Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Pulang Ke Rumah Ibu


__ADS_3

"Langsung ke rumah Ibu ya, Mas," ujar Za pada Fadhil agar suaminya itu mengambil arah jalan ke rumah ibunya.


Minggu ini seharusnya waktu mengunjungi orang tuanya. Namun mereka menghabiskan waktu ke luar kota. Sehingga Za memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Karena Safira pun sedang tidak di rumah. Keponakannya itu sedang mengisi waktu libur berlibur dengan mamanya ke Lombok. Za sangat bersyukur akhirnya kedekatan mereka berdua semakin lekat. Tentu semua itu tak lepas dari dukungannya. Karena bagaimanapun juga, Lany adalah ibu yang mengandung dan melahirkan Safira.


Seolah memiliki telepati, ponselnya tiba-tiba bergetar. Safira memanggilnya. Memperlihatkan keindahan pemandangan pulau di Indonesia timur itu. Baru tiga hari berpisah Safira sudah rindu dengan Alif. Sayang bayi itu sedang tidur. Sehingga tidak bisa diajak berceloteh.


Mobil berhenti saat mereka sudah tiba di depan rumah orang tua Za. Menjelang sore suasana perumahan tidak sesunyi saat siang hari. Beberapa tetangga menyapa Za sebelum wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Al, main sama Om Ghani, yuk!"


Entah dari mana Ghani muncul tiba-tiba sudah ada di teras rumah.


"Al tidur, Mas. Jangan berisik!" hardik Za.


"Tuh, melek dia."


Za melihat Alif dalam gendongannya. Bayi itu telah membuka mata tanpa disadarinya. Tanpa menunggu persetujuan Za, Ghani mengambil Alif. Kakak Alya itu memang menyukai Alif, mungkin karena keponakannya perempuan. Sehingga setiap tahu Za datang, dia tak pernah absen mengajak Alif ke mana saja.


"Udah pantes, Mas. Cepetan nikah," gurau Za.


"Nanti." Jawaban yang sama dengan Za dulu saat ada yang bertanya kapan nikah.


"Ajak Al dulu, Mas." Meski agak gesrek, Ghani masih tahu adab. Meminta izin pada Fadhil untuk mengajak Alif.


Mereka tak mempermasalahkan hal itu. Karena Ghani tentu saja sudah seperti saudara.


Za mengambil tas berisi oleh-oleh yang sengaja dibelinya. Tidak sedikit. Ada beberapa tas berisi baju-baju dan juga makanan khas kota gudeg.


Dia mencari ibunya ke seluruh penjuru rumah yang tidak seberapa luas. Ibunya sedang mencuci piring di dapur.


"Sudah pulang?" tanya Ibu Za.


"Iya. Za beli daster buat Ibu," jawab Za.


Daster di sini kan juga banyak yang jualan. Ngapain repot-repot beli di sana." Selalu seperti itu reaksi jika Za membelikan sesuatu untuk ibunya.


"Biar berkesan, Bu."


"Tapi repot bawanya."

__ADS_1


"Nggak kok. Mas Fadhil yang bawain."


Za membongkar semua oleh-oleh yang dibelinya. Satu meja makan penuh dengan barang yang dikeluarkan dari dalam tas.


"Kamu beli sebanyak ini untuk apa, Za? Ibu cuma berdua sama Ayah," ujar Bu Rahma.


"Mas Fadhil yang nyuruh, Bu," sahut za sambil mengarahkan dagunya ke arah Fadhil.


"Kasih ke tetangga," timpal Fadhil kemudian.


Semenjak Za menikah, entah berapa kali keluarga Za berbagi dengan tetangga. Sehingga label memiliki menantu kata pun melekat pada orang tua Za. Apalagi setelah kendaraan roda empat terparkir di garasi rumah Za.


"Ayah ke mana, Bu?" tanya Za karena tadi dia tidak melihat mobil ayahnya di depan.


"Ada undangan syukuran purna tugas temannya. Tadi sih Ibu diajak, tapi lagi malas ke mana-mana."


Za memasukkan oleh-oleh ke dalam tas plastik untuk dibagikan ke tetangga terdekatnya. Kemudian mengantarkannya sendiri. Karena tidak ada siapa pun di rumah itu. Tidak mungkin dia menyuruh ibunya yang mengantar. Meski akan ada banyak pertanyaan perihal Alif seperti biasanya. Namun seperti telah tertempa, kini Za tak lagi mempermasalahkan ucapan orang akan dirinya.


Sepeninggalan Za, Bu Rahma membuatkan teh untuk menantunya. Hal yang memang seringkali dilakukannya saat mereka datang ke rumah.


"Apa sudah ada hasilnya yang kedua ini, Nak Fadhil?" tanya Bu Rahma.


Bu Rahma tampak murung. Rasanya campur aduk sebagai orang tua yang memiliki anak yang mungkin tidak bisa seperti wanita. Terutama pada menantunya itu.


"Ibu minta maaf kalau Za mungkin tidak seperti yang Nak Fadhil inginkan. Ibu cuma berpesan kalau nanti sudah tidak menghendaki Za, tolong jangan sampai menyakiti Za. Za tidak pernha berbagi sejak kecil. Tolong jaga hatinya. Kembalikan pada kami jika Nak Fadhil suatu saat merasa jenuh dengan keadaan ini," tutur Bu Rahma.


Fadhil mengulas senyum tipis. Dia sangat mengerti perasaan ibu mertuanya yang mungkin lebih didominasi oleh rasa bersalah.


"Ibu jangan berpikir sejauh itu. Za adalah bagian hidup saya. Ini hanya masalah jatah rejeki. Yang mungkin sedang tertunda. Atau bisa jadi memang bukan bagian kami."


Bu Rahma begitu terharu dengan ketulusan Fadhil. Di saat beberapa orang mungkin akan menjadikan kekurangan pasangan sebagai alasan untuk mendua, namun tidak dengan Fadhil. Meski menantunya itu punya segalanya yang mendukung untuk mencari perempuan lain.


"Terima kasih, Nak Fadhil."


Fadhil mengangguk pelan. "Mohon doa Ibu agar rumah tangga kamu selalu diberkahi."


Bu Rahma mengaminkan ucapan menantunya.


"Bu, Mas Ghani ke mana, ya? Kok di rumah nggak ada?" seru Za dari arah luar menyela pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kok tanya Ibu. Ibu dari tadi di dalam rumah."


Za mendecakkan lidah. "Alif nggak pakai jaket. Kalau dibawa naik motor jauh-jauh nanti keanginan."


"Coba cari di taman sana. Biasanya kalau sore banyak anak-anak main di sana," saran Bu Rahma.


Za pun kembali ke luar rumah. Jarak taman tidak terlalu jauh. Sehingga dia memilih berjalan kaki. Lagi pula Za tidak terlalu pandai menggendong sambil mengendarai motor.


Benar kata ibunya. Dari kejauhan dia melihat Ghani sedang menggendong Alif melihat anak-anak kecil bermain di taman. Za sungguh heran dengan alif yang tidak pernah takut digendong siapa pun meski orang asing. Satu hal yang dikhawatirkannya jika ada orang yang berniat jahat membawanya kabur.


"Mas Ghani!" panggil Za. Ghani pun menoleh.


"Dicari ke mana-mana tahunya di sini."


Ghani tertawa pelan. "Lihat Za, Al seneng banget lihat anak-anak main."


Bayi dalam gendongan Ghani itu seolah ingin melepaskan diri dan ikut turun bermain. Berteriak dan berceloteh membuat setiap orang yang melihatnya akan merasa gemas.


"Tunggu bentar, ya. Mama beli balon dulu."


Za mendekati seorang pedagang. Membeli salah satu mainan dari air sabun. Lalu kembali lagi ke tempat Ghani bermain bersama Alif.


"Al! Lihat ini!"


Za meniup air sabun menciptakan gelembung-gelembung. Alif tertawa saat Ghani membawanya mengejar gelembung-gelembung itu. Keseruan yang terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang sedang mengasuh anak mereka.


Za terus meniupkan air sabun itu. Tawa Alif seolah menjadi candu.


"Lagi?" ujar Za pada Alif yang masih tertawa.


"Lagi, Ma."


Tawa Za sedikit memudar mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Ghani. Dia tertegun beberapa saat


"Ayo, Za! Tiup lagi!"


"Oh! Ya. Mama tiup lagi ya, Al," ujar Za kemudian.


Kejar-kejaran balon pun kembali terulang. Tawa Alif seolah tidak mengenal kata lelah. Bahkan hingga hari hampir gelap. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka.

__ADS_1


__ADS_2