Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Pindah


__ADS_3

"Maaf kalau selama ini Safira merepotkan Om. Safira sekarang sudah kerja, janji nggak bakal minta uang jajan banyak-banyak lagi. Nggak keluyuran lagi. Tapi Om jangan pergi dari sini. Ini rumah kita." Safira menangis sesenggukan saat Fadhil dan Za mengatakan jika mereka akan pindah dari rumah itu.


Setelah ayahnya meninggal, dia menggantung hidupnya pada om-nya. Tidak hanya materi, tetapi Safira juga mendapat kasih sayang seorang ayah dari Fadhil. Bahkan sayangnya Fadhil jauh lebih besar dari ayahnya. Tentang ibunya, Safira merasa heran karena kehadirannya seolah tidak dikehendaki. Ibunya bekerja di luar kota sejak dia masih balita. Sehingga kedua dia hanya akan bertemu ibunya seminggu sekali. Bahkan sejak ibunya pindah ke Surabaya, sebulan sekali baru bisa melihat wajah ibunya.


Dia tak pernah ditanya apa saja kebutuhannya, bagaimana sekolahnya, bahkan saat sakit oun justru Fadhil yang menjaganya. Mendapatkan kasih sayang seorang ibu seolah sesuatu yang begitu sulit dia dapatkan.


Belum genap sebulan dia mendapatkan perhatian Za, kini keputusan Fadhil untuk pindah dari rumah itu tentu saja sebuah hal yang mengejutkan dan menyedihkan. Dai harus tinggal dengan orang yang selalu menginginkan Safira sesuai kehendaknya.


"Kita masih tinggal di kota yang sama, Fir. Kamu masih bisa main ke rumah Om kapan pun kamu mau. Di sini masih ada mamamu. Kamu nggak tinggal sendirian. Om juga nggak pernah mempermasalahkan uang jajanmu. Kalau pun sekarang kamu sudah kerja, uang jajanmu tetap utuh. Gajimu bisa kamu tabung," balas Fadhil.


"Sudah jangan nangis. Tante Za jadi ikutan nangis, tuh." Sebelah tangan Fadhil menggapai bahu Za yang sejak tadi diam namun matanya berkaca-kaca.


Meski dengan berat hati, Safira harus tetap melepas mereka pergi membawa koper-koper besar berisi pakaian. Dia tentu tahu jika penyebab perginya Fadhil dari rumah itu karena mamanya.


"Baik-baik di rumah, ya. Main lah ke sana kapanpun kamu mau," bisik Za sambil memeluk Safira.


Safira hanya mengangguk pelan. Dia pun harus mengerti, jika memang tidak selamanya om-nya akan memprioritaskan dia. Sepuluh tahun yang lalu dia boleh saja mengklaim jika Fadhil akan mementingkan dirinya di atas perempuan lain. Tapi sekarang, keadaannya sudah berbeda. Fadhil sudah menikah dan tentu dia punya rencana dengan keluarga barunya. Sejak jauh hari, Safira sudah mendapatkan pemahaman itu. Meski saat waktunya tiba, ternyata dia tidak sepenuhnya rela.


Fadhil membunyikan klakson sebelum meninggalkan depan rumah. Safira masih terlihat mematung di teras rumah. Sementara di pintu, Lany berdiri menatap ke arah kaca mobil yang terbuka, menampakkan wajah Fadhil dan Za yang mengabaikannya.


"Mas!" Za membuka pembicaraan setelah mereka menyusuri jalan besar.


"Ya?"


"Makasih, ya."


"Untuk?"


"Sudah menuruti istrimu yang egois ini."


Fadhil mengernyit. "Kok egois? Nggak lah. Memang sudah seharusnya Mas mencarikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu. Hanya saja tidak menyangka akan secepat ini."


"Menyesal?"


"Sama sekali tidak, Sayang. Justru bahagia. Kita akan tinggal berdua saja tanpa harus merasa canggung karena keberadaan orang lain di rumah kita. Dan….."


"Dan apa?" tanya Za melihat Fadhil memainkan sebelah alisnya. Bukan menjawab, Fadhil justru terkekeh.


"Dan apa, Mas?" ulang Za.

__ADS_1


"Kita bisa merasakan sensasi bermain di mana saja."


"What?!" Za terbelalak. Pikiran Fadhil ternyata sudah berkelana ke mana-mana.


"Sempat ya Mas mikir sampai ke sana-sana?" ujarnya kemudian


"Ya disempat-sempatkan. Namanya juga manten baru."


"Oh jadi kalau lama bakalan berubah? Mau cari yang baru lagi. Biar bisa merasa baru terus?"


"Nggak begitu konsepnya, Sayang. Mas sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan kamu. Nggak mau yang lain."


"Emmmm, sweet banget sih. Suami siapa coba?" Za melingkarkan lengan memeluk Fadhil. Hidung tiba-tiba mencium aroma parfum yang berbeda dari tubuh suaminya. Sejak kapan Fadhil menyemprotkan parfum lain itu ke tubuhnya?


"Tapi kamu belum lupa kan sama permintaan Mas?"


"Yang mana?" tanya Za mencoba mengingat-ingat permintaan Fadhil yang belum dipenuhinya.


"Kapan kamu mau resign?"


Za terdiam. Tidak ada salahnya mengorbankan sesuatu yang dia sukai. Dia sudah menikah. Sudah menjadi kewajibannya menurut pada suami. Seperti ucapan Fatma rempo hari.


Fadhil tersenyum puas. "Surprise. Tapi yakin secepat itu?"


"Yakin Mas. Lagian aku ini istri kamu. Ridho Allah tergantung ridho suami kan, Mas?"


Fadhil kembali mengulas senyum sebelah tangannya mengusap kepala yang bersandar manja di bahunya.


Entah kenapa mencium aroma parfum yang menempel pada tubuh suaminya semakin membuat sesuatu bergejolak dalam dirinya. Za mengeratkan pelukannya, menghirup wangi tubuh itu lebih dalam.


"Mas pakai parfum apa, sih? Ini bukan yang biasanya, kan?"


"Tadi nemu di kotak. Ada kartunya dari Tio. Mas coba aja sedikit. Enak nggak wanginya?"


Pantas saja efeknya luar biasa. Kado dari salah satu sepupu Fadhil yang belum dibuka oleh Za.


"Mas bisa cepat sedikit, nggak?" ujar Za meminta Fadhil menginjak gas lebih dalam.


Za berdecak kesal karena harus terjebak macet di persimpangan yang nyala lampu merahnya sangat lama. Tangannya mulai nakal menyusup ke dalam t shirt yang dikenakan suaminya. Membuat lelaki yang sejak tadi anteng menunggu lampu merah itu menggelinjang karena sentuhan jemari Za di balik pakaiannya.

__ADS_1


Perjalanan masih sepuluh menit lagi dan mereka masih harus melewati tiga persimpangan. Za semakin tidak sabar untuk segera sampai di rumah.


Gapura perumahan tempat tinggal baru mereka sudah di depan mata. Za terlihat semakin gelisah. Menahan konak yang sejak beberapa menit lalu ditahannya. Ingin malu namun dia tidak bisa menahan diri.


"Ayo, Mas!" Za menarik lengan Fadhil yang hendak mengambil koper dari dalam bagasi.


"Ini diambil dulu kopernya."


"Nanti saja," sahut Za tak peduli.


Fadhil menutup kembali pintu bagasi karena Za memaksa menarik lengannya.


"Kamu kenapa, sih? Aneh banget." tanya Fadhil pura-pura bodoh.


Za tak menghiraukan pertanyaan suaminya. Dia menyeret Fadhil menaiki tangga. Keinginannya hanya satu, menyelesaikan hasrat yang menuntut untuk segera dituntaskan.


"Mas, buka!"


"Apanya?"


"Itu." Za menunjuk celana Fadhil dengan dagunya.


"Buka sendiri."


Fadhil tersenyum penuh kemenangan melihat Za melucuti pakaiannya. Ide yang tiba-tiba melintas saat menemukan parfum di dalam kotak kado. Sesekali dia ingin melihat istrinya mengeksplor diri di atas ranjang. Karena selama ini Za hanya mr jadi pihak yang pasif. Hanya memenuhi keinginan Fadhil tanpa berani meminta lebih dulu.


Sepertinya dia harus sering-sering memakai parfum itu saat di rumah. Agar dirinya bisa melihat Za yang begitu aktif memimpin permainan. Mencari kepuasannya sendiri bahkan tidak hanya sekali.


Za menutup wajahnya yang basah dengan selimut setelah usai menuntaskan suaminya.


"Kenapa ditutup? Kamu terlihat seksi saat seperti ini." Ucapan Fadhil justru membuat Za menahan selimut saat suaminya itu hendak membukanya.


"Buka, Dek!"


"Malu, Mas. Ke kamar mandi aja dulu sana!"


Dasar bocah! Lupa bagaimana ganasnya saat bermain tadi. Dan sekarang baru bilang malu. Fadhil membatin sambil menggelengkan kepala. Dia menyusup dari bawah saat tidak berhasil membuka selimut dari atas.


"Main sekali lagi, ya?" Fadhil menggoda istrinya yang wajahnya pasti sudah semerah cherry.

__ADS_1


__ADS_2