Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Resign


__ADS_3

Meski hari ini terakhir kalinya Za mengajar, namun dia menjalankan tugasnya seperti biasa. Berat untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah dua tahun lebih dia tekuni. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa menolak keinginan suaminya.


Mata sembab anak-anak karena tidak mau kehilangan guru tercinta mereka membuat Za terenyuh. Namun dia tetap tersenyum memberikan semangat pada murid-muridnya. Berpamitan di kelas ternyata tidak cukup. Bahkan mereka membuntuti Za yang duduk di lobi menunggu jemputan.


"Bu, boleh nggak kapan-kapan main ke rumah Ibu?" tanya salah satu murid laki-laki.


"Boleh dong. Nanti chat saja kalau mau main ke rumah Ibu."


"Emang boleh nge-chat Ibu? Nanti suaminya nggak marah?" tanya murid lain bernama Riko menimpali.


Seorang murid terbahak. "Dia pengalaman tuh, Bu. Nge-chat Bu Fatma yang balesin Pak Irsyad. Mana pake emot love lagi."


"Njiir! Buka aib lo!" Riko mendengkus kesal.


Sontak semua terbahak. Termasuk lelaki dewasa yang beberapa saat lalu berdiri di belakang tidak jauh dari mereka tersenyum melihat tingkah anak remaja yang sedang lucu-lucunya.


"Sudah selesai ngobrolnya?" Fadhil menyela pembicaraan mereka.


"Wah, ternyata ini pawang Bu Za?" celetuk salah satu murid.


"Sopan, Woi!" sergah murid bernama Riko tadi.


Fadhil hanya tersenyum. Melihat Za dikelilingi oleh murid laki-laki. Mungkin para fans Za di sekolah. Mengingat istrinya itu memang cantik dan wajahnya terlihat lebih muda dari usianya. Tidak heran jika banyak yang menyukainya. Dia beruntung karena akhirnya dialah yang memenangkan hati Za.


"Ibu duluan, ya. Kalau mau main kabari saja."


"Ok, Bu."


Fadhil menggandeng tangan Za di depan murid-murid mereka. Seruan kecewa terdengar di belakang mereka.


Saat di halaman sekolah, mereka harus berpapasan dengan Doni, sang guru olah raga. Za menyapa sebentar karena tadi belum sempat berpamitan. Hanya sebentar saja. Karena Fadhil sudah mengultimatum agar berbicara secukupnya.


"Asem banget sih mukanya, Mas?"


Fadhil membuang nafas kasar. Lalu mencoba melengkungkan bibir.


Za terkekeh melihat wajah suaminya tersenyum sangat kaku. Lucu sekali kalau Fadhil sedang cemburu.


"Jadi ke rumah Ibu sekarang?"

__ADS_1


"Jadi, dong."


Hari ini Bian pulang dari Samarinda. Za tak sabar untuk bertemu dengan kakak sepupunya itu. Karena saat dia menikah, Bian tidak bisa datang. Karena Bian tidak mungkin mengajukan cuti dalam waktu berdekatan. Akhirnya Za harus terima saat Bian hanya bisa mengucapkan selamat melalui panggilan video.


Kabar pulang Bian pun seperti sebuah kejutan. Selalu begitu saat mendengar laki-laki itu akan pulang. Za hampir lupa jika masing-masing dari mereka sudah mempunyai pasangan.


"Sedekat apa kamu sama Bian?" tanya Fadhil tiba-tiba.


"Dekat aja. Sudah seperti kakak kandung. Dia satu-satunya saudara aku. Nggak ada yang lain lagi."


Fadhil mengangguk paham. Keluarga Za memang tidak terlalu banyak setahunya. Tidak seperti keluarga besarnya yang sangat banyak dan tinggal tersebar di beberapa kota. Itu kenapa sulit sekali mengumpulkan mereka dalam suatu acara jika tidak jauh-jauh hari direncanakan.


"Kabarnya kamu pernah mau dijodohkan sama dia?"


Za menoleh seketika. Pasti ibunya yang sudah bercerita banyak pada Fadhil. Siapa lagi yang suka bocor di rumahnya selain ibunya.


"Kenapa nggak mau?"


"Kalau aku mau Mas nggak mungkin jadi suami aku," jawab Za kesal karena Fadhil sengaja menggodanya.


Fadhil terkekeh. "Berapa banyak laki-laki yang sudah kamu tolak?"


'Kamu."


"Nggak ada. Mas apaan sih nanya-nanya nggak jelas."


"Cuma mau tahu saja."


"Nggak penting. Nanti ujung-ujungnya kamu cemburu."


"Oh, jadi banyak, ya? Nggak cuma satu dua."


Za berdecak semakin kesal. Pinggang Fadhil menjadi sasaran jarinya hingga pria itu mengaduh.


Mereka berhenti di toko buah sebelum masuk ke gang perumahan tempat tinggal orang tua Za. Membeli beberapa macam buah untuk oleh-oleh. Meski tidak seberapa, hal itu selalu dilakukan oleh Za setiap kali akan bertandang ke rumah orang tuanya. Sebagai wujud perhatiannya.


Lima puluh meter dari gapura, mereka sampai di rumah yang terakhir kali mereka kunjungi seminggu yang lalu. Za sering kasihan dengan ibunya. Yang setiap hari harus sendirian di rumah. Menunggu ayahnya pulang kerja sore hari. Namun hari ini ada Bian yang menemaninya. Tentu saja karena Alya sedang kuliah.


"Kamu datang saja ibu sudah senang. Bawa buah segini banyaknya nggak habis dimakan Ibu sama Ayah. Yang kemarin saja ibu kasihkan ke ibunya Alya sebagian."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bu. Bagi saja ke tetangga kalau kebanyakan," sahut Za sambil meletakkan kantong berisi buah di meja makan.


"Mas Bian, rindu makan mie sama kamu." Za menjatuhkan diri di samping Bian.


"Heleh. Bilang aja minta oleh-oleh."


Za tertawa lepas. "Nggak, Mas. Beneran. Aku nggak minta oleh-oleh emas permata dan juga uang. Tapi kalau dibawain sih nggak enak kalau mau nolak.


Bian mendecih mendengar sahutan Za. "Udah punya suami, Za. Kelakuan dirubah," ujarnya.


"Emang kenapa kelakuan aku? Ada yang aneh?"


"Kayak bocil tahu, nggak nyadar kamu?"


Za mencebik. Bian memang selalu bicara apa adanya jika dengan Za. Namun Za justru tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak, Bian sendiri yang selalu memanjakan Za.


"Mas Bian beneran jadi resign?" tanya Za mengalihkan pembicaraan.


"Jadi lah. Satu setengah bulan LDR saja rasanya satu setengah abad."


"Terus Alya mau dikasih makan apa, Mas. Kasihan dong punya suami pengangguran. Mana harus bayar kuliah lagi."


"Kok jadi kamu yang pusing, Za. Mas Bian aja selow. Rejeki sudah ada yang mengatur. Asal kita mau usaha," sahut Bian yakin.


"Eh, ngomong-ngomong kamu datang sendiri?"


Za baru sadar sejak tadi Fadhil tidak terlihat batang hidungnya. Dia bergegas keluar rumah. Mobil suaminya pun masih anteng di di depan. Namun tidak ada seorang pun di dalam.


"Bu! Ibu lihat Mas Fadhil, nggak?" tanya Za yang baru masuk ke dalam rumah. Membawa kotak kue. Sepertinya ibunya dan ibunya Alya sedang barter makanan. Setelah mengantar buah, pulangnya membawa kue. Seharmonis itu hubungan keluarganya dan keluarga Alya sejak dulu. Untung saja dia tidak berjodoh dengan Ghani. Jika sampai itu terjadi, mungkin rumah Bu Joko yang ada di antara rumah mereka bisa-bisa dibeli. Supaya tidak ada sekat yang memisahkan.


"Ada di rumah Bu Ramli. Lagi ngobrol sama ayahnya Alya."


Za bernafas lega. Dia memaklumi usia suaminya yang sudah kepala empat. Teman mengobrolnya bukan lagi sesuai pertengahan tiga puluhan. Bahkan dengan ayahnya ataupun Pak Ramli akan nyambung.


Karena penasaran, Za mendatangi rumah Alya. Diluar dugaannya, mereka bukan hanya sekedar duduk mengobrol di teras. Tetapi sedang bercengkerama tentang perburungan di carport sambil melihat hewan piaraan ayahnya Alya di kandang-kandang yang diturunkan oleh Pak Ramli.


"Makasih ya, Pak." Za mendengar suara suaminya mengucapkan terima kasih. Lalu meninggalkan rumah Alya membawa sebuah sangkar burung berikut penghuninya.


"Mas beli burung?" tanya Za yang masih berdiri di depan rumah rumah Alya.

__ADS_1


"Nggak. Di kasih."


Bohong banget. Za tahu harga burung piaraan ayahnya Alya tidak ada yang murah. Mana mungkin dia percaya kalau Fadhil yang diberi cuma-cuma. Dan satu lagi, Za tidak suka memelihara hewan di dalam rumah. Dan Fadhil tidak tahu akan hal itu.


__ADS_2