
"Itu yang dijodohin sama kamu, Za? Cakep kok, masih muda juga," tanya Fatma saat melihat seorang laki-laki menghentikan motor di halaman sekolah dan melempar senyum pada Za yang duduk di sampingnya.
"Bukan. Itu kakak sepupuku," jawab Za mengambil tasnya.
Hari ini dia memang dijemput oleh Bian. Karena tadi motornya dipinjam oleh kakak sepupunya itu untuk berkunjung ke rumah temannya. Sehingga saat berangkat pun Za diantar oleh Bian.
Za meninggalkan Fatma yang masih menunggu suaminya yang belum keluar dari ruang kepala sekolah.
"Hati-hati, Za," pesan sahabat Za itu. Lalu dia mengangguk sambil tersenyum pada Bian yang melakukan hal yang sama.
Menantang matahari sore yang masih cukup menyengat, ditambah dengan padatnya jalanan yang ramai, membuat suasana semakin gerah. Za sengaja tidak memakai jaketnya. Meski Bian sudah membawakan pakaian penghangat itu untuknya.
Orang bilang mereka pasangan yang sangat serasi. Bagi yang tidak tahu hubungan darah mereka, pasti akan menatap iri jika Za dan Bian tengah jalan berdua. Wajah tampan dan cantik sekilas terlihat mirip. Pasti akan mengira jika mereka adalah pasangan kekasih. Namun Za tetap menjaga hatinya. Dia telah nyaman dengan mendapat kasih sayang Bian sebagai seorang kakak. Tidak ingin lebih seperti yang diinginkan oleh ibunya.
"Za! Nggak mau beli es dulu?" Suara Bian mengagetkan Za yang sejak tadi pikirannya menerawang.
"Apa, Mas?" Suara Za tak kalah melengking.
"Es durian mau?"
"Mau banget!" sahut Za dengan senang hati. Bersama Bian memang selalu membuat timbangannya oleng ke kanan tanpa bisa dikendalikan. Za justru heran dengan kakak sepupunya yang justru semakin bagus tubuhnya.
Bian menghentikan motornya di bawah pohon trembesi di taman kota. Tempat mangkalnya pedagang es durian yang sering mereka kunjungi. Dia pun memesan dua mangkok es durian spesial yang lebih banyak buah duriannya.
"Nggak lapar, Za?" Sebuah tawaran makan terselubung dari Bian membuat Za mendesah pelan. Tentu saja dia lapar. Siang tadi dia tidak sempat makan karena kehabisan menu kesukaannya di kantin.
Namun melihat porsi es durian yang baru datang, Za menolak tawaran Bian. Meski tahu gimbal di sebelah es durian seolah melambai ingin juga ikut masuk ke perutnya.
__ADS_1
"Pesen tahu gimbal dibungkus dua, Za." Ucapan Bian lagi-lagi membuatnya terkejut. Pria itu seolah bisa membaca yang ada dalam pikiran Za.
"Buat siapa, Mas? Aku kenyang ngabisin es ini."
"Bulek. Tadi kepingin tahu gimbal katanya."
Za mendesah pelan. Ibunya kenapa jadi manja sama Bian. Semalam dibelikan martabak habis sambil memuji-muji kebaikan Bian. Dan sekarang pesan tahu gimbal. Entah pujian apalagi yang akan disanjungkan untuk keponakannya itu.
Tapi mau bagaimana pun juga Bian memang sangat pengertian. Memberi perhatian selayaknya pada keluarga sendiri. Mungkin karena Bian hanya punya keluarga Za.
Dua bungkus tahu gimbal selesai tepat saat mangkok mereka kosong. Mereka melanjutkan pulang setelah Bian membayarnya.
Sampai di rumah ibu Za yang sedang menyapu teras tersenyum sumringah. Karena tentengan plastik yang menggantung di motor dan diulurkan oleh Bian.
"Bulek kan cuma bercanda, Yan. Kenapa dibelikan juga, sih? Mana dua bungkus, lagi."
Bian hanya tersenyum lalu masuk ke dalam rumah diikuti Za dan Bu Rahma. Langkah membelok masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Za yang masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bian. Sementara Bu Rahma menuju ke dapur untuk meletakkan bungkusan yang dibawa Bian.
Karena hanya ada satu kamar mandi di rumah itu, Za mengalah saat melihat Bian masuk lebih dulu menenteng handuknya. Dia duduk menunggu di meja makan menemani ibunya yang baru saja membuka bungkusan tahu gimbal.
Porsi yang melimpah tentu saja tidaka akn habsi dimakan satu orang. Bu Rahma mengambil sendok meminta Za membantu menghabiskannya. Dia tahu pasti putrinya belum makan karena Bian yang memberitahunya.
"Nanti kalau Ayah pulang,Ibu sama Ayah akan bicara tentang masalah perjodohanmu dengan dia."
Za sampai tersedak mendengar ucapan ibunya. Harusnya dia tidak terkejut. Karena hala itu sudah diutarakan beberapa hari yang lalu oleh ibunya. Bahkan cincin yang dibeli Bian pun sampai saat ini masih menjadi tanda tanya. Untuk siapa Bian membelinya. Jika mengukur jari tangan Za. Untuk ibu Za tentu saja tidak mungkin. Karena tubunnya sedikit lebih besar dari pada Za yang tergolong kurus.
Za mendadak kembali cemas. Jika ternyata cincin itu dibeli untuknya. Tidak! Tidak! Za tidak ingin terlalu percaya diri. Bisa jadi Bian diam-diam sudah memiliki kekasih yang akan dilamarnya. Tanpa memberi tahu Za bahkan orang tua Za.
__ADS_1
"Kalau Mas Bian sudah punya pacar gimana, Bu?" Za berusaha menggoyahkan pemikiran ibunya.
"Ibu tahu Bian nggak mau pacaran," sahut Bu Rahma.
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar suara pintu kamar mandi. Bian keluar sudah memakai celana pendek dan kaos sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk. Dia memang membiasakan diri berganti baju di dalam kamar mandi jika tinggal di rumah Za.
Za berganti masuk ke kamar mandi yang baru saja ditinggalkan Bian. Seharian beraktifitas di sekolah dengan jam mengajar penuh membuatnya letih dan ingin segwra mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Sampai Za selesai mandi dan berganti pakaian, belum ada tanda-tanda ayahnya pulang. Za melihat ibunya gelisah di depan seolah menunggu kedatangan pacar.
"Kenapa nggak ditelpon aja sih, Bu," ujar Za memberi saran.
"Sudah. Katanya mampir dulu takziah ke rumah orang tua teman kantornya."
"Lalu kenapa Ibu gelisah begitu. Kayak orang gagal diapelin aja," kata Za lagi seraya menghempaskan diri di sofa ruang tamu.
Suara deru motor yang masuk ke pagar rumah mereka membuat wajah Bu Rahma berubah sumringah. Namun tidak dengan Za. Dia justru semakin resah jika ibunya benar-benar akan membicarakan tentang perjodohannya dengan Bian. Bukan karena Bian lelaki yang tidak baik, tapi Za hanya ingin selamanya tetap menjadi adik Bian.
Melihat ayahnya kini yang baru selesai mandi dan sudah nengenakan baju santainya, sarung berpadu dengan kaos rumahan Za justru masuk ke dalam kamar. Berbarengan dengan Bian yang keluar dari kamar. Dua pria itu kini duduk di ruang keluarga. Di temani teh hangat yang baru saja diantar oleh Bu Rahma.
Samar-samar terdengar obrolan yang menyelinap masuk ke kamar Za. Sauar Bian yang tengah berbicara pada ayahnya.
"Paklek, Bulek, Bian boleh minta waktunya sebentar boleh? Ada yang ingin Bian bicarakan." Suara Bian yang terdengar samar semakin jelas karena Za merapatkan telinganya ke pintu kamar.
"Tentu saja. Apa yang ingin kamu bicarakan?" sahut ayah Za.
Bian berdehem sebentar. "Begini, Paklek. Bian mau minta restu dari Paklek dan Bulek. Bian pulang kali ini punya tujuan untuk melamar seorang gadis."
__ADS_1
Lutut Za terasa lemas. Dia terduduk di lantai sambil menunggu kelanjutan perkataaan Bian dengan jantung yang berdegup semakin kencang.