Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Menjadi Ibu Baru


__ADS_3

Za terbangun saat mendengar suara tangis Alif. Dia melongok ke arah jam yang menggantung di dinding kamar. Sudah dini hari dan jarum menunjuk angka dua. Sekian kalinya Za terbangun karena rengekan bayi itu.


Di samping ranjang, Fadhil tengah bersimpuh di atas sajadah. Ritual yang kerap Za temui jika dia terbangun tengah malam.


"Kenapa, Sayang? Haus, ya?" Za mengajak Alif bercengkerama meski bayi mungil itu mungkin hanya bisa mendengar.


"Mas, tolong ambilin popok!" ujar Za saat melihat Fadhil beranjak dari duduknya. Karena dia sendiri merasa terlalu berat untuk sekedar menyeret tubuhnya turun dari ranjang.


"Tidur saja. Biar Mas yang ganti popoknya."


Za kembali menumbangkan tubuhnya. Ternyata memiliki bayi tak selucu postingan teman-temannya saat memamerkan bayi mereka di media sosial. Ada kerja keras bangun malam berulang kali saat sang bayi menangis karena ingin susu atau popok yang sudah penuh. Meski Za tak merasakan bagaimana sakitnya saat melahirkan, namun hari pertama Alif berada di rumahnya, dia benar-benar bisa turut merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang baru memiliki bayi.


Melihat Fadhil yang begitu terampil mengganti popok, bahkan menggendong Alif tanpa canggung. Seolah merawat bayi bukan hal asing bagi Fadhil.


"Mas, kamu pantes banget jadi bapak," celetuk Za.


"Mas sudah biasa ikut mengurus Safira waktu bayi. Makanya sampai dewasa dia lengket sama Mas. Karena bayinya Mas yang sering ngurus dia sampai sekarang."


"Kok gitu?"


"Ya karena semua terikat pekerjaan. Cuma Mas sendiri yang waktunya bebas. Baby sitter Safira sering ganti-ganti karena nggak betah sama Lany."


Za mengangguk-angguk paham. "Kok Mas mau? Nggak sakit hati malah ngurus anaknya mantan?"


"Jangan cari perkara, Za. Ini sudah malam waktunya tidur bukan berdebat."

__ADS_1


Za terkekeh. Meski digoda sedemikian rupa Fadhil tidak marah. Ketika Fadhil sekali menunjukkan kemarahannya Za pun tak bernyali meski sekedar menatap wajahnya.


Za menggeser tubuhnya merapat pada bayi yang sudah diganti popoknya oleh Fadhil. Meski kedua matanya ingin memejam,namun karena Alif masih terjaga, Za tidak tega membiarkan bayi itu sendirian.


"Kalau ngantuk tidur aja, Dek. Biar Mas yang jaga dia," ujar Fadhil sambil mengocok botol susu. Kemudian memberikannya ada Alif.


Tapi tetap saja Za tidak bisa kembali tidur. Waktunya dia habiskan untuk mengagumi bayi yang kini tengah menghisap dot.


"Besok Ibu mau ke sini," kata Za sambil memainkan rambut Alif.


"Iya. Mas yang minta. Mau nyukur rambut Al. Besok Tante Sarah juga mau datang, sebelum mereka berangkat ke Bali." Fadhil menarik dot yang sudah terlepas dengan sendirinya karena Alif sudah terlelap.


"Meski lahir tanpa mengenal orang tuanya, Alif harus tetap mendapat kasih sayang seperti anak-anak pada umumnya. Mas sudah memesan kambing untuk dia juga."


Za tentu saja hanya bisa bengong. Fadhil tak pernah membicarakan apa pun tentang aqiqah untuk Alif dan acaranya besok saat tujuh hari kelahirannya. Sesuai surat keterangan dari rumah sakit tempat Alif dirawat sebelum dibawa Fadhil pulang.


"Nggak usah bingung. Semua sudah ada yang urus. Memang kamu bisa ngurus kambing?" Fadhil menarik pipi Za gemas.


"Ya, ya. Aku memang nggak bisa ngapa-ngapain," balas Za sambil menarik selimut. Dia memekik sata Fadhil tiba-tiba sudah berada dalam satu selimut dengannya.


"Mas! Geser sana. Nanti Al jatuh kalau di pinggir."


"Nggak mungkin." sahut Fadhil namun ulah tangannya yang membuat Za kesal.


"Mau ngapain, sih?" Za menepis tangan Fadhil yang hendak membuka kancing dasternya.

__ADS_1


"Gantian kamu nyusuin."


"Iiih! Mesum banget, sih!" Za menolak tubuh Fadhil.


Fadhil pun terkekeh. "Ayolah, Za. Mas dua hari menahan rindu."


Za menjulingkan matanya. Usianya memang sudah kepala empat. Namun Za harus siap saat Fadhil meminta jatahnya setiap hari. Bahkan sehari bisa dua kali. Za pikir menikah dengan bujang karatan lebih bisa menahan diri. Ternyata Fadhil sudah menahan terlalu lama dan setelah menikah mendapat tempat melampiaskan kerinduannya akan sentuhan wanita.


"Lain kali jangan seperti ini lagi, Mas. Sekarang sudah ada Al," ucap Za sembari menyeret memungut dasternya yang berserak di lantai.


"Iya. Besok kan dia sudah punya kamar sendiri."


Pagi buta kamar mandi di dalam.kamar itu kembali berisik oleh gemericik air. Dan juga suara Za dan Fadhil yang menggema di dalam ruangan kecil itu.


Meski hampir tidak tidur semalaman, tetapi rasa kantuk Za seolah hilang. Dia mengeringkan rambutnya sementara Fadhil bersiap pergi ke masjid. Malam pertama menjadi seorang ibu ternyata cukup melelahkan. Za pun turun ke dapur untuk membuat secangkir coklat. Menyusui bayi dewasa ternyata juga membuatnya merasa lapar.


Secangkir coklat hangat dan juga roti tawar menemani Za. Sedikit membuatnya merasa tenang setelah menyesap sedikit cairan coklat itu.


"Mas mau juga. Tapi rotinya dipanggang, ya!" ujar Fadhil lalu dia mencicipi sedikit coklat dari cangkir yang baru saja diminum oleh Za.


Tidak hanya untuk Fadhil. Za juga memanggang roti untuk Safira begitu melihat pintu kamar keponakannya itu terbuka. Meski seringkali tidur lagi setelah subuh, namun Safira sudah terdoktrin oleh Fadhil untuk tidak melewatkan waktu subuh.


"Al sudah bangun, Mam?" tanya Safira seraya mengambil gelas di rak.


"Belum. Baru bangun tadi jam dua pagi."

__ADS_1


"Pantes pucat bange mukanyat. Hari ini aku libur. Biar aku yang ngasuh dia. Mami tidur aja."


Za menipiskan bibirnya. Bukan hanya dia dan Fadhil yamg menyayangi Alif. Tetapi juga Safira dan Mbak Min. Za tidak tahu bagaimana reaksi ibu dan ayahnya ketika bertemu Al besok.


__ADS_2