Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Membeli Kebutuhan Alif


__ADS_3

"Baju-baju, gendongan, body care, popok, susu, mainan, botol susu. Udah ini aja dulu, Mas. Lupa lagi mau beli apa. Besok-besok lagi saja," ujar Kirana setelah mengecek semua barang belanja.


"Box bayi sama dorongan bayi itu apa namanya?" tanya Fadhil.


"Stroller? Butuh, ya?" Jawab Za menimbang-nimbang. Namun akhirnya dia membeli sebuah stroller juga.


Semua barang pun mereka masukkan ke dalam mobil setelah menyelesaikan transaksi. Belanja pertama satu anak yang memenuhi kabin mobil yang cukup luas.


"Huft, banyak juga ya kebutuhan Alif," ujar Za setelah semua barang masuk ke dalam mobil.


"Namanya juga nggak ada persiapan. Sekali beli ya segini banyak."


Jika tidak mengingat Alif di rumah belum ada baju ganti pun Za masih ingin belanja lebih banyak lagi. Baju-baju dan perlengkapan bayi itu terlalu menarik. Semua terlihat bagus dan ingin membeli semua item.


Namun mereka harus segera pulang. Karena telah menghabiskan waktu hampir tiga jam hanya untuk memilih perlengkapan yang nyaman untuk bayi mereka.


"Masih mau belanja lagi?" tanya Fadhil saat melirik ponsel Za yang menampakkan pakaian-pakaian bayi.


Za terkekeh. "Cuma lihat-lihat saja. Nanti kalau ada yang suka baru beli," sahutnya sambil terus men-scroll layar. "Tapi ini bagus-bagus semua. Lucu-lucu banget."


Fadhil menggeleng heran. Za bahkan sangat jarang membeli baju untuk dirinya sendiri. Selama mereka menikah, hanya ada beberapa kai paket datang mengantar pesanan Za. Namun sekarang, untuk Alif Za seolah tidak perlu berpikir ulang untuk memasukkan baju-baju yang lucu itu ke dalam keranjang.


"Mas!" Panggil Za lalu dia menunjukkan layar ponselnya. "Belanja segini lagi, boleh?"


Fadhil tersenyum tipis sambil menggeleng heran.


"Nggak boleh?"


"Boleh. Tapi jangan yang new born semua. Bayi itu cepat gedenya, Za."


"Enggak. Ini ada yang tiga bulan ke atas, kok," jawab Za.


Dia pun menyelesaikan transaksi setelah mendapat persetujuan Fadhil. Masih melihat perlengkapan bayi lainnya, namun hanya benar-benar melihat. Dia menahan diri untuk tidak membelinya. Nanti saja setelah mempertimbangakan kebutuhannya.

__ADS_1


"Mana hpnya, Mas?" Za menengadahkan tangannya.


"Buat apa?"


"Bayar dong, Papa!"


Fadhil menautkan kedua alisnya. Lalu tertawa pelan. Pada akhirnya akan ada yang memanggilnya papa.


"Di dompet," sahut Fadhil tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang sedang ramai. Za mengambil dompet yang tergeletak di sampingnya mengambil ponsel Fadhil yang sudah dia hafal passwordnya. Kemudian membuka m-banking untuk membayar pesanannya.


Setibanya di rumah, Za bergegas turun dan mengambil tas belanja semampunya. Sisanya dibiarkan saja karena pasti Fadhil yang akan membawanya masuk. Dia mendapati Mbak Min yang tengah menimang Alif di dalam rumah. Menggendong bayi pun sesuatu yang sangat diinginkan oleh ART-nya itu. Sehingga Za bisa melihat bagaimana Alif diperlakukan sangat baik oleh Mbak Min.


"Belum dimandikan 'kan, Mbak?" tanya Za sambil meletakkan tas belanjanya.


"Belum, Mbak. Baju gantinya belum ada."


"Ya sudah. Tolong siapkan airnya, Mbak. Alif biar sama saya."


"Hmm…udah wangi anak Papa!" Fadhil menghambur ke atas ranjang saat Alif baru saja selesai dipakaikan baju. Mencium bayi itu dengan gemas.


Za tersenyum tipis melihat Fadhil yang tampak bahagia sekali. Sama halnya dengan dirinya. Ternyata Tuhan sudah memiliki rencana lain. Tanpa harus menuruti keinginannya agar Fadhil menikah lagi, kini seorang bayi hadir di tengah-tengah mereka. Meski bukan darah daging mereka sendiri. Bukan masalah baginya. Alif tetap saja amanah yang harus dijaga. Panggilan hati untuk merawat Alif sudah pasti Dia yang menggerakkan.


"Sementara Alif tidur di sini, ya. Nunggu lemari sama box bayinya datang. Mungkin akan diantar besok," ujar Fadhil.


"Iya. Aku nggak masalah. Yang masalah kan paling kamu karena harus mengalah sama Alif."


"Sementara. Besok kan dia sudah punya kamar sendiri di sebelah."


Za mencebik. Fadhil memang tak akan bisa tidur nyenyak tanpa dirinya. Begitu juga sebaliknya.


Saat kedua laki-laki itu terbaring bersebelahan, Za kembali mengamati wajah keduanya bergantian. Bukan hanya hidung yang mirip, namun juga rambut yang sama lebat dan hitam.


"Mas, Alif beneran anak Aira?" tanya Za tiba-tiba. Meski dia menerima Alif sepenuh hati, entah kenapa pertanyaan itu melintas dan terlontar begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?"


"Ya…nggak sih. Mukanya mirip sama kamu."


"Lalu kamu mengira dia anak Mas dengan wanita lain begitu?"


Za hanya nyengir. Ucapan Fadhil sangat tepat sesuai isi kepalanya.


"Astaghfirullah, Za. Kamu curiga berlebihan. Kan sudah ada surat keterangan dari rumah sakitnya."


Meski tuduhan seperti yang diucapkan mungkin akan memantik kemarahan untuk sebagian suami, namun Fadhil tetap saja terlihat tenang. Tidak tersinggung apa lagi marah seperti saat Za memintanya untuk menikah lagi.


"Mas sudah nggak ada lagi keinginan-keinginan seperti itu. Setelah menikah, Mas hanya akan fokus membenahi keluarga kita. Saya dan kamu, agar kita bisa tetap sama-sama sampai ke jannah. Adanya Alif itu sebuah anugerah yang tidak disangka. Yang mungkin dihadirkan untuk melengkapi keluarga kita. Stop berprasangka buruk, Za. Masa iya kamu harus ikut ke mana Mas pergi. Biar tahu waktu di luar Mas dipakai untuk apa saja."


Berhadapan dengan Fadhil yang sedang serius membuat Za terdiam. Prasangkanya memang tanpa dasar. Hanya menuruti pikiran yang masih dicemari oleh kecurigaan.


"Mas dan Aira masih satu darah. Seperti kamu sama Bian. Kamu sama Bian mirip saja Mas nggak pernah protes," lanjut Fadhil lagi.


"Iya, iya. Maaf."


Fadhil menghela nafas pelan."Nggak capek cemburu terus? Mas sudah nggak punya keinginan aneh-aneh lagi. Waktu dan perhatian Mas hanya terbagi untuk kamu dan pekerjaan. Udah itu saja."


'Kan sudah minta maaf. Kenapa masih panjang aja sih ngomongnya?"


"Nggak cukup minta maaf," balas Fadhil dengan wajah kesal.


"Lalu apa? Mau dihukum?"


"Iya." sahut Fadhil dengan tegas sambil menarik tubuh mungil Za.


Za memekik saat tubuhnya hampir menimpa Alif. Fadhil justru tertawa. Untung saja tidak membangunkan Alif.


Menikahi perempuan yang jauh di bawah umurnya memang harus membuat Fadhil harus banyak bersabar. Sifat kekanakan dan cemburu yang kadang tidak masuk akal. Perselisihan kecil dengan sebab tidak jelas. Namun itu sudah menjadi pertimbangan Fadhil sebelum melamar Za.

__ADS_1


__ADS_2