Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Perlakuan Buruk


__ADS_3

"Hmm….wanginya!"


Za berjengit saat tiba-tiba suara Fadhil terdengar di belakangnya. Entah wangi apa yang dimaksud. Wangi nasi goreng yang sedang dibolak-balik oleh Za atau wangi tubuhnya. Karena sesaat kemudian Fadhil mengendus leher Za sambil melilitkan lengan ke pinggangnya. Za mendadak gugup hingga spatula yang dipegangnya pun terjatuh. Fadhil terkekeh pelan dibuatnya.


Za mematikan kompor karena nasi gorengnya sudah cukup lama diaduk-aduknya. Mungkin sudah matang. Dia pun meminta Fadhil melepaskan lengannya untuk menyiapkan sarapan mereka.


"Mau buat kopi, Mas?" tanya Za melihat Fadhil mengambil sebuah cangkir.


"Hmm."


"Lupa kalau sudah punya istri? Sini saya buatkan!" Za mengambil cangkir dari tangan Fadhil.


"Gulanya seberapa, Mas?" tanya Za karena ini pertama kalinya dia membuatkan kopi untuk suaminya. Dia belum tahu selera Fadhil.


"Dikit aja. Setengah sendok."


Za memasukkan setengah sendok gula ke dalam cangkir lalu menyeduh kopi dengan air panas dari dispenser.


"Terima kasih, Sayang."


Za tersenyum malu-malu. Dia kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan nasi goreng ke dalam piring-piring. Tiga piring nasi goreng pun siap dia bawa ke meja makan. Juga telur ceplok yang bentuknya aduhai. Karena di dapur rumah itu dia tidak menemukan penggorengan kecil yang biasa dipakai untuk membuat telur dadar seperti di rumahnya.


"Maaf ya, Mas. Saya cuma masak nasi goreng," ucap Za karena dia tidak tahu Fadhil akan menyukainya atau tidak.


"Iya, tidak apa-apa. Saya bisa makan semuanya," sahut Fadhil dengan santai.


Za tersenyum lega. Ternyata Fadhil bukan orang yang pilih-pilih makanan. Semoga saja bukan hanya untuk menyenangkan hatinya. Za lebih suka jika Fadhil akan berterus terang tentang makanan yang disukai dan tidak.


"Om! Sarapan bubur ayam, ya?" Safira yang sudah siap berangkat berseru dari depan kamarnya.


"Tante Za sudah masak, Fir. Sarapan di rumah," jawab Fadhil.

__ADS_1


Safira hanya membulatkan bibirnya. Lalu menarik salah satu kursi tanpa protes lagi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Fadhil.


"Ya kuliah lah, Om. Masa ke pasar," jawab Safira sedikit ketus.


Za yang sedang menyiapkan minum hanya mendengarkan percakapan paman dan keponakan itu.


Safira meraih sendok untuk dan mengambil satu telur ceplok. Hal itu membuat perasaan Za membuncah karena ternyata Safira mau memakan masakannya.


Namun tiba-tiba gadis itu memuntahkan isi mulutnya. "Nasi goreng apaan sih, ini?!" serunya membuat Za terkejut.


"Tante kalau nggak bisa masak nggak usah sok-sokan masak!"


Za menatap Safira yang beranjak dari kursi dengan senyum getir. Apalagi suara keponakan suaminya itu begitu keras dan terkesan membentaknya.


Kekhawatirannya terjadi. Sebagian keluarga Fadhil tidak bisa menerimanya dengan baik. Apalagi orang itu justru akan tinggal satu rumah dengannya.


Setelah menikah, Za tentu saja ingin mulai belajar menyiapkan makanan untuk suaminya. Pagi buta tadi dia bangun. Setelah sholat subuh, diam-diam dia menghubungi ibunya di dapur untuk meminta diajari memasak. Bahkan semua bumbu dan juga takarannya dia minta dikirim melalui pesan karena khawatir jika lupa. Hanya saja dia lupa mengecek rasa karena Fadhil datang ke dapur dan membuat konsentrasi Za buyar.


Za menarik semua piring nasi goreng di atas meja.


"Kok diambil, Dek?" cegah Fadhil.


"Tidak enak. Tidak usah dimakan," sahut Za lalu menumpahkan semua nasi goreng ke dalam satu piring hingga penuh. Kemudian membawanya ke dapur. Dia mencicipi sedikit nasi gorengnya yang ternyata memang terlalu asin. Begitu juga dengan telur ceplok yang sepertinya dia terlalu banyak memberi garam.


"Maafkan, Safira. Nanti saya akan bicara padanya," ujar Fadhill sambil memeluk Za dari belakang.


Za melepaskan tangan Fadhil. Hatinya terlanjur sakit dibentak oleh keponakannya sendiri. Safira bukan anak kecil lagi. Usianya sudah 21 tahun, seharusnya dia tahu bagaimana menjaga perasaan orang lain. Lebih kecewa lagi


karena Fadhil hanya dia melihat sikap keterlaluan Safira. Dia membiarkan makanan itu tergeletak begitu saja di atas meja. Lalu naik ke kamar.

__ADS_1


Ingin rasanya dia pulang ke rumah saat itu juga. Tempat di mana dia hanya akan dimanjakan oleh ibu dan ayahnya. Namun Za sadar dia kini bukan lagi wanita lajang. Dia istri yang tidak bisa pergi sesuka hati dari rumah tanpa seizin suaminya.


Za menghibur diri dengan berselancar di dunia maya. Melihat-lihat status teman-temannya yang semuanya justru memposting kebersamaan mereka dengan keluarga bahagianya. Dia menutup kembali ponselnya. Lalu membuka room chat dengan Bian. Orang yang paling setia mendengarkan isi hatinya.


Sayangnya pesannya tak juga dibaca oleh Bian. Pria itu pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Za membuang nafas kasar lalu meletakkan kembali gawainya.


Za melengos saat Fadhil terlihat masuk ke kamar. Entah di mana janjinya yang akan menjaga Za sepenuh hati. Nyatanya justru keponakannya sendiri yang pertama kali menyakiti Za di rumah itu.


"Aku mau pulang," ujar Za tanpa pikir panjang.


Sejujurnya dia tidak ingin awal hubungannya dengan Fadhil susah diisi dengan pertengkaran. Apalagi penyebabnya orang di luar mereka.


"Pulang ke mana? Rumah kamu sekarang di sini," jawab Fadhil sambil merapikan rambut Za yang menutup sebagian wajah.


"Ke rumah ayah dan ibuku yang lebih nyaman untukku. Kehadiranku di rumah ini tidak dikehendaki."


Fadhil membuang nafas kasar. Dia mendekap tubuh Za. Satu-satunya cara yang dia harap bisa membuat istrinya itu tenang.


"Mas minta maaf, karena gagal mendidik Safira. Mas terlalu memanjakan hingga dia suka berbuat semaunya."


"Safira bukan anak kecil lagi Mas. Harusnya dia tahu bagaimana menjaga sikapnya. Saya terima jika dia tidak suka masakan saya. Tapi bicarakan baik-baik. Jangan membentak seperti tadi."


Fadhil tidak tahu lagi harus berkata apa. Za pun anak manja. Jika dia bersikap sedikit tegas khawatir istrinya justru akan salah paham. Namun sikap keponakannya pun memang tidak bisa dibenarkan. Menegurnya pun tidak bisa serta merta.


"Mas janji kejadian tadi tidak akan terulang lagi."


Za tersenyum remeh. "Yang kurang ajar itu Safira, Mas. Bagaimana mungkin kamu menjamin dia tidak akan melakukannya lagi," balas Za menahan geram. "Sejak awal, aku sudah menduga jika dia tidak akan menyukaiku," lanjutnya.


Fadhil menggeleng. "Kalian hanya butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri. Mas harap kamu bisa bersabar sedikit saja. Nanti pelan-pelan Mas akan memberinya pengertian."


Za mendengus. Kenapa dia yang harus berkorban perasaan. Jika sudah begini ucapannya yang tidak akan mempermasalahkan jika mereka harus tinggal bertiga dengan Safira pun harus dia tarik kembali.

__ADS_1


__ADS_2