
"MasyaAllah, Manten cantik banget!" kata Alya saat menyelinap masuk ke kamar Za.
"Yakin deh habis acara selesai langsung masuk kamar," imbuhnya.
"Ya iyalah, salin baju," sahut Za. Dan Alya pun terbahak.
Za tengah duduk di depan cermin dengan seorang perempuan yang sedang memasangkan hijabnya. Terakhir sebuah tiara kecil untuk mempercantik penampilan Za yang terlihat simpel karena Za tidak suka yang glamour. Dress putih yang dipakainya pun sangat sederhana. Tetapi harganya membuat sesak nafas. Padahal Za baru memegangnya waktu itu. Namun Fadhil langsung mengiyakan dan meminta Za untuk mencobanya.
Za hanya sedang mengira-ngira, bagaimana nantinya dia mengatur keuangan jika gaya hidup Fadhill tidak bercermin pada penghasilan yang pernah disampaikan pada Za.
Sudah siap, Mbak? Acaranya sebentar lagi dimulai," tanya Alya.
"Sudah. Tapi Mbak kan nggak keluar."
"Iya. Cuma memastikan. Mau laporan ke depan dulu kalau sudah."
Alya pun keluar dari kamar. Sementara MUA yang merias Za membereskan perlengkapannya lalu meninggalkan Za sendirian di dalam kamar sebelum akhirnya Alya kembali lagi ke dalam kamar.
"Ya, kok Mbak deg-degan, ya?" ujar Za yang benar-benar merasa gugup pagi ini. Bahkan semalam dia tidak bisa.
"Katanya kalau deg-degan itu tandanya cinta loh, Mbak."
"Kata siapa? Sok tau banget anak kecil," bantah Za.
"Kecil-kecil begini aku lebih pengalaman dari Mbak Za," balas Alya tak mau kalah.
"Iya, iya. Yang udah punya suami duluan," sahut Za sewot. "Tapi kamu dulu gugup nggak sih, Ya."
"Awalnya sih nggak terlalu karena niatnya Mas Bian kan lamaran. Tapi pas Ayah bilang nikah malam itu juga, kaget banget tau, Mbak. Aku hampir hampir nangis. Rasanya nggak rela kalau harus mengakhiri masa lajang secepat itu. Masih pingin main-main. Tapi ternyata, Mas Bian orangnya asyik banget. Pengertian banget, nggak banyak nuntut. Nggak jadi nyesel nikah muda sama dia."
Za memajukan bibirnya. "Ya lah, kamu enak. Dari kecil udah digendong-gendong Mas Bian. Lah Mbak Za, tau-tau disuruh nikah. Maksa lagi."
__ADS_1
"Yang ikhlas, Mbak. Biar berkah."
Za mendengus. "Iya, anaknya Bu Hajjah. Tapi ngomong-ngomong, kamu kan dulu muridnya Mbak Za. Kenapa sekarang malah kamu yang jadi nasehatin Mbak?" Za pun terkekeh sendiri. Kegugupannya pun sirna.
Namun saat mendengar suara MC dari speaker, degupan jantung Za kembali tidak beraturan. Kedunya pun terdiam. Mendenfar dengan seksama suara dari depan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, Saudara Ammar Fadhil bin Faturahman dengan anak saya, Zahidah Nur Afifah dengan mas kawin emas seberat 50 gram dibayar tunai." Suara sang ayah terdengar tegas.
Dan disambut tak kalah lantang oleh Fadhil. "Saya terima nikah dan kawinnya Zahidah Nur Afifah binti Abdul Manaf dengan mas kawin tersebut tunai.
Dan suara sah dari para saksi yang menyatakan sahnya pernikahan Zahidah dan Fadhil.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Fadhil dengan setelan jas terlihat begitu gagah. Za bahkan pangling melihat Fadhil dengan rambut yang dirapikan, dan juga bulu wajah yang sudah bersih. Senyum memgembang meski kedua mata Fadhil berkaca-kaca.
Za semakin gugup saat Fadhil mendekat dan mengulurkan tangan menyentuh puncak kepalanya.
"Allaahumma innii as-aluka khoirohaa, wa khoiro maa jabaltahaa 'alaihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa, wa syarri maa jabaltahaa 'alaihi."
Selesai Fadhil membaca doa, Za mencium punggung tangan lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya. Dinginnya tangan Za tentu saja terasa oleh Fadhil. Hingga lelaki itu memegang erat lalu mengecup kening istrinya dengan syahdu dan berpindah ke tangan. Sentuhan kulit pertama yang terlalu lama. Karena Fadhil sama sekali tidak melepasnya hingga mereka sampai di depan.
Tidak banyak tamu yang diundang, hanya sanak saudara Za dan juga Fadhil. Tetangga dekat dan teman mengajar Za. Fatma yang menyarankan agar mengundang mereka. Untuk menghindari fitnah karena bukan rahasia lagi jika ada beberapa teman guru single yang menyukai Za.
Konsep acara yang sederhana sesuai permintaan Za. Di saat banyak wanita mendamba sebuah pernikahan impian yang mewah, Za justru sebaliknya. Karena sejujurnya dia belum memiliki pikiran tentang konsep pernikahan. Persiapan yang begitu mendadak. Tentu saja Fadhil yang ada di balik semuanya. Karena kedua orang tua Za pun terlihat adem ayem saja meski menyambut hari pernikahan putri mereka.
Za menyambut pelukan Fatma saat wanita hamil itu menghampirinya.
"Selamat datang di keluarga besar kami, Za. Semoga Allah melimpahi kalian dengan keberkahan."
"Amiin. Terima kasih, Mbak." Za mengulas senyum tipis.
"Semoga segera menyusul menjadi Mama Papa!" ujar Fatma lagi setengah berbisik.
__ADS_1
"Amiin." Kali ini Fadhil yang membalas ucapan Fatma. Rupanya dia mendengar suara Fatma yang sedikit pelan. Za hanya meloris sekilas. Lalu melempar senyum canggung saat Fadhil tersenyum manis kepadanya.
Ucapan selamat mengalir dari seluruh tamu yang datang. Sebelum waktu dzuhur, acara sudah selesai. Za pamit ke ke dalam karena hanya tinggal beberapa tamu laki-laki yang masih tinggal. Yang ternyata mereka teman Fadhil.
Rasa kantuknya sudah tidak dapat ditahan lagi. Hampir 30 jam Za tidak memejamkan mata. Sangat tepat jika dia memilih acara yang sederhana dan tidak memakan waktu terlalu lama. Karena esensi pernikahan ada pada akad nikah.
Sesampainya di kamar, bantalnya seolah melambai-lambai hendak meninabobokan pemiliknya. Tidak peduli hiasan bunga di sprei, Za merebahkan diri di atasnya. Dengan gaun yang masih lengkap.
Samar terdengar suara pintu dibuka. Za yang memang belum benar-benar terlelap enggan membuka mata. Dari suara pintu tertutup yang terdengar sudah pasti bukan ibunya. Pelan sekali hampir tidak mengeluarkan suara.
Beberapa detik kemudian, Za merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya. Keinginan Za untuk terlelap mendadak lenyap meski matanya masih memejam. Za membayangkan jika saat ini Fadhil pasti tengah menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Terasa dari hembusan nafas yang menyapu wajahnya.
"Kamu belum tidur kan, Dek?"
Za yang mencoba menahan kedua matanya untuk tidak terbuka tentu saja terlihat jelas oleh Fadhil.
Cup!
Seketika Za terbelalak. Saat salah satu pipinya tersentuh oleh sebuah benda kenyal.
Wajah Fadhil yang hanya berjarak tak lebih dari 10 cm menyambutnya. Reflek Za memejam lagi. Dan Fadhil mengulang hal yang sama di pipi yang berbeda.
"Bangun, yuk! Kita sholat setelah itu baru tidur."
Setelah suara Fadhil tak terdengar lagi. Dan terasa pergerakan di ranjang, Za membuka mata. Dia pikir Fadhil sudah menjauh. Ternyata masih tetap duduk di tepi ranjang.
"Apa wajah saya terlalu menyeramkan sampai kamu tidak mau menatap?"
Bukan! Tapi kamu terlalu tampan hari ini. Jawaban yang hanya terucap dalam hati.
Za menegakkan punggungnya lalu beringsut ke tepi ranjang. Dia duduk di depan cermin untuk membuka hijabnya. Sesekali melirik ke arah Fadhil yang terus saja menatapnya.
__ADS_1
Entah dari mana dia harus mulai membuka tatanan hijab yang terlihat bagus. Dia sendiri tidak pandai membuat model memakai jilbab. Za mencabut asal jarum-jarum yang mengunci kain penutup kepala itu. Hingga semuanya terlepas.
Masih dengan melirik Fadhil dari pantulan kaca cermin, Za membuka inner jilbab hingga ikatan rambut panjangnya menjuntai. Wajahnya dan rambutnya kini terekspos sempurna. Dia melihat wajah Fadhil yang terkejut, bahkan tonjolan di leher pria itu terlihat naik turun. Za mendadak ciut melihat Fadhil seolah ingin harimau yang tidak lepas mengintai mangsanya.