Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Tetangga Julid


__ADS_3

"Mas nggak lupa kan kalau kita diundang ke acara 7 bulanannya Alya?" Za menghampiri Fadhil yang sedang sibuk dengan burung peliharaannya.


"Sudah mau berangkat?" tanya Fadhil.


Namun Za justru terdiam di kursi teras belakang. Jika dulu sebelum menikah dia selalu enggan untuk ikut datang ke acara pernikahan saudaranya, sekarang Za merasa enggan untuk datang ke acara-acara yang berkaitan dengan kehamilan ataupun aqiqahan. Terlebih acara itu di kampungnya. Dia harus menyiapkan mental berlapis-lapis untuk menghalau pertanyaan yang sudah pasti akan menyinggungnya.


"Kalau nggak mau datang nanti Mas bilang ke Ibu. Buat alasan yang masuk akal biar mereka tidak salah paham," ujar Fadhil seolah mampu menerka isi pikiran Za.


"Nggak enak sama Mas Bian sama keluarganya Alya juga," sahut Za lesu.


"Kalau kamu datang dan itu membuatmu nggak nyaman, lebih baik nggak usah datang," balas Fadhil. Karena jika Za stres maka imbasnya dia yang akan menjadi sasaran kekesalan. Mengingat kondisi istrinya. Sebisa mungkin Fadhil membuat suasana hati istrinya itu selalu baik.


Za beranjak dari kursi. Hari semakin sore dn dia harus segera bersiap karena akhirnya dia akan datang ke acara pengajian itu. Jika tidak mengingat kedekatannya dengan Bian dan keluarga Alya, tentu saja Za tidak akan datang demi menjaga kewarasannya.


"Jadi berangkat?" tanya Fadhil melihat Za sudah memakai gamis dan tengah bersolek di depan cermin.


"Jadi. Setor muka saja. Selebihnya nanti di rumah Ibu," sahut Za sambil mengusap pipinya dengan perona. "Ganti baju, Mas. Itu sudah kusiapkan." Za menunjuk baju koko warna coklat yang tergeletak di atas ranjang.


Mereka sengaja datang terlambat. Untuk menghindari interaksi dengan banyak orang. Terutama tetangga-tetangga yang kurang memahami orang lain. Za tak sekuat itu untuk menghadapi mulut julid tetangga. Apalagi semakin hari semakin sensitif.


Sampai di rumah Alya, acara pengajian hampir selesai. Za menyelinap melalui pintu samping. Di dalam rumah dia merasa lebih aman dan bertahan sampai acara selesai.


Kehamilan Alya benar-benar disambut bahagia oleh keluarganya. Sebagai calon cucu pertama yang kehadirannya pasti dinantikan. Selain tetangga yang datang, banyak keluarga pun datang ke acara itu.


"Za, sudah dari tadi?" tanya ibunya Alya yang baru masuk ke dalam rumah.


"Lumayan, Bulek."


"Sama suamimu?"

__ADS_1


Za mengangguk. "Iya. Mas Fadhil di depan."


Saat ibunya Alya memaksanya untuk ikut ke depan, Za ingin menolak namun lama-lama segan. Sehingga dia mengekor ibunya Alya dan bertemu dengan sebagian tamu yang belum pulang. Termasuk ibunya.


"Mbak Za?" sapa ibu-ibu dari gang sebelah.


"Iya, Bu," sahut Za karena dia lupa siapa nama wanita sebaya ibunya itu.


"Apa kabar? Lama nggak ketemu. Tambah cantik. Pasti suaminya pintar membahagiakan istri."


Za tersenyum canggung. Tidak salah tebakan tetangganya itu. Fadhil memang sangat pandai membuat Za merasa nyaman.


"Eh, udah isi belum?" tanya wanita itu sambil mengusap perut Za.


"Alhamdulillah, belum, Bu." Za menyahut dengan senyum tipis. Meski hatinya kalang kabut.


"Jangan ditunda lama-lama, Mbak Za. Nanti malah susah punya anak "


Za menghela nafas lega saat orang yang mengajaknya bicara itu akhirnya pamit pulang. Demi menghindari orang lain yang mungkin akan mengajaknya bicara, Za meninggalkan rumah Alya dan kembali ke rumahnya. Berdiam diri di rumah jauh lebih baik. Toh keluarga Alya sudah tahu kalau dia datang.


"Datang-datang kok mrengut begitu?" tanya ayahnya yang sudah pulang lebih dulu dan kini tengah duduk di depan TV.


Za menghempaskan dirinya di samping sang ayah. "Bete. Kesel sama orang-orang yang sok tahu kehidupan orang," gerutunya. "Kita 'kan nggak mungkin ngasih tahu ke orang-orang tentang apa yang terjadi sama diri kita. Bisa nggak sih diem aja nggak usah ngurusin masalah orang," lanjutnya bersungut-sungut.


Ayah Za hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anaknya menggerutu. Usianya sudah dewasa, bahkan sudah menikah tetapi sifat kekanakan masih melekat dalam diri Za yang kadang kala muncul.


"Bukan tidak mungkin tapi tidak perlu memberitahu mereka. Dan kita juga tidak perlu mendengar ucapan mereka yang tidak penting," sahut ayah Za.


"Tapi Za nggak tuli, Yah. Kalau ngomongnya di depan kita kan pasti dengar."

__ADS_1


"Ya tidak usah diambil hati. Kita 'kan tidak bisa melarang mereka berbicara."


Za menghela nafas panjang. Ucapan ayahnya tak beda jauh dengan ucapan Fadhil. "Kalau boleh memilih, Za ingin seperti perempuan normal lainnya, bisa hamil punya anak, bukan seperti yang Za alami sekarang," ucap Za dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca.


Ayah Za mengusap kepala anaknya. "Jangan terlalu fokus dengan keinginanmu yang belum bisa terpenuhi sehingga kamu mengingkari apa-apa yang sudah kamu dapatkan. Banyak hal yang harus kamu syukuri dalam hidupmu, Za. Kamu punya Ayah dan Ibu yang menyayangimu. Punya suami yang dengan tulus menyayangimu dan menerimamu dengan semua yang ada dalam dirimu. Dan masih banyak hal lain yang kamu abaikan karena kamu terlalu menginginkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikmu. Yang membuat kamu akhirnya lupa untuk mensyukuri semua yang sudah kamu dapatkan. Usaha kalian boleh maksimal, tapi segala sesuatu di dunia ini sudah ada yang menentukan. Kamu tidak lupa 'kan, Za? Tawakal."


Za terdiam. Namun pikirannya selalu melanglang jauh. Sejauh ini mungkin Fadhil akan menerimanya, Tapi siapa yang akan tahu waktu-waktu ke depan.


"Za takut Mas Fadhil nantinya akan berubah pikiran. Jika dia sudah jenuh berusaha," gumam Za.


"Jangan memikirkan terlalu dalam hal yang belum tentu terjadi. Kekhawatiranmu hanya akan menggerus rasa percaya pada suamimu," tutur Ayah Za.


Pembicaraan mereka terhenti saat suara langkah kaki terdengar masuk ke dalam rumah. Za menyeka sudut matanya yang berembun.


"Dek!" panggil Fadhil dengan wajah yang terlihat sedang panik. Za pun menoleh.


"Kamu di sini dulu. Malam ini menginap di sini saja. Atau kalau mau puoang nanti biar dijemput Safira. Mas mau ke Bandung sekarang,"


"Bandung? Ngapain?" tanya Za mengingat Fadhil tidak pernah mempunya urusan di tempat itu.


"Ada urusan penting sekali. Nanti Mas ceritakan sepulangnya dari sana," sahut Fadhil membuat Za semakin penasaran.


"Titip Za, Yah," ucap Fadhil pada ayah mertuanya.


"Ada apa sih, Mas?" cecar Za.


"Ceritanya panjang. Besok saja. Mas pergi dulu, ya," Fadhil mengecup singkat kening Za. Kemudian keluar rumah dengan terburu-buru. Za yang masih menunggu penjelasan Fadhil menyusul suaminya ke depan rumah. Semarang-Bandung bukan jarak yang dekat. Tapi Fadhil berpamitan seolah akan pergi kerja.


"Mas!" panggil Za.

__ADS_1


"Mas sudah ditunggu Tante Sarah. Hati-hati di rumah," sahut Fadhil lalu melajukan mobilnya tanpa memberi penjelasan pada Za.


__ADS_2