
"Tadi pagi bicara sama siapa?" tanya Fadhil usai menjemput Za dari sekolah.
"Pak Doni. Kenapa?" jawab Za sambil membuka ponselnya.
"Harus sambil senyum-senyum seperti tadi?"
Za menyipitkan mata. Menatap Fadhil yang tengah menyetir dan tatapannya fokus ke jalanan.
"Terus harus sambil merengut? Begitu maksudnya?"
"Mas nggak suka kamu dekat dia. Dia suka sama kamu."
Za terdiam. Tahu dari mana Fadhil kalau Doni suka padanya. Meski Za tidak membalas perasaan Doni, namun hubungan keduanya tetap baik-baik saja.
"Kan dia yang suka. Aku nggak."
"Jadi kamu sukanya sama siapa?"
Za menoleh seketika. Pertanyaan Fadhil tengah menjebaknya. Za terlalu cerdik untuk menghindar.
"Mas aku kayaknya nggak jadi masak sekarang. Kita beli saja, ya?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Keinginannya untuk belajar masak memang sudah tidak menggebu seperti pagi tadi. Mungkin karena sedang datang bulan, kemalasannya menjadi berlipat-lipat.
Fadhil hanya mengiyakan. Toh dia bisa makan apa saja sekalipun bukan makanan rumahan.
Mereka berhenti di depan sebuah kedai ayam geprek. Za memesan dua porsi take away.
"Makan di bengkel, ya?"
Tanpa pikir panjang, Za mengiyakan. Dia juga ingin tahu di mana tempat suaminya membuka usaha. Setelah menikah banyak hal yang harus dia ketahui tentang Fadhil.
Lima menit dari kedai ayam geprek, mobil menei ke bahu jalan. Dan berhenti di sebuah toko sparepart kendaraan yang cukup besar dan terkenal di kota itu. Za sengaja tidak ikut turun. Karena mungkin Fadhil hanya akan membeli spare part untuk stok di tokonya.
Saat pintu kiri dibuka dan Fadhil memintanya turun pun Za menolak.
"Aku nggak ikut turun. Mas Fadhil nggak lama kan?"
"Kita sudah sampai, Dek. Kamu mau di mobil saja?"
"Maksudnya ini bengkel Mas Fadhil?"
"Iya. Ayo turun!"
Za tertegun. Fadhil benar-benar pembohong. Dia pikir bengkel suaminya sebuah bengkel kecil karena. Kalau sebesar itu mana mungkin pendapatannya 5 sampai 7 juta perbulan.
Za turun dari mobil dengan payah karena badan mobil yang terlalu tinggi untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Dia mengekor saat Fadhil menggandeng tangannya. Beberapa karyawan menggoda mereka. Dan Fadhil hanya senyum-senyum saja. Sementara Za, tersipu sambil menundukkan wajah. Karena semua karyawan Fadhil adalah laki-laki.
"Akhirnya….punya gandengan juga," seru salah satu karyawan Fadhil.
"Malem udah nggak kedinginan lagi nih, Bang?"
Dan celetukan-celetukan lain yang menunjukkan jika Fadhil memangkas sekat antara dia dan karyawannya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang tentu saja lebih bersih dari bagian depan. Sebuah meja kerja, deretan kabinet dan sofa panjang mengisi ruangan itu.
"Mas bohong sama aku, ya?" todong Za begitu Fadhil menutup pintu.
Fadhil mengernyit. "Bohong? Soal apa?"
"Tentang pekerjaan Mas. Mas bilang punya bengkel yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi ini apa?"
Fadhil menipiskan bibirnya. Jika wanita lain akan merasa senang melihat usaha suaminya yang mampu menopang hidup mereka dengan layak, namun Za justru terlihat kesal.
Fadhil merengkuh kedua bahu istrinya.
"Maaf. Mas nggak bermaksud untuk tidak jujur. Tapi Mas hanya ingin mencari istri yang benar-benar menerima Mas tanpa melihat apa yang dimiliki sekarang. Karena semua ini hanya titipan. Kapan saja bisa diambil tanpa kita bisa mencegahnya. Mas ingin memiliki istri yang mau mendampingi Mas di saat suka maupun duka. Bukan perempuan yang hanya mau menemani Mas di saat semuanya bisa terpenuhi."
Entah kenapa, Za melihat sorot mata Fadhil yang memendam luka. Za buru-buru menepis dugaannya. Semoga saja hanya perasaannya.
"Mas menaruh harapan yang begitu besar pada kamu. Kamu adalah wanita yang selama ini Mas cari." Ucapan Fadhil begitu menyentuh perasaan Zahidah.
"Mas akan lebih dulu menua daripada kamu, Mas harap kamu akan tetap menjaga ikatan ini sampai maut memisahkan. Mungkin tidak lama…"
Za serta merta menutup mulut Fadhil. Dia menggeleng pelan, tidak ingin mendengar kata-kata yang mungkin akan terdengar menyakitkan. Mereka baru menikah dan Za ingin menikmati bagaimana rasanya jatuh cinta pada suami sendiri.
"Kita makan dulu, ya?" ujarnya agar Fadhil tidak melanjutkan lagi pembicaraan mereka.
Za membuka box nasi untuk Fadhil. Sampai beberapa hari ke depan atau sampai dia pandai memasak mungkin ini yang bisa dilakukannya. Menyiapkan makanan yang dipesan melalui aplikasi ataupun membeli ke tempatnya.
Saat ini, Za justru merasa benar-benar dirinya tidak pantas untuk Fadhil. Terlalu banyak kekurangannya sementara Fadhil….ah, kenapa suaminya itu justru serba bisa. Terlalu sempurna untuknya. Mencari uang oke, di dapur oke, di ranjang…
"Uhuk! Uhuk!" Za tersedak ayam geprek level maksimal.
Za bukan makan dengan terburu-buru. Tapi pikirannya berkelana tanpa bisa dicegahnya. Membayangkan Fadhil di atas ranjang? Apa-apaan kamu, Za? Za memaki dirinya sendiri.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Fadhil
"Hmm."
"Apa?"
"Kamu?
Fadhil terbelalak. Bibirnya melengkung mendengar ucapan tiba-tiba dari istrinya.
"Kamu….ternyata pintar gombal juga, ya?!" ucapnya.
Za hanya tersenyum mendengarnya. Karena sesungguhnya dia pun malu bukan main. Bisa-bisanya dia menggombal pada suaminya.
Za menghindari tatapan Fadhil dengan fokus pada makanan di depannya. Sampai box nasi itu bersih. Dan makanan di depan Fadhil masih utuh.
"Mas kenapa lihatnya sampai begitu?" protes Za karena Fadhil masih saja menatapnya.
"Cantik," ucap Fadhil pelan.
"Udah deh, Mas. Jangan ngegombal terus. Nggak kenyang. Makan dulu!" sahut Za yang masih dipenuhi rasa malu.
__ADS_1
"Mas sudah kenyang lihat kamu makan."
"Terus ini?"
"Simpan saja buat nanti," sahut Fadhil sambil beranjak.
Dia mengambil dompet dari tasnya lalu meminta Za untuk duduk bersama. Melihat wajah Fadhil yang serius, Za berhenti mengemas makanan.
"Sini, Dek! Jangan jauh-jauhan." Fadhil menepuk sisi sofa yang kosong. Za pun menggeser tubuhnya. Hingga tak berjarak dengan tubuh Fadhil.
"Dek, kamu tahu kan kalau Mas menanggung semua biaya hidup dan biaya pendidikan Safira?"
Za mengangguk. Karena Fadhil sudah memberitahunya tempo hari.
"Mas harap kamu pun ridho dengan apa yang Mas lakukan untuk Safira."
"Iya, Mas."
Tidak ada alasan untuk menentang. Karena Fadhil memang yang harus bertanggung jawab. Dia satu-satunya saudara kandung ayah Safira.
"Ini keuntungan bersih dari bengkel, 70 persen akan ditransfer ke sini. 30 persennya di rekening Mas yang lain." Fadhil mengulurkan sebuah kartu.
"Dan ini keuntungan dari kafe. Seluruhnya akan ditransfer ke sini."
"Kafe?" tanya Za dengan dahi berkerut.
"Iya. Kafe yang dulu kita pernah ke sana."
Kafe satu-satunya yang pernah dikunjunginya bersama Fadhil adalah waktu pulang dari rumah Fatma. Dan ternyata itu milik Fadhil.
"Mulai sekarang kamu yang atur semua biaya kebutuhan rumah, kebutuhan kita berdua dan kebutuhan Safira. Setiap bulan Safira akan minta uang, mungkin berkisar 7 sampai 10 juta untuk kebutuhannya. Nanti dia akan buat rinciannya. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Mana mungkin aku keberatan, Mas. Ini kan uang kamu. Aku nggak mau pegang semua ini. Mas saja yang pegang. Cukup kasih aku untuk kebutuhan dapur saja. Sama uang jajan aku saja. Selebihnya Mas yang atur. Aku nggak pandai ngatur uang, Mas." Za menggeser kartu. itu ke hadapan Fadhil.
"Makanya sambil belajar," balas Fadhil yang heran dengan sikap Za.
"Nggak ah. Takut nggak amanah. Kalau aku kalap belanja terus uang Mas habis gimana?"
"Nggak apa-apa. Uang Mas kan uang kamu juga."
Perdebatan pun dimulai. Za yang terus menolak dan Fadhil yang memaksa Za menyimpan kartunya.
"Ya sudah, aku ambil satu saja. Mana yang saldonya lebih sedikit?"
Fadhil membuka ponselnya untuk mengecek saldo rekeningnya. Za benar-benar wanita aneh. Di saat wanita lain akan menerima pemberian suaminya dengan suka cita, namun dia malah menolaknya.
"Ini lebih sedikit. Tapi Mas titip ini juga." Fadhil memberikan dua kartu itu.
"Sama saja kalau begitu," gerutu Za. Fadhil pun terkekeh.
"Dek!" panggilnya pelan.
Za menatap Fadhil sebagai jawaban. "Kamu berhenti mengajar, ya? Di rumah saja."
__ADS_1
Za terdiam. Wajahnya datar seketika. Permintaan itu adalah permintaan kedua Fadhil dan harus dipenuhi.