
"Ya kalau menurut Mbak sih nurut apa kata suami saja, Za."
Za sudah menduga jika jawaban Fatma akan demikian. Patuh pada ucapan suami. Meski hal itu telah Za ketahui, namun dia ingin meminta sedikit toleransi saja. Setidaknya sampai nanti dia menjadi seorang ibu.
Tampaknya Fatma lebih diberi keleluasaan oleh suaminya. Sehingga saat hamil pun masih diperbolehkan mengajar.
"Lagi pula Fadhil pasti sudah sangat mampu mencukupi kebutuhan kamu, Za. Mau nyari apalagi?"
Memang bukan materi yang dicari oleh Za. Tetapi kesenangan menularkan ilmu yang dia miliki dan bertemu dengan anak-anak yang seringkali menghiburnya.
Sebagian orang mungkin akan dengan senang hari ketika hanya diminta tinggal di rumah. Bisa belanja memenuhi kebutuhan tanpa harus capek bekerja. Tapi bagi Za, dia akan merasa ada yang hilang jika harus berdiam diri di rumah.
"Setelah melahirkan nanti, Mbak juga mau berhenti. Mau fokus mengurus anak. Karena Mbak dan Pak Irsyad sudah sepakat tidak ingin mendelegasikan pengasuhan anak pada baby sitter."
Za setuju dengan pemikiran Fatma. Karena dia pun nantinya akan demikian. Nantinya? Entah kapan dia pun tidak tahu. Sampai saat ini Fadhil bahkan belum pernah menyentuhnya. Meski Fadhil sudah melihatnya sholat sejak satu minggu yang lalu.
"Ngomong-ngomong, kamu dan Fadhil nggak menunda untuk punya momongan kan, Za?"
"Ah! Enggak, Mbak." sahut Za gelagapan.
Padahal dia dan Fadhil belum pernah membicarakan hal itu. Bahkan membicarakan tentang hal-hal yang intim saja tidak pernah. Za pun masih sungkan jika harus menawarkan diri terlebih dahulu. Mustahil Fadhil tidak menginginkannya. 40 tahun membujang tentu hal yang sulit untuk mengendalikan diri ketika sudah menikah. Tapi ada apa dengan suaminya?
Kegusaran yang melanda dirinya tidak mungkin diceritakan pada Fatma. Apalagi tentang urusan ranjang. Za harus menjaganya dengan baik.
"Mbak duluan, Za!" ujar Fatma setelah melihat mobil suaminya berhenti di depan mereka.
Za hanya mengangguk pelan. Arah rumah mereka berlawanan dari bimbel. Jika tidak, maka Pak Irsyad sudah pasti menawari Za untuk pulang bersama.
Za kembali membuka ponselnya. Pesannya masih centang satu. Panggilan yang beberapa kali dihubungkan pun terputus. Ponsel Fadhil tidak aktif.
"Aneh sekali," gumam Za.
Dia pun memutuskan pulang dengan menumpang ojek online.
__ADS_1
Saat baru saja turun dari ojek, Za melihat mobil Fadhil masuk ke halaman rumah. Kesal, tentu saja Za sangat kesal dengan Fadhil. Jika suaminya itu tidak pernah menjanjikan akan menjemput, mungkin Za tidak akan sejengkel itu. Tetapi karena sudah terlanjur menunggu, nyatanya Fadhil tidak menjemputnya.
Za mengabaikan Fadhil yang turun dari mobil. Namun sesaat kemudian tatapannya terpaku pada seorang wanita yang turun dari mobil suaminya itu. Wanita cantik dengan dress selutut dan membawa tas tangan. Sekilas wajahnya mirip dengan….Safira.
Za mengalihkan pandangan sebelum tertangkap tengah memperhatikan wanita itu. Dia bergegas masuk ke dalam rumah setelah sempat kesulitan membuka kunci rumah karena kehilangan konsentrasi.
Kamar menjadi tempat tujuannya. Tak peduli siapa wanita tadi, dia hanya kesal pada Fadhil yang justru pulang dengan wanita lain bukannya menjemput dirinya.
Pintu kamar terbuka. Fadhil masuk ke kamar dan mencari charger handphone di dalam laci.
Beberapa saat kemudian terdengar hembusan nafas kasar.
"Maaf. Handphone Mas kehabisan baterei. Mas ke tempat les tapi kamu sudah pulang lebih dulu," terang Fadhil karena Za tidak menegurnya sejak dia masuk ke kamar.
Za pura-pura sibuk membuka jilbab dan membersihkan wajahnya. Tanpa mempedulikan ucapan Fadhil.
"Dia mamanya Safira. Tadi minta dijemput di bandara. Pesawatnya datang sedikit terlambat."
Lagi-lagi Za masih saja terdiam. Fadhil rela menjemput mamanya Safira ke bandara dan menunggu pesawat yang datang terlambat. Padahal jarak rumah ke bandara lebih jauh dari jarak bimbel ke rumah.
"Mas minta maaf. Bukan bermaksud mengabaikanmu. Tapi handphone Mas benar-benar mati."
"Iya," sahut Za sambil melepaskan cekalan Fadhil. Dia mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Sengaja dia berlama-lama di kamar mandi. Berharap agar saat keluar,Fadhil sudah tidak ada di dalam.kamar lagi. Namun rupanya perkiraannya salah, suaminya masih duduk di tepi ranjang menunggunya. Za yang lupa membawa baju ganti gugup bukan main. Handuknya tidak terlalu lebar. Hanya menutup sampai atas lutut.
Meski dengan perasaan canggung tak terkira, Za pura-pura abai dengan keberadaan Fadhil di dalam ruangan itu. Dia segera membuka lemari untuk mengambil baju ganti.
Cup! Za menggelinjang saat merasakan sentuhan bibir di bahu polosnya dan berubah menjadi gigitan kecil. Kemudian berpindah ke leher, hingga cuping telinga. Darah Zahidah berdesir hebat. Fadhil seringkali memeluknya,mencium pipi dan terkadang bibir, namun efeknya tidak sedahsyat saat lidah pria itu bermain di telinga Za.
Za mendesis menahan geli. Namun yang keluar dari bibirnya justru suara *******. Karena tangan Fadhil kini telah menyusup ka dalam handuk. Dua gunung kembar itu kini menjadi sasaran tangan nakalnya.
"M-Mas….!" Za mendesah lebih kencang.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu sekarang, Za." Ucapan itu seolah perintah yang hanya butuh dipatuhi. Za mengangguk pelan. Kekesalannya luntur entah ke mana.
Za mengalungkan lengan saat Fadhil menggendongnya menuju ke peraduan. Meski sempat gugup, namun perlakuan lembut Fadhil membuat Za merasa rileks. Sentuhan demi sentuhan dengan kalimat pemujaan membuatnya melayang.
Za mencengkeram punggung Fadhil saat merasakan sesuatu menghujam di bagian bawah tubuhnya. Nyeri, hingga tanpa terasa titik bening meluncur begitu saja dari sudut matanya.
"Sakit?"
Za mengangguk. "Sedikit."
"Tapi saya tidak bisa berhenti, Za."
"Tidak apa-apa, Mas."
Lambat laun, sakit itu berubah menjadi nikmat dan menuntut pengulangan.
"Mendesahlah, Za." ucap Fadhil saat Za menggigit bibirnya untuk menahan suara.
Beberapa lama kemudian suara erangan terdengar sebagai pertanda permainan telah usai. Fadhil menggulingkan tubuh ke samping setelah mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya.
"Terima kasih, Sayang."
Senyum tipis Za tersungging di bibirnya. Dia merangsek menyembunyikan diri di bawah lengan suaminya.
Pertama ternyata tidak sesakitkan yang dibayangkan oleh Za. Terlebih melihat wajah Fadhil yang terlihat lebih cerah. Jelas sekali jika lelaki itu tengah bahagia.
"Semoga nantinya tumbuh menjadi anak yang baik." Fadhil mengusap perut Za dari balik selimut. Cukup untuk menunjukkan jika Fadhil ingin segera buah hatinya dengan Za hadir ke dunia.
"Kamu tidak keberatan kan kalau Mas ingin segera punya anak dari kamu?"
Za menggeleng. "Nggak, Mas. Kapan saja di kasih, aku siap."
"Terima kasih." Fadhil mengusap rambut lebat Za lalu mengeratkan dekapannya.
__ADS_1
Percakapan mereka terhenti saat mendengar suara pintu kamar diketuk. Za menatap Fadhil heran. Karena di rumah itu hanya ada Safira yang tidak pernah mengganggu jika pintu kamar mereka tertutup.
"Kamu mandi dulu saja. Biar Mas yang lihat," ujar Fadhil.