
"Seperlunya saja dulu. Kita masih akan sering ke sini," kata Fadhil saat Za berkemas.
Za mengangguk. Dia memasukkan beberapa pakaian hingga koper kecilnya terpenuhi. Tidak lupa perlengkapan skin care dan make up yang berjajar di meja riasnya.
Fadhil menyeret koper itu keluar dari kamar. Sementara Za masih enggan beranjak dari dalam ruangan yang selama ini menjadi tempat pribadinya. Semua yang menghias dinding kamar itu adalah hasil tangannya. Pada akhirnya semua harus dia tinggalkan. Meski Fadhil mengatakan jika dia masih bisa berkunjung ke rumah orang tuanya sesuka hati, tetap saja perpisahan itu membuatnya sedih.
"Sering-sering lah mengajak Za ke mari, Nak Fadhil." Za menangkap suara ibunya saat dia baru saja keluar dari dalam kamar.
"Pasti, Bu," jawab Fadhil.
Za pun mendekati ayah dan ibunya yang kini berkaca-kaca.
"Za pamit, Bu."
Bu Rahma mengangguk. Embun di matanya kini telah menitik. "Iya. Nurut sama suamimu ya, Nduk. Surgamu sekarang ada pada suamimu."
Za mengangguk pelan. Dia menahan air matanya yang mendesak ingin keluar.
"Sudah. Kok malah tangis-tangisan. Nanti kalau ibu kangen Za, Ayah antar ke sana. Lagian jarak rumah kita ke rumah Nak Fadhil kan dekat," ujar ayah Za menenangkan istrinya.
Meski masih dalam satu kota dan jarak yang tidak lebih dari dua puluh menit, tetap saja hati seorang ibu merasa sedih. Meskipun selama ini kerap mengomel pada Za.
"Sudah, taksinya kasihan sudah nunggu dari tadi," kata Ayah lagi karena tangis Bu Rahma makin kencang.
Meski berat, kedua orang tua itu harus merelakan putri dan menantu mereka masuk ke dalam taksi. Dan menatap mobil itu melaju perlahan meninggalkan rumah.
Fadhil mengusap jemari tangan Za saat wanita itu sejak tadi diam menatap jalanan.
"Masih sedih?"
Za menggeleng seraya menipiskan bibir. Membohongi hatinya yang masih belum rela meninggalkan rumah.
Tiga puluh menit menempuh perjalanan, taksi berhenti di depan sebuah rumah yang baru pertama kali dikunjungi oleh Za. Karena selama ini dia memang belum pernah diajak Fadhil ke rumahnya.
"Ayo turun!" kata Fadhil setelah membukakan pintu untuk istrinya. Sementara sopir taksi menurunkan koper yang ada di bagasi.
"Makasih, Mas," ucap pada pengemudi taksi yang masih belia.
"Sama-sama, Om," sahut sang sopir lalu kembali melajukan mobilnya.
Za menatap rumah di depannya. Rumah klasik dua lantai yang ukurannya jauh lebih besar dari rumah Pak Irsyad. Pagarnya tertutup rapat sehingga halaman rumah pun hanya bisa dilihat dari celah pagar.
"Ini rumahnya, Mas?" tanya Za memastikan.
"Iya. Ayo masuk!" Fadhil membuka pintu pagar yang tidak digembok. Kemudian kembali menyeret koper. Sementara Za mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Masuk ke dalam rumah Fadhil, mendadak Za merasa kehilangan rasa percaya diri. Rumah yang tergolong luas apalagi hanya dihuni berdua dengan keponakannya. Dan nantinya bertiga dengan Za. Perabotan yang mengisi setiap ruangan yang dilewati Za pernah berjaya pada masanya. Menunjukkan jika dulunya mereka adalah orang berada. Entah siapa Fadhil sebenarnya. Mengaku mempunyai usaha bengkel biasa dengan penghasilan rata-rata.
"Dek, kok bengong? Kamar kita di atas."
Za yang berdiam diri di ruangan yang dia tafsir adalah ruang keluarga namun begitu luas itu pun terkesiap. Dia kembali melangkahkan kakinya mengikuti Fadhil menapaki anak tangga.
Sebuah kamar yang ukurannya dua kali kamar Za dengan nuansa maskulin menyambut mereka. Ranjang king size dengan sprei berwarna putih tertata rapi. Tidak ada perabotan berlebihan di dalam kamar itu. Hanya tempat tidur, lemari, meja dan juga kaca untuk bercermin yang menempel di dinding. Sebuah pintu di salah satu sisi dinding mungkin akses menuju ke kamar mandi.
"Bengong lagi? Awas lho disini banyak makhluk lain. Bisa-bisa kesurupan kalau kebanyakan bengong."
Za mencebik mendengar candaan Fadhil. Dia pun masuk ke dalam kamar. Meski dia tidak tahu harus berbuat apa di dalam kamar itu. Selain menunggu Fadhil memindah baju yang ada di dalam koper ke dalam lemari.
"Nantinya kita tinggal bertiga. Setiap pagi, ada Mbak Min yang datang untuk membersihkan rumah, mencuci baju dan pekerjaan rumah lainnya. Dan dia pulang sore hari," jelas Fadhil.
Za mendengarkan sambil duduk di tepi ranjang meskipun si empunya belum mengizinkan.
"Tapi tadi di bawah nggak ada siapa-siapa?"
"Mungkin Mbak Min sedang pulang menengok suaminya yang sakit. Karena setiap siang dia harus menyuapi makan dan minum obat. Kalau Safira, dia kuliah."
Za membulatkan bibirnya. Kecerdasan linguistiknya mendadak menurun ketika berhadapan dengan Fadhil. Za hanya akan bicara seperlunya.
"Kamu libur berapa hari?" tanya Fadhil seraya menjatuhkan diri di samping Za.
Hembusan nafas berat pun terdengar. "Apa boleh Mas minta kamu libur selamanya?"
Za terkejut dengan permintaan Fadhil. Resign? Dan dia harus berdiam diri di dalam rumah besar itu setiap hari sendirian? Akan sangat membosankan pastinya.
"J-jangan sekarang ya, Mas? Saya masih ingin mengajar," sahut Za dengan wajah memelas karena takut keinginannya ditolak.
"Baiklah. Tapi nanti kalau Mas minta kamu berhenti mengajar untuk kedua kalinya, saya harap kamu menurut."
Za tidak membantah ataupun mengiyakan. Bisa jadi Fadhil akan meminta yang kedua kalinya besok, lusa atau bahkan beberapa jam lagi. Dia tidak boleh lupa jika Fadhil kadang suka memaksakan kehendaknya sendiri.
Fadhil mengajaknya keluar dari kamar untuk menunjukkan semua bagian rumah. Agar Za tidak lagi merasa canggung di rumah itu. Ada banyak kamar tiga kamar tidur di lantai dua namun yang satunya difungsikan untuk tempat fitness dengan beberapa perlengkapan di dalamnya. Dari atas, terlihat halaman belakang rumah. Sebuah kolam renang yang tidak terlalu luas. Juga lapangan basket dengan satu ring. Za menebak jika Fadhil orang yang rajin berolah raga. Terlihat dari tubuh suaminya yang terbentuk. Pola hidup yang tentu jauh dengan Za yang malas meski hanya untuk berjalan kaki ke depan gang.
Turun ke lantai satu, mereka mendapati ART yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Mas Fadhil, sudah pulang?" sapanya dengan sopan.
"Sudah. Baru saja." sahut Fadhil. "Ini istri saya, Mbak," lanjutnya mengenalakna Za pada ART mereka.
"MasyaAllah. Cantiknya!" Mbak Min menyalami Za, nyonya baru rumah itu.
"Saya buatkan minum dulu, Bu." Mbak Min pun pamit ke belakang.
__ADS_1
Fadhil kembali mengajak Za mengelilingi rumah. Hingga berhenti di teras belakang. Duduk berdua di sebuah kursi kayu panjang yang menghadap ke arah kolam renang.
"Sepetinya Mas Fadhil suka olah raga."
"Untuk menjaga kesehatan ya harus suka. Dan saya akan terapkan pola itu juga untuk kamu."
Za mengernyit. Tebakan Fadhil selalu benar. Apa memang terlihat jika Za jarang bahkan tidak pernah berolah raga. Kecuali saat senam di sekolah.
Tak lama kemudian Mbak Min datang dengan dua gelas air jeruk di atas nampan.
"Silakan, Bu," kata Mbak Min lalu dia kembali masuk ke dalam rumah.
"Mas!" Nada bicara sudah seperti merengek.
"Apa, Sayang?"
"Aku nggak mau dipanggil Bu."
"Kenapa memangnya? Bukannya murid-muridmu juga memanggilmu Bu Guru?"
"Tapi kan beda. Ini di rumah. Aku belum terlalu tua juga kalau harus dipanggil Bu. Mas Fadhil saja yang jauh lebih tua dari aku dipanggil Mas."
Fadhil terkekeh. "Iya, iya. Tapi nggak perlu diperjelas juga kalau Mas jauh lebih tua dari kamu. Nanti bilang saja sama Mbak Min maunya kamu dipanggil apa. Nona, Mbak, Dek, atau Nak."
"Panggil Mbak saja."
"Iya, Mbak Za cantik. Nanti bilang saja sama Mbak Min. Nggak usah ngambek begitu dong," ledek Fadhil melihat wajah Za yang dilipat. Lalu dia meneguk isi gelas itu hingga berkurang setengah.
"Mas ke kamar dulu, ya. Mau tidur sebentar. Kamu boleh ngapain aja sesukamu."
Memangnya apa yang mau dilakukan Za yang masih baru di rumah itu? Dia pun ikut beranjak dan membuntuti Fadhil masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak mengantuk, dia akan menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Safira!" panggil Fadhil melihat keponakannya hendak menarik gagang pintu kamar.
"Eh, sudah pulang, Om?" Safira menghampiri Fadhil lalu mencium punggung tangan om-nya.
"Fira masuk dulu, Om. Capek!" ujarnya sambil membalik badan.
"Fir, ada Tante Za, lho!" kata Fadhil mengingatkan keponakannnya akan keberadaan Za di sampingnya.
"Oh, sorry, nggak lihat," sahutnya lalu kembali membalik badan. Safira menyalami Za seperti dia menyalami Fadhil. Meski terkesan ogah-ogahan. Dan gadis itu pun masuk ke dalam kamarnya.
Za mencoba bersikap seolah baik-bak saja. Meski dia menangkap gelagat tidak suka dari keponakan Fadhil.
"Ayo!" Fadhil melingkarkan lengan di bahu Za dan mengajaknya naik ke kamar.
__ADS_1