Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Alya Hamil


__ADS_3

Sore ini, Za sengaja duduk di teras depan rumah. Hal yang selama ini tidak pernah dilakukan selama tinggal di rumah barunya. Dia hanya penasaran tetangga mana yang kata Fadhil sering mengawasinya. Karena memang dia belum mengenal penghuni rumah di samping kanannya dan juga depan rumahnya. Mereka mungkin orang-orang sibuk yang hanya ada di rumah saat pagi dan sore hari.


Sepertinya Fadhil hanya mengada-ada. Pagar rumahnya dan juga rumah tetangga yang tinggi tidak memungkinkan untuk mengintip ke rumah tetangga. Bahkan dengan berjinjit kaki sekalipun. Namun saat Za mendongak ke atas, dia mendapati seorang laki-laki berdiri di balkon rumah tengah menatap ke arahnya. Laki-laki yang Za taksir seusia dengannya itu melempar senyum ke arahnya. Za refleks mengangguk ramah. Dia memang belum kenal siapa tetangga depan rumahnya.


Namun tiba-tiba, senyum di wajah pria iitu sitna. Perlahan dia mengambil langkah masuk ke dalam rumah.


"Sengaja cari perhatian?" Suara berat itu membuat Za menoleh ke arah pintu rumahnya. Fadhil berdiri di depan pintu itu entah sejak kapan.


"Siapa yang cari perhatian?" jawab Za membela diri.


"Terus ngapain kamu duduk di sini? Biar dilihat sama tetangga?"


Za justru tersenyum geli melihat wajah masam Fadhil. "Ya, lagi pingin aja. Masa iya orang harus di dalam rumah terus. Sesekali duduk di teras sambil ngeteh kan nggak apa-apa. Toh di rumah sendiri ini." Za sengaja memancing Fadhil.


Dia beranjak dari kursi lalu masuk ke dalam rumah sebelum.Fadhil membalas ucapannya. Rasa penasarannya sudah tuntas. Ternyata tetangga depan rumah yang menjadi stalker.


"Mau ngeteh juga, Mas?" tanya Za melihat wajah Fadhil yang masih ditekuk.


"Kenapa sih, Sayang?" tanyanya lagi sambil mengusap wajah suaminya yang ditumbuhi bulu halus.


"Apa, Za? Nggak dengar. Coba ulang!" sahut Fadhil.


"Mas kenapa cemberut begini?"


"Bukan itu. Ulangi yang tadi!"


"Yang mana, sih? Kenapa…Sayang?"


Za mengernyit melihat Fadhil tersenyum lebar. Mungkin karena selama menikah, baru kali ini Za memanggil sayang pada suaminya. Dan ternyata efeknya luar biasa. Mood suaminya melonjak seketika. Fadhil tak lagi berwajah masam seperti saat masuk ke rumah tadi. Sepertinya harus membiasakan diri dengan panggilan baru itu.


"Mas!"


"Hmm?"


"Udah ya gelendotannya, aku mau masak," ujar Za karena Fadhil sejak tadi tidak berniat mengangkat kepala dari pangkuannya.

__ADS_1


"Nggak usah masak. Mas mau ngajak kamu ke rumah Ibu. Bian nggak jadi datang ke sini. Alya seharian muntah-muntah terus katanya," sahut Fadhil yang akhir-akhir ini memang begitu sibuk dengan proyek bisnis baru dengan Bian.


"Hah?! Seriusan? Jangan-jangan….Alya hamil." tebak Za.


"Harus sampai kaget gitu? Mereka sudah menikah. Apa masalahnya kalau Alya hamil?"


"Bukan gitu, Mas. Mereka itu berencana punya anak setelah Alya lulus. Kok malah jadi sekarang."


"Nanya rezeki nggak ada yang tahu. Ayo siap-siap. Kita ke sana sekarang aja."


"Begini saja kan nggak papa. Cuma ke rumah Ibu, kan?" sahut Za yang sudah mengenakan piyama, panjang dan kerudung rumahan.


Fadhil pun mengangkat kepalanya. Lalu mengambil kunci di kamar atas.


Sepanjang jalan Za tak berhenti bercicit. Membayangkan jika tebakannya benar. Alya pernah bilang jika dia belum siap untuk mempunyai anak dalam waktu dekat. Mengingat pernikahan mereka pun sangat mendadak. Tapi jika sudah saatnya mendapat titipan, siapapun tak bisa menolak. Baru sebulan Bian di rumah, Alya sudah hamil.


Jika benar itu terjadi, ibunya pasti menjadi salah satu orang yang sangat bahagia. Karena keponakan yang sudah dianggapnya sebagai anak akan segera memiliki momongan. Apalagi ibunya Alya, dia pasti akan menyambut bahagia calon cucunya.


Sedang dia, Za membuang nafas kasar. Kenapa justru dia sendiri yang kini membandingkan dirinya dengan Alya. Za mengusap perutnya perlahan. Dia menoleh saat tangan kekar turut mengusap perutnya.


"Nggak kenapa-kenapa, Mas." Jawaban yang diucapkan untuk menutupi kegundahannya.


"Kalau Alya hamil dia pasti disayang banyak orang. Mas Bian, Ibu, Ayah, Ibu sama Ayahnya Alya."


"Kamu cemburu?"


Za tersenyum hambar. "Nggak lah, Mas."


Za bergegas turun saat mobil berhenti di depan rumahnya. Dia menghambur masuk ke dalam rumah mencari sosok yang bisa ditanya mengenai Alya. Dari arah dapur, dia melihat ibunya sedang membawa jus buah.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam. Kok nggak bilang kalau mau ke sini? Ibu belum masak."


"Nggak papa. Nanti Za bantu masak," jawab Za. "Mas Bian ke mana, Bu?"

__ADS_1


"Di dalam. Alya dari pagi nggak enak badan. Alhamdulillah, Ibu mau punya cucu. Alya hamil, Za."


Benar dugaan Za. Senyumnya pun mengembang melihat raut bahagia yang terpancar dari wajah ibunya. Meski bukan menantu kandungnya, ternyata sebahagia itu ibunya menyambut calon anak Bian.


"Ibu mau ngantar minum dulu buat Alya. Kasihan dia dari pagi nggak mau makan. Mual-mual terus."


Za mengangguk lalu dia mengekor ibunya masuk ke kamar Bian. Alya tampak terbaring di pangkuan Bian. Meski Za pun selalu mendapat perlakuan sama dari suaminya rasanya tetap saja iri melihat mereka.


"Selamat ya, Mas. Alya," ucap Za sembari duduk di tepi ranjang.


Alya tersenyum di balik wajahnya yang lesu. Bahkan untuk menegakkan kepala saja terlihat enggan. Sehingga Bian harus menopangnya saat hendak minum. Untung saja Bian sesabar itu. Tidak hanya Bian, Bu Rahma juga begitu telaten memegang gelas menunggu Alya selesai minum. Jika sudah seperti ini keadaannya, rencana Bian untuk membawa Alya pindah ke rumahnya pasti akan dicegah.


"Sudah?" tanya Bu Rahma setelah Alya berhenti menghisap pipet.


Alya pun mengangguk pelan. Sesaat kemudian, dia kembali mual. Za meringis melihat reaksi Alya setelah minum. Ternyata hamil tidak seperti yang dia bayangkan. Za dapat merasakan bagaimana menderitanya Alya saat ini. Tidak ada makanan yang masuk karena selalu mual. Tangannya pun kemudian terulur mengusap bahu istri sepupunya itu.


Di meja kecil yang ada sudut kamar, Bu Rahma meletakkan gelas yang isinya hanya berkurang sedikit. Banyak makanan berjajar di sana. Tak lama kemudian ibunya Alya muncul membawa sebuah mangkok.


"Cobain, Ya. Ibu bikin sup jagung kesukaan kamu," ujar wanita berkacamata itu. Namun Alya masih ogah-ogahan menjawab.


"Nanti aja, Bu. Takut mual lagi. Kasihan Mas Bian dari tadi bersihin bekas muntahan Alya."


"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu begini kan karena Mas Bian," sahut Bian dengan lembut. "Dicoba dulu ya, Mas suapi sedikit-sedikit."


Alya mengangguk pelan. Dengan sigap Bu Rahma menyusun bantal untuk sandaran punggung Alya.


"Makasih, Bulek," ucap Alya karena merasa sungkan semua begitu perhatian padanya.


"Ya wis. Kamu makan dulu ya, selagi masih hangat supnya," ujar Bu Rahma.


Mereka pun keluar dari kamar agar Alaya merasa nyaman berdua saja bersama suaminya. Makan dengan di perhatikan banyak orang pasti akan membuat Alya gugup meski mereka bukan orang lain.


"Kasihan Alya," gumam Za saat dia tengah duduk bersama ibunya.


"Bawaan orang hamil itu beda-beda. Ibu dulu waktu hamil kamu justru yang sering mual ayahmu," sahut Bu Rahma.

__ADS_1


"Besok kalau Za hamil, kamu saja yang mual ya, Mas," ujar Za pada Fadhil yang duduk di sebelahnya. Namun Fadhil tak lekas menyahut karena sedang sibuk dengan ponselnya.


__ADS_2