Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Pertentangan


__ADS_3

"Mas kok main ambil keputusan gitu aja," protes Za setelah Alex pulang.


"Lalu harus gimana menurutmu? Mereka udah sama-sama mau. Sama-sama siap. Nggak ada alasan untuk menunda."


Za membuang nafas pelan. "Safira kan punya mama, Mas. Bicarakan dulu kek sama Mbak Lany. Kalau dia nggak setuju gimana?"


"Dia lagi otw pulang dari dinas luar kota mau ke sini."


Orang yang mereka bicarakan pun muncul dari ruang tamu. Tante Sarah yang menyambut mereka. Wanita itu datang membawa sebuah tas berisi kado untuk Alula.


"Maaf aku nggak ikut acara tadi," ucapnya.


"Iya, Mbak. Nggak apa-apa," sahut Za lalu mempersilakan Lany untuk duduk.


"Lan, besok Safira mau nikah," ujar Fadhil begitu Lany mendaratkan pantatnya di sofa.


"Hah?! Jangan bercanda kamu, Dhil. Safira nggak pernah ngenalin siapa-siapa. Besok kapan maksudnya?" sahut Lany terkejut bukan main.


"Besok pagi. Jam sembilan kamu harus sudah di sini. Atau kalau mau nginep di sini juga nggak papa."


"Dhil, ini pernikahan. Bukan main-mainan. Kamu tuh…." Lany berdecak kesal. Lalu memanggil Safira di dalam kamar.


"Duduk sini!" Lany menepuk sofa yang kosong di sampingnya. Dengan enggan Safira menghempaskan tubuhnya. Dia tahu pasti akan mendapat pertentangan dari mamanya. Karena mamanya pernah mengatakan jika Safira harus menikah dengan pria dengan kriteria yang terlalu banyak. Sedangkan Alex, meski berasal dari keluarga kaya, namun dia baru meniti karirnya. Bahkan gajinya pun jauh dari yang diidamkan untuk menjadi menantu mamanya.


"Fir, nikah itu bukan buat main-main yang bisa diputuskan dalam waktu sebentar saja. Berkacalah dari kegagalan Mama."


"Iya tahu. Mama gagal karena Mama terlalu egois, kan?"

__ADS_1


Lany mendesah kasar. "Sekarang katakan siapa laki-laki yang akan menikahi kamu? Berapa lama kalian pacaran?" cecarnya.


"Nggak pernah pacaran, Ma. Emang harus banget nikah pakai pacaran dulu. Tuh, Om Fadhil sama Mami nggak pernah pacaran hidupnya happy-happy aja."


"Jangan lihat sesuatu dari permukaannya saja." bantah Lany.


"Terserah Mama. Pokoknya Safira mau nikah besok. Dia mungkin nggak sesuai dengan kriteria yang Mama inginkan. Uangnya nggak sebanyak yang Mama mau. Tapi kami sudah berkomitmen bersama."


"Keras kepala." gumam Lany. "Gimana dia bisa membahagiakan kamu kalau hidupnya susah," lanjutnya.


"Nggak susah-susah amat, Ma. Gajinya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan meski nggak mewah. Masih bisa buat nyenengin anaknya."


Lany terbelalak. "Maksudmu dia duda? Nggak, nggak. Batalkan. Mama nggak mau kamu nikah sama duda."


"Memang apa masalahnya kalau duda atau bukan. Yang penting bukan suami orang!" tegas Safira membuat Lany terdiam. Begitu juga dengan Fadhil dan Za yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan mereka.


"Mama cuma ingin yang terbaik untuk kamu, Fir. Kamu masih juga nggak ngerti?"


Lany kembali membuang nafas kasar. Sifat keras kepala Safira bahkan melebihi dirinya. Salahkah dia jika menginginkan anak satu-satunya mendapatkan jodoh yang terbaik yang bisa menjamin kehidupannya bahagia. Sejenak kemudian dia menatap Fadhil sekilas. Dia tak memungkiri jika pengaruh Fadhil tentu jauh lebih besar bagi Safira. Sehingga Safira memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan dirinya.


"Terserah kamu." Lany beranjak pergi ke dapur. Bahkan rasa lelahnya setelah perjalanan dari luar kota belum sama sekali reda. Dia sudah harus dihadapkan perdebatan dengan anaknya. Setelah mengguyur kerongkongannya dengan air putih, dia naik ke lantai atas. Malam ini dia memutuskan untuk menginap saja.


"Fir, ada kurir di depan. Katanya ngantar kiriman buat kamu, ujar Tante Sarah.


Safira meloncat dari sofa lalu bergegas ke depan. Sebuah paket diterimanya meski dia merasa tidak memesan sesuatu.


Safira membuka bungkusan itu. Dia tertegun saat melihat isinya ternyata sebuah kebaya berwarna putih.

__ADS_1


"Kamu beli kebaya, Fir?" tanya Za. "Katanya mau pakai punya Oma?"


"Alex yang beli."


"Gercep banget dia. Baru sejam pergi sudah dapat kebaya. Cobain dulu sana, nanti kalau kurang pas biar dikecilin."


Safira masuk ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar dengan piyamanya yang sudah berganti dengan kebaya.


"Bagus nggak, Mi?"


"Bagus. Cuma agak kegedean dikit. Kalau kebaya kegedean kelihatannya kurang bagus. Sini Mami kecilin dulu!" sahut Za.


"Emang bisa?"


"Bisa lah.


Safira pun melepas kembali kebaya itu. Semenyara Za mengambil benang dan jarum di dalam kamar. Dengan telaten, dijahitnya kebaya itu dengan tangan. Karena di rumah itu tidak ada mesin jahit. Sementara anak gadis yang besok sudah akan menjadi istri orang tengah memeluk om-nya. Za menggeleng melihat sikap Safira yang terkadang masih tak mau kalah dengan adik balitanya.


"Makasih ya, Om udah jagain Safira sampai sekarang. Safira bahkan belum bisa ngasih apa-apa sama Om Fadhil. Tahu-tahu besok udah mau nikah."


"Emang Om Fadhil pernah minta balasan dari kamu?"


Safira menggelengkan kepalanya yang sedang menyandar di bahu Fadhil.


"Besok-besok nggak boleh begini lagi, Fir. Alex bisa salah paham," seloroh Fadhil.


"Ya nggak lah. Besok kan sudah ada bahunya dia yang buat sandaran. Lebih keras dari bahunya Om Fadhil."

__ADS_1


"Emang udah pernah nyobain, Fir?" timpal Za sambi terus menjahit.


"Makanan kali dicobain," sahut Safira.


__ADS_2