Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Rasa Bersalah


__ADS_3

Fadhil seolah tak ingin tahu apa yang dibicarakan istrinya dengan Lany. Dia mengabaikan ucapan Za dan memilih masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


Hal itu justru membuat Za semakin ingin tahu apa yang dibicarakan Fadhil pada Lany saat mengantar Safira pulang. Hingga Fadhil pulang selarut itu, tentu banyak hal yang dibicarakan.


"Sepertinya Lany tidak akan berhenti mengganggu sebelum tujuannya tercapai," ucap Za setelah Fadhil duduk di sebelahnya.


Namun Fadhil menggeleng sebagai ungkapan jika dirinya membantah ucapan Za. "Dia akan berhenti setelah bertemu dengan orang yang bisa mengambil hatinya."


"Dan orang itu kamu," timpal Za dengan nada tak suka.


Fadhil mengulas senyum tipis. Dia suka sekali melihat Za jika sedang cemburu. Dia pikir butuh waktu lama untuk mendapatkan hati istrinya itu. Namun dia harus berterima kasih karena Za ternyata telah benar-benar menjatuhkan hati padanya meski tidak pernah diungkapkan dalam bentuk ucapan.


"Dek, apa pun ujian yang menghampiri kita, kuncinya ada pada kita. Aku dan kamu harus saling percaya, saling menguatkan. Tidak ada alasan untukku berpaling dari kamu."


"Tapi kamu juga manusia, Mas. Yang hatinya bisa berubah-ubah. Apalagi dia pernah ada di hati kamu."


"Ssst! Nggak ada lagi orang lain di hati Mas selain kamu. Apa selama ini ada hal yang membuatmu yakin?"


Zahidah melunak. Dia menghempaskan punggungnya ke sofa. Menyerah, karena memang sikap Fadhil terlalu baik. Rasanya keterlaluan jika sampai Za mencurigainya. Selama pernikahan mereka, setiap harinya hanya beberapa jam saja mereka harus terpisah. Itu pun dia tahu betul ke mana perginya sang suami.


"Apa pun ucapan dia, jangan kamu masukkan ke hati. Dia pandai mempengaruhi seseorang. Karena pekerjaannya pun membutuhkan keahlian itu."


"Justru itu. Aku takut lama-lama Mas luluh sama dia."


"Itu nggak akan mungkin terjadi. Kamu harus percaya itu."


Za percaya tapi rasa cemas itu belum hilang seluruhnya. Dia kesal kenapa saat ini pikirannya justru masih didominasi oleh ucapan Lany.


"Mungkin dalam waktu dekat Lany akan pergi dari rumah itu."


Za menoleh seketika. "Kenapa? Bukannya dia juga berhak tinggal di sana karena masih ahli waris Mas Farhan?"


Fadhil menggeleng. "Mas Farhan sudah mewasiatkan semua peninggalannya hanya untuk Safira. Termasuk pembagian rumah itu. Kemarin Mas sudah bicara sama Om Irsyad dan juga Safira, bahwa apa pun yang terjadi, rumah itu tidak akan dijual. Seperti pesan almarhumah Mama karena itu rumah yang menjadi saksi perjuangan Ayah untuk membuktikan ke keluarga Mama jika dia mampu membahagiakan Mama."


Za mengernyit. Dia memang tidak pernah tahu bagaimana masa lalu suaminya apalagi keluarganya.

__ADS_1


"Jadi begini, dulu Ayah itu berasal dari keluarga yang pas-pasan. Mama berasal dari keluarga yang sangat cukup. Mama dua bersaudara dengan Om Irsyad. Hubungan Ayah dan Mama sempat tidak direstui karena strata sosial yang jomplang. Namun Ayah dan Mama tetap berjuang untuk meluluhkan hati Oma. Hubungan mereka baru mendapat restu setelah karir Ayah merangkak naik. Dan dianggap mampu menjamin kehidupan anaknya," ungkap Fadhil.


"Penyesalan terbesar Mama adalah menjodohkan Mas Farhan dengan Lany. Tidak hanya Mama yang menyesal, keluarga Lany pun malu dengan sikap anaknya yang ternyata mengecewakan Mama dan Mas Farhan. Persahabatannya dengan Mama renggang setelah mereka berbesanan. Bahkan Lany tidak berani menginjakkan kaki di rumah saat Mama masih ada. Beberapa tahun terakhir, rumah itu menjadi tempatnya singgah karena dia diam-diam menjual rumah peninggalan Mas Farhan yang seharusnya menjadi milik Safira. Mas sama Om Irsyad berusaha mengamankan aset lainnya sebelum semuanya habis. Itu kenapa Lany berusaha mendekati Mas agar dia bisa mendapatkan sebagian dari peninggalan Mas Farhan yang lain."


Za terdiam. Apa yang dikisahkan oleh suaminya ternyata cukup membuatnya terkejut.


"Apa keputusanku meminta Mas mengembalikan Safira pada ibunya salah?"


"Nggak. Idealnya sebuah keluarga memang hanya ada kita berdua dan anak-anak nantinya. Mas sudah memberi pengertian pada Safira. Syukurlah dia mengerti. Hanya saja, dia tetap tidak mau tinggal bersama mamanya. Dan untuk hal itu, Mas tidak memaksa. Jadi, Mas terpaksa menyuruh Lany pergi dari rumah Mama."


Za terbelalak. "Diusir?"


"Ya mau bagaimana lagi. Dia memang tidak berhak tinggal di situ. Lagi pula Lany itu tidak hidup kekurangan. Gajinya besar dan masih ada tunjangan Mas Farhan juga. Dia mampu membeli rumah sendiri. Tetapi dia memilih mengusik ketenangan orang lain," sahut Fadhil.


"Untuk saat ini, Safira tinggal di kostnya Om Irsyad. Kalau Lany tidak mau pergi dari rumah itu, dia akan tetap tinggal di kost "


Za membuang nafas kasar. Entah kenapa dia merasa menjadi orang yang tega membuat Safira terlunta-lunta. Bukan labil, hanya saja dia memang tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Liku-liku kehidupan keluarga Fadhil ternyata tidak sesederhana yang dia kira.


"Aku jahat ya, Mas?"


"Maaf kalau aku egois," ucap Za lirih.


"Jangan sedih gitu, dong." Fadhil mengusap rambut yang tertutup jilbab.


Sejak malam itu, Za sejatinya tidak bisa menepis rasa bersalah pada Safira. Keputusan yang dia ambil saat hatinya sedang tidak tenang. Namun Za pun masih belum berani mengungkapkannya di depan Fadhil.


"Mana tadi kuenya?" tanya Fadhil bermaksud menyudahi perbincangan yang justru membuat wajah Istrinya muram.


Za membuka kantong yang di bawanya. Dia mengambil piring yang ada di salah satu lemari. Memindahkan kue-kue yang dibawanya ke dalam dua piring. Kemudian membuatkan secangkir teh untuk teman makan kue.


"Sesayang apa Mas sama Safira?" tanya Za sambil menyatukan gula dan air teh dengan sendok.


"Yah seperti sayangnya seorang ayah sama anaknya mungkin. Sejak kecil Safira sudah dekat dengan Mas. Dia lebih sering tinggal di rumah utama daripada sama ayahnya," sahut Fadhil sambil menerima cangkir dari tangan Za.


"Nanti malam kita jemput dia, ya?"

__ADS_1


Teh yang baru disesap Fadhil menyembur keluar. "Dek, kamu tuh bisa nggak sih jangan suka bikin kejutan?"


"Kenapa? Salah, ya?" tanya Za ragu.


"Nggak salah. Tapi dipikir lagi. Mas nggak mau nanti kamu berubah pikiran lagi."


Za menggeleng. "Aku minta maaf. Terus terang aku merasa bersalah sama Safira setelah malam itu. Bahkan aku juga bersalah karena terus mencurigai kamu. Maaf," ucap Za.


Fadhil menatap Za yang kini menunduk di depannya. Ekspresi yang membuatnya ingin tertawa. Za bersikap seolah murid yang akan dihukum gurunya. Pipinya yang cubby dengan bibir mungil membuat Fadhil ingin mengulumnya. Dia pun beranjak untuk memutar anak kunci.


"Kok dikunci, Mas?"


"Mas butuh charge sebentar."


Za mengernyit. Belum sempat mengajukan pertanyaan kembali, Fadhil sudah mengangkat tubuhnya yang tidak seberapa berat dan mendudukkan Za ke atas pangkuannya.


"Mas mau apa?" tanya Za gugup. Meski sudah sering mendapat tatapan lekat suaminya, namun Za tetap saja salah tingkah.


"Ma…hmmpt!"


Fadhil membungkam mulut Za dengan kedua bibirnya. Teh yang dibuat Za tak lagi menarik karena bibir istrinya lebih manis.


Za terengah-engah setelah Fadhil melepaskan tautan bibir mereka. Jika tidak sedang diblok merah, tentu Fadhil sudah mengajaknya pulang saat itu juga.


"Diminum dulu tehnya, Mas. Nanti keburu dingin." Za ingin turun dari pangkuan Fadhil namun suaminya itu menahannya. Mendekapnya begitu erat.


"Kalau Lany sudah pergi dari rumah kita pulang ke rumah utama, ya?" ujar Fadhil pelan di telinga Za.


"Kenapa?" tanya Za meski dia tidak keberatan jika memang Fadhil yang menginginkannya.


"Mas nggak rela kamu dilirik tetangga sebelah rumah setiap hari. Dia melihatmu seperti ingin menerkammu."


"Kok aku nggak pernah tahu?"


"Karena kamu terlalu cuek. Dan Mas punya seribu mata untuk mengawasimu."

__ADS_1


__ADS_2