
Alif terlihat begitu antusias melihat bermacam satwa di kebun binatang. Bayi itu begitu lincah menggerakkan tangan dan kaki seolah ingin melepaskan diri dari gendongan Fadhil.
"Seneng banget dia, Mas," ujar Za melihat Alif berteriak saat didekatkan pada burung yang sedang berceloteh menirukan suara manusia.
Seperti sebuah keluarga bahagia pada umumnya yang baru memiliki anak bayi. Begitulah gambaran mereka saat ini. Beberapa gambar diabadikan melalui tangkapan kamera ponsel. Menggemaskan sekali saat bayi tujuh bulan itu bahkan sudah sadar kamera.
Tanpa mereka sadari, ada pasangan yang mengamati mereka dari jarak beberapa meter. Hingga salah satu dari mereka mendekat.
"Permisi!" sapa pria yang usianya mungkin sudah kepala empat.
"Ya, Mas?" sahut Fadhil.
"Maaf, Mas, Mbak. Saya mau minta tolong boleh?"
"Tolong apa, Mas?" tanya Fadhil kemudian.
"Tapi maaf sebelumnya sudah mengganggu. Istri saya ingin sekali menggendong putranya boleh, Mas?" Laki-laki itu menunjuk seorang wanita hamil besar yang sedang duduk tidak jauh dari mereka.
Fadhil dan Za pun saling berpandangan. "Boleh, Pak," sahut Za kemudian.
Laki-laki itu pun mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Karena dapat memenuhi permintaan istrinya untuk menggendong bayi tampan yang sejak tadi diamatinya.
"Tampan sekali." Wanita hamil itu memuji Alif yang kini sedang berada dalam gendongannya.
Za pun tersenyum. Memaklumi keinginan wanita hamil yang kadang memang sedikit aneh. Meskipun dia belum merasakan bagaimana menjadi wanita hamil.
"Anak ke berapa, Bu?" tamya Za basa basi. Karena melihat wajah mereka yang sudah tidak muda lagi, bisa jadi hamil karena bonus.
"Pertama."
Za terkejut mendengar jawaban wanita itu.
"Kami sudah 20 tahun menunggu. Alhamdulillah baru dikasih sekarang. Itu juga dengan proses bayi tabung. Adik bersyukur ya, bisa cepat dikasih momongan," ujar wanita itu.
Za tersenyum miris mendengar ucapan wanita itu. Kendati kepalanya mengangguk pelan. Ternyata hanya dirinya yang tidak sabar. Dua puluh tahun bukan waktu sebentar. Dan pasangan itu tetap sabar untuk berusaha.
__ADS_1
Cukup lama Za dan Fadhil membiarkan Alif berada dalam gendongan wanita hamil itu. Sambil mengobrol dan berkenalan.
Sampai akhirnya Alif harus dikembalikan lagi meski dengan rasa berat.
"Terima kasih, Dik," ucap wanita.
"Sama-sama, Bu. Terima kasih juga untuk ibu yang sudah memberi saya contoh untuk bersabar," balas Za.
Mereka pun meninggalkan pasangan itu. Karena Alif sudah merengek minta jalan lagi.
Fadhll memeluk Za sepanjang jalan. Karena tahu dalam hati Za sedang berkecamuk.
"Mereka hebat ya, Mas," ujar Za.
Fadhil tersenyum tipis menanggapi. Ternyata ada banyak pasangan lain yang nasibnya sama dengan dirinya. Bahkan Mbak Min, orang terdekatnya pun merasakan hal yang sama.
Hampir setengah hari mereka habiskan untuk berkeliling turun naik area kebun binatang. Capek, jangan di tanyakan lagi. Untuk kembali pulang ke rumah pun rasanya terlalu letih. Sangat tepat jika Fadhil mengajaknya menginap. Mereka singgah ke pusat belanja lebih dulu untuk membeli baju ganti sebelum mencari tempat penginapan. Fadhil menyebut destinasi wisata yang akan mereka kunjungi esok hari sebelum mereka kembali ke Semarang.
Sesampainya di kamar hotel, Za membersihkan diri meski tempat tidur yang terlihat nyaman itu melambai-lambai. Bahkan setelah mandi dan berganti baju pun dia tidak bisa segera merebahkan dirinya. Ada Alif yang harus diurusnya lebih dulu.
"Makannya sudah siap," ujar Za saat melihat
Alif sudah selesai dimandikan. Tentu saja dengan drama menangis karena bayi itu suka sekali bermain air.
"Mama yang ganti bajunya?" bujuk Za.
Alif terlalu cerdas untuk menangkap maksud pembicaraan Za. Dia mengulurkan tangan meminta digendong ibunya.
Setelah memastikan tubuh bayi itu kering, Za mengoleskan minyak sembari mengurut pelan kaki dan tangan Alif. Hal yang membuat Za gemas karena Alif diam saja seolah menikmati pijatannya. Bahkan tidak hanya tangan dan kaki. Pijatan Za beralih ke punggung.
"Gantian Papa, Al!" Fadhil menelungkupkan dirinya di samping Alif. Dan meminta Za memijat punggung. Sontak saja bayi itu merengek dan meminta Za untuk memijatnya kembali. Fadhil tertawa karenanya. Dua bayi dengan rentang usia yang terlalu panjang yang selalu berebut perhatian Za.
"Sudah ya, pijatnya." Za membalik tubuh Alif untuk dipakaikan baju.
"Kalau punya adik dia bakal cemburu nggak ya, Mas?"
__ADS_1
"Pasti lah."
"Padahal aku berencana ikut program…"
"Hanya akan Mas turuti kalau kamu sudah benar-benar siap dengan segala resikonya," potong Fadhil yang membuat Za mencebik.
"Itu pun menunggu kalau Al 3 atau 4 tahunan," lanjut Fadhil.
"Ya kamu keburu ubanan."
"Memangnya kenapa kalau ubanan? Kamu malu? Gampang nanti bisa dicat kalau cuma warna rambut. Yang penting kan masih kuat dua ronde."
Za memutar bola malas melihat Fadhil memainkan alisnya.
"Ada Al loh, Mas. Dia tidur sama kita," ujarnya.
"Tenang. Connecting room."
Za menatap pintu penghubung dengan kamar sebelah.
"Mas yang suapi Al. Kamu istirahat saja."
Tentu saja itu adalah sebagian dari usaha Fadhil untuk malam nanti. Padahal tanpa dirayu pun Za mau-mau saja. Dia pun merebahkan punggungnya meski kedua matanya tidak terpejam, setidaknya meluruskan kaki yang pegal. Sembari melihat Al yang selalu lahap saat makan. Menyenangkan sekali melihat bayi itu makan, namun Za tetap menjaga porsinya tidak berlebihan. Mangkok kecil itu pun kosong dalam sekejap. Fadhil membersihkan mulut Alif dengan air putih. Begitu telaten mengurus Alif membuat Za salut pada suaminya. Bahkan Fadhil rela mengesampingkan dirinya sendiri. Meski harus mendapat giliran terakhir untuk mengurus dirinya sendiri.
"Mau makan di luar atau pesan?" tanya Fadhil sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Pesan aja. Capek."
Za membuka aplikasi di ponselnya. Memesan makanan yang sekiranya menarik mintanya. Dan pencariannya pun hanya berujung pada menu ayam goreng.
"Nanti diambil ya, Mas," ujarnya sembari meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu memiringkan tubuhnya memeluk Al. Hanya dengan dipeluk sambil berceloteh lambat laun bayi itu pun terlelap.
"Anak pintar!" ujar Fadhil melihat Alif sudah memejamkan mata sambil menghisap jempolnya. Perlahan Za menarik tangan mungil itu untuk melepaskan jempol yang dihisap Al. Kebiasaan sebelum tidur yang sulit untuk dicegah.
"Yuk ke sebelah!" Fadhil menarik tangan Za.
__ADS_1
"Heh?! Kita lagi pesan makan loh, Mas. Aku belum bayar," sahut Za.