Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Kamu!


__ADS_3

"Ugh!" Za terkejut saat merasakan perutnya berkedut dengan kencang.


"Kenapa, Dek?"


"Nendangnya kenceng banget,"


"Masa?" Fadhil meletakkan ponselnya lalu meraba perut Za yang sudah buncit.


"Jadi penasaran cewek apa cowok. Gesit banget kayaknya."


Za sengaja belum menanyakan gender anaknya. Meski rasa ingin tahunya menggebu-gebu. Sama halnya dengan Fadhil.


Fadhil terkekeh saat melihat perut istrinya yang membentuk tonjolan. "Kaki apa tangan, ini?"


"Mana tahu, Mas," sahut Za.


"Bulan depan kita lihat gendernya, ya? Biar nggak ngambang beli baju-baju sama perlengkapannya."


Setelah berpikir beberapa saat, Za menyetujui ucapan Fadhil. Mereka harus membeli baju dan kebutuhan bayi lainnya. Meski ini bukan pengalaman pertama namun tetap saja excited menyiapkan kebutuhan bayi. Sama dengan saat membeli keperluan untuk Alif dulu.


Za beringsit turun dari ranjang. Geraknya sudah tidak bisa selincah dulu. Tubuhnya makin mengembang meski tidak terlalu.


"Mau ke mana?"


"Lihat Al dulu. Sudah tidur atau belum," jawab Za.


Meski Alif sudah semakin mandiri, namun rasa sayang Za tidak berubah. Bahkan saat dirinya hamil dan kelahiran bayinya semakin dekat, Za justru semakin perhatian pada Alif. Takut kehilangan Alif, alasan itu yang selalu diucapkan olehnya.


"Sudah tidur?" tanya Fadhil st Za kembali masuk ke dalam.kamar.


"Sudah," sahut Za. "Ke angkringan yuk, Mas!" ajaknya kemudian sambil mengambil jaket. Dan juga mengganti dasternya dengan piyama panjang.


"Bukannya tadi sudah makan?"

__ADS_1


"Pingin sate kerang. Ayolah!"


Fadhil pun beranjak lalu mengambil kunci dari dalam laci.


"Pakai motor aja, Mas," ujar Za karena dia pun sudah siap dengan jaketnya.


"Dingin, Za," bantah Fadhil.


"Ini kan pakai jaket," jawab Za bersikeras. "Biar bisa pegangan, Mas. Kan romantis,"


Fadhil terkekeh lalu mengambil kunci motornya. Keinginan Za memang sering tak terduga akhir-akhir ini. Hal yang pernah dinantikannya. Saat istrinya hamil dan cia akan disibukkan dengan segala permintaannya. Meski keinginannya hanya hal-hal remeh. Padahal selama mereka menikah Za tidak pernah mengajaknya makan di angkringan.


"Pegangan yang kenceng!" ujarnya sebelum melajukan motor. Bahkan menghitung berapa kali mereka berboncengan naik motor pun bisa dihitung dengan jari.


Za merapatkan tubuhnya ke depan meski harus terhalang dengan perutnya yang besar untuk melingkarkan lengannya.


"Rapat lagi, Za!" seru Fadhil karena jalanan masih cukup ramai meski sudah hampir jam sepuluh malam.


"Nggak bisa lagi. Sudah mentok!"


"Habis lampu merah depan itu, Mas," Za menunjuk arah depan saat mereka hampir melewati persimpangan.


Fadhil menghentikan motor di sebuah angkringan yang cukup ramai. Agak jauh dari rumahnya.


Za mengambil piring lalu mengambil beberapa tusuk sate-satean.


"Mas mau apa?" tanya Za.


"Kamu saja,"


"Jangan bercanda deh, Mas. Depan orang, loh," bisik Za kesal dengan jawaban Fadhil.


"Kopi jahe gulanya sedikit saja."

__ADS_1


Za pun mengulang pesanan Fadhil pada penjual angkringan. Mereka mencari tempat lesehan membaur bersama para pembeli lain yang dominan laki-laki.


"Bungkus aja,ya?" ujar Fadhil pelan. Bahkan hampir seperti berbisik.


"Kenapa? Aku mau makan di sini. Nggak lama. Cuma ini doang. Lagian minumnya kan belum jadi."


"Kamu dilihatin banyak orang." Fadhil mengambil piring dari tangan Za lalu mengajak istrinya itu berdiri.


"Dibungkus saja, Mas!" ujar Fadhil pada penjual angkringan.


Tidak menunggu lama, sebuah kantong plastik berisi pesanan mereka diulurkan oleh penjual angkringan. Fadhil membayarnya lalu menggandeng tangan Za untuk segera meninggalkan tempat itu. Meski di tengah jalan dia harus menghadapi istrinya yang merajuk karena tidak jadi makan di angkringan. Bahkan hingga sampai di rumah, Za masih saja menggerutu.


"Za, kamu nggak sadar dilihat segitu banyaknya orang?"


"Mas saja yang kepedean. Mereka punya mata ya pasti bisa melihat ke mana saja," sahut Za dengan kesal.


"Nggak, pokoknya Mas nggak mau nurutin kemauan kamu ke tempat itu lagi. Boleh makan di angkringan tapi yang sepi. Sekalian ngelarisin jualan mereka," tegas Fadhil.


"Bilang aja cemburu," balas Za dengan ketus


"Emang iya. Kenapa? Wajar kan kalau Mas cemburu kamu dilihatin banyak orang? Mas nggak suka itu!"


"Kayak anak kecil!" gumam Za.


"Siapa yang kayak anak kecil? Kamu, kan?"


"Kamu!"


"Kamu lah, dikit-dikit ngambek."


"Kamu! Nggak ada apa,-apa cemburu!"


"Cemburu tandanya cinta, Za."

__ADS_1


"Tahu ah! Sini satenya!" Za mengambil kantong plastik dari tangan Fadhil. Lalu memakannya di halaman rumah. Biarlah nggak jadi makan di angkringan. Makan di depan rumah sama-sama beratapkan langit yang sedang bertabur bintang. Meskipun harus diselingi perdebatan konyol dengan Fadhil.


__ADS_2