
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Za karena Fadhil belum juga memberi tahu tujuan mereka.
"Beli perabotan. Atau kita mau lihat rumah dulu?"
"Rumah? Rumah siapa?"
"Rumah yang akan kita tinggali," sahut Fadhil. Sesaat kemudian, mobil melaju lebih kencang. Menjauh dari pusat kota melewati jalan beton. Za tidak tahu Fadhil akan membawanya ke mana.
Hingga 20 menit kemudian mereka sampai di pinggir kota dan masuk ke kawasan pemukiman yang terletak di perbukitan. Fadhil menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dua lantai. Cukup mewah untuk ukuran sebuah rumah tinggal. Terlihat jelas warna cat dominan putih yang masih baru.
"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Za.
"Ini rumah teman Mas. Masih baru beli pernah ditempati karena dia membeli hanya untuk investasi," jawab Fadhil. Lalu dia mengajak Za turun dari mobil untuk melihat isi dalam rumah.
Bau cat masih menguar tercium dari depan rumah. Fadhil membuka pintu pagar dengan kunci yang tadi dibawanya.
Rumah itu benar-benar kosong. Tidak ada perabotan sama sekali. Hanya ada beberapa ember bekas cat yang mungkin belum disingkirkan oleh tukang.
"Kamu suka?" tanya Fadhil saat mereka tiba di lantai dua. Dan melihat masing-masing kamar yang juga hanya berupa ruangan kosong.
"Suka sih, Mas. Tapi ini kan rumah orang."
"Kita akan membelinya."
"Hah?!" Za terperangah. "Mas, beli rumah itu uangnya nggak sedikit, loh. Enteng banget Mas ngomongnya."
Meskipun tidak bertanya, Za bisa menebak jika harga di rumah itu pasti di atas tiga digit. Dia tidak mau karena ketidaksukaannya akan sikap Lany membuat Fadhil justru terbebani. Baginya, jika Fadhil tidak mau tinggal dengan orang tuanya, mengontrak rumah pun tidak apa-apa. Asal dia tidak membuat Fadhil bertambah pusing. Karena selain menghidupi keluarganya sendiri, ada Safira yang kebutuhannya masih ditanggung oleh sang suami. Za memang tidak tahu seberapa banyak uang Fadhil. Selama ini dia hanya memakai seperlunya tanpa pernah mengecek isi saldo rekening Fadhil.
"Maaf kalau aku jadi merepotkan Mas," ucap Za lirih.
"Kok jadi minta maaf, sih?" sahut Fadhil tersenyum tipis. Dia pun melingkarkan lengan di bahu Za.
"Jadi begini, usaha teman Mas sedang mengalami masalah keuangan. Dia sampai kesulitan menggaji karyawannya. Lalu menawarkan rumah ini pada kita sejak beberapa hari yang lalu. Tapi Mas belum bisa memutuskan sebelum bicara sama kamu."
"Tapi kan rumah di sini mahal, Mas. Kalau mau beli rumah yang lebih murah dari ini kan banyak."
__ADS_1
"Bukan semata karena itu, Dek. Kita beli rumah ini sekaligus membantu teman Mas yang sedang butuh uang. Harganya masih wajar sesuai pasaran. Dan dia juga nggak minta cash keras. Kita bisa bayar bertahap tanpa bunga."
Za terdiam. Tetap saja judulnya akan berhutang. Dan Fadhil tetap harus menanggung sisa pembayarannya.
"Kalau kamu nggak setuju bayar bertahap ya kita bayar cash. Tapi tabungan kita mungkin hanya akan tersisa sedikit saja."
Tabungan kita? Za bahkan tidak berkontribusi apa-apa atas uang yang ada di dalam rekening Fadhil. Dan suaminya itu selalu menyebut tabungan kita. Betapa malunya Za ketika mendengarnya.
"Gimana? Kalau kamu ok, Mas akan minta orang untuk membersihkan rumah ini segera. Supaya besok bisa ditempati."
Semudah itu Fadhil memutuskan untuk membeli rumah. Hanya karena perasaan tidak nyamannya karena Lany memaksa untuk tinggal bersama mereka.
Za menghela nafas pelan. "Terserah, Mas."
"Jangan terserah, dong. Mas butuh dukungan kamu."
Za terdiam beberapa waktu. Sebelum akhirnya mengiyakan ucapan Fadhil.
"Tapi benaran nggak papa, Mas? Nggak ngontrak dulu aja?" ujar Za masih belum yakin.
Za manut-manut saja. Apalagi yang bisa dia perbuat. Menolak juga tidak akan berguna. Toh beli rumah memang tidak ada ruginya. Rumah yang mereka tinggali selama ini bukan sepenuhnya milik Fadhil. Mereka memang harus memikirkan tempat tinggal sendiri. Terbukti jika ada persengketaan yang terjadi. Meski sebenarnya hal itu bisa dicegah jika Za mau berbesar hati tinggal satu atap dengan Lany. Tapi Za memang tidak mau. Kelakuan Lany selalu saja memantik masalah. Dia juga tidak ingin suaminya setiap hari harus mendapat suguhan pemandangan yang menggoda iman. Bagaimanapun juga Fadhil adakah manusia biasa yang punya hawa nafsu.
Sesampai di sebuah toko perabotan rumah tangga, Za diberi keleluasaan memilih semua perabotan sesuai seleranya.
"Mas, kita beli semuanya sekarang?"
"Iya," jawab Fadhil meyakinkan.
Za menunjuk sebuah ranjang king size. Meski di rumah yang akan mereka tempati ada tiga kamar tidur, namun mereka hanya akan menempati satu kamar. Sisanya akan diisi kapan-kapan.
Semua perabotan serba minimalis telah dipilih oleh Za. Namun mereka harus menunggu rumah dibersihkan terlebih dulu sebelum barang-barang itu masuk ke rumah.
"Sudah ini saja?" tanya Fadhil melihat invoice yang baru saja diterimanya.
"Iya lah. Lainnya menyusul. Yang urgent dulu saja."
__ADS_1
"Ok. Nanti biar diurus semua sama tukang. Kalau belum bisa pindahan besok, lusa juga nggak masalah kan?"
Sebenarnya Za merasa berat untuk mengangguk. Tapi dia berusaha untuk bersabar menunggu tukang untuk membereskan rumah. Toh dua hari ini dia akan full mengajar. Lany juga pasti ke kantor. Mereka hanya akan bertemu sebentar pagi dan sore hari mungkin.
Menjelang sore, mereka tiba di rumah. Mobil Safira terlihat di depan rumah. Menunjukkan jika pemiliknya sudah pulang. Namun gadis itu memang lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Apalagi semenjak mamanya ada di rumah.
Za mengabaikan Lany yang ada di ruang tengah. Barang-barang milik wanita itu masih berantakan di dalam rumah. Di depan kamar yang bersebelahan dengan kamar Safira.
"Dhil!" panggil Lany saat Fadhil melintas.
"Aku butuh bicara sama kamu."
Fadhil terpaksa menghentikan langkahnya. Menunggu Lany bicara tanpa berniat membalik badan. Penampilan Lany bisa membuat Za cemburu jika sampai Fadhil melihat apalagi duduk di sebelah kakak iparnya.
"Aku minta maaf soal tadi," ucap Lany dengan wajah menyesal.
"Aku tidak mempermasalahkannya." sahut Fadhil lalu dia menaiki tangga meninggalkan Lany yang sebenarnya masih ingin bicara lebih banyak.
Di dalam kamar, Za mulai mengemasi pakaian mereka. Kali ini Fadhil tidak mencegahnya karena memang secepatnya mereka akan pindah.
"Lany bicara apa?" tanya Za yang tadi sempat mendengar Lany memanggil suaminya.
"Nggak ada. Cuma minta maaf," jawab Fadhil Tak acuh.
Dia mengambil koper yang lebih besar lagi di salah satu kamar kosong yang dipakai untuk menyimpan barang-barang bekas atau barang yang jarang dipakai. Dan kembali dia harus bertemu Lany karena ruangan itu ada di lantai bawah.
"Kamu mau ke mana, Dhil?"
"Pindah." Jawaban Fadhil membuat Lany tertegun sejenak.
"Harus pindah? Rumah ini kurang besar untuk ditempati kita berempat?"
"Sejak kapan kamu punya hak untuk mengatur kehidupan kami?"
Lany kembali dibuat bungkam oleh jawaban sinis Fadhil.
__ADS_1