Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Meminang


__ADS_3

Za masuk ke sebuah kafe. Dia mencari tempat duduk yang jauh dari lalu lalang orang. Sembari menunggu orang yang akan diajaknya bertemu, dia memesan minuman lebih dulu.


Beberapa menit menunggu, Za mulai gelisah dan berkali-kali melihat jam di handphonenya. Meski dia sudah berpamitan pada Fadhil untuk bertemu dengan temannya, namun jika terlalu lama pasti Fadhil akan berisik menghubunginya. Apalagi akhir-akhir ini suaminya itu terlalu protektif dengannya. Tidak pernah membiarkannya pergi sendirian. Namun kali ini, dengan izin yang berbelit-belit, Za berhasil pergi sendiri. Karena Fadhil pun ada urusan penting terkait pekerjaannya.


Seorang wanita berjalan tergesa-gesa ke arah meja yang dipesan Za. Bahkan suaranya terdengar begitu nyaring.


"Maaf, aku tadi ada pekerjaan yang deadline hari ini," ucap wanita itu.


"Nggak apa-apa, Mbak," sahut Za.


Za memanggil waitress dan mempersilahkan Lany memesan minuman.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Soal Safira?" tanya Lany setelah memesan minum.


Za menggeleng. "Bukan, Mbak," sahutnya.


Selama ini hubungan Za dan Lany sudah mencair. Bahkan Za juga berhasil membuat hubungan Safira dan ibunya membaik. Meski butuh waktu berbulan-bulan. Namun usaha kerasnya tidak sia-sia. Safira sudah mau sesekali menginap di rumah Lany.


"Lalu?"


Za berdehem pelan sebelum menjawab. Mengusir rasa yang sulit untuk diungkapkan. Setelah sekian lama memohon dan meminta petunjuk, Za pun akhirnya membulatkan niatnya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu sebesar apa cinta Mbak Lany untuk Mas Fadhil?"


Lany terperangah mendengar pertanyaan dari Za. Dia menatap serius wajah istri Fadhil yang juga tengah menatapnya.


"Kamu menanyakan hal yang jawabannya akan menyakitimu," sahut Lany setelah beberapa saat diam.


"Aku sudah mempersiapkan diriku berbulan-bulan untuk mendengarnya, Mbak," balas Za.


Lany menipiskan bibirnya, getir. Sebuah hal yang terlalu berat untuk diungkapkannya. Yang selama ini dia simpan sendiri.


"Fadhil, pria yang paling baik yang pernah kutemui. Tapi demi menuruti ambisi orang tuaku, aku menerima perjodohan dengan laki-laki yang tanpa kuketahui dia adalah saudara kandung Fadhil." Lany menjeda kalimatnya dengan hembusan panjang.


"Aku….berusaha membuat Fadhil membenciku. Aku berhasil, tapi rasa bersalah itu terus saja merongrongku. Sementara aku tidak bisa lepas dari ikatan pernikahan dengan Mas Farhan. Hingga aku berbuat semauku agar semua membenciku. Orang tuaku, orang tua Mas Farhan bahkan mungkin Fadhil juga membenciku. Satu-satunya orang yang masih mau bersikap baik adalah suamiku. Meski dia tahu aku tak pernah mencintainya."


"Bahkan, lahirnya Safira tidak mampu meluluhkanku. Aku terlalu keras kepala. Aku justru menganggap kelahiran Safira menjadi penghalang lepasnya aku dari Mas Farhan. Aku…benar-benar ibu yang jahat. Semua hanya karena aku berusaha agar bisa kembali dengan Fadhil. Meski itu bukan hal yang mungkin."


Lany mengambil selembar tisu untuk menyusut sudut matanya. "Maaf kalau apa yang kuungkapkan ini akan membuatmu sakit. Tapi itu hanya masa lalu. Aku tahu siapa Fadhil. Dia tidak akan mudah berpaling jika sudah menjatuh pilihannya pada wanita."


"Maaf. Tadi kamu mau bicara apa soal pertemuan kita?" tanya Lany kemudian karena Za justru terbawa suasana dan tampak menatapnya iba.


"Aku…ingin meminta tolong padamu. Aku ingin kita bekerja sama."

__ADS_1


Lany mengerutkan dahinya. "Bekerja sama untuk apa?"


"Untuk membahagiakan Mas Fadhil," sahut Za yang membuat Lany semakin bingung.


"Menikahlah dengan Mas Fadhil dan lahirkan anak untuknya," jelas Za kemudian.


"Maksudnya…..kamu…"


"Ya. Saya tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Fadhil," pangkas Za dengan senyum getirnya. "Aku tahu usia Mbak Lany tidak muda lagi. Tapi bagaimana pun juga kalian pernah saling mencintai. Tidak sulit sepertinya menumbuhkan rasa yang mungkin masih saja ada dalam hari Mas Fadhil. Lagi pula sedikitnya aku sudah tahu bagaimana Mbak Lany begitu tulus memperlakukan Mas Fadhil," lanjutnya.


"Nggak, nggak. Aku nggak bisa, Za. "Aku minta maaf kalau dulu pernah menyakitimu. Tapi aku nggak akan mengulanginya lagi. Harus berbagi hati itu menyakitkan Za. Kamu bisa saja sekarang mengatakan siap. Tapi saat harus melihat suamimu berada di kamar istri lain, pasti itu sangat menyakitkan. Aku yakin kamu mengatakan ini semua tanpa sepengetahuan Fadhil," sahut Lany.


Lany benar. Bahkan Za juga belum memberitahukan permasalahan kesuburan yang dialaminya dengan Fadhil. Pikirannya terlalu kacau hingga dia memutuskan sendiri jalan keluar yang menurutnya terbaik. Sekalipun harus berbagi suami dengan wanita lain. Saat ini prioritasnya adalah membahagiakan Fadhil. Setelah semua kebaikan yang diterima dari sang suami.


"Aku akan membicarakan ini dengan Mas Fadhil. Tetapi sebelumnya aku mohin kesediaan Mbak Lany untuk mau menikah dengan Mas Fadhil. Tanpa berniat akan mengambil dia seutuhnya. Karena aku sudah terlanjur menjatuhkan hati terlalu dalam padanya."


"Za…."


"Aku memaksa, Mbak," pangkas Za lagi.


Lany menghela nafas panjang. "Terserah kamu. Aku yakin Fadhil akan menolak keinginanmu itu. Dan tolong jangan samaoai Faddhil salah paham sehingga dia mengira aku yang memintanya."

__ADS_1


Za menipiskan bibirnya. "Tenang, Mbak."


__ADS_2