
Jika biasanya Fadhil akan membujuk Safira dengan mengajak belanja atau jalan-jalan, keponakannya itu akan berhenti marah. Tetapi ternyata membujuk Za ternyata tidak bisa dengan cara yang sama. Iming-iming jalan-jalan di mall dan shopping sepuasnya tak bisa membuat Za melengkungkan bibir. Bahkan ditolaknya mentah-mentah. Sejak pagi Za hanya berdiam diri di dalam kamar. Makanan yang dipesan Fadhil pun tidak disentuhnya. Tidak selera makan, alasannya.
Fadhil sampai kehabisan cara membujuk istrinya. Dia tidak mungkin menuruti kemauan Za untuk pulang ke rumah orang tuanya. Bisa-bisa orang tua Za akan curiga jika Fadhil memperlakukan putri mereka dengan tidak baik.
"Dek, sudah ya marahnya."
Za yang sejak tadi sibuk dengan gawainya memutar iris matanya.
"Aku nggak marah, Mas."
"Nggak marah tapi dari tadi diam saja. Nggak keluar kamar nggak makan. Sini Mas suapi!"
Za bergeming. Dia sama sekali tidak mempedulikan sendok makan di tangan Fadhil.
Terdengar nafas kasar Fadhil. "Kamu bisa nggak sih jangan seperti anak kecil begitu, Za?! Kamu sekarang sudah menikah. Sudah menjadi seorang istri. Bersikaplah sedikit dewasa!"
Za tersentak mendengar ucapan Fadhil yang sedikit tegas. Ternyata kesabaran lelaki itu pun sepertinya hanya sandiwara. Baru sehari tinggal bersama sudah kelihatan bagaimana watak asli suaminya itu. Dan apa tadi? Fadhil menyebut namanya tanpa embel-embel Dek seperti biasanya.
Za menatap punggung suaminya yang pergi keluar kamar setelah meletakkan box makan di meja. Inikah Fadhil yang sesungguhnya? Apa bedanya dengan keponakannya?
Ternyata yang terlihat baik belum tentu benar-benar baik. Tutur kata yang lembut sejak pertama mengenal Fadhil dan membuat Za sedikit kagum, ternyata hanya topeng.
Tok! Tok!
Mendengar suara pintu diketuk, Za menatap papan kayu itu. Sebenarnya dia enggan bertemu siapa pun. Namun karena bunyi yang berulang-,ulang, dia pun beranjak untuk membuka pintu. Mungkin Mbak Min karena jika Fadhil sudah pasti tidak akan mengetuk pintu kamar sendiri.
Klek!
"Surprise!"
Za terbelalak. Taburan potongan kertas warna warni menghujaninya. Sebuah kue yang dipegang oleh….Safira? Za mengernyit. Senyum lebar tampak terukir di bibir gadis itu. Lalu di sampingnya ada Fadhil, Fatma Pak Irsyad dan beberapa orang yang belum Za kenal. Namun garis wajah mereka menunjukkan jika masih ada ikatan darah di antara masing-masing. Mimpi apa Za masuk ke keluarga Fadhil? Za membayangkan anaknya kelak pasti cantik dan tampan.
"I-ini apa maksudnya?" tanya Za yang masih kebingungan.
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Ulang tahun? Za bahkan melupakan hari lahirnya sejak kemarin pikirannya hanya berkecamuk dengan acara pernikahan. Lalu setelah pindah ke rumah Fadhil, dia otaknya kembali tersita oleh sikap sang keponakan.
"Happy birthday, Tante!" Safira memeluk Za setelah Fatma mengambil alih kue di tangannya. "Maaf ya, sudah bikin Tante kesal." Gadis itu terkekeh.
"Jadi….kalian ngerjain saya?" Za menatap Fadhil dan Safira bergantian. Mereka berdua tersenyum tanpa rasa menyesal.
__ADS_1
"Nggak suka!" Za membalik badan masuk ke dalam kamar.
"Yah! Ngambek!" celetuk seseorang di antara mereka.
"Bujuk dulu sana, Dhil! Nggak jadi makan-makan nanti kita," timpal yang lain.
Fadhil masuk ke dalam kamar. Menemui Za yang berdiri menghadap pintu kaca balkon.
"Dek, jangan marah lagi, dong." Fadhil mendekap Za dari belakang.
"Aku nggak suka dikerjain begitu. Mas membiarkan aku kesal dengan Safira bahkan berburuk sangka dengan dia. Aku malu sama dia."
"Iya, Mas minta maaf. Safira juga sudah minta maaf. Ini….sudah menjadi kebiasaan keluarga kami. Akan memberi kejutan ulang tahun dengan cara yang berbeda-beda."
"Tapi kan…."
"Nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Mereka sudah menunggu kamu di luar. Ayo kita keluar."
Bagaimana mungkin Za punya muka untuk keluar. Dari sekian banyak orang yang dia kenal dekat hanya Fatma. Pak Irsyad pun dia kenal hanya sebatas atasannya dan juga sebagai suami Fatma.
"Ayo! Mereka ingin kenal lebih dekat dengan kamu."
"Jalan sendiri atau Mas gendong?"
Fadhil tak terbantahkan. Za mengekor suaminya yang menggandeng tangannya. Mereka semua masih berdiri di depan pintu kamar. Semburat jingga menghias kedua pipi Za. Saat mereka mengucapkan selamat bergantian.
Ternyata tidak hanya beberapa orang yang kini berada di lantai dua. Di bawah, ada beberapa orang yang sedang menyiapkan makanan. Usianya tidak jauh beda dengan ibunya Za. Za benar-benar asing berada dalam keluarga itu. Untung saja mereka menyambut Za tanpa memandang dari mana dia berasal.
Satu persatu Fadhil memperkenalkan mereka pada Za sebelum acara makan dimulai. Za sungguh merasa canggung diperlakukan bak ratu.
"Nanti saya ambil sendiri, Tante," ujar Za pada seorang wanita yang dikenalkan Fadhil bernama Sarah. Adik dari mendiang ayah mertuanya.
"Nggak apa-apa," sahut wanita itu sambil meletakkan makanan di depan Za.
Keseruan demi keseruan mengisi acara. Tidak hanya makan-makan. Namun mereka juga membuat permainan dengan doorprize di halaman belakang. Terlihat jika acara itu sudah disusun sebelumnya. Sebagian yang sudah sepuh memilih karaoke di dalam rumah. Za sungguh kagum dengan kekompakan keluarga besar suaminya. Karena di keluarganya, Bian adalah saudara satu-satunya. Ayahnya anak tunggal, ibunya dua bersaudara dengan ibunya Bian. Jika dulu dia menerima perjodohan dengan Bian, maka saudara satu-satunya itu akan menjadi suaminya. Dan ternyata mereka memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh.
Hingga sore hari, mereka baru berhenti bermain. Sebagian sudah membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing. Dan sebagian lagi sedang berkemas membungkus makanan yang masih tersisa. Karena Fadhil memesannya terlalu banyak.
"Mbak pulang dulu, Za," ucap Fatma sebelum naik ke mobil.
"Hmm. Hati-hati, Mbak.
__ADS_1
Mobil Pak Irsyad pun melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Fatma dan suaminya adalah orang terakhir yang berpamitan setelah habis maghrib.
Lelahnya baru terasa saat Za meluruskan kakinya di sofa ruang tengah. Di samping tumpukan kado yang dibawa oleh saudara Fadhil.
"Capek?" tanya Fadhil seraya menghempaskan diri di samping Za.
"Hmm. Banget," sahut Za karena tadi dia yang paling sering kena ulah iseng dari beberapa keluarga Fadhil.
"Istirahat di kamar saja."
"Gendong!" rengek Za. Kecanggungannya telah hilang dalam sekejap. Semua karena keluarga Fadhil yang membuat permainan dengan couple.
Fadhil berdiri dan Za menggantungkan lengannya di leher Fadhil yang menggendongnya bak koala. Menggendong Za yang bertubuh mungil bukanlah hal yang sulit bagi Fadhil meski harus menaiki tangga.
"Astaga!" pekik Safira yang baru saja keluar dari kamar. "Mana tahan kalau tiap hari harus lihat kayak gini. Besok Fira mau nikah, Om."
"Boleh," sahut Fadhil enteng. "Suruh aja ke sini kalau sudah ada calonnya."
Fadhil memang tak selalu mengawasi Safira. Namun dia selalu mewanti-wanti keponakannya untuk menjaga pergaulannya dengan lawan jenis.
"Bantu bawa kadonya ke atas, Fir!" kata Fadhil sebelum masuk ke kamar.
Fadhil menurunkan Za di atas ranjang. Kemudian turun kembali membereskan bungkusan kado yang menumpuk di sofa ruang keluarga dibantu oleh Safira. Hingga semua bungkusan itu kini berpindah ke kamarnya.
"Boleh dibuka sekarang nggak?" tanya Za.
"Boleh. Ini semua kan untuk kamu.
Za terlalu penasaran untuk segera melihat isi kotak-kotak itu. Karena membuka bungkus kado memang hal yang menyenangkan. Kotak pertama berwarna pink dibuka oleh Za. Isinya membuat dia nyengir sambil melirik ke arah Fadhil yang duduk di sampingnya. Za buru-buru memasukkan kain tipis berwarna hitam itu ke dalam kotaknya.
Kotak kedua, ditimang-timang oleh Za. Berwarna coklat, ukurannya hampir sama dengan kotak pink yang tadi dibukanya. Isinya membuatnya tertegun. Lingerie lagi dengan warna merah menyala. Seketika kotak itu ditutupnya kembali.
Kapok memilih kotak besar, Za memilih kotak yang lebih kecil yang ternyata isinya sebuah parfum, namun bukan sembarang parfum. Za membuka kotak kecil berikutnya.
"Astaga!" gumamnya melihat obat kuat menyembul dari dalam kotak. Kenapa isi kadonya begini semua, batinnya. Za memilih berhenti membuka kado. Karena menurut feelingnya, semua kado dari saudara Fadhil isinya tentang urusan keromantisan suami istri.
"Kenapa nggak dilanjutkan?" tanya Fadhil yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya.
"Nanti saja."
"Dapat kado apa saja?" cecar Fadhil membuat Za adem panas untuk menjawabnya.
__ADS_1