Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Lupa Marah


__ADS_3

"Bu, aku mau tinggal di sini dulu," ujar Za saat Fadhil bersiap pulang pagi itu. Sejak semalam mereka masih saling diam. Za enggan menegur lebih dulu begitu juga dengan Fadhil yang sepertinya sengaja tidak mengajaknya.


"Ayo, Al!" Fadhil mengambil Alif dari gendongan Bu Rahma.


Sontak Za terbelalak. Apa maksudnya coba? Dia tidak mengajakku pulang tapi justru membawa Alif. Za menggerutu dalam hati.


"Nduk! Kamu kenapa diam saja. Suamimu sudah mau pulang," tegur ayah Za.


Za tersenyum kaku menanggapi ucapan ayahnya. Dia pun terpaksa ikut pamit kendati masih enggan pulang ke rumah suaminya. Doa yakin situasinya akan lebih tidak menyenangkan daripada saat ini.


Kendaraan perlahan melaju setelah Za menutup pintu. Bahkan Alif masih duduk di pangkuan Fadhil.


"Siniin Al, Mas!" ujarnya mengambil Al dari pangkuan Fadhil.


Bayi itu merengek tidak mau lepas dari sang ayah. Berada di pangkuan Fadhil sambil memukul-mukul setir mungkin hal yang menyenangkan baginya. Karena belum bisa menyadari bahayanya.


"Nanti ya, Sayang. Papa lagi nyetir." Za membujuk Alif. Namun bayi itu terus saja merengek menggapai-gapai tangan Fadhil. Za kesal karena Fadhil hanya diam saja tanpa mau membantu membujuk Alif. Ternyata suaminya jauh lebih kekanakan. Liburan dua hari terkesan percuma jika pulangnya mereka justru bertengkar saling mendiamkan karena perkara salah paham.


"Mas, bisa berhenti sebentar, nggak? Aku kewalahan nenangin Al. Kamu kenapa diam aja, sih?" gerutu Za.


Fadhil pun perlahan menepikan mobil ke bahu melihat Za menyerah. Dia turun kemudian memutar untuk mengambil Alif melalui pintu samping.


"Gantian," ujarnya seraya mengambil Alif.


"Gantian? Yang benar saja. Aku nggak bisa, Mas."


"Bisa."

__ADS_1


Za berdecak lalu menggeser tubuhnya. Duduk di belakang kemudi dengan gugup. Fadhil sudah mengajarkannya menyetir. Beberapa kali turun ke jalan tetapi jalan kecil.


"Ayo jalan!"


Za mendengus. Setelah berhasil meyakinkan diri, perlahan mobil mengaspal di jalan. Za tak percaya jika dirinya bisa seyakin itu. Alifa yang berada dalam gendongan Fadhil pun sudah lebih lebih tenang. Bukan karena sudah lupa dengan keinginannya bermain stang bundar, namun Fadhil yang berusaha membujuknya sehingga rasa penasaran bayi itu bisa teralihkan. Ternyata Za yang tidak bisa sesabar suaminya.


Meski waktu tempuhnya lebih lama, akhirnya mereka sampai di rumah.


"Yeay! Mama berhasil, Al! Besok ajak ke showroom, ya!" ujar Fadhil setelah Za turun.


"Nggak, nggak!" Za berlalu masuk ke dalam rumah. Pintu yang tidak terkunci menandakan jika Mbak Min sudah datang. Bahkan lantai rumah pun sepertinya baru saja dipel karena sedikit basah.


"Mbak Min!" panggil Za mencari ART-nya ke dapur.


"Sudah pulang, Mbak? Mana Mas Al. Saya sudah kangen banget sama dia."


Alof seolah primadona. Semua mengatakan kangen jika sehari saja tidak bertemu. Terkadang Za cemburu akan hal itu. Alif terlalu banyak yang menyayangi.


"Mas berangkat, ya?"


Fadhil mendaratkan bibirnya di kening Za. Za pun tersentak karenanya.


"Mas sudah nggak marah?"


Alis pria itu pun bertaut. Sejenak kemudian dia menepuk dahinya. "Oh iya, Lupa kalau sedang marah," ujarnya.


Konyol! Za mendengus saat Fadhil terkekeh. Semalam bahkan dia sampai tidak tidur karena sikap dingin Fadhil, namun suaminya itu justru menjadikannya sebuah candaan.

__ADS_1


"Mas nggak bisa benar-benar marah sama kamu, Za." Fadhil mencubit pipi Za gemas.


"Baik-baik di rumah, ya. Siang Mas pulang. Kamu mau titip dibelikan apa?"


"Nggak usah, Mas. Nanti aku usahakan masak," sahut Za.


"Nggak usah maksa kalau repot." Al sepertinya kecapekan. Makanya dia sedikit rewel. Nanti sore kita bawa ke spa."


Za mengangguk. Lagi-lagi tidak alasan untuk tidak minta maaf atas sikapnya pada Fadhil kemarin. Meninggikan suara di depan suami tentu bukan sikap yang baik. Apalagi Fadhil hanya marah karena salah paham saja. Dan pagi ini sikapnya sudah kembali seperti semula.


Za mengantar Fadhil sampai mobil suaminya tidak terjangkau pandangannya.. Dia menutup pintu pagar lalu kembali ke rumah.


Melihat Mbak Min masih mengajak Al bercengkerama di belakang rumah, dia tidak tega untuk mengambil anaknya. Selama ini Mbak Min cukup tahu diri berapa lama dia akan mengajak Alif dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Budhe mau nyuci dulu ya, Al!" ujar Mbak Min lalu dia menyerahkan Alif pada Za.


Meski cucian bajunya tidak seberapa, namun Mbak Min tidak pernah menumpuk pekerjaan. Rumah selalu bersih bahkan sulit untuk menemukan sebutir debu sekalipun.


Seseorang mengetukkan gembok dengan pintu pagar berulang-ulang.


"Mungkin ada tamu, Mbak. Coba lihat dulu,"


Mbak Min pun pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi ke dalam rumah.


"Mbak Za, ada tamu. Mencari Mas Fadhil katanya," jelas Mbak Min.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Za kemudian.

__ADS_1


"Perempuan, Mbak."


Za tertegun beberapa saat. Dia kemudian menitipkan Alif pada Mbak Min lalu keluar menemui tamu yang mencari suaminya.


__ADS_2