
"Sakit, Mas!" gumam Za seraya meringis saat merasakan kontraksi yang kembali dirasakannya.
"Sabar, ya." Fadhil mengusap perut Za pelan dan sesekali mencium dahi istrinya. Andaikan bisa, dia ingin mengambil alih rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Za yang sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka.
Tangan itu kembali mencengkeram saat merasakan sakit yang kembali mendera dan semakin menghebat.
Dengan dibantu oleh dokter dan perawat, Za beberapa kali berusaha mengejan.
"Aku nggak kuat," racaunya.
"Kamu pasti kuat, Za,"
Za berusaha mengejan sekali lagi. Dan kembali mengejan saat dokter mengatakan jika kepala bayinya sudah terlihat. Seolah mendapat sebuah dorongan untuk segera melihatnya, Za mengejan sekali lagi.
" Bayinya sudah keluar," kata dokter wanita itu saat Za akan mengejan sekali.
Sesaat kemudian terdengar suara tangis bayi setelah dipancing agar bisa menangis. Za tak kuasa menahan haru. Begitu juga dengan Fadhil.
__ADS_1
Kulit yang masih pucat pipi yang merah dan bibir pun sama merahnya. Rambutnya tebal dan lurus. Masih lengket karena belum dibersihkan. Za menatap makhluk mungil yang sedang tengkurap dia atas tubuhnya tanpa sekat. Kulit bertemu kulit. Mulut mungil itu berusaha mencari sumber kehidupan.
"Anak kita," gumam Za setengah lirih.
Fadhil menipiskan bibirnya. Ada rasa yang tak bisa bisa diungkapkan saat melihat bayi yang selama ini bersemayam di dalam perut istrinya kini terlihat nyata di depannya. Bahkan memiliki seorang bayi dari benihnya sendiri sempat hanya akan menjadi angannya saja.
Setelah hampir satu jam bayinya pun dibersihkan dan Za harus menjalani observasi sebelum dipindahkan ke ruang rawat.
Setelah kondisi Za mulai membaik dia pun dibawa ke ruang rawat. Hanya ada mereka dan bayi yang baru lahir, sebelum kedatangan orang-orang yang pasti akan berebut peran atas bayi yang sudah lama dinantikan itu. Mereka ingin merasakan momen awal kelahiran anak mereka tanpa keluarga besar.
"Sebentar, Mas punya sesuatu untukmu," ucap Fadhil lalu dia meninggalkan Za di dalam kamar sendirian bersama bayi mereka.
Za tersenyum mendapatkan penghargaan dari Fadhil. Dia meletakkan buket itu di atas nakas llau memeluk sang suami.
"Terima kasih sudah bersabar selama ini," bisikmya.
"Jangan nangis, dong!" ujar Fadhil saat melihat sudut mata Za telah basah.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka bisa meleewati semua fase menjadi seorang ibu," sahut Za sembari mengusap pipinya. Ditatapnya bayi yang tampak tenang terlelap di sampingnya. Cantik, namun wajah sang ayah yang mendominasi.
Ketukan pintu yang disusul oleh serombongan orang yang masuk ke dakam ruangan itu. Semua menghambur ke arah ranjang. Kehadiran bayi yang sudah bertahun-tahun dinantikan. Ayah, Ibu, Tante Sarah, Safira seolah berebut untuk menjadi yang paling dulu menggendong. Bayi itu anteng saja meski berpindah-pindah tangan.
"Ompolin kakak dong, Dek. Biar ketularan," cicit Safirq saat menggendong saat menggendong bayi itu.
"Ketularan apa, Fir?" tanya Za menanggapi.
"Ketularan punya baby lah."
"Nikah dulu." timpal Tante Sarah.
"Iya, Oma. Doakan tahun ini, ya." sahut Safira.
"Sama siapa? Kalau ada yang serius suruh ke rumah," Fadhil turut berkomentar.
Safira hanya cengengesan menanggapi ucapan Fadhil. Sambil menimang-nimang bayi perempuan itu.
__ADS_1
"Eh bentar. Kakak bawa sesuatu," ujarnya lalu meletakkan bayi itu ke dalam box. Safira memgambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bando yang dipasangkan di kepala bayi yang baru lahir beberapa jam lalu.
"Uluh, uluh. Tantik amat anak capa nih!" ucapnya lalu mencium habis bayi itu saking gemasnya.