
Za terduduk lesu di salah satu kursi di lobi rumah sakit. Di tangannya masih tergenggam amplop putih berisi hasil pemeriksaan yang dilakukannya tanpa sepengetahuan siapa pun.
Dan kenyataan buruk harus diterimanya. Kendala itu ternyata ada dalam dirinya. Membuatnya semakin dirundung rasa bersalah. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Fadhil saat akhirnya nanti dia tahu faktanya
Za menyusut air matanya dengan selembar tisu. Dimasukkannya kertas di tangannya ke dalam tas. Karena taksi pesanannya sudah datang.
Sepanjang jalan, titik-titik bening itu merangsek keluar. Za tak kuasa membendungnya. Dia tak peduli tatapan sang sopir dari kaca spion yang menatapnya penuh tanya. Namun bibir laki-laki paruh baya itu tetap bungkam.
Bahkan hingga sampai di depan rumah dan taksi telah berhenti, tangisnya seolah enggan berhenti. Meski taksi sudah berhenti beberapa saat, Za masih berdiam di dalamnya. Pengemudi taksi itu pun membiarkannya sampai Za benar-benar siap untuk turun.
Rumah orang tuanya menjadi tujuannya untuk pulang. Melihat wajah ibunya yang menyambut dengan senyum hangat, Za justru tak bisa menahan buliran air yang kembali memaksa untuk keluar.
"Loh, loh! Ada apa to, Nduk?"
Sekuat-kuatnya dia berusaha menyembunyikan kesedihannya, nyatanya tetap gagal. Ibu, orang yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah meski terkadang Za merasa kesal jika ibunya sedang mengomel. Namun Ibu juga yang menjadi tempat menumpahkan air matanya saat kesedihan menderanya.
"Wis, ayo masuk dulu!" Bu raa membimbing Za masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat, hanya air mata yang tumpah membasahi daster yang dikenakan ibunya. Membuat sang ibu semakin cemas dengan keadaan Za.
"Kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya Bu Rahma hati-hati.
Za menggeleng dalam dekapan ibunya.
"Lalu kenapa? Ceritakan sama Ibu. Ada masalah apa kamu seperti ini?"
"Maafin Za, Bu. Za banyak dosa sama Ibu sehingga Za dihukum seperti ini!" Tangis Za semakin pecah.
"Sudah, Sudah. Ibu semakin nggak ngerti maksud kamu. Dihukum siapa?" tanya Bu Rahma semakin khawatir.
Za tak menyahut. Hanya suara sesenggukan yang terdengar di kamar itu. Bu Rahma membiarkan putrinya meluapkan air mata. Sampai suara isakan terdengar pelan. Dan Za memisahkan diri dari ibunya.
__ADS_1
"Sekarang ceritakan sama Ibu apa yang terjadi."
Za terdiam. Dia ragu ingin mengungkapkan semua pada ibunya. Karena kenyataan bahwa dia akan mengalami kesulitan untuk hamil pasti tidak hanya akan mengecewakan suaminya. Namun juga ibunya dan mungkin juga ayahnya. Ibunya sama seperti Fadhil. Berharap Za segera memiliki anak. Meski dia akan segera mendapatkan cucu dari Bian.
Za tidak tahu bagaimana harus mengawalinya. Menatap wajah ibunya justru membuatnya semakin nelangsa.
"Kenapa?" tanya ibunya dengan pelan.
"Za…." tangis Zahidah kembali pecah.
Bu Rahma semakin bingung oleh sikap putrinya. Selama ini, Za memang tidak pandai menyembunyikan masalah. Apalagi pada kedua orang tuanya. Meski dia berusaha memendamnya sendiri, sikapnya akan kentara atau bahkan berujung sakit jika dia banyak pikiran.
"Kalau kamu nggak mau cerita sekarang, nggak apa-apa. Nanti saja kalau kamu sudah siap," ujar ibu Za.
Rasanya tidak sanggup jika harus menanggung beban kesedihannya sendirian. Berbagi dengan suaminya, Za belum siap menghadapi Fadhil kecewa.
Dia pun merogoh tasnya dan mengambil amplop putih bertulis sebuah instansi rumah sakit.
"Apa ini?" tanya Bu Rahma denagn kerutan di dahinya.
Wanita itu perlahan membuka amplop di tangannya. Za menguatkan hati untuk melihat reaksi ibunya setelah membuka hasil pemeriksaannya.
"Astgahfirullahal'adzim," ucap wanita itu lirih.
Wajahnya berubah sendu. Menatap Za dengan tatapan iba.
Za kembali menangis memeluk ibunya. Dengan kata maaf yang berkali-kali diucapkannya.
"Sudah, sudah. Tidak ada satu wanita pun yang menginginkan keadaan ini. Kamu terpilih menjadi wanita kuat yang akan mampu menghadapi ujian ini."
"Tapi bagaimana dengan Mas Fadhil, Bu." Zahidah kembali terisak.
__ADS_1
"Ibu harus berjanji, tolong jangan beritahu Mas Fadhil. Ya, Bu?" lanjutnya.
"Bagaimana mungkin? Fadhil itu suami kamu. Apapun yang terjadi dia harus tahu."
"Tapi Za nggak sanggup melihat dia kecewa. Za takut…"
"Jangan berprasangka berlebihan, ya? Ibu yakin dia tulus sama kamu."
Za tahu itu. Fadhil begitu tulus. Namun jika Fadhil tahu Za tidak sempurna apa mungkin ketulusan itu tidak akan berkurang. Sedangkan Za tahu seberapa besar keinginan Fadhil untuk memiliki anak. Meski bicaranya terdengar menenangkan Za, namun diam-diam lelaki itu mencari informasi tentang masalah kehamilan. Seperti yang pernah diketahui Za waktu itu.
"Jangan menyimpannya sendiri. Bicarakan dengan suamimu. Supaya kalian bisa mencari solusi sama-sama. Tidak baik suami istri saling menutupi masalah. Apalagi masalh yang sangat penting seperti ini," tutur Bu Rahma.
"Ibu minta maaf, kalau selama ini menuntut kamu untuk segera punya momongan." Bu Rahma mengusap pipi Za yang bisa dengan ibu jarinya.
"Semua terjadi di luar kehendak kita. Bersedihlah tapi jangan berlarut-larut. Tidak ada ujian yang melampaui kemampuan kita."
Za mengangguk pelan. Sedikit lega saat dia bisa berbagi beban dengan ibunya. Za tahu ibunya pun sama terpukulnya. Hanya saja, saat ini ibunya lebih bisa menguasai diri. Meski Za tahu batinnya begitu perih. Sementara dia tidak sanggup.jika harus menyimpan beban itu sendirian.
Za memeluk ibunya sekali lagi. Entah apa lagi kata yang harus diucapkannya. Selain terima kasih karena pelukan yang selalu hangat dan menenangkan.
"Kamu pasti belum makan," tebak Bu Rahma. Karena dia tahu betul watak anaknya yang akan lupa mengisi perut jika sedang mengalami masalah. Apalagi masalah seberat itu.
"Ayo makan dulu. Nanti kamu sakit lagi."
"Nanti saja, Bu. Za belum lapar."
"Ya memang nggak bakal lapar. Karena kamu merasa kenyang dengan masalahmu ini. Sedih itu wajar, Za. Tapi jangan sampai melalaikan kesehatanmu."
Bu Rahma keluar dari kamar putrinya.dan kembali lagi beberapa saat kemudian membawa piring berisi makanan. Seperti biasa, Bu Rahma akan menyuapi Za jika sedang malas untuk makan. Meski hanya sedikit, itu lebih baik daripada tidak ada makanan yang masuk sama sekali.
"Maaf kalau Za juga mengecewakan Ibu sama Ayah?" ucap Za setelah enggan menerima suapan nasi dari ibunya.
__ADS_1
Bu Rahma menghela nafas panjang. "Kamu putri ibu. Sakitmu adalah sakit Ibu juga. Tapi siapa yang bisa menentang kehendak Yang Kuasa, Za. Ibu hanya berharap, kamu pun bisa ridho dengan apa yang terjadi sama kamu. Jangan putus berdoa. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Meski bagi manusia mungkin hal yang mustahil sekalipun."
Za mengangguk pelan. Membenarkan ucapan ibunya. Meski kemungkinan itu sangatlah kecil baginya, sangat kecil.