Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Marahnya Fadhil


__ADS_3

Semalam Fadhil pulang larut. Entah ke mana pergi sejak dia keluar dari kamar sore kemarin. Za tahu saat pintu kamarnya terbuka. Namun dia pura-pura terlelap.


Hingga pagi ini, dia pun belum berani mengajak suaminya bicara. Begitu juga dengan Fadhil yang masih enggan membuka mulut sejak bangun tidur tadi. Hal itu semakin membuat Za takut pada sosok Fadhil yang selama ini selalu hangat. Namun karena keputusannya yang menurut Fadhil tidak tepat membuat hubungan mereka menjadi beku.


Aroma nasi goreng menguar saat Za turun ke dapur untuk mengambil minum. Fadhil yang memasak. Saat harus berpapasan di dapur pun Za tak berani meski hanya sekedar menyapa. Ternyata sikap dinginnya Fadhil lebih dari menakutkan.


"Mom, Om Safira berangkat, ya!" Suara Safira yang melengking memecah suasana kaku itu.


"Sarapan dulu, Fir! Ini sudah siap nasi gorengnya." sahut Fadhil.


"Nggak sempat, Om. Bawa bekal saja." Safira mengambil kotak makan di dalam lemari. Dan meletakkannya di dekat kompor untuk diisi nasi goreng. Terlalu sayang melewatkan nasi goreng buatan om-nya.


Kotak nasi itu dimasukkannya ke dalam tas. Setelah menyalami Fadhil dan Za, Safira berlalu dari dapur. Akhir-akhir ini Safira terlihat sangat sibuk. Apalagi dia masih memaksa kerja part time meski Za sudah melarangnya. Sehingga setiap hari rumah besar itu selalu sunyi. Za akan tinggal sendirian bersama Mbak Min jika karena Fadhil pun akan menghabiskan waktunya di bengkel atau di kafe.


"Mas!" Dengan perasaan yang masih takur Za menyapa Fadhil.


"Ayo makan!" Fadhil membawa dua piring nasi goreng ke meja makan.


Za pun mengekor Fadhil. Sikap tak acuhnya membuat Za sedikit tercubit.

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf kalau apa yang kulakukan kemarin salah," ucap Za karena Fadhil masih saja diam. Bahkan dia pun tak menyahut ucapan Za. Dan justru sibuk dengan nasi goreng di depannya. Za yang masih diliputi rasa bersalah hanya mengamati Fadhil makan. Tanpa berniat menyentuh isi piringnya. Padahal jika hubungan mereka sedang baik, Fadhil tidak akan makan sebelum memastikan Za makan.


Kesalahannya di mata Fadhil tampaknya terlalu besar. Za bahkan harus mengiba agar Fadhil mau berbicara padanya.


"Buka mulutmu!" Fadhil menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Za.


Namun Za membungkamnya. Yang diinginkan adalah maaf dari Fadhil. Bukan kalimat lain yang diucapkan dengan wajah datar.


Fadhil meletakkan kembali sendok itu ke piring Za. Tidak ada pemaksaan seperti biasa saat Za enggan mengisi perutnya.


"Aku cuma ingin Mas bicara padaku. Bukan diam seperti ini. Aku nggak bisa dicuekin seperti ini. Aku sudah minta maaf kalau menurut Mas aku salah. Harus apalagi supaya Mas Fadhil memaafkanku?" Lelehan cairan bening adalah bukti penyesalan Za yang paling dalam.


"Mas hanya ingin kamu menganggap Mas ini suami. Teman berbagi segalanya denganmu. Senangmu, sedihmu, apa pun itu. Mas nggak habis pikir kenapa kamu menyembunyikan semuanya sendiri. Bukankah itu permasalah yang seharusnya kita selesaikan berdua? Bukannya kamu malah menyeret orang lain untuk ikut menyelesaikannya. Mas sudah tahu masalah ini sejak lama. Adakah kamu merasakan sikap ke kamu yang berubah? Atau kamu mengendus gelagat Mas ingin memasukkan wanita lain ke dalam rumah tangga kita?"


Za menggeleng pelan. Perhatian Fadhil semakin hari bahkan semakin bertambah. Hanya saja Za waktu bersama yang semakin berkurang karena Fadhil berada di bengkel seharian. Hanya sesekali pulang untuk makan siang.


"Lalu alasan apa yang membuat kamu memutuskan hal konyol seperti itu, Za? Gangguan kesuburan yang kamu alami itu bukan akhir dari segalanya. Kamu masih bisa melakukan terapi. Meski kemungkinannya kecil untuk hamil. Kamu bisa menjalaninya dulu. Mas sudah konsultasikan ini ke dokter. Kita masih punya cara untuk agar kamu bisa hamil. Jika pada akhirnya kita memang tidak akan dititipi seorang anak pun, itu bukan hal yang harus dipermasalahkan. Mas cuma butuh kamu untuk menemani sisa usia,"


Za semakin terisak mendengar penuturan Fadhil yang begitu panjang. Semakin dia merutuki kebodohannya sendiri karena ternyata suaminya memiliki hati yang begitu luas.

__ADS_1


"Sekarang katakan, siapa wanita yang kamu bilang akan dijadikan madumu?"


"M-Mbak Lany," sahut za sambil terisak.


"Lany? Kamu…." Fadhil kembali membuang nafas. "Oh, baiklah. Sekarang juga aku ke rumahnya menikahinya."


Fadhil mengulum senyum saat merasakan pelukan Za yang semakin erat. Gagal beranjak dari kursi, Fadhil mengambil ponselnya di meja. Dan mencari nomor kontak Lany. Namun benda itu dirampas oleh Za dan diletakkan kembali ke meja.


"Kenapa diambil? Aku mau telpon dia untuk libur hari ini. Kamu minta adik madu, 'kan?"


"Nggak jadi!"


Fadhil tak kuat lagi menahan tawa. Za masih begitu kekanakan. Untung saja wanita itu Lany, bukan orang lain.


"Lain kali pikirkan baik-baik. Jangan bertindak bodoh. Diduakan itu sakit, Za. Belum kejadian saja kamu sudah mewek begini."


Za tak menyahut. Dia semakin erat memeluk Fadhil. Entahlah, saat dirinya menjadi wanita yang mungkin paling labil, dia justru memiliki suami yang memiliki kesabaran luar biasa.


"Ayo makan dulu. Mas suapin." Fadhil mengambil selembar tisu untuk mengusap air mata yang setelah isakan Za mereda.

__ADS_1


"Atau masih mau nangis lagi?" goda Fadhil saat Za masih saja diam dan sejak tadi menyembunyikan wajahnya. Kaos yang dikenakannya bahkan telah basah oleh air mata istrinya.


__ADS_2