Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Kabar Duka


__ADS_3

Za benar-benar tidak tidur malam ini. Dia pergi ke dapur setelah sholat subuh. Bahkan untuk sekedar membuat sarapan pun terasa enggan. Alhasil dia hanya membuat segelas susu coklat. Yang akhirnya pun dibiarkan dingin. Ternyata harus berpisah dengan Fadhil meski baru semalam imbasnya begitu luar biasa. Hidupnya mungkin sudah terlalu bergantung pada suaminya sejak beberapa bulan terakhir. Meski belum genap 24 jam tanpa Fadhil di sampingnya, Za benar-benar kesepian.


"Innalillahi wa innailaihi roji'un." Suara Safira yang baru saja keluar dari dalam kamarnya membuat Za tersentak.


"Mam! Mami!" pekik Safira memanggil Za.


"Ada apa, Fir? Kok panik begitu?"


Wajah Safira yang panik dan bibir yang bergetar membuat Za ikut-ikutan panik. Safira menunjukan ponselnya. Sebuah kabar duka yang dikirim oleh seseorang bernama Tasya.


"I-ini maksudnya Aira anaknya Tante Sarah, Fir?" tanya Za memastikan.


"Iya, Mam!" Air mata Safira pun tumpah. "Nggak nyangka banget Tante Aira pergi secepat ini."


Za tertegun. Dia mendekap Safira yang masih terisak. Jadi kepergian Fadhil ke Bandung karena urusan itu. Za bahkan sudah berpikir terlalu jauh. Lagi-lagi karena ketakutan kalau Fadhil akan menduakannya.


Beberapa menit kemudian suara notifikasi pesan bersahutan di ponsel Za maupun Safira. Kabar meninggalnya Aira yang sedang ramai menjadi topik perbincangan di grup keluarga. Ucapan bela sungkawa dan banyak pertanyaan lain yang menjadi penyebab meninggalnya Aira.


"Kita ke rumah Tante Sarah sekarang?" tanya Za pada Safira.


Safira pun mengangguk. Mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Tante Sarah. Meski jenazah masih dalam perjalanan. Salah satu hal yang membuat Za nyaman berada dalam keluarga suaminya, karena rasa kekeluargaan yang begitu erat.


Sesampai di rumah duka, suasana sudah ramai. Yang didominasi oleh suara isakan keluarga ataupun tetangga yang datang. Za membaur bersama keluarga Fadhil. Duduk di antara deretan orang-orang yang sedang menunggu jenazah. Meski tidak begitu mengenal Aira, namun Za tetap larut dalam suasana duka.

__ADS_1


Hingga setelah beberapa jam menunggu, suara sirine terdengar meraung-raung. Tangis sebagian keluarga semakin pecah. Mereka berduyun-duyun menyambut jenazah. Di belakang mobil ambulan, berhenti mobil SUV hitam milik Fadhil.


Za menahan diri untuk tidak menghampiri suaminya. Melihat Fadhil yang kemudian sibuk ikut mengurus jenazah. Sebagian keluarga lainnya mengangkat tubuh gempal Tante Sarah yang mendadak pingsan. Kepergian anaknya memang begitu mengejutkan seluruh keluarga. Kabar yang beredar karena penyakit asam lambung Aira yang tidak tertolong.


Semua proses pengurusan dilakukan secepatnya. Bahkan sebelum waktu dzuhur, proses pemakaman sudah selesai. Meski belum sepenuhnya mengikhlaskan, akhirnya semua meninggalkan makam. Yang terakhir kalinya Fadhil yang menggendong Tante Sarah karena kembali pingsan.


Sesampainya kembali di rumah duka, suasana masih ramai orang yang melayat. Setelah Fadhil kembali menggotong tantenya masuk ke dalam rumah, Za menghampiri suaminya.


Wajahnya terlihat sangat letih. Bahkan bajunya pun masih baju yang sama dengan kemarin.


"Mas!" panggil Za. Saat Fadhil keluar dari dalam sebuah kamar di rumah itu. Fadhil tersenyum tipis.


"Minum!" Za mengulurkan air minum kemasan yang sudah ditusuk dengan pipet.


"Makasih," ucap Fadhil. Dan gelas air minum itu pun kosong dalam waktu singkat.


"Belum. Kita pulang dulu, ya?"


Za mengangguk. Mereka pun pamit pulang lebih dulu. Karena di dalam kamar sudah ada yang mengurus Tante Sarah. Anak pertamanya yang tiba dari Bali beberapa menit sebelum pemakaman.


Sepanjang perjalanan pulang, Za mengamati Fadhil yang terlihat sangat letih. Bahkan beberapa kali harus menginjak rem mendadak karena tidak fokus lagi. Andai saja Za bisa menyetir, sudah pasti dia akan menggantikan suaminya.


Fadhil melangkah gontai masuk ke dalam rumah. Tanpa diminta, Za menyiapkan baju ganti untuk suaminya.

__ADS_1


"Pakai air hangat, Mas. Semalam kamu nggak tidur, 'kan?" ujar Za saat Fadhil masuk ke dalam kamar mandi.


Fadhil berdehem. Bahkan untuk bersuara pun sepertinya sudah tidak punya tenaga lagi.


Sembari menunggu Fadhil mandi, Za menyiapkan makan untuk suaminya. Sengaja tadi dia mengirim pesan pada ART-nya untuk memasak.


Sebuah nampan berisi nasi dan pelengkapnya pun dibawa Za ke kamar. Karena jika harus meminta Fadhil turun, suaminya itu sudah pasti akan memilih tidur daripada makan.


"Makan dulu, Mas!"


"Ngantuk banget!"


Bruk! Tubuh tinggi tegap itu pun terhempas ke atas ranjang.


"Tapi harus makan." Za menata bantal agar dijadikan Fadhil sandaran.


"Duduk dulu. Aku suapin!" ujarnya lagi sambil berusaha mengangkat tubuh suaminya. Ternyata dia yang justru terjatuh dan menimpa tubuh Fadhil. Za hendak menggeser tubuhnya namun lengan Fadhil menahannya terlalu kuat.


"Kangen," ucap Fadhil sambil mengendus leher Za.


"Tidur saja. Makannya nanti. Kamu nggak tidur 'kan semalam?"


"Kok Mas tahu?" tanya Za.

__ADS_1


"Pakai telepati."


Za mencebik. Dia pun merebahkan kepalanya di atas dada suaminya. Berat tubuhnya yang tidak seberapa tentu bukan hal yang membuat suaminya tersiksa saat harus menahannya.


__ADS_2