi mereka sudah memasaknya hari ini.


Za menyiapkan bumbu-bumbu lalu menghaluskannya dengan chopper.


"Kentangnya nggak usah digoreng dulu biar cepat," cetus Za. Karena menggoreng kentang butuh waktu lama.


"Ya nanti suamimu protes nggak mau makan," sahut Tante Sarah.


"Ampun deh. Ini siapa yang hamil siapa yang ngidam, sih?"


Za pun memanaskan minyak untuk menggoreng kentang. Namun suara Alif berteriak dari dalam kamar membuatnya urung memasukkan kentang ke dalam penggorengan. Fadhil seolah mengabaikan keriwehan di pagi hari. Dia masih asyik makan rujak di belakang.


"Ma, mau susu!" rengek Alif dalam gendongan Za. Suhu badan yang panas membuat Alif pagi ini sedikit rewel.


"Duduk sini, ya. Mama buatkan susunya dulu."


"Panasnya belum turun, Tan," sahut Za sambil membuatkan susu untuk Alif.


Za membantu Alif meminum susunya. "Nggak enak, Ma." Alif meletakkan kembali gelasnya.


"Nggak enak? Masa sih?"


Za mencicipi susu yang baru saja dibuatnya. Seketika tawanya meledak. Ternyata dia mengambilkan bubuk putih dari tempat bukan susu yang biasa diminum Alif yang dibuatnya. Melainkan susu untuk Ibu hamil yang rasanya pasti asing di lidah Alif. Tante Sarah pun ikut tertawa karenanya.


"Dikasih nama, Ma. Biar nggak salah," sahut Alif.


"Pintar. Nanti Mama kasih nama kotaknya." Za mengacak rambut lebat anaknya. Dia pun membuatkan susu yang baru untuk Alif. Anak itu pun merengek untuk tetap ditemani oleh Za. Meski sudah meminum susu.


"Sudah, biar Tante saja yang masak," ujar Tante Sarah. Meski .enu yang akan dimasaknya sedikit ribet, namun lebih kasihan jika Za harus mengurus Alif dan membantunya memasak. Sementara Alif tidak mau lepas dari Za.

__ADS_1


"Sama Papa, ya?" bujuk Za.


"Nggak mau."


Za menghela nafas pelan lalu menggendong Alif kembali ke kamar. Meski Tante Sarah sudah mencegahnya. Kehamilannya belum genap dua bulan. Masih sangat rentan. Apalagi Za harus bersusah payah untuk bisa hamil. Tapi mau bagaimana lagi, Alif jika sedang sakit harus selalu dekat dengannya.


"Eh! Eh! Al, kok minta gendong! Perut Mami ada adiknya, Al. Nanti perut Mami sakit! Ayo turun! hardik Safira yang baru saja keluar kamar.


"Lagi demam dia," timpal Za.


"Iya kah?" Safira mendekat lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Alif. "Astaga! Sini gendong Kak Fira aja." Safira mengambil Alif dari gendongan Za dengan paksa karena Alif menolaknya. Dia membawa Alif ke belakang saat melihat Fadhil duduk di teras.


"Astaghfirullahal'adzim! Malah enak-enakan ngerujak di sini. Anaknya demam, nih. Minta gendong maminya terus. Kalau kandungan mami kenapa-napa gimana? Nggak nyesel?!" ujar Safira kesal.


Fadhil meletakkan potongan buah mangga yang baru dimakan setengahnya. Bukan mengambil Alif dari Safira melainkan mencari istrinya ke dalam rumah.


"Dek! Kamu nggak kenapa-napa, kan?" tanyanya sambil mengusap perut Za.


"Nggak. Emang kenapa?"


"Lain kali nggak usah gendong Alif lagi. Alif itu berat lho. Kenapa tadi nggak manggil Mas buat bantu kamu?".


"Nggak tega. Mas keasyikan makan rujak."


Fadhil mengusap wajahnya kasar. "Maaf," ucapnya lalu merengkuh bahu Za.


"Nggak papa, Mas. Nggak tiap hari juga ngidamnya. Yang kasihan tuh Tante Sarah pagi-pagi udah kamu bikin riweh," sarkas Za.


"Ya gimana lagi. Tiba-tiba pingin makan sama opor buatan Tante Sarah," sahut Fadhil tanpa sesal.

__ADS_1


__ADS_2