Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ayah Alif


__ADS_3

"Mas ini bagus, nggak?" Za menunjukkan gambar sebuah mini cooper di ponselnya.


Fadhil menatap sekilas lalu beralih ke istrinya.


"A-aku mau beli pakai pakai uang tabunganku, kok." Za menyembunyikan kembali ponselnya.


"Tabunganmu? Yakin? Harganya 1 M lebih lho, Dek. Tabungan dari mana kamu?"


"Aku tahu. Cukup kok tabunganku dari uang belanja sama uang dari anak-anak kost."


"Oh, jadi kamu selama ini sengaja menghemat uang belanja karena mau beli mini cooper? Kenapa nggak bilang?"


"Bukaaan. Aku nggak pernah niat beli. Baru sekarang pinginnya. Tadi aku lihat saldonya udah cukup. Jadi uang Mas aman."


"Simpan saja uangmu. Pakai uang kita saja.'


Semenjak menikah, Fadhil memang tak pernah mengakui uangnya. Semua yang dia punya adalah milik kita, dia dan Za.


"Yang benar saja, Mas. Kamu baru bayar rumah ini, lho. Uang dari mana lagi?" sahut Za bersikeras.


"Ada lah kalau buat kamu."


Berawal dari cicitan Za sminggu lalu kini Za sudah bisa pergi ke mana-mana sendiri. Barang yang selalu ditolak saat Fadhil ingin membelikannya. Karena dia merasa belum butuh. Namun tiba-tiba dia menginginkannya.


"Mami ngidamnya nggak tanggung-tanggung," komentar dari Safira saat mobil itu datang. Karena selama hamil Za tak pernah menginginkan ini itu yang aneh-aneh.


Mobil merah yang kini tengah dikendarai Za pun berhenti di depan sekolah Alif. Rutinitas Fadhil yang kini diambil alih olehnya.


Za melenggang masuk mencari anaknya yang tengah bermain dengan teman-temannya.


"Mama!" Anak kecil itu berlari menghampirinya sembari membawa pesawat mainan.


"Itu mainan siapa, Al?" tanya Za.


"Mainan Al!"

__ADS_1


Za mengernyit. Dia tidak pernah memperbolehkan Alif membawa mainan ke sekolah. Dari sekian banyak mainan Alif, Za tahu itu bukan mainan yang pernah ada di rumah. Apalagi terlihat masih baru.


"Mainan dari mana? Papa yang beli?" tanya Za lagi.


"Bukan. Ayah yang ngasih."


"Ayah? Papa maksudnya?" Za tidak mengerti maksud jawaban Alif.


"Bukan, Ma. Alif kan punya Papa sama Ayah. Tadi Ayah datang bawa mainan buat Al. Bagus, kan?"


Za semakin pusing dengan jawaban Alif. Dia meminta Alif menunggu sembari bermain dengan temannya. Sementara dia pergi ke kantor guru untuk meminta keterangan. Karena di sekolah Alif tidak bisa sembarang orang mengakses ke dalam gedung sekolah itu.


"Permisi, Miss," ucap Za di depan pintu.


"Ya. Silakan masuk, Mama Al!"


Za masuk ke kantor guru itu. Menanyakan tentang orang yang menemui Alif hari ini.


"Namanya Pak Alex. Pak Fadhil sudah memberi pesan jika Pak Alex diperkenankan bertemu dengan Alif di sekolah. Tapi tidak untuk dibawa keluar sekolah," jelas guru wanita itu.


"Untuk pastinya saya tidak pernah menghitung. Mungkin sebulan sekali atau bahkan dua kali."


Za tidak tahu siapa Alex. Bahkan saat guru itu menerangkan ciri-cirinya Za tidak mampu menebaknya. Dia pun pamit pada guru Alif untuk pulang.


Satu-satunya orang yang bisa memberi penjelasan adalah Fadhil. Za pun mengambil arah jalan menuju bengkel. Karena Fadhil pasti sedang di sana.


Ayah, hanya satu orang yang memiliki kemungkinan untuk mendapat sebutan itu. Tentu saja pikiran Za mengarah pada pria yang telah membuat Aira kehilangan nyawa.


Za menghentikan mobilnya di depan bengkel. Berjajar dengan mobil lain yang mungkin sedang mengantri untuk diperbaiki.


Sebelum membuka pintu, dia sudah dikejutkan dengan seseorang yang keluar dari ruangan Fadhil.


"Ayah!"


Panggilan Alif untuk pria yang kini berdiri di depannya membuat Za terkejut. Laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah yang memiliki kemiripan dengan Alif. Za membeku ditempatnya. Dadanya bergemuruh menatap wajah pria yang kini tersenyum lalu menunduk menggendong Alif. Wajah dan penampilannya tidak menunjukkan jika dia laki-laki brengsek. Sangat rapi dan bahkan dia tersenyum ramah pada Za.

__ADS_1


Za menerobos masuk ke dalam dan membuat Fadhil terkejut bukan main.


"Z-Za?!"


"Jadi diam-diam selama ini kamu mempertemukan mereka?" tanya Za dengan menahan suaranya agar tidak terdengar orang yang berdiri di depan pintu.


"Duduk dulu. Biar Mas jelaskan."


"Apa karena Mas akan punya anak sendiri lalu mau melepas Alif?" tuding Za dengan sinis.


"Bukan seperti itu, Za."


"Maaf, Mbak. Boleh saya yang menjelaskan?"


Za menoleh ke sumber suara dari arah pintu. Pria itu masih menggendong Alif. Jelas sekali kedekatan mereka berdua dan itu membuat Za tidak rela.


"Al, main sama Om Ben dulu di luar!" kata Fadhil agar Alif mau turun dan bermain dengan salah satu karyawannya. Alif pun melorot dan berlari ke depan.


"Maaf bila saya menjadi pemicu perselisihan Mas Fadhil dan Mbak Za. Tapi saya sama sekali tidak akan mengambil Alif. Saya hanya minta waktu beberapa jam dari 720 jam untuk bertemu Alif. Saya cukup sadar kesalahan saya. Saya pun sudah menghalangi Mama saya untuk tidak lagi mengusik ketenangan Alif bersama kalian. Mungkin ini hukuman untuk saya. Saya yang seorang pecundang karena tidak berani mengambil langkah untuk memperjuangkan cinta saya pada Aira di depan Mama. Tapi saya bukan tidak mau bertanggung jawab. Alif lahir lebih cepat dari perkiraan dan Aira tidak mengabarkan pada saya yang saat itu sedang membantu pekerjaan papa saya di Banjarmasin. Dan saya datang terlambat."


"Kamu bilang bukan tidak mau bertanggung jawab? Kamu pikir bagaimana caranya mempertanggung jawabkan perbuatan kamu itu? Dengan menunggu sampai Aira melahirkan tanpa memberitahu keluarganya? Itu saja?" geram Za.


"Bukan, Mbak. Saya berencana menikahi Aira setelah dia melahirkan."


"Terlambat!"


Alex mengangguk. Wajahnya tampak sangat menyesal. "Yah. Semua memang sudah terlambat. Karena itu saya akan menebusnya. Saya ingin ikut membesarkan Alif. Sebagai bentuk tanggung jawab saya. Saya mohon kebesaran hati Mbak Za, untuk mengizinkan saya bertemu Alif. Satu bulan sekali tidak lebih dari dua jam."


Za membuang nafas kasar. Dia merutuki dirinya yang selalu tega jika sudah melihat wajah orang yang mengiba padanya. Bahkan kini Alex melipat kakinya dan menumpukan lututnya di lantai.


Za mundur beberapa langkah. "Tidak perlu seperti itu!" ucapnya dengan nada sedikit ketus.


"Saya akan lakukan apa pun agar Mbak Za mau mengizinkan saya bertemu dengan Alif."


Za kembali menghembuskan nafas berat. Lalu dia keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2