
Lany membersihkan pecahan piring di kamar Safira karena tidak ada Mbak Min yang bisa disuruhnya. Meminta tolong pada Za pun sudah pasti tidak diperbolehkan oleh Fadhil. Meski di dalam kamar Safira dia harus didiamkan oleh anaknya. Dan dipertontonkan dengan perlakuan Za yang sedang menyuapkan bubur untuk Safira. Seharusnya dia yang melakukan itu semua. Tapi waktu tidak bisa diputar. Kekeliruannya terlalu besar. Mengabaikan Safira sejak kecil dan memilih sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga berakibat dia dibenci oleh anaknya sendiri.
"Udah, Mom." Panggilan itu mencubit batin Lany. Bahkan Safira memanggil Za dengan sebutan Mommy tanpa canggung.
"Minum obatnya, ya?" bujuk Za setelah Safira minum air putih.
"Pahit," jawab Safira dengan nada merengek.
"Namanya juga obat. Kalau manis ya permen. Di coba dulu atau mau digerus?"
Perlakuan lembut Za membuat Lany tidak tahan berlama-lama di dalam kamar Safira. Dia menyapu lantai secepatnya. Kemudian keluar dari kamar itu membawa sampah pecahan piring.
Lany meletakkan begitu saja sampah di belakang rumah. Menunggu esok hari ART rumah itu yang pasti akan membuangnya.
Segelas air dingin diambilnya dari dalam kulkas. Untuk mengguyur kerongkongannya yang kering sejak tadi. Karena tidak ada minum yang sengaja disediakan untuknya. Meski semua menganggap Lany menyebalkan, namun wanita itu tetap saja dianggap sebagai bagian dari keluarga itu karena keterikatannya dengan Safira.
"Nanti malam aku nginap di sini ya, Dhil?" ujarnya sembari meletakkan gelas di atas meja makan.
Fadhil berdehem. "Asal tahu diri saja," sahutnya kemudian.
"Memangnya apa yang kulakukan selama di rumah ini sampai kamu mengatakan aku tidak tahu diri?"
"Banyak. Termasuk tidak menjaga perasaan penghuni rumah yang lain."
Lany tentu saja menangkap maksud jawaban Fadhil. Namun dia enggan melanjutkan pembahasan itu. Dia sedang butuh bantuan Fadhil untuk membereskan masalahnya sehingga akan lebih baik untuk tidak membuat masalah dengan mantan kekasihnya itu.
"Data yang kamu kirimkan sudah benar. Rudi nggak bisa ngelacak. Alamat yang kamu kirim bukan alamat dia." ujar Fadhil sembari menatap layar ponselnya.
"Benar, kok. Itu alamat orangtuanya. Aku juga pernah ke sana."
"Tapi rumahnya kosong. Tetangganya juga nggak ada yang tahu nama Arman di kampung itu."
Lany membuang nafas kasar. Tak menyangka jika dia akan ditipu sejauh itu.
"Kamu kenal berapa lama, sih? Sampai begitu percayanya?"
"Kenal udah beberapa bulan yang lalu. Taoi dekat baru dua bulan. Aku capek mikirin kamu terus. Aku berusaha mengalihkan perhatian dari kamu. Nggak tahunya malah begini," sahut Lany tanpa sungkan.
__ADS_1
Fadhil menggeleng heran. "Tololmu makin nggak ketulungan."
Decakan kesal pun keluar dari bibir Lany. "Iya, aku bodoh, tolol. Tapi nggak usah diulang-ulang terus. Aku cuma minta bantuan kamu. Bukan mau ditolol-tololin."
"Sama saja. Kamu yang tolol aku yang harus ikut ribet."
"Kalau dapat mobilnya nanti buat kamu aku rela, Dhil. Tapi aku beneran nggak rela kalau penipu itu yang make."
"Aku nggak butuh mobil itu!" sahut Fadhil dengan tegas.
Lany mencebik. Namun setidaknya Fadhil masih mau membantunya. Dan dia tahu jika Fadhil tidak pernah mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Bahkan dalam waktu beberapa jam saja Rudi, teman Fadhil uang juga dikenal oleh Lany sudah bertindak. Meski ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.
"Di kantornya juga nggak ada. Belum lama resign katanya," jelas Fadhil lagi.
"Terus gimana, dong?" tanya Lany frustasi.
Fadhil pun mengedikkan bahu. "Mana kutahu!'
"Aku serius, Dhil. Kamu ngeselin, deh!"
"Tunggu saja hasilnya. Jangan ngerengek. Nanti istriku dengar bisa salah paham dia." Fadhil pun beranjak dari kursinya. Bertepatan dengan Za yang baru keluar dari kamar Safira. Membawa mangkok bubur dan gelas air putih.
"Habis buburnya?" tanyanya pada Za.
"Nggak. Cuma mau makna sedikit. Tadi dia minum obat terus tidur."
"Sini biar Mas yang bawa ke dapur," Fadhil meminta mangkok dan gelas di tangan Za. Namun Za menolaknya.
"Apaan, sih, Mas? Mati gaya kamu? Aku bisa kalau cuma nyuci mangkok sama gelas," sahut Za dengan suara rendah. Karena Lany sejak tadi mengawasi mereka.
Dia pun membawa mangkok dan gelas kotor itu ke dapur. Melewati Lany yang mengucapkan kalimat tak terduga.
"Makasih, Za."
Za mengangguk sambil menarik kedua sudut bibirnya. Sikap Lany memang kadang sulit ditebak. Awal pertemuan mereka Lany bersikap begitu ramah, namun lambat laun sikap ramahnya ternyata menyimpan sebuah tujuan.
"Nggak mau puding, Za?"
__ADS_1
"Nanti saja, Mbak." sahut Lany.
"Ok. Aku masukkan kulkas, ya?" ujar Lany yang dibalas anggukan kepala oleh Za.
"Nanti aku mau masak, Za," lanjut wanita itu.
"Iya. Bahan-bahannya ambil saja di kulkas." balas Za lalu dia naik ke kamar. Dia tak mau ambil pusing Lany mau masak apa. Karena dia pun sedang malas turun ke dapur. Lagi pula Lany sudah bisa di rumah itu. Bahkan lebih lama dari pada dirinya. Lany tentu sudah lebih hafal letak penyimpanan perabotan dapur sehingga tidak perlu ditunjukkan.
Za menghempaskan tubuhnya di samping Fadhil. Pikirannya kembali mengingat tentang berkas yang lenyap dari dalam tasnya. Sekilas dia melirik ke arah Fadhil. Satu-satunya orang yang patut dicurigai telah mengambilnya. Tapi bagaimana cara dia mulai bertanya? Jika ternyata Fadhil tidak mengambilnya, pasti suaminya itu justru bertanya macam-macam padanya.
Za menghelas nafas pelan. Kemudian merebahkan diri dengan pikirannya yang tidak karuan. Mengabaikan Fadhil yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Seolah tidak terganggu dengan keberadaan Za. Untuk urusan apalagi jika bukan berkaitan dengan penipuan yang dialami oleh Lany.
"Dek?" panggil Fadhil beberapa saat kemudian. Za bergeming.
"Kamu marah?' tanyanya kemudian.
"Marah untuk apa?"
"Karena Mas membantu Lany?"
"Enggak. Untuk apa marah kalau Mas memang hanya berniat membantu. Dan akan benar-benar menolak mobil itu, andai saja mobil itu bisa kembali dan akan diberikan untuk kamu." Ucapan Za yang terdengar tegas membuat Fadhil tersenyum. Za memang unik kalau sedang cemburu.
"Nggak akan. Mas benar-benar niat cuma mau bantu dia."
"Harus kamu?"
"Lany nggak punya keluarga lagi, Dek. Orang tuanya udah nggak ada. Dia anak tunggal. Dan nggak akan mungkin mampu mengatasi masalah ini sendiri."
"Sehingga kamu tersentuh hatinya untuk membantu?" sambar Za.
Fadhil menghela nafas kasar. "Kalau kamu keberatan Mas akan berhenti," ucapnya sembari meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Terserah kamu," sahut Za.
"Terserah dalam kamus wanita artimya jangan, bukan?"
"Bukan. Aku nggak pakai kamus itu. Ikuti saja kata hatimu. Aku tahu jiwa kemanusiaanmu sangat tinggi. Terlalu jahat kalau aku melarangmu membantu orang?"
__ADS_1
Situasinya semakin tidak kondusif untuk berdiskusi. Fadhil menarik bantal yang digunakannya untuk bersandar. Kemudian ikut merebahkan diri di samping istrinya.
"Maaf," ucapnya.