
"Dari mana, Ya?" tanya Za pada Alya yang baru saja turun dari boncengan motor Bian.
"Dari dokter terus mampir ke sini. Tadi pingin dimasakin Bulek garang asem."
Za tersenyum kecut. Ibunya begitu perhatian. Bahkan pada Alya sekalipun. Ternyata garang asem yang dimakannya tadi dimasak atas permintaan Alya.
"Sehat kan, Ya?" Za mengusap perut Alya yang sudah terlihat membuncit.
"Alhamdulillah. Semoga cepat menyusul ya, Mbak. Jangan ditunda-tunda."
Kembali Za hanya bisa tersenyum. Entah bagaimana senyumnya kali ini. Pasti tidak enak dilihat. Terbukti oleh celetukan Bian.
"Roman-romannya lagi galau nih adiknya Mas Bian."
"Sok tahu!" bantah Za. Dia pun masuk ke dalam rumah menyusul Alya. Sebelum Bian mengintrogasinya.
Selayaknya anak sendiri, ibu Za menyiapkan makan untuk Alya. Ada rasa perih entah karena apa yang menyelinap dalam hati Za. Iri, mungkin semacam itu. Iri diperlakukan seperti Alya. Diusap perutnya sambil memanjat doa. Za buru-buru menepisnya. Meski ternyata tidak mudah. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang sensitif.
Za memilih duduk di sofa. Berusaha mengabaikan ibunya dan Alya. Meski dengan jarak meja makan dan sofa ruang tengah yang tidak seberapa jauh, dia masih menangkap suara ibunya berbincang dengan Alya. Tidak ada yang aneh dengan obrolan mereka. Sikap baik ibunya pun bukan hal yang baru. Namun fmampu membuat Za uring-uringan sendiri. Dia mengambil kunci motor lalu pergi ke depan.
"Za!" panggil Bian yang baru keluar dari kamarnya. "Fadhil telpon, nih! Kamu pergi nggak pamit? Dia kelabakan nyariin kamu," ujarnya lagi.
"Tau ah!" sahut Za ketus sambil berlalu mengabaikan Bian.
"Itu anak kenapa, sih?" gumam Bian heran dengan Za yang bersikap aneh.
Za mengendarai motor tanpa tujuan. Menyusuri gang demi gang komplek perumahan itu.
Sebuah motor menyejajari laju kendaraannya yang pelan. Za menoleh. Pengendara motor sport yang berjalan di sampingnya membuka helm full face-nya.
"Jangan jauh-jauh, Za. Nanti ilang!"
Za mencebik. Entah kapan Ghani bisa sedikit saja serius.
"Mau ke mana, Za?" tanya Ghani lagi.
"Makan bakso," jawab Za asal. Karena dia sebenarnya tidak punya tujuan. Apalagi makan bakso, selera makannya saja entah menghilang ke mana.
"Butuh teman, nggak? Makan sendirian nggak enak, loh."
"Modus!" sahut Za ketus. Namun dia membiarkan Ghani mengekorinya karena bunyi klakson pengemudi lain yang memperingatkan mereka.
Sesampai di warung bakso, Za memarkir motornya di tempat yang sepi karena di depan warung bakso berjejal motor yang parkir.
__ADS_1
Mengabaikan Ghani, dia masuk lebih dulu memesan dua mangkok bakso dan dua air putih.
"Udah pesan, Za?" tanya Ghani saat Za mencari tempat duduk.
Sebuah tempat duduk yang terletak di bagian dalam satu-satunya yang tersisa. Mereka pun menuju ke meja itu.
Ghani melepas jaket kulitnya menyisakan baju kemejanya yang masih rapi meski dia baru pulang kerja. Kerja di sebuah lembaga keuangan memang menuntut Ghani untuk selalu tampil licin. Apalagi pekerjaannya sebagai frontliner.
"Kusut banget, Za?" Tebakan yang sangat tepat dari Ghani.
"Lapar."
"Makanya belajar masak, Za. Biar nggak harus nunggu ibumu masak kalau mau makan."
"Enak aja. Aku sudah bisa masak asal kamu tahu ya, Mas," sahut Za tak terima.
"Syukurlah. Bukan apa, takut suami kamu kabur kalau istrinya nggak bisa masak."
Za tahu, Ghani sedang bercanda. Tapi tetap saja terdengar menyentil. Mungkin Fadhil tidak akan lari karena Za tidak bisa masak. Namun bisa saja hal itu terjadi karena… Za mengusir pikiran buruk yang melintas.
"Makan, Za!" Ghani menggeser mangkok panas ke depan Za.
Aroma kuah bakso yang tercium menggoda lidahnya. Za menambahkan banyak sambal dan juga saos tak terkira. Ghani sampai menggeleng melihatnya.
Za tak membantah. Dia tidak menghitung berapa sendok sambal yang dia masukkan ke mangkoknya. Hanya saja kuah bening itu telah berubah menjadi merah kecoklatan saat dia mengaduknya.
"Hah! Pedas banget, Mas." Wajah putih Za mendadak berubah merah kepedasan.
"Lah kamu ngasih sambal nggak kira-kira. Tukar sama punya Mas Ghani, nih!"
"Ini pedes banget, Mas. Beneran."
Ghani mencicipi kuah bakso dari mangkok Za. "Gila kamu, Za. Sini campur aja nanti bagi dua."
Ide konyol Ghani pun diterima oleh Za. Mereka mengoplos dua mangkok bakso itu hingga pedasnya menjadi berkurang. Jangankan hanya mencampur bakso yang belum mereka makan, makan satu piring pun hal biasa bagi mereka. Namun itu dulu saat mereka masih kecil.
Sambil berceloteh, mereka menikmati bakso dengan sensasi rasa pedas luar biasa. Seolah Za melupakan masalahnya sejenak. Karena Ghani yang suka membanyol.
"Aduh!" Za menepuk dahinya.
"Kenapa, Za?"
"Lupa bawa dompet, Mas," sahut Za sambil nyengir. "Bayarin ya, Mas?" ucapnya lagi dengan wajah memelas.
__ADS_1
Ghani menghela nafas pelan. "Untung tadi aku ikut kalau nggak bisa disuruh cuci mangkok kamu, Za."
Za terkekeh membuntuti Ghani yang hendak membayar bakso. Bukan apa-apa, karena untuk membayar parkir pun dia tidak membawa uang. Berjalan di belakang Ghani adalah pilihan paling aman. Karena pasti Ghani akan membayar parkir dobel juga.
Za melaju lebih dulu di susul oleh Ghani. Jalanan sore saat jam pulang kerja begitu padat. Jika sedang baik-baik saja, Za pasti enggan pergi berjubelan di jalan. Namun suasana rumah sedang membuatnya tidak nyaman. Bukan salah siapa-siapa. Hanya dia yang belum bisa berdamai dengan keadaan.
"Za, Mas Ghani mau beli martabak dulu. Tadi Alya pesan. Katanya dia lagi di rumah," Ghani berseru dari balik helmnya.
Za tak menyahut. Semua perhatian sepertinya sedang tertuju pada Alya. Ghani yang tadi sempat membuatnya sedikit terhibur kini berubah menyebalkan baginya.
"Kamu mau beli sekalian, nggak?"
"Nggak! Aku mau es coklat," sahut Za ketus.
"Biasa aja mukanya nggak usah dijutek-jutekin," balas Ghani lalu dia kembali memposisikan motornya di belakang Za.
Penjual martabak langganan keluarga Ghani tentu Za sudah sangat paham. Dia menghentikan motornya di depan sebuah mini market. Menunggu Ghani yang sedang memesan martabak. Karena dia akan menagih tetangganya itu untuk membelikan es coklat yang gerobaknya tidak jauh dari penjual martabak.
"Dua ya, Mas," rayu Za.
"Jangankan cuma dua, Za. Sama gerobaknya saja Mas Ghani beliin," sahut Ghani. "Gantian besok kamu yang jualan. Nyetor ke Mas Ghani."
"Asem!"
Dua cup es coklat sudah di tangan. Tapi antrian martabak masih mengular. Za terpaksa ikut menunggu karena dia sebenarnya malas untuk ikut pulang.
Za menyeruput es coklatnya sambil menunggu martabak selesai dibuat.
"Tumben kamu keluyuran sendiri, Za. Lagi galau?"
Setelah melewati sekian puluh menit dan beratus meter jarak pertanyaan itu terlontar dan membuat Za terdiam. Apa mungkin wajahnya begitu kentara jika dia sedang menyimpan masalah?
"Lagi mau aja, Mas. Mas Ghani nggak ngerasain jadi ibu rumah tangga itu membosankan," sahut Za sekenanya.
"Puas-puasin deh, Za. Nanti kalau sudah punya anak nggak bakalan bisa pergi-pergi sendiri."
Ze kembali terdiam. Mungkin siklus hidup memang seperti itu. Lahir, tumbuh dewasa, menikah, punya anak, tua, meninggal. Seolah semua fase harus dilalui.
"Sok tahu jamu, Mas. Nikah aja belum," sahut Za bersikap seolah dia baik-baik saja.
"Nikah, Mas. Keburu tua nanti nggak ada yang mau sama kamu."
"Cowok sih santai, Za. Suami kamu saja bisa dapetin kamu yang jauh lebih muda," jawab Ghani seolah tanpa beban. Namun tidak demikian dengan wajahnya.
__ADS_1