
"Tadi mas ketemu Zara?" tanya Za seraya mengenakan jilbabnya.
"Ketemu. Mereka toba selisih beberapa menit sebelum Mas sampai di sana," sahut Fadhil.
"Ketemu suaminya juga?"
"Iya."
"Terus gimana reaksinya melihat Tante Sarah sudah sembuh?"
"Ya…nggak gimana-gimana," sahut Fadhil.
Za menghela nafas pelan. Sekian tahun Zara tidak pernah pulang menemui mamanya. Entah apa sebabnya. Namun tiba-tiba mereka memberi kabar akan pulang menjenguk Tante Sarah dan membawanya tinggal bersama di Bali.
"Tante Sarah sudah bilang nggak akan ikut Zara. Dia akan tetap di sini. Lebih nyaman dari pada ikut anaknya. Begitu katanya," jelas Fadhil.
"Nggak masalah, Mas. Cuma nggak enak saja sama Zara. Dia kan anaknya. Apa nnati nggak membuatnya salah paham?
"Kan dia sendiri yang mwngantar Tante Sarah ke sini," sahut Fadhil.
"Udah siap belum?" tanya Fadhil kemudian bermaksud mengakhiri perbincangan tentang Tante Sarah.
Za mematut diri sekali lagi. Perutnya sudah tampak menonjol di balik dress panjangnya. Semua bajunya bahkan sudah terasa sempit karena berat badan yang melonjak. Merasa tidak ada yang kurang, dia pun mengambil tasnya.
Setelah bulan lalu Alif absen bertemu ayahnya, hari ini mereka akan mengantar Alif untuk makan bersama Alex. Karena Za sebelumnya masih melarang mereka untuk bertemu.
"Ma, kata Papa nanti Al mau ketemu Ayah?" cicit Alif.
"Iya," jawab Za singkat.
__ADS_1
Fadhil sengaja membuat janji dengan Alex di kafenya. Setelah mengantar Tante Sarah pulang ke rumahnya. Kerena kedatangan anaknya, Zara.
"Ayah rumahnya di mana sih, Ma?" tanya Al kemudian.
"Di…sini," jawab Za setelah berpikir beberapa saat.
"Tapi kata Ayah rumahnya jauh. Naik mobilnya lama."
Za terdiam karena kedapatan berbohong. Sepertinya Alex sudah pernah memberitahu tempat tinggalnya.
"Ayah rumahnya ada di sini juga, Al. Tapi lebih sering tinggal di Bandung. Karena kerjanya di sana," jelas Fadhil.
Setiba di kafe, Fadhil menerima pesan dari Alex. Pria itu sudah menunggu beberapa menit yang lalu.
Hal yang paling membuat Al senang saat di ajak ke kafe karena dia bisa bermain di play ground. Bahkan anak itu hampir lupa tujuannya jika saja Fadhil tidak mengingatkan.
Anak itu pun menurut. Dia urung menuju ke playground untuk menemui ayahnya yang sudah menunggu di lantai dua.
Alex tampak melambaikan tangan saat melihat mereka datang. Lelaki 26 tahun itu sepertinya tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya. Dia beranjak dan menghampiri Alif.
"Ayah kenapa lama nggak datang?"
"Maaf. Ayah ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal," sahut Alex lalu mengajak Alif ke tempat duduknya.
"Terima kasiih Mas, Mbak. Sudah mengantar Al ke sini," ucapnya.
Fadhil dan Za tersenyum menanggapi ucapan Alex.
"Aku ke Safira saja ya, Mas," bisik Za.
__ADS_1
Fadhil mengangguk pelan. Karena mungkin Za tidak nyaman berdekatan dengan Alex. Lebih tepatnya akan cemburu melihat interaksi ayah dan anak itu. Apalagi Alex yang begitu pandai mengambil hati Al. Banyak mainan yang dia bawa hari ini.
Za menemui Safira yang baru saja keluar dari ruangannya di salah satu sisi lantai dua kafe itu.
"Mi? Di sini?"
"Iya. Sana Om Fadhil. Sama Al juga." Za menunjuk salah satu meja beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Itu temannya Om Fadhil?" tanya Safira saat melihat orang yang duduk satu meja dengan Fadhil. Za mengangguk.
"Ganteng banget."
Seketika Za menoleh mendengar Safira memuji Alex.
"Udah nikah belum, Mi?" tanya Safira kemudian.
"Udah punya anak," sahut Za.
"Yah, sayang sekali," ujar Safira dengan wajah kecewa. Lalu dia mengajak Za masuk ke dalam ruangannya.
"Mi, beneran temannya Om Fadhil tadi udah nikah?" cecar Safira masih tak percaya.
"Tanya sendiri sama Om Fadhil."
Safira mencebik. Lalu dia beranjak dan keluar dari ruangan itu.
Za pun mengikuti. Dia terbelalak saat Safira benar-benar menghampiri meja Fadhil. Namun Alex sudah tidak ada lagi di tempat pria itu duduk tadi. Setelah melongok ke bawah, rupanya Alex sedang mengajak Alif bermain. Meski berusaha ditepis, Za tak memungkiri jika ada rasa haru menyeruak. Pikirannya mulai berandai-andai. Jika saja Aira masih ada, pasti Alif lebih bahagia. Alex terlihat laki-laki yamg sangat penyayang.
Za menghela nafas kasar. Lalu menghampiri meja Fadhil karena rasa ingin tahunya tentang apa yang dibicarakan Safira dengan om-nya. Apa mungkin mengenai Alex. Karena sesekali Safira menatap ke playground. Secepat itukah Safira jatuh hati setelah 25 tahun lamanya menjomblo.
__ADS_1