Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Mendadak Menikah


__ADS_3

Akad nikah pun dilangsungkan saat itu juga. Bian menjabat tangan Pak Ramli yang menikahkan mereka. Suara lantang Bian menunjukkan bahwa laki-laki itu sudah benar-benar siap.


Dalam hitungan menit, rencana yang tadinya hanya lamaran justru berubah menjadi pernikahan sederhana. Alya tersenyum malu-malu saat Bian mendekat. Dia mencium punggung tangan pria itu yang dibalas dengan kecupan kening, mata pipi hidung dan sekilas bibir. Wajah putih Alya merona seketika mendapatkan perlakuan Bian yang tidak melihat situasi.


"Sabar, Mas! Masih banyak orang!" celetuk Za setengah berbisik.


Alya yang duduk di samping Za semakin memerah wajahnya karena digoda olehnya.


"Biar kamu ngiri!" balas Bian tak kalah membuat Za kesal. Za pun mencebik.


Setelah serangkaian acara telah selesai, tamu yang hanya beberapa orang itu pun berpamitan pulang setelah beramah. Termasuk Za dan orang tuanya. Sementara Bian, malam ini mungkin akan menginap di rumah mertua barunya.


Za masih segan untuk mengajak bicara ibunya yang sejak tadi diam saja. Ibunya terlihat benar-benar kecewa. Mungkin hatinya kini telah patah. Sama seperti saat Za menolak Fadhil. Bahkan lebih parah.


"Ibu kenapa? Nggak enak badan?" tanya Ayah melihat istrinya menghempaskan diri di sofa. Seolah beban yang tengah dirasakannya terlalu berat.


"Seharusnya ibu bahagia, anak kita baru saja menikah," imbuh ayah Za.


"Bahagia, Yah. Tapi bagaimana dengan Za?" sahut Bu Rahma sedih.


Gadis lajang di kampung itu kini berkurang satu lagi. Hal itu tentu membuat ibu Za semakin resah. Alya yang usianya jauh di bawah Za saja berani memutuskan untuk menikah. Bahkan menjadi menantunya. Ibu Za bukan tidak suka dengan Alya. Karena Alya gadis yang baik. Hanya saja dia mengkhawatir putrinya yang masih belum laku juga. Apa kata orang nantinya?


Bu Rahma seolah masih sulit untuk menerima. Satu-satunya harapannya adalah Bian. Pria yang selama ini dekat dengan Za. Bahkan sangat baik dengan Za. Namun sekarang Bian justru memperistri perempuan lain. Yang usianya jauh lebih muda dari putrinya.


"Ibu nggak bisa maksa Bian menikah dengan Za. Dia berhak memilih sendiri pasangan hidupnya," kata ayah Za mencoba memberi pengertian pada istrinya.


Dia pun mengusap bahu sang istri yang justru bertambah semakin sedih. Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Za menjadi merasa bersalah karena belum bisa mewujudkan keinginan ibunya. Meski dia sendiri belum ingin cepat-cepat menikah.


"Kamu tahu kan, Za. Laki-laki mapan yang seusia dengan kamu ataupun selisih beberapa tahun dengan kamu pasti memilih yang lebih muda." Perkataan ibunya sama sekali tidak mendapat sahutan dari Za. Bukan karena dia tidak sopan. Tapi Za takut salah memberi jawaban. Yang akhirnya membuat ibunya semakin sedih.


Za memilih masuk ke dalam kamar. Mengganti bajunya dengan daster longgar. Agar lebih leluasa di tengah suasana hatinya yang mendadak tidak baik. Apa seburuk itu di usianya sekarang namun dia belum menikah. Di luar sana banyak wanita yang bahkan usianya lebih dari 30 tahun namun masih masih ingin menikmati kesendiriannya. Ah, mungkin itu hanya sebagian pemikiran orang. Yang menganggap menikah adalah pencapaian hidup. Padahal, setelah menikah, beragam permasalahan hidup akan muncul. Dan membutuhkan kedewasaan pemikiran untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


Mengingat pembicaraan tempo hari dengan Fatma, Za mulai memikirkan saran temannya itu. Yang ingin memperkenalkan Za dengan keponakannya. Memang tidak ada salahnya untuk dicoba. Jika memang membahagiakan ibunya hanya dengan cara menikah, maka Za akan berusaha memenuhi keinginan ibunya. Dia harus mulai membuka hati.


Za keluar dari kamar untuk mencuci wajah dan membersihkan gigi sebelum tidur. Tidak ada siapa pun di ruang tengah. Rumah terlihat sepi. Mungkin ayah dan ibunya sudah masuk ke dalam kamar.


Yang terdengar oleh telinganya kemudian adalah suara ketukan pintu. Za melihat jam yang menggantung di dinding. Jam sembilan malam. Suasana kampung masih cukup ramai. Suara lalu lalang kendaraan, teriakan anak-anak kecil dari tetangga rumahnya bunyi wajan dipukul oleh penjual nasi goreng yang setiap malam lewat di gang.


Za pun bergegas ke depan setelah mendengar suara ketukan pintu yang kembali berbunyi. Ternyata Alya yang mengetuknya.


"Eh! Manten baru. Masuk sini, Ya!" Za menyuruh Alya masuk ke dalam rumah. Alya bukan orang asing bagi keluarga Za. Dulu hampir setiap hari dia ke rumah Za saat Alya masih les privat dengannya. Bahkan saat Alya kecil, ibu Za seringkali mengajak Alya main ke rumah. Alya seperti adik bagi Za yang hanya anak semata wayang. Keluarga mereka pun terbilang cukup dekat.


"Disuruh Ibu ngasih ini buat Budhe, Mbak." Alya menyerahkan susunan kotak makan.


"Apa ini?" tanya Za.


"Tadi ibu pesan makanan kebanyakan."


"Oh, duduk dulu, Ya. Mbak ganti dulu wadahnya."


Za pun meletakkan kotak makanan itu di meja. Lalu ikut duduk di samping Alya. Melihat wajah Alya yang tidak sumringah, sepertinya ada sesuatu yang sedang dipendam olehnya.


"Mbak!" panggil Alya pelan.


"Ada apa, Ya. Kok kusut banget muka kamu. Manten baru harus bahagia, dong," balas Za menghibur Alya. Padahal dirinya sendiri pun butuh seseorang untuk menghibur hatinya. Biasanya Bian yang akan mengajaknya jalan. Tapi sekarang, Za tentu saja tidak ingin membuat Alya cemburu dengan mengajak Bian jalan-jalan.


"Aku galau, Mbak," ujar Alya.


"Galau kenapa? Bukannya lega baru saja sah?"


"Itu dia, Mbak. Aku nggak tahu kalau Ayah minta kami menikah sekarang. Aku pikir cuma mau lamaran nikahnya nanti saja kalau aku sudah selesai kuliah."


Za terkikik geli. Sesuai usianya, Alya mengerucutkan bibirnya persis anak kecil yang sedang mengadu pada kakaknya. "Lalu apa masalahnya sekarang, Ya? Nggak apa-apa juga kan lanjutin kuliah meski kamu sudah menikah."

__ADS_1


"Iya sih, tapi aku belum siap kalau Mas Bian minta…."


Za menutup mulutnya karena tawanya nyaris meledak. Tentu saja dia tahu arah pembicaraan Alya. Bian sudah dewasa, pasti sudah kebelet bercocok tanam.


"Ya….kan nggak apa-apa. Sudah halal."


Alya mendecakkan lidah. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sangat. Hal itu dimaklumi oleh Za. Mereka tidak pernah pacaran sebelumnya. Za pun tahu Bian pun laki-laki pertama bagi Alya. Mungkin hal itu yang membuat Alya masih takut untuk melayani Bian.


"Alya, Mas Bian itu orangnya sangaaat pengertian." Za bahkan sampai memanjangkan kata sangat untuk menggambarkan betapa Bian adalah pria yang mempunyai sifat yang sangat baik.


"Kamu tidak usah takut untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati kamu, apa yang ada dalam pikiran kamu. Mbak yakin Mas Bian akan mengerti."


Alya menggigit bibir bawahnya dan terlihat masih ragu. "Tapi memangnya nggak apa-apa kalau istri menolak suami?"


"Bukan menolak. Hanya menunda. Kamu kan belum terbiasa dengan Mas Bian. Mulailah dengan membuat hubungan kalian nyaman terlebih dulu," Za seolah seorang yang berpengalaman memberi pengertian pada Alya. Sedang dirinya mungkin saja akan seperti Alya jika dihadapkan pada permasalahan yang sama.


Alya pun mengangguk paham namun dia tidak beranjak juga untuk pulang ke rumahnya. Sofa ruang tamu di rumah itu seolah mengandung perekat. Yang membuat Alya enggan untuk beranjak.


"Pantes aku tunggu di kamar lama banget. Rupanya lagi ngerumpi di sini!" Suara Bian terdengar seiring langkah kaki pria itu masuk ke dalam rumah. Di pun menjatuhkan diri di samping Alya tanpa canggung


"Udah, tidur di sini aja, Mas. Sama aja kan. Di sini kasur juga gede. Muatlah buat bikin dedek!"


Alya terperangah mendengar ucapan Za yang asal. Dia menatap Bian yang justru dibalas kedipan sebelah mata oleh suaminya itu. Nyalinya semakin ciut.


"Mas! Jangan digodain dong Alyanya. Kasian tahu!" hardik Za yang akhirnya membela Alya.


Bian pun terkekeh. Sementara Alya menunduk gugup. Dia benar-benar polos untuk urusan laki-laki.


"Udah, ya. Aku mau tidur dulu. Selamat malam, pengantin baru!" Za mengambil kotak makanan itu lalu membawanya ke belakang. Dia tertawa geli membayangkan panas dinginnya Alya harus satu kamar dengan Bian.


Namun tawa itu hanya sekejap. Saat masuk ke kamar, dia kembali termenung. Ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Hatinya yang kini kosong setelah status Bian kini bukan lagi sepupunya yang lajang.

__ADS_1


__ADS_2