
"Mas!"
"Ya?" Fadhil menyahut panggilan Za mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
"Mbak Lany biasanya berapa hari tinggal di sini?"
Fadhil menipiskan bibirnya. Lalu merengkuh bahu Za agar istrinya itu mendekat
"Kenapa? Kamu nggak nyaman ada dia di rumah ini?"
Za segan untuk membenarkan ucapan Fadhil. Bagaimanapun juga Lany lebih dulu masuk di keluarga Fadhil. Bahkan hingga 12 tahun menjadi janda, Lany tidak menikah lagi. Bagi Za, hal itu cukup menunjukkan seberapa besar cinta Lany pada mendiang suaminya.
Lalu pantaskah dia yang belum genap sebulan menjadi bagian keluarga itu menaruh rasa tidak suka pada Lany? Namun sikap Lany memang membuat Za merasa tidak nyaman. Meski di rumah, tidak sepantasnya Lany berpakaian serba minim. Mengingat di rumah itu ada laki-laki dewasa yang bukan mahrom. Kaki jenjang Lany yang putih bersih tanpa cela sangat mungkin menarik perhatian laki-laki. Apalagi ukuran dada yang cukup besar tentu sangat menggoda pandangan lawan jenisnya. Belum lagi sikap Lany yang seolah mendominasi setiap sisi rumah itu. Terutama saat di dapur dan meja makan. Za memang mengakui jika kemampuannya memasak jauh dari Lany. Sehingga dia khawatir suaminya akan condong menyukai masakan Lany yang berakhir…. Za tidak akan rela jika sampai Fadhil menyukai wanita lain.
"Apa dia biasa berpakaian seperti itu saat di rumah? Mas tidak pernah tergoda?" Za tidak menutupi perasaannya yang dipenuhi kekhawatiran.
"Nggak mungkin kalau nggak tergoda kan , Mas. Mata laki-laki kan suka melihat yang terbuka. Apalagi dia cantik," ujar Za lagi tanpa menunggu jawaban Fadhil.
"Benar kan, Mas?" cecar Za lagi.
"Ya….Mas kan laki-laki normal," sahut Fadhil tanpa rasa bersalah.
"Tuh, kan. Laki-laki di mana-mana sama saja. Nggak bisa jaga pandangan."
"Kok jadi Mas yang disalahin. Namanya satu rumah. Mana mungkin Mas jalan sambil merem."
Za mendecakkan lidahnya kesal. Bukan sepenuhnya salah Fadhil juga. Tapi Lany lah yang seharusnya menjaga marwahnya apalagi dia seorang janda. Namun wanita itu sepertinya justru sengaja mengumbar auratnya.
Saat Za membuka pintu kamar karena kesal dengan Fadhil, dia justru disuguhi pemandangan yang semakin membuatnya bertambah kesal. Lany masuk ke kamar sebelah dengan celana yang sangat pendek mengekspos sebagian besar paha mulusnya dan kaos tanpa lengan dengan dua bukitnya yang menantang. Za jadi ragu apakah selama ini Fadhil.kuat menahan diri jika melihat penampilan Lany seperti itu. Rentang waktu bertahun-tahun tentu Lany kerap berkunjung ke rumah itu.
Za kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah dilipat.
"Mau ngapain, Mas?" tanyanya melihat Fadhil mengambil baju fitness.
"Nge-gym."
"Nggak usah."
"Kenapa?" tanya Fadhil heran. Kamu beneran mau bikin program penggendutan?"
__ADS_1
"Nggak. Pokoknya nggak usah nge-gym pagi ini. Kita olah raga di kamar saja."
Fadhil mengangkat sebelah alisnya. Kabar bahagia tentunya. Dia mengembalikan baju yang ada di tangannya ke dalam lemari.
Serta merta dia mengangkat tubuh Za membuat istrinya itu memekik.
"Mas mau ngapain?!"
"Olahraga, kan?"
Za keliru. Menahan Fadhil untuk tidak keluar kamar, namun dia justru harus menjadi mangsa untuk kedua kalinya setelah subuh tadi. Tenaga Fadhil seolah tidak ada habisnya. Membuat Za merintih karena desakan adik kecilnya. Dan rambut hitam lebat itu menjadi sasaran Za saat badai datang menghantamnya. Diiringi erangan Fadhil yang menyusulnya.
"One more?"
"Capek, Mas." gerutu Za sambil menaikkan selimutnya. Fadhil pun terkekeh.
"Mandi, ya? Kita cari sarapan di luar," ujarnya sambil beringsut turun dari ranjang.
Za menghela nafas pelan. Lututnya bahkan masih terasa begitu lemas. Jangankan berjalan ke kamar mandi, berdiri saja dia belum sanggup.
Sengaja Za membiarkan Fadhil mandi lebih dulu. Karena jika dia ikut masuk, dipastikan serangan ketiga pagi ini pasti akan diterimanya.
"Hei! Kalian mau jalan?" sapanya.
"Mau cari sarapan. Kamu tidak usah masak terlalu banyak," sahut Fadhil.
"Boleh ikut? Lagi mager juga buat ke dapur."
Za mengeratkan genggamannya pada lengan Fadhil. Untunglah suaminya itu peka.
"Pergi sendiri saja, Lan. Ada motor. Kami mau ke rumah Ayah Ibu juga," tolak Fadhil membuat Za menoleh ke arahnya seketika. Karena Fadhil tidak pernah mengatakan hari ini akan berkunjung ke rumah orang tua Za.
"Nggak masalah. Nanti aku pulang naik ojek juga nggak papa. Tunggu sebentar, ya? Please!"
Entah karena berniat mengacaukan rencana mereka atau karena Lany tidak peka dengan penolakan Fadhil. Wanita itu menaiki tangga menuju salah satu kamar di lantai dua. Kamar yang dulu dipakainya saat suaminya masih ada.
Beberapa menit kemudian wanita itu berlari menuruni tangga. Penampilannya tak jauh membuat Za geregetan. Rok pendek dan kaos ketat.
Za membuang nafas kasar. Bahkan penampilan anaknya jauh lebih baik. Untung saja Safira tinggal bersama Fadhil. Meski hubungannya sebatas paman dan keponakan, tetapi Fira menurut ketika Fadhil mulai menyuruhnya menutup kepala dengan hijab.
__ADS_1
"Ayo! Kok bengong."
Zia melangkah gontai menggandeng lengan Fadhil. Selera makannya sudah hilang dari sejak Lany mengatakan ikut pergi bersama mereka.
"Belakang, Lan!" kata Fadhil saat Lany hendak membuka pintu depan.
"Oh, sorry. Kebiasaan," sahut Lany sambil tersenyum.
Kata kebiasaan membuat dahi Za mengernyit. Benaknya semakin bertanya-tanya kemungkinan Lany sering bepergian dengan Fadhil saat wanita itu menjenguk anaknya.
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Za mengunci rapatulutnya sementara Lany terus saja mengajak bicara Fadhil seolah di dalam mobil itu hanya ada mereka berdua.
"Mau makan apa, Dek?" tanya Fadhil pada Za.
"Ngikut aja, Mas," sahut Za.
"Soto, gimana?" Lany menimpali.
Namun Za tak menyahut. Seenak apapun makanan, saat ini Za hanya ingin segera pergi ke rumah orang tuanya.
Fadhil mencari tempat parkir setibanya di kedai soto. Karena pengunjung yang begitu ramai. Namun kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh Za.
"Bungkus aja, Mas. Tempatnya penuh."
Fadhil mengiyakan. Tak peduli saat Lany memprotesnya karena dia ingin makan di tempat.
"Kamu kalau mau makan di sini nggak apa-apa. Toh pulangnya kan naik ojek," ujar Fadhil.
Terlihat wajah kesal Lany. Dalam hati Za bersorak. Dia memilih menunggu di mobil saat Fadhil memesan soto.
Tak berselang lama, Fadhil datang membawa tas plastik berisi dua bungkus soto.
"Mau dimakan di rumah Ibu?" tanya Fadhil.
"Nggak. Aku nggak mau makan soto," sahut Za dengan kesal.
"Nggak mau kenapa tadi pesan minta dibungkus?" tanya Fadhil heran.
"Nggak kenapa-kenapa. Ayo jalan. Aku mau makan di rumah saja. Ibu tadi masak rawon katanya."
__ADS_1
Fadhil menghela nafas panjang. Dia meletakkan bungkusan plastik itu di jok belakang. Kemudian menginjak pedal gas.